Pindahan

2016 Kata
Yogi 25 Oktober 2018 "Syaaa!! Jangan tinggalin gue! Lo jahat! Jahat!" Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Chika ketika melepas kepergian Sasya yang akan pindah ke apartemen barunya. Sasya sedari tadi meminta maaf sambil memeluk sepupunya itu. Aku, Angga, dan Lula harus menyaksikan adegan perpisahan yang ... mengiris hati sore ini di depan rumah Chika sebelum benar-benar berangkat membantu Sasya beres-beres di apartemen barunya. "Dia kenapa dah, Gi?" Angga bertanya padaku dengan sedikit tertawa. Sepertinya yang dia maksud adalah Chika. "Chika memang anaknya begitu, maklumin aje." "Yogi kenal sepupunya Sasya?" Kali ini Lula yang bertanya. "Baru ketemu beberapa kali sih." Akhirnya terdengar Sasya angkat bicara, "maafin gue Chi, gue gak mau ngerepotin lo, om, tante terus disini." "Lo nggak ngerepotin sama sekali! Lo malah banyak bantu kita di sini. Gue anak tunggal, Sya. Ada lo di rumah gue nggak kesepian lagi, berasa punya saudara!" "Tenang aja, gue bakal sering kunjungin lo ke sini. Lo juga bisa mampir ke apartemen gue. Toh, masih sama-sama di Jakarta kan?" "Awas lo ya bohong, tau-tau nggak pernah kunjungin kita." Chika mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Sasya dan membuatnya tertawa manis. Setelah sedikit perdebatan Sasya dengan Chika, akhirnya kami semua naik mobilku, maksudku mobil abangku. Ingat kan beberapa hari lalu waktu Sasya di Bali, dia minta tolong buat bantuin dia pindahan. Ya sudah, aku ajak juga Angga sama Lula sekalian mereka mau menengok hunian baru sahabatnya. Untungnya, mereka mau. Barang-barang yang dia bawa cuma pakaian, gadget, dan beberapa novel kesukaannya, mungkin apartemennya full furnished? By the way, selama menyetir aku tidak fokus, Chika yang ikut kami masih saja merengek-rengek di mobil. Sesampainya di depan gedung apartemen Sasya di bilangan Senayan, aku langsung pamitan, "guys gue mau balik Berindo dulu, ada problem soal jurnal liputan gue, anak-anak scriptwriter udah bawel banget dari tadi." "Iya gak apa-apa, Gi. Thank you ya," ujar Sasya sambil melambaikan tangannya. Dia sudah tau kalau aku hanya bisa mengantarnya, tidak ikut masuk. "Yah, Gi. Jangan pergi dong, kita butuh tenaga cowok." Chika menahanku. "Heh, nggak usah modus lo, Chi! Tuh ada masih ada cowok," ucap Sasya sambil menunjuk Angga. Tapi aku sendiri tidak yakin Angga bisa angkat barang berat. Hal itu membuatku senyum sendiri. Aku pun berhasil pergi dari apartemen itu. --- Astaga, jam sudah menunjukkan jam 10 malam. Ini sih harus dihitung kerja lembur, ah enggak, ini salahku juga yang menulis liputan sedikit asal-asalan membuat para scriptwriter mengeluh. Selama proses revisi liputan tadi yang terbayang di kepalaku adalah apartemennya Sasya. Rasanya tidak enak membuat mereka kerja sendiri. Apakah kira-kira Angga berhasil diperbudak cewek-cewek itu untuk angkat barang berat? Kuambil smartphone-ku untuk menanyakan kabar Angga. "Oh baik, Gi, baik. Malah gue santai-santai sambil minum boba bak princess waktu mereka beres-beres apartemennya." Aku memutar bola mataku. "Lo jadi laki kagak ada guna, ya." "Enak aja! Gue juga bantu! Menata interior apartemen Sasya dengan aesthetic." "Prett!" Angga menceritakan padaku kalau barang-barang interior apartemennya masih sedikit. Dia memberiku saran untuk membelikannya sesuatu, atau mungkin mengajaknya ke toko home decor. Pasti Sasya suka. Kemudian setelah Angga memutus teleponnya, aku menelepon Sasya sambil berjalan ke parkian basement. "Halo?" Suara yang selalu membuat jantungku berdebar akhir-akhir ini terdengar di telepon. "Halo, Sya, gue ke apartemen lo nih sekarang. Masih ada anak-anak nggak di sana?" "Udah pada balik, tinggal gue doang. Kerjaan lo udah beres?" Bingo, ini saat yang tepat buat berduaan sama Sasya ... Malam-malam di apartemennya pula. Aku memasuki mobilku di parkiran. "Udah, gue ke sana ya."  "Emm, Gi. Boleh minta tolong lagi? Lo masih di jalan kan? Nitip martabak keju Mang Oleh ... Eh tapi nggak usah ding, ngerepotin."  Mobilku melaju keluar dari kantor Berindo. "Baru keluar dari parkiran kok," ujarku sambil mengingat-ingat kalau martabak keju memang terfavoritnya Sasya, "ya udah gue beliin, selow aja sama gue mah nggak usah sungkan, Sya." Sasya terdengar ceria di telepon. "Yaaayyy! Makasih banyak ya, jadi sayang deh, uwu." Aku terkejut mendengar perkataan itu lalu menepikan mobilku ke bahu jalan. "Apa, Sya? Coba ulang lagi?" "Makasih banyak?" "Bukan, yang terakhir." "Uwu? Udah ah nggak ada siaran ulang. Lo nyetir aja yang bener jangan sambil telponan. Bye-bye." Teleponnya mati.... "Anjrit." Aku menutup wajahku lalu membenamkannya ke stir mobil sambil menghentakkan kedua kakiku. "Yes Sasya juga naksir gue, gue yakin!" Aku ngomong sendiri di dalam mobil, tidak ada yang lihat. Tapi, tunggu dulu. Jangan kepedean dulu, ingat masih ada Mala di Australia, Yogi, astaghfirullahalazim. Aku mengelus dadaku. Bisa juga bukan, Sasya peka dengan perasaanku terus mencoba mempermainkan hatiku? Ya bisa jadi, itu kemungkinan terburuknya. Mobilku pun kembali melaju menuju martabak Mang Oleh. --- Sebuah pop up chat masuk ke smartphone-ku. Sasya mengirimku nomor pin apartemennya. Dia mau mandi dulu katanya sebelum bertemu denganku jadi tidak bisa bukakan pintu. Dasar, tidak mandi juga aku masih cinta kok. Yogi, yogi, kapan terakhir lo bucin sama cewek kaya gini, sama Mala tidak segininya. Rasanya ingin kulempar bungkus martabak keju ini ke kepalaku sendiri. Tapi dia tidak mungkin sembarang memberitahu pin itu kan, boleh pede dong kalau aku sudah dipercaya olehnya? Tiba di depan studio apartemen Sasya aku menekan pin 029629. Yakin itu tanggal lahirnya, hanya tinggal dibolak-balikkan. Kenapa dia harus pakai tanggal lahir, itu berbahaya. "Assalamualaikum Sasya, abang ganteng masuk nih." Aku pun masuk. Tidak ada jawaban. Kutaruh martabak kejunya di dapur samping pintu masuk. Aneh sekali masa suaraku tidak terdengar, padahal kamar mandinya tidak jauh dari pintu masuk. Kalian tau ukuran apartemen studio kan? Begitu masuk langsung disapa oleh dapur di samping kiri dan kamar mandi di samping kanan. Begitu jalan lurus baru kalian akan menemukan tempat tidur, lemari, tv, dan lain-lain. Oh, ada balkon juga rupanya. Not bad untuk ukuran Aku menghampiri pintu kamar mandi untuk mengecek keadaan Sasya. Tau apa yang kudengar? Astaga, sepertinya sepulang dari apartemen Sasya sepertinya aku harus mandi besar. Suara desahan nikmat Sasya terdengar jelas saat aku menempelkan telingaku di pintu kamar mandi. Dia sedang apa di dalam? Sh*t, pikiran kotorku muncul tidak karuan, kutebak dia m********i. Aku menyentuh lalu mengelus-elus celana bagian s**********n. Oke, Sya, aku mulai sedikit ereksi. Betapa terkejutnya aku ketika pintu kamar mandi terbuka dan Sasya yang muncul hanya tertutup sehelai handuk. Sialan! Jadi makin ereksi! Kami berdua berteriak. "Gila lo, Gi! Kapan lo masuk!" "Sorry, Sya, sorry banget. Gue pinjem kamar mandi lo dulu ya!" Buru-buru aku masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Sasya sambil berusaha menutupi selangkanganku dengan kemeja kerjaku. "Jangan keluar sampe gue pake baju! Lo denger kan, Gi!" Aku dengar tapi tidak menanggapinya. Sudah tidak tahan mengeluarkan semua nafsuku. --- Semua urusan-ku di kamar mandi sudah selesai. Aku keluar setelah mengumpulkan keberanian minta maaf soal situasi tadi pada Sasya. Dia pasti sudah berpakaian karena aku lumayan lama. "Sya, sorry gue nggak tau lo masih man---" Sasya terlihat menikmati martabak keju yang kubeli tadi dan sudah berpakaian tidur di atas tempat tidurnya. Ya ampun, sebegitu mudahnya melupakan kejadian tadi hanya dengan makan martabak keju. "Yogi, nggak apa-apa, salah gue memang nggak denger lo masuk. Lagian biasanya martabak Mang Oleh ngantri banget, gue pikir lo bakal lama." Aku hanya nyengir lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Entah aku jadi canggung sekali dengannya. "Apartemen lo bagus, udah beres semua barang-barangnya?" Dia mengangguk sambil menjilati s**u kental manis dan keju di jarinya. "Terus barang beratnya ada yang masih belum diangkut?" tanyaku lagi. "Udah semua, Gi. Tenang aja, ini kan full furnished. Lagian kita memang cewek-cewek strong. Eh, Angga gak termasuk ya hehe." Aku hanya tersenyum. Sasya menyodorkan martabak keju di tangannya kepadaku yang membuatku membuka mulutku. "Heh, ini gue kasih bukan buat suapin lo. Pegang!" Aku tertawa. "Galak banget sih". Kuambil martabak keju dari tangannya lalu melahapnya. "Oh ya, mana dompet gue? Berapa, Gi? Harganya masih sama kan ya?" Sasya mengobrak-abrik lemari dan tasnya. "Buat apaan, Sya? Itu gue kasih, gue beliin, ngapain lu bayar?" "Serius? Ih makasih banyak loh." "Sama-sama, biar lo makin sayang sama gue," ujarku sambil senyum nakal. "Gi ... Please, you didn't take it serious, right?" Mataku mengerling ke atas pura-pura berpikir. "Yogi, ih!" Dia memukul lenganku. "Ya nggak lah, Sya. I know it was just a joke. Atau lo sendiri yang seriusin omongan makin sayang gue tadi? "Hah! Sa ae lo." kekehnya. Kami kemudian membahas hal menarik lain malam ini, terutama membahas tim jurnalistik. Bahas geng julid, bahas Mbak Sarah dan ... Mas Ari? Sasya menjelaskanku tidak hanya hubungan terlarang Mbak Sarah dan Pak Chandra tapi juga dengan Mas Ari. Mereka berdua pacaran diam-diam padahal sudah ada peraturan valid tentang tidak boleh pacaran dengan karyawan satu kantor. Sasya bilang mereka sering diam-diam ciuman di tangga darurat. Aku menghela napasku. "Elah, Sya. Sejak kapan lo jadi anak buah julidnya Mbak Ajeng gini?" Ia mengangkat kedua bahunya."Julid itu asyik loh. Astaghfirullah maafkan hamba Ya Allah." Kemudian ia memukul kepala dengan kedua tangannya. Aku tertawa lalu berkata, "tapi gue juga penasaran. Kalau bener Mbak Sarah dan Mas Ari pacaran, Mas Ari tau nggak kalau Mbak Sarah sering main sama Pak Chandra?" "Kayaknya nggak tau deh, Gi. Gila aja kalau sampai tau." "Bisa aja 'kan mereka kerja sama narik atensi atasan?" "Di Mas Ari nggak ada untung, cuma di Mbak Sarah. Kalau beneran kayak gitu kurang ajar juga ya mereka." "Udah ah! Nggak penting juga kita pikirin mereka. Bukan urusan kita, daripada urusin hidup orang mending lo ganti pin apartemen lo, jangan pake tanggal lahir." Sasya terlihat kaget sekaligus heran, kenapa aku bisa tepat menebaknya. Mudah, dua angka di tengah pasti tahun lahir. "Kalo gue ganti tanggal lahir suami gue gimana, Gi? Choi Siwon" Sasya tertawa. "Eh tapi dia tanggal lahirnya ada dua, 048607 dan 028710, bagusan mana?" "Bagusan 079521, Sya." "Apaan tuh? Pasti tanggal lahir lo, 'kan? Nggak mau. By the way, kita kan nggak mau pake tanggal lahir, jadi lupa." Kami berdua tertawa karena hal bodoh. Dan akhirnya aku baru mau pulang dari rumah Sasya lewat pukul 00.00. Obrolan ringan yang sangat berkesan malam ini. Lihat, bahkan setelah sedikit tragedi memalukan aku tidak menggoda Sasya untuk melakukan lebih dari sekedar mengobrol. Sebelum aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar studionya, aku teringat ucapan Angga yang mengatakan dekorasi interiornya masih sedikit. Ada baiknya aku mengajaknya ke home decor. "Oh iya, Gi! Kenapa nggak ajak lo aja temenin gue belanja dekorasi lucu buat apartemen gue? Tadinya gue mau ajak Chika tapi dia susah dapat libur." "Just tell me whenever you want." Sasya mengingat-ngingat jadwal liputannya begitupun denganku. Sulit menemukan jadwal kosong bersamaan. Sama saja dengan Chika yang sulit mencari jadwal kosong bersama, tetapi aku berusaha untuk pergi bersama Sasya berduaan. Kapan lagi kesempatan seperti ini? Hingga tercapai kesepakatan pergi tanggal 11 November, masih dua minggu lagi.  "Boleh, tapi hari itu gue mau nge-gym di PIM 2, deket rumah gue. Gimana kalo kita belanja di sana?" Sasya mengiyakan ajakanku. Selama ini dia hanya mengunjungi mall-mall Jakarta Pusat dekat Berindo. Pilihan mall lain seperti PIM 2 memang paling tepat. "Okay, can't wait," ujarnya. --- "Yogi! Ini lo semua yang kirim ke gue??" Celotehan Sasya di seberang telepon kami itu membuatku terkekeh. Hari ini aku membelikannya banyak barang dekorasi rumah. Sebelunya, aku menanyai adik perempuanku barang-barang yang perempuan suka untuk kamarnya. Dia memilih dekorasi ala Korea, semoga Sasya juga suka. Yang pertama ada bed cover dasar warna putih dan motif garis kotak-kotak hitam, cermin persegi panjang agar dia bisa berkaca dulu sebelum berangkat kerja, karpet motif, tapestry, dan tentu aja ambalan untuk menaruh novel-novel favoritnya. "Tapi ... Gue nggak bisa terima semua ini." "Lho, kenapa? Gue ikhlas kok." "Lo punya duit dari mana deh beli semua ini, kalau ditotalin bisa sampai satu juta lebih." "Ngepet," cicitku sambil tertawa, "ada lah, lo kepo banget gue punya duit dari mana. Halal ini halal! Buat teman spesialku." Sejujurnya uang itu adalah pemberian ayahku yang cukup terkenal sebagai pengusaha sukses. Sasya mendengkus, "Spesial banget, Gi? Tapi nanti kita tetep ke PIM 2 kan? Sekalian mau liat-liat." "Jadi lah, apapun yang lo mau. Gue siap." Sasya tidak meresponku. "Sya?" "Iya, Gi. Makasih banyak, ya. I have to go." Kemudian dia mematikan teleponnya. Aku menggelng sambil tersenyum puas. Lihat sampai sejauh mana lo tahan godaan gue, Sya. Nggak lama lo bakal jadi milik gue. Namun ada satu urusanku yang belum selesai, putus dengan Mala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN