Curhat Colongan

2139 Kata
Sasya 8 September 2018 "Ma! Pa! Aku diterima kerja di Berindo! Aku nggak pengangguran lagi!" Aku berteriak kegirangan menelpon kedua orang tuaku di Banyuwangi. Sungguh! Aku masih belum percaya aku officially jurnalis media online terbesar se-Indonesia setelah melewati banyak rangkaian rekrutmen selama hampir satu minggu. Terima kasih kepada Chika yang sudah mengizinkanku membuat sempit kamarnya, juga dua cowok yang membantuku bertukar informasi soal rekrutmen, menemaniku, bahkan antar-jemput, feelin' blessed to meet Yogi and Angga. Kata-kata yang dilontarkan perekrut saat interview tadi. "Selamat bergabung di Berindo, anda akan mulai bekerja hari Senin." Membuatku tidak karuan sore ini. Padahal kalau dipikir-pikir, pelamar lain kudengar ada yang lulusan luar negeri atau lulusan ilmu komunikasi dan jurnalistik universitas dalam negeri terbaik seperti Yogi yang jelas-jelas linier dengan pekerjaan jurnalis, sedangkan aku lulusan Sastra Inggris. "Ya 'kan jurnalis juga mesti jago bahasa Inggris, bahasa asing lain juga. Tiba-tiba harus wawancara artis atau orang penting dari luar negeri, yang dibutuhin kalian anak sastra." Ucapan Yogi itu membuat hatiku adem. Oh ya, Yogi juga officially jurnalis Berindo, kita akan jadi rekan satu divisi, senangnya. "Yogi, lo kok nggak ada senang-senangnya sih? Oh, gue yakin lo udah pede duluan bakal lolos," tukasku mengacungkan telunjukku ke wajahnya. Respon dia hanya senyum lebar sambil memiringkan kepalanya. "Ini yang officially jadi jurnalis Berindo siapa lagi?" tanyaku lagi pada Yogi sambil melihat sekitar. Seingatku sejak FGD kemarin hanya lolos 15 orang dan itu campuran pelamar ke berbagai divisi. Untuk divisi jurnalistik kulihat hanya tinggal lima termasuk aku dan Yogi. "Kita berdua doang kali, Sya." "Hah, serius lo?" Sepertinya benar ucapan Yogi itu, ketiga pelamar jurnalis lainnya memberi ucapan selamat pada kami. "Yogi! Sasya! Gimana? Gue lolos!" teriak Angga yang berlari ke arah kami dengan wajah sumringah. Dia tadi dari ruang interview untuk pelamar HR, letaknya agak jauh dari ruang interview pelamar jurnalis. "Ini kado ulang tahun terbaik dalam hidup gue!" Angga menaikan kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya setelah tiba di dekat kami. "Sasya ikut ke Beer Garden kan? Ayo lah anggap juga selebrasi lo udah lolos rekrutmen. Lagian malam ini malam minggu!" ajak Angga sedikit memaksa. Aku lupa, sejak kemarin Angga sudah heboh mengajakku dan Yogi ikut traktiran ulang tahunnya di Beer Garden SCBD. Aku gak kenal tempatnya, tapi dilihat dari namanya saja ... Beer? Aku masih ragu ikut ke sana biarpun umurku sudah legal untuk minum alkohol. Apalagi Angga ajak teman-teman SMA dan kuliahnya, pasti aku akan mati gaya di sana tidak kenal siapa-siapa. "Tenang aja, Sya. 'Kan ada gue yang bakal ngobrol sama lo terus." Yogi mengedipkan sebelah matanya. "Temen-temen SMA Angga kan temen-temen lo juga, nggak ngobrol sama mereka?" "Temen-temen SMA mah gampang lah, kapan-kapan juga bisa atur ketemuan lagi. Yuk, soal minuman gak cuma ada alkohol aja kok disana. Pilih aja yang lo suka, ditraktir Angga juga kalo mahal, ya gak?" Yogi melirik pada Angga. "Iyeee ... Bagus, Gi, rayu terus si Sasya." Angga tertawa. Aku mengembuskan napas, mau tak mau meng-iya-kan ajakan mereka. Mereka bersamaan mengucapkan, "yes!" --- Sebelum berangkat ke Beer Garden, kami bertiga mampir ke Pacific Place, Yogi mau beli ikat pinggang untuk hari pertama kerjanya. Aku dan Yogi masuk ke butik pakaian kerja pria sedangkan Angga sibuk menelpon teman-temannya untuk segera ke Beer Garden. Yogi telah memilih ikat pinggang yang disukainya kemudian berbisik padaku, "lo mau kasih kado Angga apa?" Benar juga, Angga akan mentraktirku, sudah wajib hukumnya aku beri kado. "Belum tau nih Gi," jawabku. "Mau patungan beli kemeja buat dia gak? Fifty fifty. Anggap kado dari kita berdua," bisiknya lagi. Mohon maaf sebelumnya, harga kemeja di butik ini paling murah 800 ribu, kalaupun patungan fifty fifty tetap 400 ribu. Menurutku, sebagai mantan pengangguran itu harga yang cukup menguras dompet. Makanya sejak Chika ajak aku window shopping ke Grand Indonesia dan Senayan City, tambah sekarang Pacific Place, rasanya ingin ke Tanah Abang saja. "Atau lo kalo mau bayar 20% juga boleh. Gue gak mau bebanin lo." Ya, sepertinya Yogi bisa baca ekspresi wajahku yang meragu. Sebenarnya keluargaku sangat berkecukupan, namun aku dibiasakan sederhana jadi melihat harga yang mahal sedikit langsung aku tolak. "Oke, sorry banget ya Gi" "No prob, ya udah coba lo pilih kemejanya. Gue yakin selera lo lebih bagus sebagai cewek," ujarnya. Lah kan ini kemeja pria, 'kan situ yang pria? Lagipula penampilan Yogi memenuhi kriteria laki laki metropolitan yang modis. Daripada ambil pusing, akhirnya aku menemukan kemeja yang cocok untuk Angga yang juga disetujui Yogi. --- Tiba di Beer Garden, Yogi langsung duduk di sampingku sambil menunggu teman-teman yang lain. "Kalian mau pesan apa?" tanya Angga. "Nanti dulu deh. Baru aja p****t gue duduk," tukas Yogi yang membuat Angga mengangguk. Aku dan Yogi mengobrol semua yang terjadi selama proses rekrutmen. Entah rasanya nyambung dan nyaman sekali mengobrol dengannya. Bersyukur aku dipertemukan orang seperti Yogi ditambah dia akan jadi rekan satu divisiku, Satu persatu teman-teman Angga datang. Yogi menyalami mereka tapi dia masih tetap duduk di sampingku dan mengobrol denganku. "Ini pacar lo, Gi? Yang namanya Mala itu? Cantik ya tipe lo banget." Seorang wanita yang baru menyalami Yogi bertanya mengenai keberadaanku di samping Yogi, sepertinya itu teman SMA-nya. "Oh bukan, ini teman kerja gue. Barengan nih baru lolos rekrutmen di Berindo. Oh ya, kenalin ini Sasya, Sasya ini Riska," jawab Yogi "Aahh maaf, abisnya lo jarang banget upload foto sama pacar lo di i********: jadi gue nggak inget wajahnya." Ya ampun selama di Beer Garden sepertinya aku mendapat banyak info menarik mengenai Yogi juga Angga. Dia menjulurkan tangannya. "Gue Riska temen sekelasnya Yogi dulu di SMA. Jadi kalian berdua baru diterima kerja di Berindo? Congratulation! Keren banget!" Kami pun berjabat tangan. Setelah itu, aku dan Riska mengobrol banyak tentang Yogi. Dia memberitahuku bahwa masih SMA, Yogi anak bandel sekali. Sering tidak mengerjakan tugas, disetrap, bolos pelajaran namun tetap saja dia meraih ranking pertama paralel. Lebih parahnya lagi, dia juga menceritakan kalau Yogi tukang tawuran dan terkadang ikut konvoi geng motor. "Lo di sini mau hina gue depan Sasya ya, Ris?" Riska mengibaskan tangannya. "Ih nggak, rekan kerja lo harus tau gimana sikap lo, 'kan?" Yogi tersenyum ketir. "Tiap orang pasti berubah, Ris. SMA tuh udah berapa tahun yang lalu sih?" "Tenang aja, Gi. Gue memuji kecerdasan lo jadi ranking satu paralel terus tanpa belajar dan ngerjain tugas. Oh iya, lo juga pujaan cewek-cewek di sekolah dulu," ujarnya kemudian menoleh ke arahku, "lo harus hati-hati sama dia, pokoknya hati-hati aja jadi temen ceweknya Yogi. Nanti lo tau sendiri, Sya." Riska tertawa kecil membuat Yogi mengembuskan napas sambil memijat pelipisnya Harus kuakui, Riska orangnya asik tapi menyebalkan. Aku merasa tidak enak dengan Yogi karena kini tahu semua tentangnya. Biarpunn dalam hatiku, aku antusias mendengar semua cerita tentang Yogi. "Udah ya gue ke sana dulu. Jadi lupa mau salamin Angga. Daahh." Riska melambaikan tangannya pada kami berdua. Aku meminum mocktail yang sudah kupesan tadi. "Lo nggak usah dengerin omongan Riska tadi ya." Yogi membahas persoalan itu. "Dua kali loh, Gi, gue diingetin temen-temen lo buat hati-hati sama lo. Emang lo kenapa sih? Segitu buaya kah lo?" Aku meluapkan keluh kesahku. "Insya Allah udah berubah sekarang." Aku mengernyitkan dahiku. "Kenapa? Gimana caranya? Dan appa yang bisa lo buktiin kalau lo udah taubat." Yogi menghela napas panjang. "Semenjak gue pacaran sama Mala. Lo tau gue punya pacar namanya Mala?" Aku hanya bilang, ya aku tau. Dari w******p story Yogi yang di-update hampir seminggu yang lalu. Tapi baru kudengar pengakuan langsung dari mulutnya dan kuketahui sekarang pacarnya itu bernama Mala. Dia sedikit terkejut seraya meringis sambil mengusap belakang lehernya. Dia juga menceritakan soal Mala yang membuatnya berubah, untuk saat ini aku tidak ada perasaan aneh saat dia bercerita tentang pacarnya yang kerja dan kuliah S2 di Australia itu, setidaknya untuk saat ini .... "Dia bikin gue nggak asal main perempuan lagi, lebih sering ngerjain tugas dan skripsi gue, lebih rajin ibadah, nggak kebut-kebutan motor lagi---" "Wait, kemarin lo ajak gue kebut-kebutan ya, mon maap." Aku melayangkan lima jariku seperti simbol talk to my hand. Yogi tertawa kecil lalu mendekatkan wajahnya padaku dan berkata lembut, "justru itu. Nggak tau kenapa kalau deket lo, sifat asli gue yang bobrok ini bergejolak lagi. Ada sesuatu yang menarik dalam diri lo buat gue, Sya." Ruangan Beer Garden ini semakin ramai, semoga saja Yogi tidak mendengar suara degup  jantungku. Refleks kujuga menelan air liurku. Ayo sadar, Sya! Aku mendorong bahu Yogi perlahan. "Maksud lo, gue bikin lo yang rajin ngerjain tugas jadi males lagi? Lo rajin ibadah jadi bolong-bolong lagi ibadahnya?" Yogi mengerjap mendengar responku tadi. "Bukan itu maksud gue. Maksudnya, emm ...." Aku terkekeh, bisa-bisanya dia malah berpikir. Yang ada aku akan pecut dia kalau dia sampai malas-malasan ibadah. Kembali bobrok karena aku? Enak saja. Oh atau mungkin poin pertama dari ucapannya, yaitu main perempuan. Dia punya pacar tapi dekat-dekat denganku, dia mau mempermainkan aku? Aku terlarut dalam pikiranku sendiri. Benar yang dikatakan orang jika dia seorang buaya, buaya tampan yang memang akhir-akhir ini membuatku penasaran hubungannya dengan trauma seksualku. Mungkinkah karena pesonanya yang membuatku ingin have s*x dengannya? Selalu muncul di kepalaku saat aku sedang m********i dan mendamba sentuhan laki-laki. Tapi, perempuan di sampingnya. Sebegitu hebatnya membuat dia berubah. Dia tidak akan semudah itu berpaling, biarpun dia seorang buaya. Aku sedikit kecewa sekarang. Yogi menjentikkan jarinya untuk membuyarkan lamunanku."Hey! Kok jadi lo yang bengong? Cemberut gitu, ayo senyumnya mana senyumnya," ujarnya membuatku salah tingkah. "Boleh gue lanjutin curhatnya?" sambungnya. Aku pasang telinga lagi, semoga cerita setelah ini ada pertanda bagus.  Semenjak Mala ke Australia dia merasa tidak dianggap lagi sebagai pacarnya. Maksudnya, dia merasa Mala menjadi sombong. Mala dapat beasiswa LPDP dari pemerintah, lalu bekerja menjadi juru bicara kedutaan besar Indonesia di Australia. Mala merasa mengurus anak ingusan seperti Yogi adalah sebuah beban, tidak pernah mau menghubungi Yogi duluan, mengajak ketemuan ketika Mala di Indonesia pun sulit bagi Yogi. Dia tidak pernah mem-posting foto bersama Yogi lagi di media sosialnya. Dengar-dengar salah satu teman Yogi dan juga teman Mala yang kuliah di Australia. Mala mengaku tidak punya pacar kepada orang-orang. "Apa yang harus disombongin Mala? Abang gue juga menang beasiswa S2 Erasmus Mundus ke Perancis dan segera buat S3, tapi dia nggak pernah jadi sombong. Kalo gue usaha, mungkin gue juga bisa dapat beasiswa kayak dia dan abang gue. Tapi gue lebih suka kerja daripada belajar." Mata Yogi terlihat sendu saat bercerita. "Apapun yang lo suka, lo lakuin aja, Gi. Jangan terhasut cuma karena pacar lo." Aku mengusap bahu Yogi untuk menenangkannya. Lagipula, apa-apaan si Mala? Bisa-bisanya dia sombong ke laki-laki yang mendekati sempurna seperti Yogi? Mentang-mentang dia bisa mengubah Yogi yang awalnya bad boy menjadi tunduk di hadapannya. Aku jadi ikut kesal dengan Mala. Mana pakai tidak mau mengakui kalau dia punya pacar di Indonesia? Apa dia berminat selingkuh di sana? Menarik perhatiian teman-teman baru dan bulenya. Memikirkannya saja aku udah ingin memakinya. "Honestly, gue belum ada rencana putusin Mala. Gue mau dia aja yang putusin gue. Tapi sampe sekarang masalahnya makin parah dan dia belum ada tanda-tanda bakal putusin gue." Baiklah, kali ini sorot mata kecewaku sepertinya kembali muncul. "Ya udah gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi, Gi. Semua ada di tangan lo. Masa gue nyuruh-nyuruh lo putus sama Mala. Emangnya gue siapa?" Aku tertawa kecil. "Tinggal tunggu waktunya aja buat yang terbaik." "Ya. Seneng curhat sama lo. Nice to have you as my friend, Sya. I think we can be a great besties," ujarnya seraya tersenyum hangat membuatku ... Meleleh. "Sure ... Emm ... Tapi lo bisa nggak kurang-kurangin liat d**a gue? Gue agak risih." Yogi terkejut mendengar perkataanku, gak menyangka aku notice hal sekecil itu. Dia meminta maaf berkali-kali. Ditambah lagi aku sudah notice sejak FGD, Angga yang saat itu di sebelahku saja sadar, masa aku nggak? Tapi tidak mungkin juga aku marah-marah mengatai Yogi b******n di tengah-tengah FGD. "Asal lo kurangin aja, Gi. Cowok memang makhluk visual banget. Gue udah ngalamin hal yang sama dengan cowok yang sebelumnya," ujarku santai sambil meneguk mocktail-ku. "Cowok yang sebelumnya, siapa tuh?" Yogi menyeringai. Aku tersedak. Mampus, aku gak mungkin cerita soal hubunganku dengan Janu yang vulgar. "Sya, lo punya pacar juga? Oh, lo bilang yang sebelumnya, berarti mantan lo?" Cukup menerka-nerkanya Yogi. "Iya mantan gue, gue sekarang jomblo." Wajah Yogi yang sebelumnya sendu terlihat ceria lagi sekarang, karena mendengar aku jomblo? "Tell me the story about your ex. Gue tadi udah cerita panjang lebar soal pacar gue, sekarang giliran lo." "Nggak mau ah, Gi." "Curang lo, Sya." Dia memanyunkan bibirnya. Astaga apa-apaan? Angga membenturkan sendok ke gelas kaca berkali-kali mengisyaratkan semua teman-temannya untuk fokus ke si pemeran utama malam ini, our birthday boy. Kami yang datang untuk ulang tahunnya bersulang. Dalam kondisi seperti ini Yogi masih sempat-sempatnya berbisik padaku, "pokoknya lo harus cerita soal mantan lo ke gue, real soon." You wish, Gi.' dari Pak Chandra. Untung hari ini tidak ada geng julid, kalau mereka ada, aku pasti dituduh penjilat. Padahal maksudku bukan seperti itu. Yogi hanya menatapku kebingungan saat aku bersiap membeli kopi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN