Sasya
11 November 2018
"Sya, udah sampe PIM? Maaf gak bisa anter ke sini. Masih nge-gym."
Aku menuruni ojek online yang kutumpangi tadi sejak dari apartemen. Yogi terus menelponku saat aku di motor. Dia sudah lebih dulu berada di sana untuk gym. Sebenarnya dia juga menyuruhku nge-gym karena menjaga tubuh dan kesehatan jurnalis adalah hal utama dalam menjalankan kerjaan. Tapi aku kurang suka tubuhku berkeringat. Mungkin lain kali saja.
"Nggak apa-apa banget, Gi. Masa lo anter jemput gue melulu. Ini gue udah sampe nih. Kita langsung ketemu di ACE Hardware ya."
"Oke, sedikit lagi. I'm gonna take a shower."
Telepon mati. Tapi aku tidak langsung ke ACE, malah lihat-lihat toko baju. Ya Tuhan, tolong jangan sampai uang jatah interior apartemenku habis hanya karena membeli baju.
Setengah jam sudah mengitari toko baju sekarang saatnya ke ACE. Setibanya di sana, aku menghampiri peralatan masak yang paling utama, lalu perabotan lucu lainnya. Yogi dimana? Sudah selesai belum, ya? Tidak kelihatan batang hidungnya. Aku memasuki barisan bibit tanaman, gemas bukan kalau aku taruh beberapa pot tanaman di balkon apartemenku? Saat aku fokus dengan bibit tanaman, seorang lelaki menghampiri dan memanggil, "Sasya! Ternyata bener itu lo!"
Aku menoleh dengan refleks memanggil, "Yogi." Namun yang kudapat bukanlah Yogi, melainkan....
"Sasya, gokil, bisa-bisanya kita ketemu lagi disini. Daritadi gue perhatiin lo tapi takut salah orang." Lelaki itu senyum lebar seakan-akan tidak pernah terjadi apapun pada masa lalu kami.
Aku terdiam, mataku terbuka lebar, jantungku memompa lebih cepat, darah mengalir ke otot besar kaki hingga membuat kakiku gemetaran namun mencoba perlahan mundur menjaga jarak darinya, ketakutan mengerubungi jiwa dan ragaku saat kulihat iblis yang kuhindari beberapa tahun terakhir. Janu.
"Lo kenapa bisa ada di Jakarta? Gue di sini baru diterima kerja, di situ, daerah Kebayoran Lama, sekarang lagi cari barang buat di kosan. Lo di sini baru diterima kerja juga?" Janu bertanya dengan santainya.
Mana bisa aku menjawabnya, bibirku gemetaran, otakku malfungsi dia berada di hadapanku langsung.
"Heh, kok lo diem aja? Muka lo pucet banget." Janu melambaikan tangannya ke depan wajahku.
Nada dering smartphone-ku berbunyi tanda ada telpon masuk. Keheningan kami berdua pecah. Untuk telpon aku selalu menyalakannya keras-keras agar terdengar olehku di situasi genting, contohnya seperti sekarang ini."Angkat tuh telponnya." Aku mengambil smartphone-ku dari dalam tas. Telepon dari Yogi tapi sayangnya keburu mati.
"Sorry, Janu gue harus pergi sekarang." Akhirnya aku bisa melontarkan satu kalimat pada Janu.
Tepat saat aku membalikkan badan aku menabrak d**a bidang seorang lelaki. Aku menoleh ke atas, sejak kapan Yogi sudah ada di belakangku?
"Yogi, sejak kap---"
"Itu siapa, Sya?" tanya Yogi padaku tapi perhatian dia tertuju pada Janu.
"Itu emm ... Temen kuliah," jawabku menunduk.
"Temen, Sya?" Janu tertawa getir. "Gue mantan pacarnya." Nada bicara Janu meninggi begitu dia bicara pada Yogi.
"Nggak usah ngaku-ngaku lo, anjir, Sasya bilang lo temennya. Mentang-mentang Sasya cakep, lo akuin jadi mantan pacar."
"Lah, memang dia beneran mantan pacar gue. Lo sendiri siapanya?"
"Pacarnya Sasya yang sekarang." Ucapan Yogi terdengar tegas dan mantap sambil merangkul bahuku.
Aku menoleh pada Yogi dengan sedikit terheran. Jadi ini yang mengaku-ngaku siapa? Astaga Yogi....
"Udah yuk ah balik," bisikku sambil memukul lengan Yogi.
"Awas lu bikin cewek gue ketakutan kayak tadi lagi! Jangan berani lu muncul di depan mukanya lagi!" Yogi terus menunjuk-nunjuk Janu disaat aku mendorongnya keluar dari ACE. Aku takut mereka berkelahi, mereka berdua sama-sama gila.
---
Aku berhasil memboyong Yogi keluar ACE lalu mengajaknya berjalan ke supermarket.
"Itu tadi beneran mantan pacar lo, Sya?"
Aku meminum botol air mineral dari dalam kulkas supermarket kemudian menganggukan kepalaku. Mengiyakan pertanyaan Yogi tadi.
"Sekarang gue paham kenapa lo kekeh gak mau cerita soal mantan pacar lo, lo kaya mayat idup abis dicabut nyawa tadi." Yogi ikut meneguk botol sodanya. Baiklah seharusnya kita bayar ke kasir dulu tapi ini tidak.
Aku bertanya kenapa dia mengaku-ngaku sebagai pacarku. Ternyata seorang laki-laki lebih berpotensi mengajak balikan, ditambah kalau mantan pacarnya masih jomblo. Dia khawatir sekali aku balikan dengan Janu, Janu mengejar-ngejar cintaku kembali dan akan mencari info tentangku di Jakarta. Kalau hal itu terjadi dia siap pasang badan, padahal aku belum kepikiran sampai ke situ.
"Tenang aja, Sya. Ada Aa Yogi di sini yang siap lindungin lo dari jin jahat!" ujarnya menepuk d**a bidangnya.
Aku memutar bola mataku lalu tertawa kecil. "Ustad kali ah."
Namun tawa itu berubah menjadi perasaan gusar. Memori pagit bersama Janu terputar ulang di kepalaku. Tangisku ingin pecah tapi ini pusat keramaian. Aku harus mencari tempat untuk menangis. Mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis. "Sasya?" lirih Yogi menopang daguku yang sedari tadi menunduk, "lo mau nangis? Ke mobil gue aja yuk. Tumpahin semuanya di sana." Yogi pun merangkul bahuku dan memberikan topi baseball-nya padaku.
Sudah setengah jam aku menangis dalam mobil Yogi di parkiran mall. Yogi menoleh padaku. "Padahal lo bisa curhatin masalah lo sama mantan lo biar lebih plong ke gue. Ada urusan yang belum selesai di antara kalian?"
Aku menggeleng. "Urusan gue sama dia udah selesai. Urusan gue sama kejiwaan gue yang nggak selesai-selesai."
Yogi mengerjap. "Maksudnya, dia bikin lo punya konflik batin sama diri lo sendiri? Dia bikin lo trauma? Pernah nyiksa lo, selingkuh dari lo, or something?"
Jawaban Yogi mendapat nilai seratus. Namun aku masih malu untuk mengungkapkannya. Aku takut Yogi menjadi ilfil karena aku sudah ternodai oleh Janu. Akhirnya aku memilih mengalihkan pembicaraan. "Yogi lo nggak sibuk kan? Temenin gue ke Beer Garden, atau tempat mana pun yang ada alkoholnya. Alkohol bisa lepas gundah gulana kan? Gue muak di mall ini pengen cepet-cepet cabut."
Dia tertawa. "Gundah gulana ... Of course, i know the right place to drunk. Tapi sayangnya sekarang masih siang. Gue bawa mobil ini keliling Jakarta aja, gimana? Biar hati lo adem."
Aku mengangguk. Entah ini hanya modus Yogi saja ingin seharian berduaan denganku tau tidak. Yang pasti keberadaan Yogi di sampingku lumayan membuatku nyaman dan tidak melakukan hal yang lebih gila. Oh, bahkan aku saja tidak jadi belanja barang-barang interior unit apartemenku. Sudah kehilangan mood.
---
"Sya, udahan dong nangisnya. Dari tadi sore di mobil sampe sekarang malem tapi lo gak mau cerita sedikitpun. Nih kita kan udah di bar ter-glamor se-Jakarta Raya dan gue yang traktir. Mau pesen apa?"
Aku mengelap wajahku. Tidak enak juga dilihat orang-orang. "Makasih banyak, Gi, apa aja deh terserah lo ... Eh jangan, gue mau soju, biar kaya di drama-drama Korea."
Pesanan sojuku tiba dengan kilat. Yogi menuangkannya ke gelasku. Sedikit saja, ini akan jadi pertama kalinya aku mabuk. Aku mencicipi pelan-pelan.
"Gimana? Enak? Gue belum pernah cobain soju juga sih. Gue minta ya." Dia menuangkan soju ke gelasnya juga.
"Pahit manis gitu, Gi. Eh lo jangan sampe hangover*! Nanti kita berdua siapa yang angkut?"
"Tenang, gue kuat alkohol kok." Dia meneguk soju secara one shot*."
Aku mulai sedikit pusing, rasanya seperti ... Terbang ... Inikah yang dinamakan ngefly?
Kusandarkan kepalaku di bahu Yogi. "Gue pusing, Gi. Padahal baru tiga teguk."
Tangan Yogi mengelus rambutku. Entah ini kesempatan dalam kesempitan yang dilakukannya tapi aku membiarkannya dan menikmatinya sampai aku kembali meneguk sojuku.
"Tau nggak sih, Gi. Janu tuh cupu-cupu bangs*t. Dia yang udah bikin gue begini." Aku terus meneguk sojuku.
"Iya iya, Sya. Gue paham. Udah ya minumnya. Lo mulai hangover."
"Nggak mau! Masih mau! Pesen lagi sojunya!" Aku menggerakan lengan Yogi cukupp kasar. Seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh ayahnya.
Yogi mengembuskan napas dan mau tidak mau memesan soju lagi.
"Yes!" Aku menuangkan soju lagi ke dalam gelasku. "Enak banget, Gi, sumpah. Kita mampusin tuh si Janu!"
Aku tertawa bahagia seperti kuntilanak. Sampai akhirnya aku makin pusing, makin ngefly, tidak tau apa yang aku ucapkan, dan akhirnya pandanganku blank.
-----------------------------------------------------------
Yogi
Aku memapah tubuh Sasya ke tempat parkir. Tingkahnya sudah mulai tidak karuan, aku yakin dia sebenarnya sudah tidak sadar. Tapi dia tetap saja merengek.
"Gi, gue mau dibawa kemana? Sojunya belum habis, sayang itu. Nggak mau pulang! Nggak mau ketemu Janu!" Tangan kanan Sasya terus menarik-narik bajuku saat keluar menuju lift.
"Di apartemen lo nggak ada Janu, Sasya. Udah kita pulang." Kami masuk lift lalu aku menekan tombol lift menuju tempat parkir.
"Nggak mau pulaaaangg maunya digoyaaangg~ Yogi ayo goyang~"
Semua orang di lift tertawa. Aku mencoba ikut tertawa garing. Help.
Keluar dari lift aku langsung membopong tubuh Sasya ke dalam mobil.
"Ih apaan sih gendong-gendong, genit banget lu!" Sasya terus bergerak di pangkuanku bahkan sedikit menampar pipiku.
Akhirnya berhasil memasukan Sasya ke dalam mobil lalu aku memacu mobilku menuju apartemen Sasya. Untungnya tidak jauh dari bar tadi. "Yogi, lo pasti penasaran ya kenapa gue bisa segininya cuma gara-gara Janu?" Sasya tiba-tiba membeo kembali.
Aku diam, jujur memang penasaran. Tapi sebaiknya aku tidak menanggapi ucapan Sasya dulu.
"Nih ya, dia kurang ajar, masa dia berani pegang d**a gue kaya gini." Sasya menarik tanganku dari stir untuk meraba buah dadanya, aku langsung menepis."Eh! Eh! Sya, please jangan."
Sasya tertawa. "Memang enak ya megang d**a cewek? Kok Janu nagih terus? Dia juga pegang-pegang paha dan s**********n gue. Gue risih banget."
Aku tidak menjawab, napasku terengah masih mengatur ritme jantungku yang baru saja meraba buah d**a Sasya yang selama ini membuatku khilaf. Untung saja dia tidak menarik tanganku ke selangkangannya. Bisa panas dingin aku.
"Yang lebih parahnya lagi nih. Janu berani buka celana persis samping gue waktu ngapel, gue liat burungnya!"
"Terus gimana tuh burungnya?"
"Kecil, sekecil itu dipamerin ke gue. Terus dia maksa gue buat oral seks lagi!" Wajah Sasya terlihat seperti mengejek. Aku ketawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Kalo punya lo kira-kira lebih gede gak, Gi?"
"Punya gue? Jelas lebih gede lah."
Dia mendekatkan wajahnya ke celanaku.
"Heh! Heh! Mau ngapain? Gue lagi nyetir ini!" Aku mencoba menyingkirkan kepala Sasya yang tepat berada di atas selangkanganku. Kemudiku kacau dan sepertinya mobil-mobil lain di dekatku sibuk mengklakson. Untung sedikit lagi kami sampai apartemen Sasya.
Setibanya, parkiran apartemen aku kembali membopong tubuh Sasya ke kamarnya dan aku tidak peduli beberapa penghuni memperhatikan kami. Daripada Sasya bertingkah aneh.
"Yogi lo harus tau ...."
"Jangan sekarang, Sya. Nanti aja di kamar lo ngomongnya."
Aku masih ingat pin kamarnya, kubuka pintu kamar, lalu aku langsung menurunkan Sasya di tempat tidurnya.Saat hendak pergi, tiba-tiba kedua kaki Sasya menahan pahaku agar tidak pergi kemana-kemana. Otomatis aku terjatuh di atas tubuh Sasya, untung lenganku sigap menahan tubuhku, kalau tidak Sasya sudah tertimpa. Posisiku sekarang ada di atas tubuh Sasya. Jantungku kembali berdetak super kencang.Sasya menangkup kedua pipiku, "Yogi dengerin gue dulu, lo harus tau gue trauma ketagihan seks gara-gara Janu ...."
Aku diam sebentar. "Oke, terus? Kenapa bisa?"
Sasya menutup wajahnya. "Dulu dia selalu maksa gue berhubungan intim. Sampai akhirnya suatu hari dia berhasil merenggut keperawanan gue di kosannya! Hal itu yang paling ngedorong trauma gue!"
Aku yang posisinya masih di atas tubuhnya, membelai rambutnya untuk menenangkannya. Kemudian dia membuka kedua tangannya, air matanya sudah mengalir lagi. "Nggak apa-apa, Sya. Cerita aja ke gue, tumpahin semuanya ke gue."
"Terus yang selalu ada di fantasi gue tiap gue ketagihan seks, ya elo Yogi, sejak pertama kita ketemu waktu mau interview Berindo. Nggak tau kenapa ...." Aku sangat sangat senang mendengar hal itu. Karena akhir-akhir ini aku pun sama, biarpun aku tidak ketagihan seks seperti dia.
Dia menarik wajahku, lalu bibir kami berciuman. Aku membalas ciumannya, cukup lama. Sasya melepas tautan ciuman kami, "Sya, gue nggak tau lo sekarang sadar atau enggak. Tapi ... Gue juga sama kayak lo, dan kayaknya gue ada perasaan lebih sama lo. Sejak awal kita ketemu."
Sasya menggantungkan lengannya di leherku. "Yogi...."
Kami kembali berciuman, sejenak aku membuka kaosku hingga aku telanjang d**a.
"Wow." Sasya terkejut melihat lalu menyentuh tubuhku yang terpahat otot-otot sixpack.
Kami bertukar posisi, Sasya di atas sekarang. "Yogi, kita stop dulu. Sepertinya perut gue mulai nggak enak"
"Nanggung, Sya." Gila, setan dalam tubuhku sudah 100% keluar.
Sasya kesulitan membuka bajunya sampai harus kubantu. Kini hanya tersisa bra yang melekat di tubuh bagian atasnya. Aku menegakkan punggungku, memeluknya erat, mengecup sepersekian jengkal dari leher hingga dadanya. Namun Sasya menutup muutnya seperti menahan gejala mual akibat mabuk.
"Yogi, sumpah nggak ku---"
Sasya mengeluarkan semua muntahannya ke dadaku. Aku sedikit berteriak dan tubuh Sasya kini terbaring di atas tempat tidurnya.
Dengan gesit aku berlari ke kamar mandi dan menumpang mandi. Untung celana dan bajuku tidak terkena muntahan. Having s*x malam ini gagal. Mana ada laki-laki yang diperlakukan seperti itu oleh perempuan yang disukainya? Selesai mandi kucoba bersihkan sisa muntahan yang ada di mulut Sasya dan tempat tidurnya. Aku harus cepat pulang karena besok Senin. Sepertinya Sasya besok tidak bisa masuk kerja, keadaannya terlalu collapse. Dan akhirnya aku membuka pintu keluar dari kamar Sasya. Meninggalkannya di saat seperti ini lebih baik.