Sasya
10 September 2018
"Ada apa ini? Rekrutmen tahun ini ada persyaratan good looking?"
Seorang laki-laki berusia awal 30 tahunan bernama Ari sedikit berteriak saat aku dan Yogi berdiri memperkenalkan diri di hadapan para jurnalis Berindo. Bagaimana aku tau namanya Ari? Tentu saja dari nametag yang mereka gantungkan di lehernya.
"Ya mbok sueger liat dedek-dedek gemes ini lho!"
Seorang wanita berhijab usia 30 tahunan bernama Ajeng pun ikut menimpali dengan medhok khasnya. Respon Yogi terhadap mereka hanya tersenyum manis dengan santai, sedangkan aku ... Ah nervous sekali seperti di-OSPEK.
"Eh eh eh masnya itu, jangan senyum-senyum begitu. Kasian ibu-ibu di sini nanti kesurupan!"
Perkataan wanita berwajah Tionghoa bernama Eva yang sepertinya seusia dan teman satu geng wanita berhijab tadi membuat riuh suasana ruangan kerja jurnalis.
"Saraaahh? Mana si sarah? Sarah kamu ada saingan ini!" Kali ini, laki-laki usia 40 tahunan berkumis tebal bernama Romli berteriak mencari seseorang bernama Sarah sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Ah nggak mungkin saya jadi pesaing mbaknya, Pak Romli. Wong cantikkan mbaknya daripada saya."
Apa maksud perkataan wanita bernama Sarah itu? Sudah jelas dia cantiknya seperti aktris di drama-drama Korea jika dibandingkan dengan aku yang hanya serpihan tepung gorengan ini. Sepertinya dia seusia dengan Mas Ari, awal 30 tahunan. Merendah untuk meroket Mbak Sarah ini, membuat geng Mbak Ajeng dan Mbak Eva sedikit mencibir.
"Maaf orang-orang jurnalis disini memang terlalu heboh. Semoga kalian betah dan lagi kalian harus team up dengan beberapa dari mereka untuk liputan," ujar Pak Chandra, manajer kami yang memperkenalkan kami kepada para jurnalis Berindo. Padahal sedari tadi Pak Chandra sudah berdiri di samping kami, tapi para staf jurnalis tetap berisik.
"Baik gak masalah, Pak," jawabku.
"Seru, Pak, seru! Saya bakal betah disini." Ucapan Yogi membuatku menginjak sedikit sepatunya.
Pak Chandra tertawa. "Sebenarnya, jumlah jurnalis kami ada lebih banyak, tapi kebanyakan sibuk liputan, terutama bapak-bapaknya, di luar kota bahkan di luar negeri. Kalian suatu saat juga akan seperti itu, kuat mental dan tubuh kalian oke."
Aku dan Yogi mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk ke meja yang sudah disediakan untuk kami. Aku menghela napas setelah menjatuhkan tubuhku ke kursi.
"Gimana? Udah nggak nervous lagi kan?" tanya Yogi yang meja kerjanya persis di samping kiriku.
Aku mendesah pelan, "Ya." Kemudian mengelus-elus meja kerja juga komputerku. "Gi, serius ini meja kerja gue?" sambungku.
"Memangnya lo kira ini meja siapa?"
"Gak gitu ... Maksudnya ... We're employed here, and i still don't believe it."
"You have to believe, we're the champions and always together, Sya." Yogi menaruh tangannya di bahuku dan mendekatkan wajahnya.
"Ehem!"
Kami berdua terkejut ketika empat orang wanita sudah ada di hadapan meja kami.
"Kalian sudah tau kan, nggak boleh pacaran dengan teman sekantor apalagi satu divisi?" tanya Mbak Eva sembari menyilangkan lengannya. Aku menjawab kami tidak pacaran dan kita tau peraturan itu.
"Nggak pacaran juga jangan terlalu dekat lho kalo muncul percikan cinta bisa bahaya," timpal Mbak Ajeng membuat Yogi tersipu. "Tapi saya suka liat kalian berdua, cucyok hemm," timpalnya lagi sambil menyatuka kedua tangannya yang seperti memperagakan orang berciuman. Keempat wanita itu heboh, aku hanya tertawa menggeleng-gelengkan kepalaku.
Seketika perhatian mereka lekat pada sesosok Mbak Sarah yang sedang masuk ke ruangan Pak Chandra.
"Si Sarah itu lho, lagi coba buat rayu Pak Chandra dia. Pantesan tiga bulan berturut-turut jadi Journalist of The Month," celoteh Mbak Ajeng yang sepertinya Bu Kepala geng julid.
"Haduh, mulai lagi mbak gosipnya. Gak ada kapok-kapoknya." Entah kenapa Mas Ari bisa mendengar celotehan Mbak Ajeng padahal jaraknya jauh dari kami.
"Heh Ari, kamu mbelain Sarah terus yo. Pacaran kamu sama dia? Memang genit ya si Sarah ini semua laki mbelain dia," cerocos Mbak Ajeng melakukan perlawanan.
Tiba-tiba Yogi menyentuh tanganku di bawah meja. Wajahnya menunjukan ekspresi tersenyum tapi pasrah seperti hendak mengatakan, "sabar ya buat lingkungan kerja kita."
---
Jam istirahat tiba, aku dan Yogi memilih mengobrol di rooftop garden kantor setelah membeli kopi di lantai dasar.
"Yogi! Sasya! Lihat gue pake kemeja apa di hari pertama kerja!"
Terlihat Angga datang ikut nongkrong bersama kami. Dia mengenakan kemeja kado ulang tahun dari aku dan Yogi. Tapi dia nggak sendiri, ada perempuan berhijab dengan tubuh mungil kurus di sampingnya, sepertinya seusia dengan kita.
"a***y, keren kan kado ultah dari kita," tukas Yogi.
"Nanti kalo misalkan, misalkan nih ya, kalian menikah, gue mau pake kemeja ini ke kondangan kalian. Gue tandain nih, gue sebagai saksi cinta kalian berdua lewat kemeja ini."
Ucapan Angga itu sontak membuat aku dan Yogi tersedak kopi. Sudah cukup ibu-ibu geng julid jurnalis tadi, sekarang Angga pun jadi seperti ini?
"Heh kesurupan apa lo, Ga? Tumben lo jodoh-jodohin gue sama Sasya." Yogi menonjok lengan Angga.
Perempuan yang bersama Angga hanya tertawa-tawa kecil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ini siapa, Ga?" tanyaku menunjuk perempuan di sampingnya itu.
Angga memperkenalkan Lula, Lula ini tim HR yang baru saja lolos rekrutmen seperti kami. Di tim jurnalis aku dan Yogi yang lolos, di tim HR tentu Angga dan Lula. Dia menjabat tanganku dan Yogi dengan anggun. Dia terlihat kalem. Alumni Psikologi Unpad ternyata.
"Nggak panas apa nongkrong di rooftop? Makan yuk di kantin," ajak Angga yang disetujui kami bertiga.
---
Seharian ini aku dan Yogi hanya diberi training seputar jurnalistik dan pengelolaan berita yang dijalani para staf di Berindo. Dan sepertinya akan berlangsung seperti itu selama satu minggu awal. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, waktunya pulang. Sepertinya Yogi akan selalu jadi ojeg langgananku untuk pulang, bahkan sejak perekrutan, dia sendiri yang memaksa.
"Kalian pulang bareng terus nih?" tanya Angga ketika dia, aku, dan Lula tiba di parkiran motor.
"Ya namanya satu kantor, why not?" jawab Yogi.
"Lula, lo juga pulang bareng Angga?" tanyaku pada Lula yang sedari saat jam istirahat hingga pulang, hemat sekali bicaranya, anaknya terlalu pemalu.
"Nggak kok Sya, gue juga bawa motor ke sini," Akhirnya Lula angkat bicara.
"Lo juga harusnya bawa motor, Sya, eh jangan ding, nanti gue nggak bisa antar lo pulang lagi hehe," ujar Yogi nyengir sambil mengeluarkan motor Kawasaki-nya.
Sebenarnya aku bisa bawa motor, namun untuk jalan raya di Jakarta ... Aku masih belum berani. Aku pun sudah berjanji akan sewa kost atau apartemen dekat dengan Berindo. Biar tidak kena macet juga.
Lula yang sedari tadi memperhatikan aku dan Yogi mulai berkomentar, "kalian lucu banget loh, kayak Dilan dan Mileanya Berindo."
Kami bertiga pun tertawa. Sumpah, kenapa orang-orang Berindo suka sekali menjodoh-jodohkan aku dengan Yogi. Bahkan orang yang baru kenal pun, di hari pertama kerja pun.
---
Di perjalanan pulang, aku dan Yogi membahas tentang training tadi. Namun ....
"Oh ya soal mantan lo ... Masih nggak mau cerita ke gue?"
Astaga anak ini masih ingat saja pembahasan kita yang terpotong saat di Beer Garden.
"Nggak Yogi, so sorry."
"Ya udah gak apa-apa Sya, gue gak maksa kok kalo itu privacy. Tapi waktu bakal mengungkap fakta sendiri, i guess."
Akhirnya dia mengerti. Tapi semoga saja fakta itu gak akan pernah terungkap pada siapapun termasuk dirinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sasya
19 Oktober 2018.
"Hai, Sya, how's Bali?"
Benar, aku sekarang berada di Bali untuk meliput berita mengenai Kuta Beach Festival 2018. Setelah satu bulan lebih bekerja di Berindo, aku mulai terbiasa liputan kemana-mana dan menjaga badanku tetap fit. Tapi karena hal itu, aku jadi sulit bertemu teman-temanku, Yogi, Angga, dan Lula. Makanya, hari ini selesai liputan hari pertama, aku mengajak mereka video call melalui Skype.
"Nice, Gi! Lo pasti bakal suka di acara Kuta Beach Festival ini."
"Kapan ya gue ngeliput festival. Ngeliput pejabat politik terus." Yogi mendengus.
Memang yang kutahu, jurnalis laki-laki lebih sering ditugaskan mewawancarai dunia politik, aku tidak paham sistem Berindo kenapa dibuat seperti itu. Biarpun mereka tidak menutup kemungkinan meliput acara hiburan seperti konser, festival, atau dunia entertain. Begitu pun sebaliknya.
Aku tertawa. "Well at least, lo satu ruangan sama Bapak Presiden kan?" Pertanyaanku membuat Yogi tersenyum.
Saat ini di video call, hanya ada aku dan Yogi. Entah apa yang membuat dia begitu semangat membuka Skype ketika aku memulai video call ini. Bahkan Angga saja masih izin mandi dulu dan Lula shalat Isya.
"Sya, lo nggak kangen gue? Terakhir kita ketemu di kantor waktu hari terakhir training loh. Abis itu kita liputan beda tempat terus."
"Menurut lo gimana?" Aku mau sedikit menggodanya tapi dia malah tertawa.
Tiba-tiba seseorang muncul di belakangku. "Hayo, video call sama siapa? Eh ada Yogi, hai!" Itu Mbak Sarah, aku dapat jatah liputan bersamanya untuk festival ini, dan kini kami ditempatkan di satu kamar hotel yang sama.
"Hai Mbak." Yogi melambaikan tangannya. "Waduh enak banget nih gue video call sama dua bidadari. Yang lain gak usah diajak deh." Ia tertawa renyah.
Aku memainkan bibirku seolah mencibir perkataan Yogi soal dua bidadari. Dan tak lama kemudian seseorang masuk video call.
"Yo wassap guys!" Angga muncul dengan rambut basah sehabis keramas.
"Aahh jadi kalian group video call ya. mbak kira cuma berdua, ya udah mbak mandi dulu deh." Mbak Sarah pamit pergi ke kamar mandi.
"Gara-gara lo Mbak Sarah jadi pergi!" Yogi emosi pada Angga.
"Lah, baru muncul langsung dimarahin. Ngajak berantem?" balas Angga.
Aku mengembuskan napas pasrah melihat mereka bertengkar. Kemudian terdengar bunyi telpon masuk dari smartphone Mbak Sarah. Aku mengintip siapa yang menelpon, Pak Chandra? Aku sedikit terkejut. Aku diamkan saja atau aku angkat? Oh haruskah aku berikan pada Mbak Sarah yang sedang mandi?
"Mbaakk, ada telpon ini dari Pak Chandra!"
Tidak ada jawaban, teriakanku di depan pintu kamar mandi gak terdengar olehnya. Tak lama pun telponnya mati, aku lega, tapi itu hanya berlangsung beberapa detik hingga Pak Chandra kembali menelpon. Kalau sudah begini sebaiknya kuangkat saja, mungkin mau menyampaikan informasi penting karena beliau sampai terus menelpon. Maafkan aku Mbak kalau aku lancang.
"Halo Pak."
"Halo Sarah sayang, bapak sudah pesan tiket pesawat buat nyusul kamu ke Bali lusa nanti. Pak direktur juga ikut. Nanti kita menginap di villa sayang, gak sabar raba-raba tubuh kamu lagi. Singset ayu, pengen tak cium-cium."
Mataku terbelalak, jantungku rasanya hampir lepas. Ternyata Mbak Sarah benar ....
"Halo, Sarah? Halo? Jawab sayang kok diem aja nanti Bapak gigit lidahnya lagi."
Aku langsung mematikan telponnya lalu melemparnya ke tempat tidur Mbak Sarah sembari menutup mulut dengan tanganku. Disgusting! Ucapan apa tadi?
Ternyata benar julid ibu-ibu jurnalis gengnya Mbak Ajeng. Mbak Sarah memang ada main dengan Pak Chandra. Selama ini aku hanya menganggap mereka iri dengan kecantikan dan prestasi Mbak Sarah. Makanya setiap mereka mengajakku untuk ikut julid aku hanya iya-iya saja tanpa tau informasi yang sesungguhnya. Dan kutebak-tebak, sepulang dari Bali pasti aku akan diinterogasi oleh geng julid itu mengenai Mbak Sarah.
"Loh Sasya kenapa? Mukamu jadi kaku begitu?" Aku terkejut dengan sentuhan tangan Mbak Sarah di bahuku. Dia sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
"Anu, Mbak ...."
Smartphone Mbak Sarah berdering lagi, sepertinya Pak Chandra menelpon lagi. Dia langsung mengambil smartphone itu lalu bergegas keluar kamar hotel.
Aku mengembuskan napas lalu menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidurku, menutup mataku dengan lengan kiriku. Beberapa menit kemudian aku terkesiap mendengar suara telpon berdering, kali ini asalnya dari smartphone-ku. Kuangkat, "Kenapa Yogi?"
"Woy, lo yang ajakin video call lo yang ilang. Udah ada Lula ini." Astaga, aku sampai lupa. Aku pun kembali bergegas ke laptopku yang masih terhubung dengan ketiga temanku via Skype.
"Sorry, tadi ada ... Sesuatu," kekehku.
"Sesuatu? Muka lo kenapa, Sya? Kayak ada sesuatu yang nggak beres." Lula yang baru aku lihat keberadaannya hari ini, dengan mukena yang masih dikenakannya, langsung bisa mendeteksi mood-ku.
"Eh iya bener, kok jadi murung linglung begitu? Sebelumnya masih ceria-ceria aja." Angga yang sesama anak HR ikut menimpali. Wah, anak HR memang jagonya peka.
"Gue nggak bisa cerita, mungkin kalian berdua juga nggak bakal ngerti, ini kondisi tim jurnalistik," jawabku.
"Mbak Sarah?" cerocos Yogi sambil menghisap rokoknya. Tunggu dulu, aku baru tau kalau dia merokok. Atau dia gak pernah menunjukkannya di hadapanku? Baiklah itu tidak penting untuk sekarang, lagipula aku gak masalah dengan laki-laki perokok. Karena dulu aku juga sempat jadi perokok aktif, dihasut oleh Janu sialan, namun berhenti hanya dalam tiga bulan sebelum ketergantungan.
Aku mengangguk merespon Yogi. Akhirnya kita bisa bahas itu lewat personal chat w******p.
"Nah! Gue mau cerita! Gue mau nyicil mobil dari gaji pertama gue!" Angga memulai topik lain.
"Udah gila kali ya. Kenapa nggak naik Transjakarta aja sih kalo gak betah sama parkiran motor Berindo atau SCBD? Kan bisa bareng gue. Atau bareng Sasya juga kalo doi gak diantar-jemput Yogi karena liputan," celetuk Lula yang akhir-akhir ini lebih suka naik transportasi umum daripada motornya.
"Gue masih betah pake motor," ujar Yogi santai sambil mengembuskan asap rokoknya.
"Ya elu emang geng motor dari dulu. Lagian lo nggak kasian sama Kawasaki dan Ducati lo disimpen di parkiran yang sempit, nggak kondusif begitu?"
"C'mon Angga, we're just freshgraduate! Nggak udah gaya-gayaan dulu deh beli mobil. Kalo gak betah sama parkiran motor ya tinggal naik Transjakarta." Perkataanku membuat Angga memonyongkan bibirnya.
Sebenarnya aku ingin bertanya soal Yogi yang dikaitkan dengan geng motor. Ditambah waktu ulang tahun Angga, Riska bercerita padaku soal Yogi dan geng motor-nya. Tapi mood-ku masih tidak karuan soal telpon Pak Chandra tadi. Mungkin lain kali saja.
---
Jam menunjukkan pukul 00.00 WITA tapi aku masih belum bisa tidur, soal Pak Chandra dan Mbak Sarah tadi. Ya Tuhan, kenapa aku harus menjadi manusia overthinking.
Kalau sulit tidur seperti ini trauma ketagihan-ku muncul. Untung kamar hotel ini terdiri dua single bed bukan satu double bed. Jadi aku bebas bergerak tanpa mengganggu Mbak Sarah yang sudah terlelap.
Aku mulai meraba-raba buah dadaku, sedikit mendesah, lalu tangan yang satunya meraba area vaginalku. Tanpa sadar memori suara Pak Chandra muncul di kepalaku. Damn! Aku tidak mungkin menyalurkan rasa ketagihanku itu malam ini kalau memori itu terus muncul.
Baru kusadari, sedari tadi layar smartphone-ku bercahaya tanda ada notification masuk. Langsung kuambil lalu membuka pop-up w******p yang muncul.
Yogi - Berindo
Sleep yet?
Mau cerita soal Mbak Sarah?
Aku
Not yet
Oh iya, panjang banget
ceritanya, Gi.
Layar smartphone-ku langsung muncul telepon masuk dari Yogi. Benar-benar orang ini. Aku keluar dari kamar hotel, takut mengganggu tidurnya Mbak Sarah pun bercerita soal apa yang terjadi tadi.
"Kalo lo diinterogasi gengnya Mbak Ajeng, bilang aja gak tau apa-apa. Pokoknya kita netral aja biarpun udah tau faktanya," ujar Yogi dari seberang sana.
"Iya, Gi ... Pasti ... Cuma gue kaget aja."
Kami berdua diam ....
"Oh iya, tadi gue lupa bilang waktu video call ... Mau minta tolong." Aku lupa bilang sesuatu hal yang penting yang akan mengubah hidupku.
"Apa tuh? Everything for you."
Aku mendengus, "Kamis nanti gue mau pindah ke apartemen daerah Senayan. Nggak tinggal bareng Chika lagi di Sawah Besar. Lo mau bantuin gue pindahan, 'kan?"