73. Yang Terbaik

1019 Kata

Sepertinya Raffa benar-benar menuruti apa yang Snow pinta. Sesaat setelah panggilan mereka berakhir, Snow lantas mendengar suara deru mobil. Entah kemana, tapi semakin lama, suara itu semakin jauh. "Raffa," lirih Snow seorang diri. Tirai jendela sempat Snow sibak. Matanya memindai sekitar dengan tatapan nanar. Jejak sepatu masih membekas di atas salju. Namun, Snow sudah tidak mendapati sosok tubuh suaminya. Selama beberapa detik, Snow terus bertahan di posisi yang sama. Otaknya seperti kesulitan mencerna suasana. Snow sendiri yang menyuruh Raffa pergi, tapi nyatanya, Snow juga yang tidak menyangka kalau Raffa kini sudah benar-benar pergi. Di antara langit yang mendung, Snow masih saja mematung. Wajahnya membatu. Nyaris tak ada ekspresi apa pun. Maaf, Raff, batin Snow sambil masih mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN