Yogi
16 Juni 2019
Aku benar-benar gila, tak bisa melakukan hal apapun selain memandang Sasya dengan rasa bersalah walaupun bukan sepenuhnya salahku. Senyum indahnya menunjukkan antusias bertemu Mala tapi matanya tidak bisa berbohong menutupi kesedihan, kekecewaan, dan terkejut beraduk menjadi satu. Aku ingin sekali membawanya pergi dari situasi seperti ini namun tidak mungkin, tidak mungkin ....
"Gue balik ke toilet dulu, kayaknya lipstick gue ketinggalan, bye Yogi , nice to meet you Mala." Beberapa detik Sasya menatapku, aku tak sanggup melihat sorot matanya itu. Aku terus menghina diriku sendiri di dalam hatiku, b******k kau Yogi, b******k.
Sasya pun menghilang dari pandanganku dan Mala. Aku menunduk menyentuh dadaku.
"Kita tunggu dia balik dari toilet. Terus kita ajak dia nongkrong di Starbucks sebelum kita pulang. Aku mau ngopi," tukas Mala melepas tangannya dari bahuku.
"Gak usah." Intonasiku sedikit meninggi membuat Mala sedikit heran.
Aku melirik jam tanganku, "Pesawat dia sebentar lagi take off, dia mau mudik ke Jogja."
"Kok kamu tau ba---"
"Starbucks kan? Yuk." Aku memotong keluhan Mala sambil menarik kopernya menuju Starbucks.
---
Di Starbucks, aku melirik jam tanganku, pesawat Sasya pasti sudah mengudara. Hatiku merasa gelisah membiarkan Sasya mudik bersama Reza. Memikirkan momen-momen yang akan mereka lalui selama di Jogja. Namun siapa aku kalau tidak mengizinkannya? Pacar saja bukan. Rasanya ingin memesan tiket pesawat juga menyusul mereka, seperti yang kulakukan saat mereka kuliner malam di Blok M.
Aku mau chat Sasya, khawatir dengan keadaannya setelah melihat sikap Mala padaku. Mumpung Mala masih memesan kopi. Aku hujani banyak chat pada Sasya, deliv, tapi tidak di-read. Apa kutelpon saja?
"Babe! Ayo selfie," titah Mala yang baru saja selesai memesan kopi. Dia menempelkan pipinya dengan pipiku dan lengannya merangkulku. Aku hanya pose tersenyum sedikit terpaksa.
"Aku posting ke instastory ya, aku tag kamu, terus kamu repost juga ke instastory kamu. Abis kamu tuh jarang banget posting foto aku di social media kamu. Jahat." Mala sedikit memukul lenganku sambil memonyongkan bibirnya.
Aku mengembuskan napas setelah me-repost instastory Mala. Dan tau siapa viewer pertama foto itu? Sasya. Bodoh, harusnya aku hide dia dulu.
"Nah gitu dong. Nanti kita foto-foto lagi ya, yang banyak. Mumpung aku lagi di sini." Mala mencubit pipiku.
Tiba-tiba seorang barista berteriak, "Atas nama Yogi Bear!" Hal itu membuat Mala tertawa dan aku terkejut. Yogi Bear adalah panggilan Sasya untukku, tapi?
---
Selama di perjalanan menuju rumah Mala. Mala masih saja mengambil selfie kami berdua diam-diam ketika di dalam mobil.
"Liat deh, foto kayak gini lagi keren banget." Dia menunjukkan foto dirinya selfie dengan aku fokus menyetir di belakangnya.
Aku melirik ketus, "Norak, Mal."
"Kenapa sih? Gak suka banget. Mana panggilan bubu aku?"
"Iya bubu sayaaang, diem ya."
Dia tersenyum puas.
Sesampainya di rumah Mala, aku mengangkat koper besarnya dan langsung disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Setidaknya orang tuanya sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri, daripada Mala sendiri yang menganggapku sebagai robot mainannya.
"Nak Yogi, kalau ada waktu main-main aja ke sini gak harus sama Mala." Ibunya Mala memberiku segelas teh manis saat aku duduk di ruang tamu.
"Kan Yogi sibuk, Ma. Keluar kota terus." Mala merespon ucapan ibunya.
"Oh ya? Aaah, ritel ayah kamu hebat ya sudah tersebar di seluruh Indonesia."
"Bukan urus ritel, Tante. Saya ..." Aku terdiam sejenak. Kukira Mala sudah memberi tahu orang tuanya kalau aku tidak mau berkecimpung di ritel ayah. "Saya kerja tante, jurnalis." Kucoba untuk tersenyum percaya diri.
Ibu Mala terkejut keheranan. Kemudian ekspresinya berubah menjadi ekspresi bangga. Beliau bangga aku bisa mandiri mencari uang tanpa harus menjadi kaki tangan ayah dan memanfaatkan dengan baik ilmu yang kudapat dari jurusan Ilmu Komunikasi. Menantu idaman katanya.
"Siapa dulu dong yang nyuruh Yogi cari uang sendiri, Mala"
Ucapan Mala itu ada benarnya juga. Memang keinginanku sendiri untuk tidak ikut campur ritel ayah, biar abang saja yang urus. Tetapi Mala lah yang mendorongku kuat untuk mencari pekerjaan. Dia akan meremehkanku jika tidak mengurus ritel ayah ataupun tidak mau melanjutkan S2 karena malas harus belajar lagi. Jadi satu-satunya cara memang harus mendapatkan pekerjaan yang sepadan. Untung saja Angga juga sama-sama job seeker kala itu, dan menemukan terlebih dahulu kalau Berindo open recruitment tahun lalu.
Sayangnya, dorongan Mala itu sendiri yang membawaku bertemu dengan pujaan hatiku saat ini, Sasya. Mungkinkah Mala akan menyesal suatu hari nanti saat mengetahui faktanya? Tidak mungkin Tuhan mempertemukanku dengan Sasya tanpa ada alasan bukan?
Sungguh di depan orang tua Mala pun aku masih sempat-sempatnya merindu Sasya. Apakah dia sudah landing di Jogja? Apa Reza mengantarkannya sampai rumah kakaknya? Apa dia baik-baik saja di sana?
"Kalian gak mau denger ceritaku selama di Australia?" Mala membuyarkan lamunanku.
Mala lantas bercerita, membeberkan suasana Australia yang bersahabat untuk orang Indonesia, segala kesibukannya di Kedutaan Besar Indonesia sebagai juru bicara, pelajaran di kampusnya yang selalu disuguhkan banyak tugas, teman-teman Indonesia dan internasionalnya. Dilihat-lihat memang benar kata Angga, tidak ada tanda-tanda dia mengalami depresi di sana hanya dengan seonggok Yogi.
Tiba-tiba smartphone di dalam kantong celanaku bergetar. Aku sudah mengaktifkan mode getar, khawatir Sasya menghubungiku di saat-saat seperti ini. Benar, itu telpon dari Sasya, aku mengintip sedikit. Sebisa mungkin aku membalas via chat tanpa harus mengeluarkan smartphone dari dalam kantong. Now i know, kenapa orang-orang menyebutku womanizer.
"Hubungan kalian baik-baik aja selama Mala di Australia? Jarak jauh itu susah loh. Tante aja selalu nyusul om di India kalau sempat," ujar ayahnya Mala yang sedari tadi diam tapi sekali bicara langsung membuatku dan Mala terperanjat. Ayahnya ini duta besar yang memang sering ditugaskan ke luar negeri dalam beberapa tahun. Perkataannya itu ... Apakah aku harus sering-sering tengok Mala di Australia?
"Kan Mala tadi udah bilang, Yogi sibuk liputan ke luar kota terus. Lagian teknologi sekarang ada yang namanya video call." Tumben Mala tenang.
"Di lingkungan masing-masing pasti banyak ketemu orang baru. Memang kepercayaan adalah kunci utama," Ucapan ibunya Mala membuatku nyengir-nyengir garing. "Gimana kalau Mala udah selesai S2, kita adain lamaran? Tinggal satu tahun lagi kan, Mal? Lagipula Yogi udah mapan," sambung ibunya Mala lagi yang membuatku tersedak kue kering yang kulahap.
Mala mendelik tajam menatapku. Seperti kucing oren yang akan mencakar wajahku.
Aku mencoba tersenyum lebar, "Boleh, Tante."
---
Sebelum pulang dari rumah Mala, aku mau merokok dahulu di dekat mobilku yang kuparkir di depan rumah Mala. Kujepit rokok di antara kedua bibirku lalu menyalakan korek api. Baru dua hisap rokok itu sudah terpental dari mulutku.
"Masih ngerokok, hah? Percuma ganteng kalau paru-parunya item." Mala yang menghampiriku membuang rokokku kemudian memberiku permen Mintz.
Aku malah menggenggam tangan kiri Mala yang dia perban, "Aw! Sakit,Gi!"
"Tadi di airport kamu pamer-pamerin ini perban depan temen aku. Pulang-pulang kamu umpetin dibalik cardigan, takut ketauan orang tua kamu?"
"Iya lah, aku gak mau mereka khawatir. Ini semua gara-gara kamu, kamu juga yang bakal dimarahin mereka kalau mereka tau." Mala melepas genggamanku.
"Why you do this?" tanyaku. Tetapi Mala seperti tidak paham atau pura-pura tidak paham. "Dari semua cerita kamu tadi, kamu gak nunjukkin kalau kamu depresi. Ribuan orang Indonesia di Sydney. Kamu punya temen di sana yang bisa bikin kamu lupain depresi kamu dan ... Aku."
"Tapi aku masih mau kamu." Ucapan Mala itu membuatku sedikit terenyuh.
"Kamu bisa cari pacar lagi di sana." Setelah aku bicara seperti itu Mala melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Apa aku salah bicara?
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Ke dapur. Ambil pisau."
Pisau? Aku berpikir sebentar.
"Mala! Tunggu! Jangan!' Aku berlari mengejarnya ke dalam dapur.
Di dapur terlihat Mala sedang memotong buah apel untuk ayahnya. Aku bernapas lega. Kuambil pisaunya, "Biar aku aja. Kamu gak boleh pegang benda tajam." Mala tersenyum tipis lalu duduk di meja sambil memperhatikanku memotong apel.
Sembari memotong apelnya aku mengajak Mala ikut aku dan keluargaku ke makam bunda sore ini. Namun Mala menggeleng. "Gak apa-apa, aku tau kamu masih jetlag," ujarku.
"Bukan itu," gumam Mala yang membuatku berhenti memotong lalu menatapnya.
"Gak tau, aku udah ngerasa gak pantes lagi ketemu bunda kamu."
Aku terdiam. Mala biasanya ikut mengunjungi makam orang yang paling kusayang itu. "Bunda baik kok. Gak usah kayak gitu ... Tapi aku gak maksa kamu juga."
"Nih, kasih ayah kamu." Aku selesai memotong apel.
Mala tiba-tiba mencium bibirku ... Tunggu dulu bagaimana kalau ada yang lihat? Adiknya Mala mungkin?
"Kamu aja yang kasih, sekalian pamit pulang kan?" Mala bergegas terlebih dahulu ke kamar ayahnya.
---
Aku pun tiba di TPU Jeruk Purut tempat bundaku dimakamkan, sedikit terlambat. Aku sudah melihat ayah, Bang Radhi yang beberapa hari lalu pulang dari Perancis, Raina, dan ... Siapa sosok laki-laki di samping Raina?
Aku mengucapkan salam pada mereka namun laki-laki itu mengejutkanku, "Astaghfirullahalazim, M ... Mas Beno? Kenapa ada di sini?"
Raina menaruh jari telunjuk di bibirnya dan ayah menyuruhku untuk membuka yasin agar tidak berisik. Lalu aku jongkok di samping Mas Beno untuk membaca yasin. "Nanti gue jelasin," bisik Mas Beno kepadaku.
Selesai membaca yasin, semua kembali ke mobil kecuali ayah. Bunda benar-benar satu-satunya wanita yang dicintainya. Bahkan kami bertiga sudah mengizinkan ayah menikah lagi tapi ayah tidak mau. Sifatnya yang pemain wanitanya tidak berubah, beliau selalu membawa wanita muda ke dalam rumah hanya untuk selingan. Aku tidak paham dengan jalan pikirannya, lebih baik dia menikah lagi saja daripada seperti itu.
Seseorang menarik bahuku ketika berjalan menuju mobil, itu Bang Radhi, "Lo kenal pacarnya Raina? Gila dia lebih tua dari gue," ujarnya.
Aku memberitahu Bang Radhi, kalau Mas Beno adalah pemilik kedai kopi Kalapuna, lokasinya dekat stasiun Pondok Cina tepatnya seberang kosan Raina. Kalapuna baru buka dua tahun yang lalu saat aku sedang sibuk skripsi hingga berteman dengan pemiliknya itu, tidak kusangka akan memacari adikku.
"Lo makanya jangan buru-buru lulus, Bang. Gak tau kan ada kedai kopi hits anak UI yang enak banget."
Bang Radhi kakakku yang hanya lebih tua dua tahun dariku, sebelum mengenyam pendidikan S2 dan S3 di Perancis adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UI. Kami tiga bersaudara kuliah di UI.
"Gak asik, gak bisa kita OSPEK. Terlalu tua, terlalu mengintimidasi." Bang Radhi menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tertawa mendengar ucapan Bang Radhi itu. Sudah tradisi kami berdua sebagai abangnya Raina untuk memberi OSPEK iseng-isengan kepada siapapun yang jadi pacar Raina dengan maksud melindungi Raina dari pria-pria jahat. Tetapi Mas Beno ini memang sulit, tapi aku percaya pada Mas beno temanku sendiri.
"Lo gak bawa Kak Jihan?"
"Lo gak bawa Mala?
Kami berdua tertawa karena mengucapkannya bersamaan. Aku hanya bilang, Mala masih jetlag karena baru saja pulang dari Australia. Sedangkan Kak Jihan, pacar Bang Radhi yang sudah dipacari selama 11 tahun sejak mereka masih kelas 3 SMP. masih buka praktek Dokter Gigi. Memang sebenarnya hari ini sudah bukan tanggal cuti lebaran. Hanya jurnalis sepertiku yang berbeda sendiri.
"Keren tuh sore gini masih buka praktek. Pengen ngumpulin duit buat nikah. Lo makanya halalin dia, Bang, jangan ngejar gelar melulu. Kayak gue, S1 aja cukup." Aku seperti menasihati kakakku padahal sendirinya masih galau soal wanita.
"Gue bukan pemalas belajar kaya lo, Gi. Ilmu itu penting buat gue. Lagian Jihan baru ambil kuliah spesialis bedah mulut."
Kami berdua masuk ke dalam mobil, bergegas pulang.
"Yogi, ada yang mau gue omongin soal ritel ayah." Kali ini Bang Radhi benar-benar serius.
---
"Sasya, sayang ... Tolong angkat telponnya ... Please."
Aku bergumam, mondar-mandir di teras rumahku ketika langit sudah gelap. Terkejut melihat chat terakhir yang dikirim Sasya. Hanya 'ok'. Aku paham betul Sasya kalau marah hanya mengirim pesan super singkat.
"Maaf ... Maaf ... Seharian ini aku tidak bebas membuka smartphone-ku"
Aku yang masih bergumam pun menghujaninya dengan jutaan chat, lagi.
Berjongkok di teras seperti anak kecil sedang menangis dijahili teman-temannya, Bang Radhi datang menghampiriku. "Kenapa lo? Kayak udah gak ada harapan hidup."
"Bang, kok lo bisa bertahan sama Kak Jihan 11 tahun tanpa putus? Mana lo udah ke Perancis tiga tahun tapi masih fine fine aja. Lo berdua doang emang."
"Gak tau, karna gue cuma nyantol sama Jihan!" Bang Radhi melempariku dengan bola kertas. "Gue gak mau bahas cewek, gue mau bahas penemuan gue buat ritel ayah."
Aku mendengar celotehan Bang Radhi malas-malasan. Tapi yang kutangkap, dia bertemu dengan seseorang di Hongkong saat baru saja melanjutkan S3 double degree-nya. Orang itu adalah developper IT yang hebat. Bang Radhi mengajak orang itu untuk bekerja sama mengemas ritel toserba ayah yang bernama toserba KING dalam bentuk e-commerce. Semua barang yang dijual di toserba KING dapat dibeli secara online dan free pengiriman satu kota, mengingat sudah tersebar di hampir seluruh kota besar di Indonesia.
"Apa bedanya sama gomart, Bang?" Tiba-tiba Raina muncul dari ambang pintu. Bukannya tadi dia sedang menonton drama Korea di kamarnya?
"Tadi abang udah bilang, kita free pengiriman. Tanpa harus menyuruh orang lain antri, karena produknya langsung diambil dari stok gudang, untuk makanan diambil yang paling fresh. Gak harus takut kehabisan stok juga, karena pegawai harus selalu update e-commerce sama stok yang ada."
Aku tepuk tangan meriah sambil cengingisan, "Emang ayah gak salah pilih lo yang nerusin posisi dia, Bang. Ayah-bunda beruntung dapetin lo jadi anak pertama bukan gue."
"Tapi kita berdua juga harus urus ritel ayah loh, Aa." Tolong, Raina, jangan ingatkan itu.
"Lo aja Rai, bantuin Bang Radhi." Aku masuk ke dalam rumah. Mau meratapi nasibku yang tidak digubris Sasya.
"Bocah satu isi kepalanya cuma cewek, Rai." Bang Radhi menendang pantatku, aku pun pura-pura jatuh dengan tampan. Aku bisa dengar Raina cekikikan.
Di dalam kamarku, aku terus mengecek semua media sosial Sasya. Tidak ada satu pun update darinya, aku tau kita butuh ruang sendiri tapi sungguh ... Jangan buat aku tersiksa seperti ini.