Yogi
3 Mei 2019
Sudah hampir tiga minggu lamanya, aku tidak kembali tinggal ke studio Sasya. Selain karena disibukan liputan keluar kota apalagi setelah Pemilu, memang aku masih belum diizinkan untuk kembali ke studio Sasya oleh pemiliknya sendiri. Kecuali aku sudah menentukan pilihan, putus dari Mala atau tidak, beserta alasannya. Bahkan di chat pun dia seperti malas-malasan jawabnya, ditambah slow respon tidak seperti biasanya.
Kebimbangan masih menyelimutiku, harus kukatakan yang sejujurnya atau tidak soal self-harm yang dilakukan Mala? Aku tidak mau Sasya merasa bersalah soal hubungannya denganku ternyata memakan korban.
Aku berjalan masuk ke ruang jurnalis. Langkahku terhenti di tiga meter sebelum aku tiba di mejaku. Melihat sosok Sasya di samping mejaku, sudah sibuk menulis laporan hasil liputan yang akan diberikan pada scriptwriter. Jadi hari ini dia free sepertiku? Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap cool bertemu dengannya hari ini, walau nanti akan canggung juga.
"Pagi, Sya." Aku duduk di kursi mejaku. Tidak ada jawaban. Kukuatkan keberanianku untuk mencondongkan tubuhku ke arahnya, "Pagi Nona."
"Hmm?" Akhirnya dia menoleh. "Oh Yogi, sorry gue lagi fokus. Pagi juga. Free liputan hari ini?" Aku mengangguk. Oke, sejauh ini baik-baik saja.
Selama bekerja aku tak tahan untuk terus meliriknya. Ya Tuhan, aku rindu. Bagaimana dengan trauma ketagihan seksualnya itu selama hampir tiga minggu tubuhnya tidak dijamah olehku? Kupejam mataku, pikiranku mulai kotor mengingat apa yang telah dilakukanku dengan Sasya di studionya. Kenapa jadi aku yang ketagihan dengan tubuh Sasya yang indah itu. Tanpa sadar aku menyentuh selangkanganku, f*ck jangan di kantor, Yogi.
"Aw!" Seseorang menampar pipiku.
"Kerja, woy. Mikirin apaan lo." Apa Sasya memperhatikanku sejak tadi? Jadi malu. Tiba-tiba Sasya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pipiku rasanya panas, mungkin terlihat memerah. "Setengah barang lo di studio gue gimana? Gak mau diambil? Belum ambil keputusan? Kasian, lo kayaknya kangen 'main' sama gue," bisiknya.
Aku melirik ke arah geng julid Mbak Ajeng yang sedari tadi memperhatikan kami. "Ehmm, Sya. Nanti aja ya bahasnya. Secepatnya gue kasih keputusan." Sasya tersenyum lalu kami kembali ke meja dengan tenang.
---
Jam istirahat tiba, Sasya langsung berdiri dari kursi menuju lift. Dia tidak mau makan siang bersama Angga dan Lula? Dan aku dicueki begitu saja?
Aku mengejarnya ke dalam lift. "Makan siang di mana kita?" tanyaku pada Sasya di dalam lift.
"Loh, orang gue mau makan sama Mas Reza."
Reza lagi? Sialan. Kukira mereka sudah tak saling berhubungan ternyata malah semakin dekat. Dan benar, Reza sudah ada di lobi. Mereka berdua berjalan bersama keluar gedung.
"Ups, gue denger ada bunyi yang patah nih, kretek," goda Angga. Tunggu, sejak kapan Angga dan Lula ada di belakangku?
"Aneh banget si Sasya. Dulu, Gi, pas lo lagi liputan di luar kota. Dia nolak makan bareng si Mas Bule cuma buat makan bertiga sama kita. Begitu komplit ada lo dia malah cabut," cetus Lula.
"Something bad happens to you, guys? Dia kayak ngehindarin lo." Angga ikut menimpali.
Aku menggeleng dan mendorong mereka makan di kantin Berindo saja.
---
"Angga, please bantu gue. Gue bisa gila kalo gini terus." Sepulang dari Berindo aku berkunjung ke rumah Angga.
"Tuh kan bener lo lagi ada masalah sama Sasya. Tapi tadi lo sungkan cerita karena ada Lula, ya, kan?"
Aku menceritakan pada Angga soal self-harm yang dilakukan Mala dan pertengkaranku dengan Sasya.
"Mala? Self-harm? Orang kayak Mala bisa self-harm?" Angga terkejut.
Angga mulai ceramahnya. "Yogi, sumpah gue bingung sama Mala. Gue inget banget waktu awal kita interview Berindo, lo curhat ke gue kalo Mala udah gak peduli sama lo. Sekarang? Begitu lo minta putus. Kenapa dia jadi sok manja dan gak mau putus dari lo sampe ngelakuin hal suicide begitu? Gak make sense."
Aku hanya mengedikan bahuku. Kemudian aku menunjukkan bukti chat-ku dengan Mala. "Foto self-harm dia udah gue delete semua. Gak kuat gue liatnya. Tapi lo bisa baca chat-nya."
Angga mengembalikan smartphone-ku setelah membaca semua chat-nya. "Sayang banget padahal itu foto bisa dijadiin barang bukti, Yogi. Nih, menurut gue sebagai alumni fakultas Psikologi. Seorang cewek nunjukin foto percobaan suicidal ke pacarnya karena gak mau diputusin, biasanya dia tau ada impact besar yang bakalan terjadi kalo dia putus sama pacarnya. Lah Mala putus sama lo cuma bakal kehilangan lo doang. Dia tetep penerima beasiswa LPDP Australia dan kerja di Kedubes dengan otak cemerlang, keluarga dan kehidupan sosialnya juga gak dapet impact besar kalo putus sama lo."
Aku melamun, masih mencerna perkataan Angga. "Mungkin dia gak mau kehilangan cowok seganteng sepinter dan setajir gue. Cari di mana lagi coba?"
Angga memutar bola matanya. "Gak gitu, anjir. Aduh, gimana jelasinnya. Lo jangan marah, ya. Ini cuma perspektif gue aja." Aku memegang erat bahu Angga dan memintanya untuk bicara.
"Unless ...." gumamnya. Wajahku menunjukan ekspresi harap-harap cemas. "Unless she wants to control you."
Aku terkejut dan melepas bahunya. "Maksudnya?"
"Dia pura-pura self-harm, Yogi. Biar dia gak putus sama lo. Kalo dia putus sama lo, dia mau kontrol siapa? Since you're the bad boy most wanted idaman wanita, pret. Dia ngerasa bangga dan berkuasa udah berhasil taklukin cowok kayak lo, embel-embel ngubah lo jadi cowok baik-baik. Orang jenius kayak dia kemungkinan besar cerdik manipulasi orang lain."
"... Ngaco lu."
Bisa-bisanya Angga bicara seperti itu. Pura-pura self-harm? Mana ada. Disaat Mala berjuang menyembuhkan mental illness-nya.
"Gue bilang itu cuma perspektif gue. Lo gak harus nelen bulet-bulet omongan gue, but think about that. Siapatau bisa bantu hubungan lo sama Sasya. Karena jujur, Sasya itu orangnya pure, she is better than Mala. Dari curhatan lo tentang Mala, tanpa harus ketemu orangnya langsung, gue bisa tau Mala itu toxic. Cukup lah, dari jaman SMA lo pacaran sama cewek yang drama queen yang manfaatin status dan popularitas lo buat jadi pajangan."
"Jadi lo pikir Mala itu drama?"
Angga mengangguk. Tapi untuk memastikan hal itu, aku sebaiknya menunggu Mala kembali ke Indonesia. Berjaga-jaga kalau memang dia benar-benar self-harm.
Tidak lucu 'kan kalau tiba-tiba muncul berita mahasiswa Indonesia di Australia bunuh diri karena diputusin pacarnya. Setidaknya kalau di Indonesia aku bisa memantaunya, dan ada keluarganya, tidak sendirian di negeri orang.
"Sasya belum tau kan bokap lo pemilik ritel toserba raksasa?"
"Belom, rahasiain ini terus, gue mau liat ketulusan Sasya."
"Ya udah lo minta maaf gih sana. Dua hari lagi udah mau Ramadhan juga masih aja berantem. Jujur kayak lo jujur ke gue tadi. Biar bisa puas-puasin dulu berduaan malem ini."
Aku tertawa. "Bener juga lo."
"Dari cara dia nanyain perjuangan lo buat jadiin hubungan kalian lebih dari sekedar temen. Itu udah kode keras kalo dia juga cinta sama lo, Gi."
---
"Mala! Sumpah!"
Sasya yang duduk di pinggir tempat tidurnya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku berlutut di bawahnya memperhatikan dirinya yang penuh rasa bersalah itu. Aku menunjukkan chat-ku dengan Mala mengenai self-harm yang dilakukannya.
Dia membuka wajahnya, "Yogi, i'm so sorry. Must be hard for you."
Aku menangkup kedua pipinya, "Gak apa-apa, yang penting sekarang lo paham kan. Tapi tenang, gue bakal putusin dia kalo dia udah balik ke Indonesia. Gue masih ada tanggung jawab atas dia."
Sayangnya Sasya malah mendorongku untuk tidak putus dari Mala. Dia percaya kalau Mala benar-benar self-harm, berbeda dengan Angga. Karena dia mengingat perjuangan teman kostnya dulu yang juga melakukan self-harm. Dia tidak menyangka, hubungan kami mempertaruhkan nyawa.
"Yogi, apa kita sudahi aja ya. Hubungan kita emang gak ada baiknya dari segi manapun."
"Terus gimana sama trauma lo? Asal kita bisa rahasiain dari siapapun. We can do this together."
Sasya terdiam. "Gue bisa m********i. Selama hampir tiga minggu gue lakuin itu, sama kayak yang gue lakuin sebelum ketemu lo."
Aku menghela napas. Lalu untuk apa kami melakukan hubungan fwb ini selama berbulan-bulan kalau ujung-ujungnya Sasya kembali ke m********i?
Aku menyosor bibir Sasya begitu saja dan perlahan mendorongnya terlentang di atas tempat tidurnya. Ciumanku semakin ganas, tanganku menyelinap masuk ke dalam pakaiannya lalu meremas buah dadanya yang masih terbalut bra.
"Yogi ... Stop ...." desahnya.
Aku berbisik di telinganya, "Yakin mau udahan? Lo gak bakal dapetin kenikmatan ini lagi, Sya."
Setelah puas meremas payudaranya, tanganku menyusup ke dalam celananya, meraba lembut area sensitifnya. Sedari tadi bisa kudengar napasnya yang tidak beraturan dan menyebut namaku dengan sedikit desahan.
Tiba-tiba bel pintu studio Sasya berbunyi. Astaga siapa itu, mengganggu saja. "Yogi ... Tolong, ada tamu. Gue harus buka pintu." Tubuh Sasya meronta-ronta tetapi karena posisiku ada di atasnya, aku mudah untuk menahannya.
Terdengar suara lelaki minta dibukakan pintu. "Reza ya?" gumamku. Aku berdiri hendak membukakan pintu. Tapi Sasya menarik tanganku, merengek memintaku untuk sembunyi. Karena tidak tega melihatnya seperti itu, akhirnya aku bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Juga menyembunyikan sepatu dan tasku.
Aku mendengar pembicaraan mereka soal novel. "Novel Dan Brown, Origins. Kamu pasti bakal suka ini, Sya. Saya pinjemin buat kamu." Terdengar suara Reza dan terlihat langkah kakinya masuk ke studio Sasya.
"Ini kan novel yang lagi hype tahun ini. Thanks. Aku sekarang lagi baca The Death Cure yang baru aku beli satu paket series english Maze Runner-nya dari Big Bad Wolf Books. Lagi promo dan aku suka warna-warni cover-nya" Suara Sasya sedikit tidak terkontrol, napasnya masih tersengal karena ulahku tadi.
Aku terkadang bingung dengan orang-orang kutu buku seperti mereka. Kalau sudah ada filmnya untuk apa baca bukunya? Iya tau, dengar-dengar cerita dalam buku lebih dikupas mendalam, di film banyak yang terlewat. Tetapi sama saja bagiku.
"Gak filmnya gak novelnya, itu dua-duanya seru." Suara Reza terdengar lagi. "Sasya, your breath? Kamu juga sedikit linglung."
"Hmm? Oh, aku tadi abis olahraga sedikit. Mau kubikin kopi dulu?"
Olahraga apa itu, Sya? Aku senyum sendiri. Tiba-tiba muncul selembar pembatas buku ke dalam kolong tempat tidur. Kuambil dan k****a tulisannya. Sepertinya ini tulisan tangan Reza.
Jatuh Cinta Padamu
Mempesonanya kamu
Menyungging senyummu
Menghiasi raut wajahmu
Mendiamkan detak jantungku
Mataku jadi pencuri senyummu
Yang menghantam jantungku
Bingung tak menentu
Dengan kehadiranmu
Mungkinkah menerimaku
Kutakut kehilanganmu
Bila kau tahu perasaanku
Yang jatuh cinta padamu
-Kahlil Gibran-
Aku berusaha menahan tawaku dengan menutup mulut. Kukira itu puisi yang dia ciptakan sendiri, ternyata dari penyair terkenal. Wanita jaman sekarang sudah tidak tertarik dibuatkan puisi romantis, tapi dibelikan gofood. True, girls?
Aku terkejut hingga kepalaku terbentur tempat tidur saat melihat tangan Reza mencoba masuk ke kolong mengambil pembatas buku. Padahal pembatas bukunya sudah kumasukan dalam kantong celanaku.
Sasya tolong, semoga dia tidak mengintip ke dalam kolong. Masa aku harus berpura-pura jadi hantu kolong tempat tidur?
"Mas, lagi ngapain? Ada apa di sana?" Tangan Reza keluar dari kolong begitu mendengar suara Sasya. Aku bisa bernapas lega.
"Ada pembatas buku yang jatuh, saya harus mengintip." Kemudian aku dapat melihat kedua kaki Reza yg sedang berlutut dan satu lengannya. Mati aku.
"Mas! Mas ... Biar nanti aku aja yang ambil. Kolongnya kotor banyak debu." Sasya berhasil menarik Reza untuk berdiri.
"Tolong ya diambil, itu buat kamu." Tidak akan kuberikan pada Sasya, Reza.
Setelah Reza minum kopi, akhirnya dia pamit pulang. Aku sempat tertidur selama 15 menit sepertinya. Untuk apa dia lama-lama di rumah Sasya sedangkan tadi siang mereka sudah lunch bersama.
"So who's the fakgirl now? Makanya, jangan sembarangan cap orang lain fakboi." Aku tertawa lepas saat keluar dari kolong.
Sasya menutup mulutku dengan tangannya, takut terdengar Reza yang belum pergi jauh. Ia juga membersihkan baju dan rambutku yang penuh debu sambil memonyongkan bibirnya. "Sorry ya, gue lupa Mas Reza mau ke sini juga malem ini buat pinjemin novel."
"Ya udah lah. Terus gimana? Masih mau fwb sama gue kan? Tunggu sampai Mala balik ke Indonesia pertengahan Juni nanti, abis lebaran. I'll break up with her in the best way and we'll be together."
Dia menggantungkan kedua lengannya di leherku. "Ini beresiko banget, Gi. Ditambah Mas Reza makin gencar."
Aku mendengus, "Sasya, do you love me?" Sasya mengangguk. "So don't give him a f*ck. Kenapa jadi lo yang bimbang sekarang? Lo takut gue bullshit lagi?"
"Seenggaknya gue udah tau kenapa lo susah banget putusin Mala. Jadi gak ada rasa curiga lagi lo cuma jadiin gue simpenan apa gimana."
Aku tertawa. "Enggak lah, Sayang."
Kami kembali berciuman. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan membiarkan Sasya duduk di atas perutku. Dan malam itu lebih banyak desahan yang keluar dari mulut kami karena tubuh kami sudah lama tak saling beradu.
------------------------------------------
Yogi
15 Juni 2019
"Halo?" Aku mengangkat telpon.
"Halo Babe, jemput aku di Soetta dong."
Aku sedikit terkejut. "Sekarang?"