Yogi
5 September 2018
Rasanya lega mencurahkan kegundahanku akhir-akhir ini soal Mala kepada Angga, maklum sejak lulus kuliah teman-temanku sudah punya kesibukan sendiri, ada yang sibuk dengan kerjaannya ada yang sudah menikah. Apalagi aku terlambat satu tahun lulusnya. Tidak ada orang yang bisa aku curhati sampai Angga menemukan lowongan kerja di Berindo dan menawarkannya padaku. "Asalkan lamarnya beda posisi, lo jurnalis gue HR, nggak takut posisi HR gue direbut sama lo Yogi," katanya begitu. Persahabatan kami di SMA kini terajut kembali setelah terpisah beda kampus biarpun Depok-Jakarta cuma tinggal ngesot, dulu Angga paling tau kelakuanku yang bad boy, selalu siap jadi tempat curhat juga bahkan sampai sekarang.
Oh ya, kalian pasti tanya, aku pintar, kok bisa telat lulusnya? Selesai skripsi itu bukan soal mahasiswa itu pintar atau nggak, tapi soal rajin atau nggak. Aku dulu lebih mementingkan organisasi, selain jadi wakil ketua BEM, aku jadi volunteer, pun aktif di tim basket. Supaya aku gak cuma keren di akademis. Oke sedikit bohong, karena aku ingin tebar pesona juga ke banyak orang. Tapi tetap lah salah, skripsiku telantar dan aku dikejar-kejar dosbing. Jadi, mesti jago bagi waktu.
Petikan gitarku terhenti saat bunyi chat w******p masuk ke smartphone-ku. Dari si neng geulis! Eh dia orang Jawa, panggilannya apa? Karena aku orang Sunda, aku cuma tau itu.
Neng Sasya
Yogi, sibuk gak?
Aku
Kaga. Knp, Sya?
Neng Sasya
Lo kan dulu aktif di
organisasi banget.
Mau tanya2 soal FGD
Aku
Mau tanya apa?
Gue telpon ya.
Neng Sasya
Mmm... Boleh.
Nah ini, keuntunganku aktif di banyak kegiatan saat kuliah. Aku berpengalaman cara perekrutan anggota yang gak jauh dengan perekrutan kerja seperti FGD ini. Sebenarnya bisa saja aku menjelaskannya melalui chat atau voice note, tapi aku ingin dengar suara dia malam ini, modus. Aku menekan simbol telepon pada w******p. Berbeda dengan tadi pagi, telponku langsung diangkat olehnya.
Aku menjelaskan pada Sasya dengan mudah karena memang FGD atau Focus Group Discussion hanya seperti diskusi kelompok biasa, kita dibagi dalam beberapa kelompok. Dimana nanti kita mengemukakan pendapat dan saling menyanggah. Kita juga disediakan fasilitator sebagai pengatur jalannya diskusi. Biasanya topik diskusinya mengenai hal umum, seperti contoh di Jakarta, tentang peraturan ganjil-genap atau mungkin yang sedang hits di tahun 2018 ini, Asian Games. Nanti para pengawas turut andil dalam menilai tingkah laku peserta apakah berhak lolos atau nggak. Mudah dipahami, 'kan?
"Oalah diskusi kelompok toh," ujar Sasya di seberang sana, "berarti kita harus aktif ngomong ya. Ada tips nggak, Gi?" sambungnya lagi.
Sebenarnya, aktif sih aktif, tapi jangan terlihat mendominasi di kelompok, ingin mengajukan atau menjawab pertanyaan atau menyanggah terus tanpa memikirkan anggota kelompok kita. It's a big no karena itu membuat kita terlihat arogan. Tapi jangan juga diam, apalagi menyuruh orang lain mengajukan atau menjawab pertanyaan. Itu tips yang kuberikan pada Sasya.
"Oke makasih Yogi! Gue gak pernah ikut organisasi dan tiap lamar kerja sebelumnya gak ada FGD. Jadi gak tau FGD itu apa, thanks to you," ujarnya terdengar ceria.
"Sama-sama. Oh iya Sya, besok ke Berindo sama siapa? Mau gue jemput lagi? Tapi besok cuma bisa bawa motor, mobil abang gue plat ganjil," tanyaku.
"Nggak usah Gi, besok gue sama Chika lagi kok. Lagian gue sedikit mulai hafal sama jalanan Jakarta."
Belum seminggu sudah hafal jalanan Jakarta? Aku tidak yakin. Tapi aku tidak bisa memaksa juga kalau itu kemauan dia.
---
Yogi
Jakarta, 6 September 2018.
Kami bertiga sudah tiba di Berindo, duduk menunggu nama kelompok. Jumlah 30 orang dibagi lima kelompok, satu kelompok berisi enam orang. Aku di kelompok dua, Sasya dan Angga sekelompok di kelompok tiga.
"Gi, kayanya gue jodoh sama Sasya deh, dari kemarin klop terus." Angga menyikutku.
Aku menahan tawaku. Seorang Angga yang kukenal sebagai gay sejak SMA bisa-bisanya berucap seperti itu. Jadi teringat masa-masa dirinya di-bully di sekolah setelah ketahuan dirinya gay karena menyambangi pacarnya yang sama-sama cowok di depan sekolah. Namun aku benci, karena yang mem-bully-nya saat itu adalah kawan-kawan tongkronganku sendiri. Secara heroik, aku menolong Angga ktika dihajar di kamar mandi cowok. Sebelumnya Angga membantah kalau dirinya gay di depan orang-orang dan menolak ketika disuruh membelikan makanan di kantin. Wajar kalau dia melawan, itu sudah keterlaluan. Sayang kala itu ia hanya sendirian dengan tubuh kurus dan mungilnya, ia hampir habis kalau aku tidak menolongnya dengan segera.
Sejak saat itu aku dijauhi teman-teman tongkronganku, mengataiku gay sebagai pacar rahasia Angga. Namun tetap tidak ada yang percaya dengan omongan mereka. Tentu karena aku punya pacar kakak kelas cewek yang diidolakan satu sekolah dan aku pun masih genit dengan cewek-cewek lain. Maafkan aku. Mungkkinn karena itu juga, Angga jadi baik padaku dan ingin mendekatiku sebagai sahabat. Meskipun aku selalu menolak karena bisa-bisa dia naksir padaku, juga memperkuat ujaran teman--teman nongkrong yang mengatai aku adalah pacarnya. Tetapi dia menepis, karena dia hanya menyukai cowok yang orientasi seksualnya sama dengan dia. Lagipula dia punya pacar anak kuliahan gay yang selalu mampir ke gerbang sekolah.
Sampai suatu saat dia menolongku yang terluka saat tawuran, dadaku terkena gir. Seragamku berlumur darah. Dia menghampiriku sambil menelpon ambulans, kalau dia tidak datang mungkin aku sudah kehabian darah. Luka mengerikan di dadaku bahkan masih membekas setelah dijahit.
"Nggak mungkin, kayak lu doyan cewek aja," balasku yang refleks memegang dadaku.
Angga hanya tertawa.
"Makanya kalau lo heteroseksual kayak gue, kayaknya setengah dari cewek-cewek yang gue deketin udah lari ke lo."
Kami berdua tertawa.
"Heh, ngomongin apa deh berdua? Ayo masuk ruangan." Sasya menghentikan obrolan kami yang semoga tidak didengar olehnya.
Di dalam ruangan, kelompok dua dan tiga bersebelahan. Tentu aku memilih kursi samping kiri Sasya, di samping kanannya juga ada Angga. Fasilitator mulai memberikan topik diskusi "Berikan pendapat kalian mengenai cabang olahraga baru dalam Asian Games 2018." Sudah kuduga pasti akan membahas Asian Games. Seingatku ada bridge, jetski, pencak silat, basket 3x3, lalu apa lagi?
Biarpun dalam ruangan ini gak hanya diisi pelamar jurnalis, contohnya saja Angga yang melamar di tim HR, tapi Berindo ini adalah media berita online. Jadi semua pelamar harus paham dengan kondisi saat ini juga dan bagaimana kita menarik kesimpulan menjadi sebuah berita. Ketika kelompokku sibuk berdiskusi, mataku selalu tertuju pada ... emm ... buah d**a Sasya di sampingku menyembul dari balik blazernya, terlalu dekat, gawat aku gagal fokus.
Tiba-tiba tangan seseorang menepuk punggungku, rupanya itu Angga, ia kemudian menaikkan kacamatanya dengan jari tengah seperti memberikan f*ck you. Sebenarnya Angga tidak pakai kacamata, hanya ketika sedang baca atau situasi penting seperti ini saja. Aku menghela napas, benar ini situasi penting, baiklah aku mencoba fokus pada kelompokku.
Topik kedua yaitu berikan pendapat tentang pembangunan MRT. Aku mengemukakan pendapatku biarpun kelompokku bilang pendapatku agak risky. Tapi aku sengaja biar FGD makin seru hehe. Aku bilang pembangunan MRT ini berdampak besar bagi ekonomi negara yang saat ini telah selesai fase satu, kemudian akan dilanjutkan hingga fase tiga, mau berapa banyak uang yang dihabiskan negara?
Fasilitator memberikan waktu untuk penyanggah, tau tidak siapa yang menyanggah pendapatku itu? Sasya. Aku terkejut menoleh dia yang ada di sampingku.
"Hal itu bukanlah suatu yang negatif Pak Yogi. Karena pendanaan proyek MRT fase satu dan dua berasal dari 49% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (on-granting) dan 51% APBD Pemerintah Provinsi DKI (on-lending). Meskipun terlihat besar, jika dibandingkan dengan jumlah BBM yang harus dihabiskan dengan kendaraan pribadi, pembangunan MRT diyakini dapat menekan inefisiensi," ucapnya panjang lebar.
"Pendapat bagus dari Bu Sasya, ada sanggahan lagi dari Pak Yogi?" tanya fasilitator itu.
"Nggak ada, Bu," ujarku sambil tersenyum garing. Gadis-gadis kelompokku yang daritadi mencari perhatianku tertawa kecil. Kalau Sasya yang menyanggah, mana bisa aku lawan.
---
"Berapa lama kita tadi FGD? 5 jam!" cerocos Angga sambil meregangkan tubuhnya.
"Memang standarnya begitu kalo FGD, mana hasilnya baru ada lusa nanti," tukasku.
"Ya ampun gue capek pengen buru-buru kelar ini recruitment lama banget." Aku baru dengar Sasya mengeluh.
"Sya, balik yuk naik motor gue. Angga dijemput sugar daddy-nya, 'kan?" tanyaku sambil melirik Angga.
"Kagak! Anjir lo kapan gu pernah main begituan! Gue bawa motor juga!" gerutu Angga.
Soal sugar daddy, tentu saja itu hanya bercandaanku saja. Di Twitter, aku penasaran dengan akun-akun alter. Suatu saat aku pernah melihat sugar daddy sedang mencari sugar baby, tapi carinya cowok! Sejak saat itu aku menyuruh Angga meladeni sugar daddy dengan akun alter-nya. Kutahu keluarga Angga butuh uang, dan kuliah adiknya. Namun dipikir-pikir kurang ajar sekali aku.
"Hah? Beneran, Ga? Lo main sama sugar daddy? Gue aja yang cewek ogah. Atau jangan-jangan lo ...." Sasya memicingkan matanya pada Angga.
Aku menunjukkan ekspresi nah loh, ketauan.
"Sya, lo bercanda, 'kan?" Angga menghela napas. "Sejak tadi FGD, gue yakin lo cewek pinter nggak mungki percaya omongannya Yogi."
Sasya tertawa puas. "Iya, iya. Duh, jangan baper dong." Kemudian dia memonyongkan bibirnya sok imut. Ah s**t! Imut sekali!
"Lagian nih ya, semua omongan Yogi jangan lo percaya mentah-mentah. Buaya darat." Angga pun langsung berlari kabur ke arah parkiran.
"Yee bocah kancrut!" gerutuku sambil menunjuk ke arahnya.
Sasya kembali tertawa. "Balik, 'kan? Pake motor lo?"
Apakah itu artinya Sasya meng-iya-kan ajakanku pulang bersama? Yes! teriakku dalam hati.
Setibanya di parkiran Sasya kaget lihat motor Kawasaki Ninja CBR250RR-ku. "Gi, sumpah asli ini tinggi banget. Untung gue pake celana, padahal hari ini niat pake rok."
"Lo injek footstep-nya terus pegang bahu gue," kataku sambil memiring kan sedikit motorku agar Sasya lebih mudah menaikinya. Dia pun mengikuti arahanku. Untung aku sedia dua helm jaga-jaga kalau Sasya mau kuantar pulang.
Sampai saatnya kami di jalan. Aku terbiasa membawa motorku dengan kecepatann yang cukup tinggi. Kebetulan Sasya yang aku bonceng, biar dia memeluk tubuhku karena takut jatuh. Pun, saat rem dadanya mengenai punggungku. "Bodo amat, Gi! Please pelan-pelan kita bukan mau racing, 'kan?" Sasya sedikit mencondongkan tubuhnya ke dekatku karena takut jatuh.
Aku tertawa. "Santai aja lagi."
Tiba-tiba aku harus rem mendadak, karena lampu merah. Tubuh Sasya sedikit terhempas ke depan dan buah dadanya mendarat tepat di punggungku. Holy sh*t! Dua kali Yogi untuk hari ini bersama buah d**a Sasya.
Sasya memukul punggungku."Gue bilang kan pelan-pelan!"
"Ampun Yang Mulia, nggak sengaja," kataku lembut sambil menoleh ke belakang menatap Sasya disertai kedua tangan seperti orang meminta maaf. Dia diam saja melihat responku, malah pipinya sedikit merona lalu membuang muka.
Kali ini sesuai permintaan Sasya aku mengurangi kecepatanku. Benar juga, seharusnya aku tidak usah terburu-buru. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berduaan dengan jarak dekat seperti ini. Terkadang aku melihat ke arah spionku untuk menatap wajahnya. Entah dia menyadari itu atau tidak.Dia tidak merespon apapun.
Kami tiba di rumah Sasya, maksudku rumah Chika. Ternyata ada Chika sedang bersama laptopnya di teras rumah kemudian menghampiri kami.
"Widih, princess dianterin prince charming nih," canda Chika
"Ngomong opo toh, Sayang." Sasya mencubit kedua pipi Chika setelah turun dari motorku.
"Yogi, lo inget gue ga?" Tiba-tiba Chika bertanya padaku.
"Inget dong, Chika sepupunya Sasya."
"Password anda benar! Ayo mampir ke rumah kami dulu, saudara Yogi."
Sayangnya aku gak bisa, aku harus jemput adikku di UI. Mereka berdua menghela napas terlihat kecewa. "Kalau gitu tadi lo nggak usah anterin gue pulang, Gi. Kasian lo capek," ujar Sasya.
"Nggak apa-apa, 'kan, gue yang nawarin lo pulang bareng. Pulang pergi ke UI doang udah biasa, lain kali ya, maaf banget." Aku men-starter motorku kemudian pamitan kepada mereka berdua.
Sepanjang perjalanan ke UI ditemani senja. Senja memang paling tepat buat overthinking, apalagi angin sepoi-sepoi waktu lagi bawa motor seperti ini. Mengenai Mala, aku menyalahkan dirinya juga bukan hanya karena aku lirik-lirik cewek lain. Egois memang, harus kuakui aku mengharapkan Sasya saat ini. Masalah utama rusaknya hubungan kami saat ini adalah sikap Mala yang berubah total bahkan hanya beberapa minggu setelah dia di Australia. Aku seperti bukan kekasihnya lagi, tapi merasa seperti orang yang hanya menyusahkannya. Kesombongan telah merasuki dirinya. Komunikasi jauh berkurang. Dia yang seharusnya kembali libur kemarin disibukkan dengan magang jadi juru bicara di Kedutaan Indonesia di Australia, benar, di sana di sana tidak hanya kuliah S2.
Hari ini semakin ingin aku memiliki Sasya entah tubuhnya atau hatinya, biarpun masih ada Mala di hati ini. Bagaimana caranya memiliki Sasya tanpa harus meninggalkan Mala? Tapi ... kalau Mala masih terus tidak menganggapku sebagai pacarnya, posisinya di hatiku bersiaplah terancam. Karena Sasya sudah mengisi sedikit ruang di hatiku saat ini. Salahkah aku bila Sasya juga di hatiku? Bagaimana dengan dia? Apakah aku sudah singgah di hatinya?