Perih, Lupakan Sejenak

1980 Kata
Sasya 16 Juni 2019 Aku dan Mas Reza duduk di kursi tunggu Bandara Soekarno-Hatta, sembari mengobrol santai soal kampung halaman kami berdua. Kami berdua mudik lebaran bersama ke Jogja. Kampung halaman Mas Reza memang di Jogja. Kalau aku tadinya mau pulang ke Banyuwangi. Namun ternyata orang tuaku dan kedua adik kembarku ingin liburan di Jogja dan menginap di rumah kakakku. Lagipula lebaran sudah berlalu hampir dua minggu yang lalu. Keluarga besarku di Banyuwangi pasti sudah menghabiskan waktu bersama tanpa aku. Kami para jurnalis rela terlambat mudik karena harus meliput arus mudik lebaran, melelahkan. Di saat orang-orang sudah kembali bekerja kami baru bisa mudik. Yogi tidak mudik, dia asli Jakarta. Tetapi saat bundanya masih hidup, dia lumayan sering mudik ke Bandung menemui keluarga besar bundanya, sekarang tidak lagi. Jadi aku mudik bersama Mas Reza, untung Yogi mengizinkan setelah sedikit perdebatan. Lagipula untuk apa pakai acara perizinan? Hfft .... "Mas, aku ke toilet dulu ya. Masih ada setengah jam lagi kok." Izinku pada Ms Reza. Kenapa tiba-tiba aku ingin buang air. Ketika aku berjalan menuju toilet, aku melintasi segerombolan orang-orang yang baru saja tiba entah dari mana. Sepertinya dari luar negeri. Hingga aku berhasil menemukan toilet, buang air, dan sedikit touch up. Di wastafel toilet, aku melihat seorang wanita seusiaku sibuk membalut pergelangan tangannya dengan perban. "Sorry, gak gitu pakenya. Jangan terlalu kencang." Aku memakaikan perbannya dengan benar. "Thank you," ujarnya. Penampilannya biasa saja, berambut sebahu, dan berkacamata. Dia membawa koper besar, kurasa habis dari luar negeri. "There." Aku selesai mengobatinya. "Lukanya keliatan baru. Aku tau kalo ngomong doang tuh gampang, but don't hurt yourself anymore, ok?" Dia mengangguk dan tersenyum, "I hope, tergantung cowok gue sih" Aku mengembuskan napas, "so ... boy's trouble." Awalnya kupikir dia self-harm, tetapi setelah kuingat lebih jelas luka sayatan siletnya yang begitu teratur dan tidak terlalu dalam hanya seperti goresan kecil, aku jadi kurang yakin. Ini berbeda dengan luka yang dialami self-harm teman kostku dulu, lebih dalam dan selalu di satu bagian yang sama secara berulang terutama bagian nadi. Dia juga tampak cuek dengan lukanya itu, memakai perban di toilet umum. Kalau temanku dulu, mati-matian menutupi diri kalau dia self-harm. Dia menatapku lamat-lamat, "Kok gue kayak gak asing sama muka lo ya. Hmm ...." Kemudian wajahnya tampak berpikir, "Di i********:. Lo selebgram?" Aku terkejut, menolak perkataannya itu. Aku memang aktif di i********: dan memiliki puluhan ribu followers tapi itu belum menjadikanku selebgram bukan? Mungkin akan lebih baik dikenal sebagai bookstagram karena feeds-ku lebih banyak foto-foto novel yang kurancang estetik. "Abis lo cantik banget sih, gue kira selebgram." Kami keluar dari toilet. Langkahku terhenti mendapati lelaki yang kukenal baik berdiri menunggu seseorang dari dalam toilet wanita, yang pasti bukan menungguku. "Babe!" teriak wanita yang tadi kubantu memperbaiki perban pergelangan tangannya, menghampiri lelaki itu. Lalu memeluknya erat dan mengecup pipinya di depan umum. Refleks hatiku seperti dihujam tombak, perih. "Oh iya Babe, dia yang tadi bantuin aku pake perban ini di toilet. Namanya ... Eh sorry nama lo siapa?" Lelaki yang kuyakini adalah pacar wanita itu tidak kalah terkejutnya denganku, matanya terbelalak, rahangnya bergetar mengucapkan, "Sasya?" "Loh? Kalian saling kenal? Pantesan wajah lo tuh gak asing buat gue. Lo sering muncul di i********:-nya Yogi. Kenalin gue Mala." Mala menjulurkan tangannya padaku. Aku mencoba mengatur napas, tetap tenang, dan keluarkan jurus fake smile. "Sasya, salam kenal ya. Yogi sering cerita tentang lo." Aku menjabat tangannya. "Oh really?" Mala menoleh pada Yogi yang masih termenung menatapku, tidak bereaksi apa-apa. Aku senatural mungkin izin kembali ke toilet, berpura-pura hendak mengambil lipstick-ku yang tertinggal di wastafel. Sungguh air mataku yang sedari tadi sulit terbendung akhirnya bisa kuluapkan saat aku kembali masuk ke salah satu bilik toilet wanita. Aku tidak percaya hari itu akan tiba, hari di mana membuatku menjadi sosok wanita ular yang merebut kekasih orang. Aku tidak peduli waktu, entah sudah berapa lama aku menangis. Hingga smartphone-ku berdering, Mas Reza menelpon. "Kamu di mana? Pesawatnya take off 10 menit lagi! Saya depan toilet wanita sekarang." Aku tidak menjawabnya karena takut terdengar suaraku masih sesenggukan, langsung saja kumeluncur keluar toilet dan menemuinya. Mas Reza langsung menarik tanganku namun langkahnya seketika terhenti ketika dia menoleh padaku. Aku mengenakan scarf yang menutupi sepertiga wajahku yang sembab, lalu Mas Reza mendekatkan wajahnya padaku. "Something's happened?" tanyanya. Aku menggeleng. Tanpa dititah, Mas Reza memeluk hangat, dan menepuk lembut pucuk kepalaku. "Kayak gini aja sebentar. Buat nenangin kamu. Gak usah dipikirin ya." Beberapa detik kemudian dia kembali menarik tanganku. Maaf, Mas Reza kalau selama ini aku kurang melirikmu. Padahal kamu memang paling tau cara membuatku nyaman dan spesial satu-satunya. --- Di dalam pesawat aku masih menutup wajahku dengan scarf, kembali ingin menangis. Tidak sengaja aku melihat Yogi selfie dengan Mala di sebuah cafe melalui instastory-nya. Dia juga sempat menelponku dan chat aku, bertanya keadaanku. Tetapi aku tidak mau jawab. "Yogi ya?" Aku sedikit terkejut ketika Mas Reza berhasil menebak dengan benar. "Saya tadi liat dia sama perempuan dekat toilet." Aku menyandarkan kepalaku di jendela, tidak merespon. Kebetulan aku duduk paling pojok, pas sekali untuk kondisiku saat ini. Mas Reza melirik smartphone-ku yang kugenggam. "Selama di Jogja puas-puasin kumpul sama keluarga, kita traveling bareng. Jangan buka smartphone. Itu bakal bikin kamu sedih terus." Mas Reza melepas jaketnya kemudian diberikan padaku, "Pakai ini." Aku bingung ... Dia menutupi wajah sembabku dengan jaketnya itu agar aku lebih leluasa menangis. Jaketnya wangi sekali seperti baru keluar dari laundry. Setidaknya wanginya itu menenangkan pikiranku. "Nanti saya kasih tau kalau pesawatnya sudah mau landing." --- Sesampainya di rumah kakakku, ya, Mas Reza mengantarkanku ke rumah kakakku dulu sebelum kembali ke rumahnya dengan taksi setibanya di bandara Adisutjipto. "Makasih banyak loh, Mas," ucapku. Dia tersenyum manis. "Sasya!" Terdengar panggilan mamaku dari dalam rumah. Dia tergesa-gesa berlari menghampiriku dan Mas Reza kemudian memelukku erat. Wanita paruh baya ini memang ceria sekali. "Iki sopo?" tanya mamaku melirik Mas Reza. "Temenku ma." "Ajak masuk! Ayo le, sini masuk dulu! Pasti capek abis dari pesawat." Mamaku menarik tangan Mas Reza. "Ma! Mas Reza mau pulang. Kok disuruh masuk?" Mas Reza seperti bergumam, "Gak apa-apa, Sya." Di dalam rumah yang cukup luas dan bergaya tradisional khas Jawa kakakku, Mas Reza dipersilakan duduk oleh mama lalu dibuatkan kopi. Seketika datang papaku dari halaman belakang. "Eh si nduk! Lebaran udah lama kelar, balik lagi ke Jakarta sana kamu. Ke Banyuwangi aja gak sempat." Papa tertawa puas, aku memeluk gemas perut buncit papaku itu. Di belakang papa, ada Mas Salman --kakak iparku-- menanyakan yang kabarku. Mas Salman sebagai musisi band Indie Jogja lebih sering kerja malam, manggung di acara festival musik, sore-sore dia masih bebas di rumah. "Oh iya, Mbak Verin mana, Mas?" tanyaku pada Mas Salman. "Di kamar mandi ... Kok matamu sembab, Sya?" Aduh aku lupa dengan wajahku ini, ketahuan Mas Salman jadinya. "Kenapa kamu? Hah? Siapa yang nangisin kamu? Mas ini ya?" Papaku menunjuk Mas Reza yang masih duduk di ruang tamu bersama mama. Sepertinya Mas Reza juga dihujam pertanyaan oleh mama. Kasihan sekali dia di sini diganggu orang tuaku terus, aku tersenyum gemas. "Opo sih, Pa. Reza anak baik." Mamaku memukul-mukul paha Mas Reza. "Bercanda toh, Ma." Papaku membela diri. Muncul Mbak Verin dari kamar mandi. "Eeeh si kutu kupret ke sini juga rupanya kirain ilang. Eh, siapa tuh?" Dan semua berakhir menanyakan siapa Mas Reza. Papaku mengajak Mas Reza untuk membantu Mas Salman mengangkat karung berisi tanah untuk menanam. Aku melarang papa menyuruh-nyuruh Mas reza, tapi Mas Reza selalu bilang "Gak apa-apa, Sya." Aku jadi tidak enak, dia jadi terlambat bertemu keluarganya. "Matamu sembab. Tapi kamu ke sini sama Mas Reza. Kenapa sih? Pasti cowok lain ya?" Mbak Verin membuka obrolan sambil kami memperhatikan ketiga laki-laki di rumah ini berkebun. "Kenapa tiap aku nangis harus selalu dikaitin sama cowok?" Aku mencoba mengelak. "Mama pasti seneng banget kamu bawa cowok ke rumah, apalagi hari lebaran gini. Udah lama gak liat Sasya gandeng cowok katanya. Terakhir mama ketemu Janu kapan ya?" Aku hanya mengedikkan bahu, malas mengingatnya. Keluargaku tidak ada yang tau kekerasan seksual yang dilakukan Janu kepadaku, kalau tau bisa bahaya. Mbak Verin ini bisa menyeretnya ke meja hijau. "Tadi aja happy banget narik-narik Mas Reza masuk." Aku jadi kepikiran. Mengajak lelaki ketemu keluarga saat lebaran, apa terlihat seperti akan menjalankan hubungan yang serius? Aku takut keluargaku salah paham. "Assalamualaikum." Terdengar suara dari arah belakang kami. Itu Daffa salah satu adik kembarku. Dia baru saja pulang jalan-jalan berkeliling cafe di Jogja. Jogja memang surganya cafe yang sedang hits dengan berbagai tema, tidak kalah dengan di Jakarta. "Sya, ngafe bareng Reza gih nanti," cetus Mbak Verin. "Ya kalau dia mau," jawabku. "Oh iya, Danis mana?" Aku menanyakan adik laki-lakiku yang satu lagi. "Ada pacar sama temen-temen jurusannya dari Bogor. Aku pulang aja." Daffa memang lebih sering menyendiri dibandingkan Danis. Daffa dan Danis ini sama-sama kuliah di IPB, tetapi berbeda fakultas, Daffa di Teknologi Pertanian dan Danis di Kehutanan. Mereka berharap dapat mengurus perkebunan coklat kakao orang tua kami di Banyuwangi. Siapa yang menyangka orang tuaku dulu menggeluti bidang hukum? Papaku pengacara dan mamaku jaksa, hingga menghasilkan Mbak Verin yang merupakan alumni Fakultas Hukum UGM dan sekarang menjadi pengacara kondang mengatasi kasus kekerasan pada wanita dan juga kekerasan dalam rumah tangga. Namun di lubuk hati orang tuaku yang sangat hobi berkebun, akhirnya mereka mengumpulkan uang untuk membangun perkebunan coklat kakao kemudian pensiun dari dunia hukum. Hingga Daffa dan Danis kemungkinan akan mengambil alih perkebunan itu suatu saat nanti. Aku? Aku mengambil Sastra Inggris karena sudah suka menonton Magic English-nya Disney sedari TK, lalu merambah ke hobi menonton film dan baca novel berbahasa Inggris. Hanya aku si anak tengah yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia orang tuaku, hanya duniaku sendiri. "Kamu gak bawa pacar ke sini, Fa. Kayak Danis sama Mbak Sya." Mbak Verin menyikut lenganku. Aku risih dan mengelak omongan kakakku itu. "Gak mau pacaran. Prinsipku halalkan atau tinggalkan." Daffa terdengar mantap. Aku sedikit mengejek ucapannya itu. "Nice. Mas juga." Aku terkejut kenapa tiba-tiba muncul Mas Reza mengatakan itu di sampingku. Sepertinya dia sudah selesai membantu papa. "Mas juga." Mas Salman pun ikut menimbrung. Mbak Verin terlihat tidak kuat menahan tawa dan memukul lengan Mas Salman. Memang benar, aku ingat mereka berdua memohon izin untuk segera menikah kepada mama-papa. Sudah hampir empat tahun yang lalu tapi sampai sekarang belum memiliki momongan. --- "Maaf, ya, jadi ngerepotin. Aku tau kamu capek, Mas." Aku mengantarkan Mas Reza keluar rumah menuju taksi. "Gak apa-apa, Sya." Lagi-lagi dia mengucapkan itu. "Seneng bisa bantu orang tua kamu. Rame keluarganya, seru." Aku tertawa kecil. "Heboh ya." Mas Reza membuka pintu taksi. " Tanggal 18 nanti kamu masih di Jogja kan? Free?" Aku mengangguk, penasaran. "Tanggal 18 nanti ulang tahun saya yang ke-27. Kamu ... bersedia temenin saya keliling Jogja? Ke rumah bu dan keluarga mbak saya?" Aku meng-iya-kan ajakannya itu. Sumpah, kejam sekali kalau aku sampai menolaknya setelah selama ini. Aku harus merahasiakan ini dari Yogi. Selepas kepulangan Mas Reza aku meluncur ke kamarku untuk mengambil smartphone-ku, aku tau ini akan menyiksa diri sendiri. Tapi aku sebagai anak muda yang kecanduan main smartphone hal itu sangat sulit dilakukan. Aku mengecek chat dan telpon dari Yogi, ada tujuh missed call dan 28 chat darinya yang isinya menanyakan kondisiku dan meminta maaf soal sikap Mala tadi. Aku harus membalas chat dari mana? Bodohnya aku malah langsung menelponnya. Sudah tiga kali aku menelpon tidak diangkat, apa dia marah? Oh dia balas dengan chat. My Yogi Bear Jgn telpon dulu, sayang Gue msh di rmh Mala Maap, td gue jg hubungin lo sembunyi2 Sbntr lg ya Aku Ok Aku hanya menjawab 'ok' apakah terlalu jutek? Lagipula apa yang dia lakukan di rumah Mala? Benar kata Mas Reza, tidak seharusnya aku membuka smartphone-ku daripada merasakan pedih untuk kedua kalinya. Sebelum air mataku jatuh lagi, aku mencoba untuk positive thinking. Sekarang masih suasana lebaran, mungkin Yogi hanya bersilaturahmi dengan keluarga Mala, sama seperti Mas Reza mengunjungi keluargaku tadi. Baiklah, sebaiknya aku memikirkan tempat mana saja yang aku kunjungi dengan Mas Reza tanggal 18 nanti dan kado tentunya. Mungkin tidak jauh dari novel?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN