Sasya
12 November 2018
Aku mau membuka mataku tapi rasanya berat sekali. Kedua tanganku memijat-mijat kepala yang pusingnya luar biasa ini. Bahkan untuk mengangkat kedua tanganku saja kaku. Tapi tunggu dulu--aku mengendus-endus--kenapa ada bau-bau muntah? Kucoba bangun dalam posisi duduk. Meraba-raba tubuhku yang hanya mengenakan bra. Kuraba lagi pinggang dan kaki, masih pakai jegging yang kemarin. "Loh kok? Ini kemarin gue ngapain?" gumamku. Aku berusaha memutar semua memori yang terjadi semalam. Tapi tidak menemukan jawaban. Ingatanku hanya sebatas memesan soju di bar, mulutku bergerak tapi tidak sadar bicara apa, lalu terasa Yogi sedang memopoh tubuhku ke lift. Sudah, hanya segitu saja. Apa Yogi membawaku pulang? Tapi kenapa aku menanggalkan bajuku? Atau jangan-jangan....
Aku mengambil smartphone-ku untuk menelpon Yogi segera.
"Halo Sasya~"
"Yogi lo dimana? We need to talk ASAP!"
"Gue lagi ada di kantin Berindo ini, lagi makan bareng Angga sama Lula."
"Berindo? Makan siang?" Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12.30. Aku menepuk keningku. Astaga hari ini Senin, seharusnya aku masuk kerja, bodoh Sasya bodoh.
"Tenang aja, Sya. Gue udah bilang sakit maag lo kambuh."
Aku menghela napas. Bagaimana Yogi tau kalau aku punya maag akut sejak selama menjadi anak kost di Malang? "Gue pernah liat lo pegangin ulu hati waktu abis minum kopi. Jadi gue bisa narik kesimpulan kalau lo punya maag," ujarnya di telepon.
Aku berterima kasih padanya karena sudah memberitahu keadaanku. Namun tetap saja aku akan dimintai surat dokter oleh kantor. Jadi lebih baik aku ke dokter dan memang sepertinya alkohol tidak cocok untuk lambungku. Aku juga bertanya keadaanku kemarin setelah pulang dari bar. Tantu saja dia pasti tahu sesuatu.
"Errm... Right... Kita omongin nanti kalau gue udah balik dari Berindo. Kantin rame banget sekarang." Suara Yogi terdengar khawatir. Entah aku jadi curiga padanya.
Kami mematikan telpon dan tanpa sengaja tanganku mengenai sprei yang basah karena ... Muntah! Gila, ini aku yang muntah? Siapa lagi, yang mabuk berat hanya aku, bukan Yogi. Aku mengganti sprei dan mandi. Aku butuh sup pengar, rasanya masih agak sedikit terbang saat aku berdiri dari tempat tidurku dan aku yakin ini bukan karena darah rendah, jarang-jarang aku seperti ini.
---
Sudah setengah jam aku menunggu di kedai kopi lantai dasar apartemenku. Dan ah ... Itu dia.... Dia menghampiriku sambil melambaikan tangan. Yes that guy is so hot, bahkan ketika pulang kerja, aku tidak melihat tanda-tanda lusuh sedikit pun darinya. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku untuk berbisik, "ngobrolnya jangan disini, Sya. We need privacy. Di kamar lo aja."
Aku malah takut kalau mengobrol berduaan di kamar. Apalagi mengingat aku hanya mengenakan bra saat terbangun. Was he doing something to me?
"Nggak usah, disini aja," cetusku.
"Please, biarpun sepi tapi dinding juga punya telinga, Sya. Gue nggak bakal ngapa-ngapain. Cuma mau cerita jujur sama lo." Yogi mengacungkan simbol peace pada jarinya.
Astaga, dia seperti bisa baca pikiranku. Apa jangan-jangan benar saja kalau ....
"Emangnya kenapa deh, Gi." Aku memicingkan mataku padanya.
Tanpa basa-basi, dia menarikku ke arah lift, kami masuk ke kamarku. Aku mempersilakannya duduk di atas tempat tidurku, berhadapan denganku. Seandainya kamar studioku cukup luas untuk menaruh sofa.
"Ini muntah udah dibersihin kan?" tanya Yogi berhati-hati menaiki tempat tidurku.
"Udah. Tuh lo tau gue muntah. Coba sekarang ceritain."
Yogi menceritakan semua yang terjadi padaku sejak keluar dari bar hingga dia meninggalkan studioku. Dia bersumpah tidak menambah atau mengurangi alur ceritanya. Aku menarik lalu mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisku. Sangat memalukan. Kukira berkata jujur saat mabuk cuma ada dalam drama, tapi bisa-bisanya terjadi padaku. Aku bersumpah tidak akan mabuk lagi.
"Jadi lo udah tau soal hubungan gue sama mantan gue? Dan trauma gue?"
"Yap, gue nggak pernah maksa lo buat cerita, tapi gue pernah bilang kalo waktu bakal mengungkap faktanya sendiri. Kejadian, 'kan?"
Kami berdua terdiam....
"Sya, kenapa lo diem aja waktu dipaksa seks sama Janu? Seks kalo udah dipaksa, itu namanya kekerasan seksual dalam pacaran. Why girls couldn't speak up about that?"
"Gue diem aja? Gi, gue nggak suka ya kalau lo blaming victim kaya gini. I tried. I was f*****g tried! Gue berusaha mohon-mohon sama dia buat nggak maksa secara kasar. Tenaga cowok lebih kuat, biarpun gue berhasil kabur atau ngelak. Bahkan dia pernah ngancem gue, dia bakal bunuh diri kalo gue nggak mau diajak having s*x! Akhirnya pada suatu hari, dia beneran ngelakuin itu."
Aku mulai menangis kembali. Yogi mencoba menenangkanku dan memelukku. Anehnya aku tidak menepisnya. Malah merasakan kehangatan dalan pelukannya.
"Sorry, Sya, sorry ...." Yogi mengelus punggungku.
"Dia janji bakal tanggung jawab atas apa yang udah dia lakuin. Tapi apa yang gue dapat setelahnya? Dia selingkuh waktu KKN, Gi! Kebayang nggak lo gue nikah sama peselingkuh dan penjahat kelamin kayak dia? Mending gue jomblo seumur hidup!"
"Ada gue di sini. Ada gue," ujarnya lalu dia kembali bertanya setelah aku mulai tenang., "terus selain gue yang tau kejadian ini siapa?"
"Baru lo dan kedua sahabat gue waktu kuliah."
"Lah, keluarga lo nggak ada yang tau?"
Aku menceritakan bahwa keluargaku cukup taat kepada agama. Jika aku memberitahu mereka, mereka akan menganggapku aib keluarga, tidak suci, atau apalah itu karena aku sudah ternodai. Keperawanan adalah hal yang sangat esensial yang perlu dijaga di mata orang tuaku. Bukan hanya itu, mereka bisa saja menghabisi Janu. Terutama kakak perempuanku, seorang pengacara yang menjunjung tinggi feminisme dan menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan. Dia bisa membawa Janu ke meja hijau.
"Padahal penjarain aja, Sya." Yogi tertawa mengejek.
"Guenya? Guenya juga pasti nggak bakal selamat dari tatapan jijik orang-orang setelah tau apa yang terjadi sama gue."
Yogi tertunduk. Dia mengungkapkan dari lubuk hatinya, dia tidak akan menghakimiku seperti orang-orang yang ada dalam bayangku. Dia bilang, dia terima diriku apa adanya.
"Oh ya, satu lagi, gue juga mau minta maaf karena semalem gue hampir khilaf mau having s*x. Gue cuma cowok biasa yang lemah syahwat apalagi ditarik cewek macem lo."
Aku sedikit tertawa. "Untung aja gue muntah di badan lo ya, Gi."
Aku melepas pelukan kami dan menonjok pipinya hingga berwarna kemerahan. Dia diam saja, sepertinya dia menerima pukulan itu. "Nggak apa-apa gue pantes terima itu."
Aku menghela napas panjang lalu melenggang ke balkon apartemen, meninggalkannya sendiri di dalam.
"Sasya," lirihnya yang kini berdiri di sampingku yang tak menghiraukannya karena sibuk memandangi kendaraan berlalu lalang di bawah. "Lo bilang kalau fantasi seks lo waktu ketagihan itu gue ...." sambungnya.
Aku tersentak karena hal itu jauh lebih memalukan daripada aku mengaku soal hubunganku dengan Janu. "Apa? Gue jujur soal hal itu juga ke lo? That night was fuckin' mess!"
Yogi mendekatkan wajahnya padaku. Aku menjauh dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Namun Yogi tetap mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Gimana kalo tiap lo ketagihan seks ... Gue bantuin lo melepas semua hasrat seksual lo. Biar nggak cuma sekadar fantasi," bisiknya, lalu dia menyeringai.
Aku tidak merespon. Tiba-tiba dia meregangkan kedua tangannya. "Gue bukan cari-cari kesempatan, Sya. Tapi kita sama-sama untung. Lo bisa melepas hasrat lo tanpa harus berfantasi. Dan gue bisa ngerasain lagi yang namanya seks setelah bertahun-tahun, apalagi selama pacaran sama Mala jarang banget menyentuh kulitnya sedikit pun. How?"
Setelah dipikir-pikir pernyataannya benar. Rasa melepas hasrat seks seorang diri berbeda dengan sentuhan dari laki-laki. Aku bisa mendapatkan itu dari Yogi. Tapi tunggu dulu, apa katanya tadi? Berarti sebelum pacaran dengan Mala dia pernah having s*x?
"Yogi, sebelum sama Mala lo pernah having s*x?"
Dia menggigit bibir bawahnya. "Yes, once. With my ex at highschool. Itu pertama kalinya gue having s*x, setelah prom night kelulusan. Kita putus karena dia kuliah di Amerika."
"Terus dia nggak minta tanggung jawab lo atau menolak gitu, Gi?"
"Nope, kejadian itu atas dasar kemauan dia. Gue ayo-ayo aja. Lagian pasti sekarang di Amerika dia pasti sudah having s*x beberapa kali dengan teman bulenya. Kalau gue yang maksa, itu namanya kekerasan seksual dalam pacaran, 'kan tadi gue ngomong."
Aku mengembuskan napas, ternyata ada perempuan seperti itu. Sedangkan aku bersusah payah menolak ajakan Janu, tak kuasa ingin lepas darinya sampai akhirnya terlambat.
Karena kami sebelumnya sudah sama-sama pernah melakukan itu dengan mantan kami. Yogi mengatakan dia tidak akan mungkin menghakimiku yang sudah tidak perawan dan sangat ternodai ini selayaknya keluargaku. Toh baginya, itu bukan salahku juga. Dia ingin menguatkanku dengan caranya. Lalu aku bertanya lagi apakah Yogi pernah having s*x setelah itu dengan pacar-pacar barunya. Dia menjawab hanya sekadar ciuman, pelukan, pegangan tangan, tidak lebih.
"Kalau sama Mala bener-bener nggak ada skinship sama sekali. Mala yang minta dan gue ikutin karena gue juga mau berubah jadi cowok baik-baik. Berhasil. Tapi lama-lama gue jenuh, tubuh gue pengen hal itu lagi. Gue berasa kehilangan jati diri gue."
Dia mendekatkan wajahnya padaku lagi, bibirnya hampir menyentuh bibirku. "Makanya gue coba tawarin ke lo, Sya. The time when we were kissing, you don't remember how it feels."
Aku membungkam mulut Yogi lalu menjauhkan wajahnya dariku. "Lo nggak inget Mala kalau kita saling melepas hasrat seksual kita?"
Dia mengembuskan napas kesal. "Gue udah jenuh sama dia, Sya. Hampir tiga tahun kayak gini terus, perasaan gue ke dia hampir hilang. Ditambah perubahan sikap dia kayak yang gue ceritain sebelumnya."
Sepertinya Yogi akan curhat panjang lebar lagi. Aku mendengarkannya dengan seksama.
"Otak sama hati gue nggak sinkron. Otak gue bilang jangan putusin dia karena dia yang berhasil mengubah gue jadi orang yang lebih baik dan gue butuh dia terus, tapi hati gue ... Udah bukan dia yang ngisi, Sya."
Tapi curhatan Yogi itu bukan jawaban dari pertanyaanku. Oke, di hatinya sudah bukan Mala, tapi statusnya? Dia masih pacar Mala. "Gue pernah alamin hal ini, Gi. Maksudnya, kalo kita doing a little bit s*x, Mala bakal ada di posisi gue dulu waktu tau Janu selingkuh. Dan gue nggak mau hal itu terjadi ke cewek lain. Cukup gue aja."
Dia tersenyum sambil mengacak rambutku. "Smart girl. That's why I like you."
Eh tunggu dulu, dia ngomong apa?
"Hah, gimana gimana, Gi? Sini jangan dulu pergi. Coba ngomong."
Aku menarik lengannya yang sedang mengambil tas hendak pergi. "Ngomong apa lagi? Gue bilang gue nggak pernah maksa cewek buat bersenang-senang karena jatuhnya bakal jadi kekerasan seksual. Apalagi kata lo, lo nggak mau Mala jadi kayak lo dulu, 'kan?"
Aku menggeleng. "Bukan yang itu, Yogi. Yang lo bilang that's why I like you."
"Oh, iya gue suka sama lo. Cowok mana yang nggak suka sama lo, kecuali kalau dia gay kaya Angga," ujarnya sedikit tertawa. Ya ampun fakta apalagi sekarang? Angga gay? Otakku terlalu banyak dihantam fakta gila bertubi-tubi.
Sesaat Yogi mengikat tali sepatunya. "Oh, tapi kalo misalkan lo berubah pikiran dan melepaskan ketagihan seks lo sama gue. Just call me. Gue kasih waktu lo seminggu, karena mulai besok gue ditugasin liputan ke Surabaya seminggu. Take your time, bye."
Dia mengecup pipiku. Refleks aku memukul dadanya.
Setelah ia keluar dari pintu. Oke, Sasya sekarang berpikir, berpikir! Ambil tawaran Yogi untuk errm ... bersenang-senang dengannya atau tidak. Aku membayangkan tubuh berotot Yogi dan sentuhannya di tubuhku. Sayang sekali aku tidak ingat malam itu. Benar, aku lelah hanya bisa berfantasi seperti ini. Aku sangat menginginkannya, semua yang ada pada dirinya, apalagi setelah ia mengatakan bahwa ia menyukaiku, Tuhan. Namun, Mala?