Dia Nggak Boleh Tau

2118 Kata
Sasya 15 April 2020. "Sya! Ikut yuk!" Mbak Sarah berteriak memanggilku dari ambang pintu keluar-masuk ruang jurnalis. Sebenarnya di ambang pintu tersebut tidak hanya ada Mbak Sarah. Ada Mas Ari dan ... Mas Reza. Ya, dia sudah berjanji akan berkunjung ke Berindo hari ini. Tapi, dengan mengajak makan siang di Blok M? Aku menghampiri mereka bertiga dan bertanya sambil melirik jam tanganku, "Blok M? Apa gak terlalu jauh? Jam istirahat kita 'kan cuma satu setengah jam." "Kita naik MRT. Dari sini paling cuma gak sampe 15 menit. Saya juga ke sini naik MRT cuma 10 menit dari Bundaran HI," cetus Mas Reza. Setiap mendengarnya bicara, hatiku terasa kalem, suaranya lembut sekali. Tidak salah dia jadi reporter. "Yee kemana aja lo, Sya. MRT udah beroperasi dari bulan lalu, lo belum pernah nyobain?" Mas Ari senang mengataiku, jadinya hanya kujawab dengan gelengan kepala. Setelah sedikit perdebatan, kami berempat menuju lift. Ketika lift terbuka, kudapati sosok Angga dan Lula hendak mengajakku makan siang di kantin. Astaga, aku lupa bilang pada mereka. Aku pun menahan mereka untuk tetap dalam lift hingga pintu lift tertutup dan kembali meluncur ke lantai dasar. Tentu Mas Reza, Mas Ari, dan Mbak Sarah juga ikut. "Guys, maaf banget. Gue mau makan di Blok M sama jurnalis yang lain. Gue lupa ngomong. Ada bintang tamu dari JJC News nih." Aku berbicara sedikit berbisik pada Angga dan Lula sambil melirik Mas Reza. "Yang tinggi itu? Yang kayak bule? Ganteng banget! Tanyain dong, Sya. Masih single gak?" bisik Lula. "Si kecil Lula mulai aktif ya, bund. By the way, Yogi ke mana ya?" Angga celingak-celinguk tidak mempedulikan pula injakan kaki yang dilakukan Lula padanya. Yogi saat ini sedang liputan di Bandung, sejak tadi subuh saja dia sudah berangkat. Aku bisa merasakan lelahnya jadi dia. Tapi untungnya Mas Reza datang disaat yang tepat, tanpa ada Yogi. Setibanya di lantai dasar, Angga dan Lula berpamitan menuju kantin. Aku, Mas Reza, Mas Ari, dan Mbak Sarah berjalan kaki menuju stasiun MRT Istora Mandiri sembari mengobrol santai. Kalian harus tau, aku salah fokus dengan Mas Ari dan Mbak Sarah yang berjalan di depanku dan Mas Reza, bergandengan tangan mesra seperti dunia hanya milik berdua. Aku memang sudah tau kalau mereka memang berpacaran, ingat saat aku menggiring Yogi ke tangga darurat untuk membahas perjanjian fwb kami? Di sana ada mereka sedang b******u. Juga mereka adalah bulan-bulanan gosip geng julid Mbak Ajeng. Sekarang, di luar Berindo, mereka baru menunjukkan jati diri mereka. Aku dapat mendengar Mas Reza menghela napas lalu berucap, "Kasian ya mereka." "Ya? Mas Ari dan Mbak Sarah?" responku. Dia mengangguk, "Mereka mau nikah akhir tahun nanti. Tapi masih belum bisa nentuin, siapa yang mengalah untuk resign dari Berindo." "Apa?" Intonasiku sedikit naik, terkejut mendengar kabar pernikahan mereka. Dan sepertinya Mas Reza sudah paham kalau tidak boleh ada percikan cinta antar karyawan Berindo. Aku jadi memikirkan nasibku dengan Yogi kelak. Tetapi tunggu dulu, aku sedang berjalan dengan lelaki tampan dan terkenal dari JJC News, untuk apa aku memikirkan Yogi. "Mereka belum berani umumkan pernikahan mereka ke orang-orang Berindo, perkara peraturan itu." Langkah Mas Reza terhenti bersamaan dengan kaki kami yang telah menginjak stasiun MRT. "Sya, it's a lot better if you have a love from another company." Eh? Apa dia bisa membaca pikiranku yang sejak tadi memikirkan Yogi? "Oh ya, kamu punya kartu Flazz 'kan?" tanya Mas Reza mengalihkan topik. "Ada." Aku tap kartu Flazz-ku di gate. Kami masuk lalu turun semakin dalam menuju bawah tanah. Sumpah, ini tinggi sekali tangganya, curam. Sedalam ini kah kereta bawah tanah? Bahkan sebelum masuk gate tadi, kami juga sudah turun tangga yang cukup tinggi. Beberapa menit kemudian kereta arah Lebak Bulus tiba. Kata Mas Reza, kita hanya tinggal turun di stasiun Blok M. Saat memasuki kereta MRT, aku takjub dengan suasananya. Seperti di luar negeri. Keren sekali anak negeri bisa membuat inovasi seperti ini. Rasanya seperti melayang saking gesitnya. "Gak ada sinyal." Hanya itu saja yang aku keluhkan saat menaiki kendaraan canggih ini. "Ya iya lah, Sya. Orang kita di bawah tanah. Nanti kalau udah deket-deket Blok M, keretanya bakal muncul lagi ke atas tanah. Ke jalan layang lebih tepatnya," ujar Mbak Sarah panjang lebar. Fakta menarik! "Baru pertama kali naik kereta MRT kan, Sya? Sini saya fotoin," tawar Mas Reza mengeluarkan smartphone-nya bersiap untuk memfotoku. Aku menolak, karena jam makan siang kereta ini lumayan penuh. "Gak apa-apa. Banyak kok yang foto-foto. Tuh liat." Mas Reza mendelik ke arah sekelompok karyawan perempuan yang sedang heboh foto-foto. "Candid aja ya," kataku. Akhirnya, Mas Reza memfotoku ketika aku berdiri menggantungkan tanganku ke pegangan kereta sambil pura-pura membaca novel. Kalian harus tau, di kala senggang kerja aku selalu baca novel. Semacam ada target tiap bulannya aku harus menamatkan minimal delapan novel. "Nanti saya kirim via w******p. Oh ya, saya belum punya nomor w******p kamu," tukas Mas Reza. "a***y, here we go Mr. Smooth," canda Mas Ari sedikit menendang kaki Mas Reza, diikuti pula tawa Mbak Sarah. Astaga, ada apa ini? --- Suasana foodcourt Blok M cukup ramai. Agak penat dan gerah tapi setidaknya lebih murah daripada makan di kantin Berindo. Kami berhasil mendapat kursi kosong lalu memesan makanan. Aku pesan ayam geprek saja. "Awalnya, foodcourt Blok M ini sepi pengunjung. Tapi semenjak MRT beroperasi, banyak karyawan di sepanjang jalan Sudirman sampai Thamrin kaya kita gini yang makan di sini. Keren ya, gak cuma sekedar inovasi. Bisa bawa rejeki juga buat pedagang-pedagang kecil kaya mereka." Mas Reza bercerita panjang lebar. Dia terlihat berwawasan luas saat berbicara seperti itu. "Rejeki juga buat kita karena bisa punya menu makan siang yang lebih variatif," imbuh Mbak Sarah. "Za, kapan-kapan lo harus ajak Sasya kulineran malam di sini. Ciamik!" cetus Mas Ari. Loh kenapa aku? Mas Reza mulai menatapku penuh arti sambil melipat kedua tangannya di dadanya, "Tapi saya gak yakin Sasya tipe perempuan mau diajak keluar malam, makan di pinggiran jalan dan angkringan." Segera kusanggah ucapan Mas Reza itu. Tau sendiri, aku paling suka diajak ke pasar malam saat masih di Banyuwangi bersama keluargaku. Ditambah saat kuliah di Malang, hiburanku adalah jalan-jalan malam bersama teman-teman, yang tentu saja kuliner street food juga. "Bagus kalo gitu, sikat cuy," celetuk Mas Ari sambil mencicipi soto dagingnya. "Kamu bisa kapan, Sya? Setelah hari ini, kita semua jurnalis pasti banyak liputan Pemilu. Gimana kalo sehabis Pemilu?" tanya Mas Reza. Aku hanya katakan, aku masih memikirkannya lagi. Kami pun makan dengan tenang. Selama makan dan kembali menuju stasiun MRT Blok M. Aku memikirkan hari yang tepat untuk kuliner malam bersama Mas Reza. Pokoknya, harus disaat aku dan Mas Reza free tapi tidak free untuk Yogi, seperti hari ini. Ini terasa seperti sembunyi-sembunyi Kami berempat melangkahkan kaki memasuki kereta MRT yang berhenti di hadapan kami. Aku masih mencari momen yang tepat untuk berbicara dengan Mas Reza agar tidak didngar oleh Mas Ari dan Mbak Sarah, rasanya malu .... "Gimana? Udah nentuin bisa kapan?" Mas Reza membuyarkan lamunanku. Mau tidak mau, aku menjinjit kakiku agar bisa berbisik di telinganya, "Malem ini aja." Mata Mas Reza sedikit terbelalak tanda dia terkejut tapi mencoba untuk tetap kalem. Ya Tuhan, semoga dia tidak menganggapku murahan, murahan tidak? Habis kapan lagi selain hari ini? Dia tersenyum, "Okay." Aku pun ikut tersenyum malu. Hingga tidak terasa sudah sampai di stasiun MRT Istora Mandiri, aku harus turun bersama Mas Ari dan Mbak Sarah untuk kembali ke Berindo. Sedangkan Mas Reza masih ikut melaju bersama kereta itu menuju stasiun MRT terakhir Bundaran HI. Bisa kudapati tatapan dan senyum hangat Mas Reza padaku dari dalam kereta melalui jendela saat aku turun. Hingga wajah itu menghilang karena kereta harus kembali pergi. --- Saat waktunya jam pulang kerja, aku touch up di toilet dan bergegas menuju stasiun MRT Istora Mandiri. Di sana Mas Reza sudah menunggu. "Hai, sorry lama ya," sapaku pada Mas Reza yang sedari tadi duduk di kursi yang disediakan stasiun sambil mengenakan earphone. Dia benar-benar bak seorang model. "Enggak kok, yuk." Kami pun memasuki kereta menuju Blok M. Setibanya di blok M, langit sudah mulai senja. Pedagang-pedagang kuliner mulai menjajaki dagangannya. "Bagus, gultiknya udah buka," ujar Mas Reza mengajakku ke sebuah pedagang kaki lima sekitaran Bulungan. "Gultik?" "Gulai tikungan. Ini kuliner khas Blok M banget, Sya. Udah sejak tahun 1970-an. Kamu harus coba." Porsinya sedikit, sepadan dengan harganya yang terbilang murah, 10 ribu saja. Tapi kalau soal rasa. Wah. Merupakan nasi dengan paduan kuah dan daging gule yang sangat nikmat. Gultik semakin nikmat dengan kuah gule warna jingga ditambah suwiran daging dan lemak yang disiram diatas nasi hangat. Bahkan kita bisa meracik sendiri kecap, sambal, dan kerupuknya sebanyak apapun, tanpa ada komplain dari pedagangnya. "Enak banget, Mas. Ini aku kayaknya gak cukup satu porsi deh." "Betul, saya juga selalu minta dua porsi setiap ke sini." Mas Reza tertawa kecil. "Tapi untuk kali ini satu porsi aja ya, karena kita masih ada kuliner lain." "Kuliner lain? Asik! Hari ini aku makan banyak nih." Aku paling ceria kalau soal makanan. Sembari memanjakan lidah aku memanjakan pula kedua mataku dengan pemandangan senja di Blok M. emudian aku teringat Yogi, dia tidak boleh mengizinkanku makan terlalu banyak dan berlemak, kalaupun boleh pasti besokannya menyuruhku untuk sit up lah, push up lah, plank lah, yang cukup menyiksa. Biarpun niatnya baik. Selesai makan gultik pas sekali adzan Maghrib berkumandang, Mas Reza mengajakku shalat terlebih dahulu sebelum melanjutkan kuliner. Hingga keluar dari masjid, kami berjalan di daerah Melawai. Suasananya seperti di Jepang, banyak restoran khas Jepang berjajaran. "Ini namanya Little Tokyo, Sya. Suasana Jepangnya kental," tukas Mas Reza yang membuatku mengangguk. "Sasya, tell me about yourself. I wanna know you further," tukasnya sekali lagi. Aku menceritakan tentang keluargaku, latar pendidikanku, hobiku, banyak. Kecuali perihal mantan, bukan karena mantanku Janu yang b******k. Tapi adalah haram ketika jalan dengan lelaki yang baru kita temui membicarakan soal mantan dan masalah percintaan di masa lalu. "Orang tuaku di Banyuwangi, Mbakku dan suaminya stay di Jogja, kedua adik kembarku baru masuk kuliah di Bogor. Kami semua terpisah," ujarku. "Saya juga punya Mbak di Jogja, tinggal sama keluarganya. Tapi saya anak bungsu. Ibu juga di sana. Literally, emang asalku dari Jogja." Aku sedikit terkagum, "Kalau ayah Mas?" Raut wajahnya langsung berubah sendu. Ya ampun, seharusnya aku tidak bertanya tentang ayahnya. Aku hanya penasaran, dia benar blasteran atau bukan. "Ayah sekarang di Jerman. Dia asli sana. Udah lama gak balik ke Indonesia, dan kayaknya gak akan pernah ke Indonesia lagi." Oke, untuk mengalihkan topik kebetulan aku melihat cafe yang masuk film layar lebar. Yap, kami melewati Filosofi Kopi. "Eh ada Chicco Jerikho sama Rio Dewanto gak ya? Hihi," cetusku sambil melirik-lirik ke dalam cafe. Mas Reza kembali tersenyum, "Kalau ada, pasti udah rame banget. Sekarang tujuan kita udah ada di depan mata, jalanan kawasan Blok M Square. Pasti udah ada banyak makanan angkringan di sana." Kami bergegas pergi ke sana. Kata Mas Reza, angkringan Blok M menjadi yang paling favorit karena menyajikan lebih dari 30 menu lauk pauk yang bisa dipilih sesuai selera. Beberapa menu yang paling laris adalah ayam goreng, cumi goreng, ikan goreng, tongkol balado, tempe orek, dan kikil cabai hijau. Sebelum, memilih makanan. Mas Reza menempati meja lesehan yang kosong untuk kami makan. Dia menyuruhku untuk membeli makanan terlebih dahulu, bergantian. Dia yang jaga meja. Aku sendiri dengan semangat memilih makanan, semua terlihat lezat. Tapi cumi my dear ini, aduh. "Bang mau cumi ini." Aku menunjuk cumi yang paling besar. "Pilihan yang bagus, Neng! Neng emang jago pilih yang gede dan enak!Mau pake sambel gak? Sambel pualing puoooll pedesnya." Aku tertawa mendengar Abang pedagangnya begitu semangat. Namun saat aku menoleh ke wajahnya .... "ASTAGHFIRULLAHALAZIM!" Yogi yang berpura-pura menjadi pedagang angkringan tertawa kencang sekali. Aku mencubit lengannya keras karena ketawanya itu. Bisa-bisanya dia ada di sini. "Lagian lo sih, Sya. Di MRT, di gultik, di Little Tokyo, semua lo update di instastory. Jadi gue tau lo jalan ke mana." Yogi masih berusaha berhenti tertawa sambil mengembalikan posisi Abang pedagang angkringan ke Abang pedagang yang sebenarnya. "Stalker lo! Bukannya lo harusnya masih di Bandung?" "Jih, mending gue yang jadi stalker daripada Janu, hayo?" Jari telunjuknya menyentuh hidungku. "Iya gue baru balik dari Bandung langsung ke sini, kebetulan gak macet jadi langsung nyamperin lo aja sekalian makan malem di sini." Yogi memesan makanan juga. Tumben, dia tidak komentar soal Mas Reza. Memang aku tidak mengunggah apa-apa soal Mas Reza di instastory. "Mana pacar baru lo? Keterlaluan lo Sya, baru kenal tiga hari udah jalan berduaan malem-malem gini. Gue liat pas nguntit lo di Little Tokyo." Oh aku salah, kali ini pasti Yogi bahas Mas Reza. Padahal gara-gara dia aku memilih malam ini dengan Mas Reza, tapi semua sia-sia ternyata. Setelah pesananku dan Yogi selesai kami kembali ke meja Mas Reza. "Permisiii~" ujar Yogi pada Mas Reza. Wajah Mas Reza langsung berubah risih dengan kedatangan Yogi. "Kenapa bisa ada Yogi?" tanya Mas Reza padaku. Ya Tuhan ini akan menjadi malam yang cukup panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN