Sweet Escape

2261 Kata
Sasya 18 Juni 2019 "WUHUUUU! A EN JE A YE, ANJ*Y!" Aku berteriak kegirangan. Berdiri di mobil Jeep tanpa atap di Merapi Lava Tour yang sedang melaju di sungai yang airnya surut namun masih terciprat saja ke tubuhku dan Mas Reza yang berdiri di sampingku. "Kita gak bawa baju ganti, gimana?" Mas Reza pasti khawatir karena ini adalah destinasi kencan pertama kita di hari ulang tahunnya tapi naju kami sudah sedikit basah. Aku menggeleng memberi isyarat kalau ini bukanlah suatu masalah, aku malah senang karena baju basah ini adalah esensi dari Merapi Lava Tour. Dia pun tersenyum. Semua spot dalam tour ini sudah selesai, tetapi dalam perjalanan abang supir Jeep yang kami sewa sepertinya menawarkan sesuatu yang menyenangkan untukku. "Serius, Sya?" Mas Reza sedikit terkejut mendengarku menerima tawarannya. "It's gonna be fun!" Jeep pun berputar kencang 360 derajat pada satu poros di atas lahan tanah kosong, kami harus berpegang tangan yang kuat pada tiang-tiang yang memang diperuntukan agar tidak jatuh. Aku berteriak kegirangan lagi. Mas Reza menggenggam tanganku erat, dia terlihat ketakutan, tapi aku suka melihatnya seperti itu, tidak seperti biasanya yang tampak datar. Aku harus mengajaknya kegiatan ekstrim lebih sering. "Sasya ... Mau sampai berapa lama?" lirih Mas Reza berdiri di sampingku dengan wajahnya terlihat sedikit pucat. "Oh? Bang, bang, stop bang!" Aku meneriaki abang supir Jeep untuk berhenti, khawatir dengan kondisi Mas Reza. Jeep pun berhenti, Mas Reza bergegas turun mencari tempat untuk membuang rasa mualnya. "Maaf, Mas. Kalau gak kuat jangan dipaksain." Aku menepuk-nepuk punggungnya dan memberikannya tisu dari dalam tasku. "Gak apa-apa, Sya." Aku mengembuskan napas. Lagi-lagi aku mendengar itu. Akhirnya kuperintah dia duduk di samping supir lalu kami kembali pulang. Di perjalan kembali, aku berdiri sendiri, menghirup udara segar merasakan angin lembut menyentuh wajahku. Melupakan segala perkara di Jakarta dengan Mas Reza benar-benar tepat, what a sweet escape. Mas Reza yang tadinya duduk di depan pindah ke belakang berdiri di sampingku kembali saat mobil Jeep masih melaju, bisa-bisanya dia melakukan itu. Tidak tega membiarkanku sendirian katanya. Kemudian dia menunjuk satu-persatu bongkahan rumah yang hancur. "Gara-gara gunung Merapi meletus kah? Tahun berapa ya aku lupa?" Aku mencoba mengingatnya, sepertinya saat aku masih SD. "2007 kalau gak salah. Debu vulkanik dan lavanya sampai ke lereng gunung hancurin ini semua. Tapi sekarang sudah dijadiin tempat wisata." Benar 'kan, selalu saja ada hal seru yang dibahas bersamanya. --- Kami kembali ke pusat Kota Jogja untuk sedikit jalan-jalan menghilangkan sisa rasa mual Mas Reza dan mengeringkan baju yang basah sebelum pergi ke destinasi selanjutnya. Kami mengendarai motor Vespa antik milik ayahnya Mas Reza yang sudah usang karena pemiliknya sudah tak kembali dalam kurun waktu lama, namun masih bisa dipakai. Mas Reza menoleh ke belakang, "Sya! Kita makan siang dulu di Malioboro. Mas ada rekomendasi gudeg yang rasanya tak lekang oleh waktu." "Apa? Makan? Ayo!" Sejujurnya aku tidak dapat mendengar jelas omongannya karena deru mesin Vespa yang dikendarai kami berduajuga kebisingan tengah kota karena libur lebaran masih lumayan terasa. Tapi mendengar kata makan, aku ayo-ayo saja. Kami tiba di sebuah warung gudeg, kata Mas Reza, gudeg ini sangat terkenal bahkan sempat masuk Netflix Street Food Asia. Namanya gudeg Mbah Lindu. "Mbah Lindu ke mana ya, Mbak?" tanya Mas Reza pada seorang wanita yang menjajakan gudeg tersebut. Sang penjual, Mbah Lindu, yang nyaris berusia satu abad, ternyata dalam setahun belakangan beliau sudah tidak melayani pelanggan lagi akibat usia senjanya itu. Kini digantikan oleh wanita itu yang ternyata adalah anak ketiganya yaitu Mbak Ratiyah. Namun Mbah Lindu masih ada campur tangan saat produksi di dapur. Sambil menunggu pesanan. Mas Reza bercerita kalau Mbah Lindu terkenal ramah dan bersedia bercerita mengenai perjalanan sejarah yang dijalaninya, termasuk bertransaksi dengan mata uang benggol dan sen. Beliau juga menjadi saksi sejarah kedatangan Jepang ke Indonesia. Pun, saat makan di warung gudeg Mbah Lindu, aku bisa merasakan kesederhanaan khas Jogja. "Yang Mas suka dari gudeg Mbah Lindu itu soal disiplin rasa, gak berubah sejak jaman kolonial Belanda. Beliau mempelajari pembuatan gudeg sejak kecil." Mas Reza masih heboh bercerita. "Emangnya Mas pernah makan gudeg ini dari jaman kolonial?" Aku tertawa kecil. Dia terlihat bingung lalu nyengir seperti keledai, "Ya enggak juga sih." Gudeg siap dihidangkan, aku mencicipinya dan luar biasa. Memang segala takaran bumbunya pas, tidak ada yang kurang ataupun lebih. Yang terpenting, tidak pelit bumbu. "Mas tuh ya, bisa banget bawa aku kuliner ke tempat yang oke, gak di Jakarta gak di Jogja." Pujianku itu membuat Mas Reza tersanjung malu-malu, wajahnya sedikit memerah, --- Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Candi Ratu Boko, candi yang sempat viral tahun 2017-2018 lalu Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Candi Ratu Boko, candi yang sempat viral tahun 2017-2018 lalu. Agak terlambat aku berkunjung ke sini. Untuk tiba di candi yang selalu jadi spot foto, kami harus menaiki tangga lumayan jauh. Tapi semua itu worth it. "Mas, please fotoin aku." Mas Reza dengan sabar menuruti perintahku. Aku berfoto dengan berbagai pose, tentu saja untuk feeds estetik i********:-ku. "Kamu mau upload ini di i********:?" Aku mengangguk, "Tenang aja. Aku gak buka socmed-ku sekarang. Nanti kalau udah balik ke Jakarta. Anggep aja late post." Aku tahu Mas Reza akan marah jika aku membuka socmed lalu menangis lagi karena melihat update-an Yogi. "Jadiin dokumentasi pribadi aja padahal. Tapi kamu benar, foto-foto ini terlalu indah kalau disimpan sendiri. Selebgram Mas ini." Dia mengacak rambutku. Seharusnya perlakuannya itu membuatku blushing. Tapi aku malah mengingat seseorang yang mengataiku selebgram waktu di Soetta beberapa hari yang lalu, sebal. "Sini, Mas aku fotoin juga." Aku menyuruhnya untuk berfoto di candi. Dia awalnya menolak akhirnya patuh juga. Selama memotretnya aku bengong, larut dalam pikiranku mengenai Mas Reza. Kenapa Mas terlalu baik padaku? Seperti tidak pernah ingin buatku kecewa sedikit pun. "Sasya kok bengong, terpesona ya?" Dia tertawa, "Foto berdua yuk." Kami pun foto selfie berdua sebanyak mungkin. Pokoknya aku mau upload foto Mas Reza saat matanya merem di Instastory-ku nanti. --- Destinasi selanjutnya cukup jauh karena di selatan, kami menuju gumuk pasir dan Pantai Parangtritis. Aku sedikit khawatir mengendarai Vespa antik ini. Tidak terasa stabil dan melaju kencang untuk ukuran Vespa keluaran 50 tahun lalu, kupikir memang Vespa seperti ini. Kalau oleng sedikit bisa berbahaya, apalagi banyak bus pariwisata berlalu lalang. "Mas, hati-hati. Aku takut, banyak kendaraan besar. Kalau kecelakaan bisa mati bareng." "Hmm? Mas mati gak apa-apa asal bareng kamu." "Hush ngomongnya!" Aku memukul helm Mas Reza. Dia terkekeh, "Kan kamu yang ngomong mati bareng duluan. Percaya aja sama Mas." Aku tidak mau lihat ke jalanan, aku mau merem saja, dan otomatis tanganku memeluk pinggang Mas Reza. Aku malah teringat dibonceng Yogi yang selalu mengendarai motor besar seperti Kawasaki Ninja, itu lebih gila dari motor Vespa antik Mas Reza ini. Dengan motor besar seperti itu mau tidak mau aku harus memeluk pinggang Yogi ketika melaju kencang dan Yogi dengan kesempatannya itu memegang tanganku terus, jempolnya mengelus-elus tanganku selama di perjalanan. Kini aku bisa merasakan tangan kiri Mas Reza mencoba menyentuh tanganku, namun motornya langsung bergoyang karena tidak seimbang dan dia kembali fokus memegang stang kirinya. Aku bisa mendengarnya melenguh. Benar 'kan dugaanku, motor ini sulit stabil, tidak seru. Beruntung kami tiba di gumuk pasir dengan selamat. Kami berdua siap dengan papan seluncur kami. Sebelum meluncur, aku mencoba memperagakan beberapa pose terbaik untuk difoto saat berseluncur. "Kamu ngapain sih?" Mas Reza tertawa melihat tingkahku. "Latihan, hehe. Ayo Mas, fotoin aku lagi ya. Aku siap seluncur nih." Belum sampai bawah aku sudah terjatuh di tengah-tengah. Ayolah aku baru pertama kali, maklumin. Mas Reza langsung turun mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri lagi dan kembali ke atas. "Coba lagi?" tanyanya. Namun aku ingin dia dahulu yang meluncur. Aku ingin lihat gayanya. Betapa lucunya saat Mas Reza meluncur. Tidak ada gaya! Hanya berdiri tegak, kaku, seperti patung. Aku tidak kuat menahan tawa sambil merekamnya. Ini bakal jadi kenangan yang mungkin akan jadi aib juga. Aku menoleh ke arah beberapa anak laki-laki di sebelah kami, mereka mengeluarkan gaya keren seperti seorang skater, Mas Reza kalah. "Mas ih! Kayak patung!" teriakku. Namun dia kebingungan, tidak mendengar jelas. Dia malah memberi isyarat melalui jari telunjuknya untuk menghampirinya. Tentu dia juga sudah siap merekamku dari bawah. Kalau Mas Reza bergaya seperti patung, berposelah aku jadi patung pancoran. Aku bisa melihat Mas Reza tertawa puas sambil merekamku. Akhirnya aku bisa sampai ke bawah tanpa harus jatuh! Terima kasih gaya patung pancoranku. "Aduuuh turunnya cuma berapa detik, naiknya capek banget," keluhku. Tiba-tiba Mas Reza muncul membawa papan seluncurku ke atas. Aku sempat menolak dibawakan, tapi mau bagaimana lagi, dia pasti memaksa untuk membawakannya. Perseluncuran berikutnya kami berdua duduk di papan seluncur, balapan, dan aku yang menang. Tidak lupa mencoba berbagai pose lucu seperti pose ala patung Mas Reza dengan merentangkan kedua tangan, sampai Mas Reza bisa berpose keren ala anak-anak tadi. Aku pun mendapatkan foto dengan pose keren ala aku sendiri untuk di-upload di i********:. Selanjutnya kami naik Jeep menuju pantai Parangtritis. "Naik Jeep lagi?" Mas Reza sempat mengeluh. Tapi sekarang tidak mungkin berputar 360 derajat seperti tadi bukan? Hanya tumpangan menuju pantai. Aku dan Mas Reza langsung menyewa kuda yang bisa kutunggangi untuk menikmati sunset di pantai. Selama menunggangi kuda, Mas Reza terus memotretku diam-diam. Aku pun menanggapi hal itu, namun yang diucap Mas Reza adalah "cantik, kayak putri-putri raja keraton naik kuda begitu. Apalagi ditambah background sunset makin cakep." Dia terus tersenyum lebar. "Nanti Mas masukin ke i********: terus tag kamu boleh?" Aku tersenyum manis, "why not?" "Nanti Yogi liat, gak masalah?" Baru ingat mereka berdua juga saling follow. Aku langsung tertunduk lesu mendengar Mas Reza menyebut namanya. "Gak apa-apa, kenapa harus jadi masalah?" Setelah puas menunggangi kuda, Mas Reza mengajakku jalan di bibir pantai, merasakan desir aliran air laut di kakiku. Mas Reza mulai angkat pembicaraan serius, "Kamu sama Yogi ada hubungan apa sebenernya? Mas dan kamu juga mungkin tau dia suka sama kamu." Aku tidak menjawabnya. "Seems you really like him too. Tapi kenapa dia bikin lo sedih terus? Bikin ragu juga. Karena dia masih ada pacar?" "Mas mau tanya apapun soal Yogi, gak bakal aku jawab." "Kamu gak harus jawab pertanyaan tadi. Tapi sekarang saya tanya ke kamu, selama kamu di Berindo sama Yogi, kamu bahagia?" Aku mengangguk, aku selalu bahagia bersama Yogi. "Yakin? Bahkan disaat dia lagi sama pacarnya? Kamu ngangguknya ragu." Aku sudah tidak tahan lagi, rasanya aku ingin pergi meninggalkan Mas Reza. Aku berjalan lebih cepat untuk menjauh darinya. Namun Mas Reza langsung menarik lenganku, "Don't waste your time, Sya." "Mereka bakal putus kok! Pacarnya manfaatin dia terus!" Mataku mulai berkaca-kaca. Ekspresi Mas Reza seperti orang yang baru paham dengan suatu situasi. "Jadi dia janjiin putus sama pacarnya. Sejak kapan? Udah terealisasi? Belum kan?" "Mas gak perlu tau." "Kebahagiaan kamu yang terpenting, Sya. Buat apa kamu bahagia tapi dibuat kecewa juga dalam satu waktu. Gak capek? Masih ada laki-laki lain yang jauh lebih layak buat kamu!" Aku berteriak dalam hati, Iya Mas, aku capek, aku capek! "Mas gak peduli kamu suka sama Yogi atau siapapun. Mas suka kamu, titik. Mau kamu terima atau nggak. Tapi Mas bisa menjamin kebahagiaan kamu!" Aku tahu, sesungguhnya aku peka dengan perasaan Mas Reza, tapi perasaanku pada Yogi membuatku sulit meresponnya. Selama perjalanan pulang kami berdua hening, benar-benar membisu. Aku memikirkan dalam-dalam perkataan Mas Reza di pantai tadi. Apa aku bodoh membuang waktuku untuk menanti Yogi? Tapi Yogi pun berjuang untuk putus dengan Mala, dia juga tidak bahagia bersama Mala. Dia butuh aku, aku tidak bisa membiarkan dia terus dimanfaatkan olehnya. Mana jalan yang kupilih? Itu memusingkan kepalaku selama perjalanan di atas aspal ini. Sampai seharusnya Mas Reza belok ke arah rumahku, dia malah membawaku ke arah lain. "Mau ke mana lagi kita, Mas?" "Kamu gak inget kemarin janji mau ketemu ibu sama mbakku? Sekarang kita ke rumah mas dulu." Untuk saat ini aku menurut saja dibawa ke manapun. --- Tiba di rumah Mas Reza, aku dipertemukan dengan ibunya. Terlihat masih ada sisa kecantikan nan ayu sebagai wanita Jawa di wajahnya yang sudah berusia 60-an tahun itu. Namun sayang kondisinya sudah tidak terlalu sehat, beliau duduk di kursi roda dengan seorang suster yang merawatnya. Entah sepertinya juga ada bekas luka di wajah dan tangannya seperti bekas ... Kekerasan? "Assalamualaikum, Bu," ucapku memberi salam. "Waalaikumsalam, nduk. Wah ayu tenan. Lebih cantik diliat aslinya daripada yang di foto." Sepertinya Mas Reza pernah menunjukkan fotoku pada ibunya. "Mbak Arimbi mana, Bu?" Mas Reza pergi ke dapur sambil menanyakan soal keberadaan kakaknya. Tapi kakaknya sedang pergi menjemput suaminya yang baru saja kembali dari luar kota kata ibunya. Kemudian dia kembali ke ruang tamu membawa sirup. "Reza akhir-akhir ini kalau lagi di Jakarta, telponan sama ibu. Sering bahas soal Sasya, kan ibu penasaran orangnya kayak gimana, makanya ibu paksa Reza ajak nduk ke sini. Jarang-jarang Reza suka sama cah wadon (anak perempuan). Anaknya pemalu dan pendiam dari kecil." "Ibu, jangan bocorin dong," tukas Mas Reza. Aku tersenyum lebar meliriknya gemas. "Reza ini anak paling kecil umurnya tapi udah 27 sekarang. Ibu ingin dia cepet nikah sebelum ibu meninggal." Ya ampun, seperti memberikan kode. Tapi kenapa beliau begitu optimis untuk meninggal? Sedih mendengarnya. "Reza, kepiye (gimana)?" tanya ibunya. "Hah? Ora (enggak) ah, Bu." "Ngopo toh, le (kenapa, nak)?" Tunggu dulu, ini mereka sedang bahas apa? "Sasya, keluar dulu yuk," ajak Mas Reza. Di luar, Mas Reza mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Seperti wadah untuk ... cincin? Aku melirik ke sela-sela gorden jendela. Ibunya mengintip kami diam-diam. "Mas niat lamar kamu malam ini, tau ini terlalu buru-buru. Tapi ini jalan Mas yang gak mau lama-lama buang waktu kamu." Aku terkejut ketika dia membuka isi wadahnya. Benar dugaanku itu cincin lamaran. Mas Reza melanjutkan ucapannya, "Sejak denger ucapan kamu di Parangtritis tadi, Mas gak maksa, Mas cuma mau kamu---" Aku menggenggam tangannya sampai ucapannya terpotong, "Yes i do, Mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN