Kapan Putus?

1994 Kata
⚠️ trigger warning: suicidal Yogi 15 April 2019. Aku terbangun dari lelapku karena sinar matahari sore yang begitu terik menerobos kelopak mataku. Dari mataku yang masih setengah terbuka, aku dapat melihat papan jalan bertuliskan Jakarta. Begini, jadi aku baru saja kembali dari liputan di Bandung bersama Pak Romli. Beliau masih fokus menyetir di sampingku. "Eh, bangun juga," ucapnya. Aku membalasnya dengan senyuman, "Mau gantian nyetirnya, Pak?" Setidaknya aku sudah dapat istirahat yang cukup. "Gak usah, tanggung. Lagian tadi pagi kamu yang nyetir," ujar Pak Romli yang membuatku mengangguk. Kalau begitu, aku membuka smartphone-ku saja. Ada chat dari Mala. Hati-hati di jalan, baby Aku bernapas lega. Mala tidak mengirim foto-foto anehnya. Bahkan bisa kukatakan, mengerikan. Sempat dia mengirim foto bekas sayatan silet di urat nadi pergelangan tangannya karena curiga aku berpacaran dengan wanita lain. Ditambah sekali aku katakan putus, dia akan melukai dirinya sendiri. Semakin sering aku katakan putus, maka ... Pusing tidak berkutik aku dibuat Mala, kapan aku bisa lepas dari hubungan dengannya yang kian hari kian menjadi toxic relationship. Daripada memikirkan sikap Mala, sepanjang jalan aku merindu Sasya, karena tadi Subuh saat berangkat aku tidak sempat pamitan, dia masih tertidur pulas. Kubuka saja i********:, rasanya mustahil Sasya tidak update instastory barang sehari pun. Terlihat instastory Sasya yang seperti benang jahitan. Astaga banyak sekali, pasti hari ini seru buatnya. Salah satu story menarik perhatianku, foto candid-nya sedang membaca novel di dalam MRT. Aku capture untuk disimpan di galeri smartphone-ku, padahal aku bisa minta pada pemiliknya. Cantik, tapi sayang dibagi-bagi di story, harusnya untukku saja. Sepertinya dia tidak sendiri di MRT, foto candid itu tentu difoto oleh orang lain. Kuharap difoto dengan smartphone Sasya. 15 menit kemudian Sasya mem-posting story baru, di Blok M, gultik? "Pak, nanti boleh turunin saya di Blok M? tanyaku pada Pak Romli yang kemudian disetujui olehnya. --- Selepas shalat Maghrib di kawasan Blok M, aku mencari lokasi gultik tempat Sasya makan. Tidak ada, bodoh, sudah pasti dia selesai makan. Aku mencari ke mana lagi? Oh ada notifikasi Sasya update instastory baru. Dia di Little Tokyo sekarang. Tapi ... kenapa harus ke sana? Aku menyusuri jalanan Little Tokyo tapi belum menemukan Sasya. Sial, yang ada hanya kerumunan perempuan-perempuan prostitusi menunggu mangsa. "Hey ganteng! Kok belok sih?" teriak salah satu dari mereka saat aku memilih jalan ke arah sebelah kananku. "Eh, eh, ganteng loh ladies, macho abisss." "Sayang! Sini dong! Mau pilih yang mana?" Aku mempercepat langkahku untuk segera lenyap dari mereka. Masih dapat kudengar mereka catcalling. Siapa bilang catcalling hanya ditujukan untuk perempuan? Lelaki pun bisa mengalami itu. Aku tiba di cafe yang ramai pengunjung, Filosofi Kopi. Dari belakang aku bisa melihat Sasya melirik-lirik ke dalam cafe. "Sasya ...." gumamku dengan senyum tersungging. Namun langkahku terhenti karena dia tidak sendiri. Ada siapa itu namanya? Reza? Aku lupa lupa ingat. Sebaiknya aku menunggu mereka berpisah, seperti badut kalau aku tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua. Dugaanku benar mereka akan makan di angkringan Blok M Square. Saatnya aku menjalankan aksiku. --- "Kenapa dia bisa ada di sini?" ujar Reza pada Sasya yang tidak suka dengan kehadiranku di meja lesehan mereka. Bodo amat. Aku malas menjelaskannya, biar Sasya saja. Kini giliran Reza memesan makanannya, tinggal aku dan Sasya di meja lesehan. Sasya masih menunggu Reza sebelum memakan makanannya, aku lapar jadi langsung kulahap saja. "Pulang aja yuk, Sya. Kita tinggalin si Reza," candaku sedikit tertawa sambil mengunyah krupuk. Sasya yang duduk di samping kiriku tidak merespon. "Gue ganggu, ya? Mana gue tau kalo lo lagi ngedate. Gue ke sini karena kangen lo," imbuhku lagi. "Kita tinggal bareng apanya yang kangen coba." Akhirnya Sasya merespon. "Oh, nanti lo bilang ke Mas Reza kalo rumah lo di Pondok Indah. Nanti lo naik MRT arah Lebak Bulus. Gue sama Mas Reza arah Bundaran HI. Please." Aku menggeleng, malas bicara. Pokoknya aku harus ke apartemen Sasya malam ini. Karena aku marah padanya. "Yogi ...." Sasya memegang lengan kiriku seperti memohon. Kemudian dia melepas genggamannya dalam sepersekian detik karena Reza muncul dengan makanannya di hadapan kami. Kami bertiga pun makan dengan tenang. Hingga Reza membuka obrolan, "Kalian nempel terus, ya." "Ya gitu," jawabku dengan senyum penuh kemenangan atas Sasya. "Pacaran?" tanya Reza lagi. "Mauny--- aww!" Sasya mencubit pinggangku. "Absolutely not, we're just good friends," cetus Sasya merangkul bahuku. Semangat sekali jawabnya. "Berarti kamu jomblo, Sya?" Dasar, main kesempatan nanya pula. "Setengah jomblo," tukasku membuat Reza kebingungan. Karena setengahnya Sasya sudah jadi milikku, belum seutuhnya. Sasya menoyor kepalaku. "Mana ada setengah jomblo. Jomblo ya jomblo aja gue." Reza tertawa bahagia mendengarnya. --- Selesai makan kami langsung kembali ke stasiun MRT. Aku, Sasya, dan Reza menunggu di peron menuju Bundaran HI. "Bukannya rumahmu ke arah Lebak Bulus?" Reza bertanya padaku. Tadi memang sempat bicara soal rumahku padanya. Bisa kulihat saat ini Sasya memelototiku. "Gue mau anterin Sasya sampe apartemennya." Reza hendak angkat bicara tapi kuhentikan. "Iya gue tau lo juga mau anterin. Bareng aja udah bertiga napa sih." Sesampainya di depan studio apartemen Sasya, aku main masuk saja seperti rumah sendiri. "Biarin Sasya istirahat dulu, Gi. Kita langsung pergi. Pamit ya, Sya." Reza menyentuh bahuku lalu menariknya untuk keluar. "Oh? Kalian gak mampir dulu? Aku buatin kopi." Sasya berakting bagus. "Gak usah, udah malem, Assalamualaikum." Kemudian Reza mengajakku kembali ke lift. Aku menghela napas di dalam lift. Bagaimana caranya aku bisa lepas dari orang ini dan kembali ke studio Sasya. Aku tidak mau pulang ke rumah. Ada yang harus kubicarakan juga dengan Sasya. "Reza, gue ke toilet dulu. Lo balik aja duluan," ujarku setelah tiba di lobi. "Saya juga kalau gitu." Oh sh*t, orang ini .... Di toilet kami buang air bersebelahan. Dia mulai bertanya hal yang membuatku bergidik. "Yogi, kamu punya pacar?" Pertanyaan macam apa itu? Disaat hanya ada aku dan dia di toilet. I know, sahabatku Angga gay, tapi tidak ada sesuatu di antara kami. Bagaimana kalau orang ini gay dan tertarik padaku? Sungguh aku masih benar-benar straight. Dia tertawa, "Bukan apa-apa, saya mau pastiin kamu cuma temenan sama Sasya atau enggak. Menurut kamu, Sasya itu gimana?" Aku bilang aku punya pacar dan secara berlebihan menyanjung soal Sasya. "Okay good, but i think you really into her. Biarpun punya pacar?" "Who doesn't like her?" "Listen, i wanna be with her. I know it's all of sudden---" "Gue tau, keliatan." Reza terdiam, "Kita lihat kemungkinan yang bakal terjadi nanti." --- Di stasiun MRT, untung Reza sudah naik kereta menuju Bundaran HI duluan. Jadi, aku kembali ke apartemen Sasya tanpa sepengetahuannya. "Yogi? Gue kira lo balik ke rumah." Sasya membuka pintu studionya dengan hanya mengenakan handuk, baru selesai mandi. Kututup pintu lalu memeluk tubuhnya sembari hidungku aktif mengendus aroma harum di kulit dadanya. Kukecup bibirnya sebelum kukeluarkan keresahanku, "Sasya, i'm mad at you. You know?" Sasya menyentuh lembut pipi kananku, wajahnya kebingungan. "Karena gue jalan sama Mas Reza?" Aku mengangguk, rasanya ingin kulepas tangannya dari pipiku tetapi yang terjadi aku mengecup telapak tangannya. Sasya melengos lalu pergi meninggalkanku di ambang pintu. Berganti pakaian. "Lo gak ijinin gue jalan sama cowok lain disaat lo masih belum putus? Perjanjian awal kita, lo masih sama Mala, gue boleh cari cowok baru. Itu lo yang ngomong sendiri Yogi." Sasya mencoba menahan gejolak emosinya. "Bukan masalah lo pergi sama cowok. Tapi lo pergi sama cowok, malem-malem, yang baru tiga hari lo kenal dan lo temuin random di kampanye!" "Dia relasi rekan jurnalis kita, Gi. Dia bukan orang random kayak anak kucing yang gue pungut di pinggir jalan. He's totally fine!" "Kita gak tau, Sya, dia orang kayak gimana. Oke kesan dia baik sama rekan jurnalis kita. Tapi siapatau dia ada niat jahat sama lo? Ada sifat yang belum ketauan sama orang banyak? Mana tadi pake acara ke Little Tokyo, lo tau gak di situ tempat prostitusi?" Dia terdiam. "Kalo lo tiba-tiba dijual ke om-om genit gimana? Atau lo dibawa ke hotel tempat maksiat terus lo diperkosa gimana?" "Ucapan kayak gitu gak pantes diucap sama cowok yang hampir tiap hari pegang-pegang, cium-cium tubuh gue!" Aku terkejut mendapat serangan balik. "Gue jalan sama dia malem ini. Itu semua karena lo! Dia saranin sehabis Pemilu. Tapi gue maksa malem ini karena gue pikir lo masih di Bandung. Dia cuma mau tunjukkin kuliner malam Jakarta ke gue yang belum ada satu tahun tinggal di Jakarta. Dan gue gak mau lo tau, gue gak mau lo marah gue jalan sama Mas Reza. Tapi kenapa lo harus tiba-tiba muncul begitu aja!" Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Kucoba memeluk dirinya, mengelus rambutnya untuk menenangkannya. "Oke ... Oke ... I'm sorry. Lo boleh jalan sama dia, lo boleh jalan sama siapapun. Gue cuma khawatir lo diapa-apain orang asing." Pertengkaran yang mulai surut kembali naik setelah Sasya bicara, "Tapi lo emang gak pernah ya niat perjuangin hubungan kita lebih dari sekedar temen. Inget banget waktu lo mohon-mohon ke gue, janji bakal putusin Mala, but it's a bullshit. Emang bener, gak boleh berharap sama manusia." Aku melepas pelukan kami. "Terus mau lo apa? Gue udah ijinin lo jalan sama Reza. Lo mau gue putus juga dari Mala? Gak bisa, Sya. Ngertiin dong keadaan gue, gue juga tertekan." "Tertekan gimana maksud lo?" Sasya sangat penasaran. "I can't tell. Privacy." Aku tidak mungkin cerita soal mental illness yang dialami Mala, soal kebiasaan menyayat urat nadi di pergelangan tangannya. Apalagi kalau itu gara-gara kecurigannya dengan hubunganku bersama Sasya. "F*ck i can't hold this anymore. Gue capek sama lo, Gi. Udah bener tadi lo pulang ke rumah gak usah balik lagi, jadinya berantem kayak gini. Sekarang lo pulang aja deh." Sasya mendorongku keluar dengan kasar lalu menutup pintu studionya. Aku mengetuk pintunya, memanggil-manggil namanya. 10 menit aku mondar-mandir di lorong apartemen memikirkan cara meminta maaf pada Sasya, pintu studio Sasya terbuka. Langsung kuhampiri dengan wajah semringah, tapi apa yang kudapat? "Bawa pulang barang-barang lo, itu baru setengah. Setengahnya lagi, lo ambil setelah lo ambil keputusan yang paling waras." Sasya memberikan barang-barangku kemudian kembali mendobrak pintunya. Mau tidak mau aku harus kembali ke rumah. ----------------------------------------- Yogi 16 April 2019 "Selamat pagi, Yogi." Belum sepenuhnya mataku terbuka ketika terbangun. Aku mendapati seseorang yang kukenal duduk di samping tempat tidurku. "Ayah." "Sudah lama ayah gak liat kamu tidur di kamarmu ini." Ayah menginjak botol anggur merah kosong yang kubeli semalam setelah diusir dari apartemen Sasya. Ayah menghela napas. "Bunda pasti marah kecewa kalau liat kamu kayak gini .... Perkara kerjaan jadi b***k korporat? Udah ayah bilang, paling enak tinggal nerusin usaha ritel ayah. Radhi tuh abang kamu, nurut sama ayah." Tak banyak yang tau kalau ayahku adalah pemilik ritel toserba di mall -mall Jakarta Selatan dan akan membuka cabang lagi di beberapa mall di kota-kota lain. Omong-omong soal pekerjaan, aku melirik jam dinding. Ya ampun, harusnya aku sudah ke kantor sejak tiga jam yang lalu. Tapi kalau tidak ada liputan, mungkin aku akan bolos kerja dulu untuk menata hatiku. "Yogi, jawab pertanyaan ayah." "Apa? Bukan kerjaan, Yah." "Wanita. Kamu putus sama pacarmu yang dateng di wisudaan kamu, siapa namanya? Ayah lupa." Aku mendengus. Justru aku ingin sekali putus dengan Mala. "Enggak, Yah. Gak putus sama Mala." "Berarti ada cewek lain, yang kamu suka, tapi kamu gak bisa memilikinya. Ya kan?" Ayah tertawa. Aku hanya membuang muka. "Yogi di antara kalian bertiga anak ayah, yang paling mirip ayah itu kamu. Wajahnya, fisiknya, sifatnya, urusannya dengan wanita. Ayah paling tau. Tapi kenapa kamu yang paling gak deket sama ayah." Tiba-tiba smartphone-ku berdering. Astaga, telpon dari Pak Chandra. Aku lompat dari tempat tidur kemudian pergi ke balkon kamarku agar tidak terdengar ayah. "Yogi! Ke mana aja kamu?! Semua jurnalis sibuk liputan persiapan Pemilu, kamu malah bolos! Cepat ke gedung KPU atau saya kasih kamu SP!" Segera aku ambil handuk bersiap untuk mandi. "Yogi, pokoknya Sabtu nanti kamu harus ikut opening ritel terbaru ayah di Bekasi. Sesekali kamu harus tau bisnis ritel ayah. Gak ada yang tau sama karir jurnalis kamu beberapa tahun ke depan." Aku hanya mengiyakan permintaan ayah tanpa pikir panjang. Jujur aku masih belum siap bertemu Sasya. Semoga saja dia ditugaskan meliput di tempat lain. Benar kenapa kantor mengeluarkan peraturan tidak boleh menikah atau bahkan percikan cinta dengan sesama karyawan. Berpengaruh sekali ke kinerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN