Seorang Malaikat

2069 Kata
Sasya 13 April 2019 Semenjak hari ulang tahunku kala itu. Aku dan Yogi semakin lengket di fisik, namun entah semakin jauh di hati. Mala tidak ada sehari pun tidak menelpon Yogi hanya untuk menanyakan hal receh, "sudah makan belum?", "tidurnya jangan kemaleman ya." Menyebalkan, aku tertawa mendengar itu, mereka pacaran tiga tahun seperti baru pacaran tiga hari saja. Untungnya Yogi paham perasaanku. Ketika Mala menelpon, dia langsung keluar dari kamarku, membiarkanku tidak mendengarkan percakapan mereka. Itu lebih baik. Tapi sampai kapan aku seperti ini terus? Aku tidak mau terus-terusan jadi juara kedua dan Yogi pemenangnya. Sekali-kali aku juga ingin menang. Setelah lepas dari Janu, seharusnya aku mendapatkan lelaki yang bisa menghargaiku seorang. Aku merenungkan nasibku soal lelaki yang dekat denganku selama hidupku, kenapa tidak ada satupun yang baik? Tiba-tiba jentikan jari muncul di depan wajahku. "Kok bengong sih," cetus Yogi yang kemudian mencubit pipiku. Aku melepas cubitannya. "Heh, banyak orang. Apalagi ada Mas Ari di situ." "Orang dia lagi mainin drone gue. Ayo, lo foto lagi panggungnya pake kamera." Ya, sekarang aku, Yogi, dan Mas Ari sedang ditugaskan untuk meliput kampanye akbar salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden untuk Pemilu 2019 yang akan diadakan satu minggu lagi. Tepatnya di Stadion Gelora Bung Karno, seluruh manusia di stadion ini mengenakan pakaian putih dan bendera merah putih dikibarkan dimana-mana. Suara gemuruhya menyorakan nama calon Presiden pilihan mereka. Layar besar di atas panggung menampilkan sosok yang mereka puja. Posisi kami bertiga berada di kursi penonton, lantai paling atas, agar kami lebih mudah menangkap pemandangan kampanye ini. Ditambah pula dengan adanya drone. "Yogi...." Suara Mas Ari yang terdengar lesu membuatku dan Yogi menoleh kebingungan. "Sorry ini drone lo ilang ke mana? Gue gak liat. Gue kira yang itu. Gak taunya punya media lain." Mas Ari terlihat panik namun masih bisa mengontrol gesturnya. Yogi mengacak rambutnya sendiri. "Mas, coba lo inget-inget terakhir lo liat di mana? Lagi ngeliput apa" Mas Ari menunjuk ke barisan kursi penonton di sayap kanan stadion. Mereka berdua bergegas mencari drone di sana. Aku pun mengikuti mereka. "Eit, lo stay di sini aja. Ribet kalau dicari bertiga, terlalu banyak orang desak-desakan," tukas Yogi menahan tubuhku, "nih pake topi gue biar lo gak digodain." Yogi memakaikan topi baseballnya di kepalaku. Jujur, aku takut sebenarnya ditinggal sendiri di kerumunan orang. Terutama sekumpulan laki-laki di belakangku. Sedari tadi aku menunduk, melihat foto-foto di kamera, memainkan smartphone-ku. Setengah jam Yogi dan Mas Ari tidak kembali. Perutku sakit, kami bertiga sudah berada di GBK sejak tadi subuh. Agar lebih mudah mendapat akses masuk ke stadion sebelum rombongan tiba. Hingga aku belum sempat sarapan. Sebenarnya Yogi membawa roti selai kacang kesukaannya dari apartemenku untuk persediaan bekal. Tapi percuma, roti itu ada di tas Yogi dan dia tidak ada di dekatku sekarang. "Neng, Neng kenapa Neng?" Terdengar suara cempreng seorang pria dari arah belakangku. Mungkin dia melihatku memegang ulu hatiku terus. Maagku kambuh. Namun aku tidak berani menoleh untuk meminta pertolongan. Jadinya aku hanya menggelengkan kepalaku memberi syarat aku baik-baik saja padahal tidak. Tak lama kemudian, sesosok lelaki jangkung duduk di sampingku dan memberikanku sebungkus roti coklat. "Maagnya kambuh? Orang belakang kamu tadi khawatir loh." Suaranya pun terdengar berat. Aku menoleh padanya, Ya Tuhan. Apa Engkau mengirimi malaikat penyelamatku? Tampan dengan perawakan seperti orang Eropa tapi kulitnya sedikit lebih gelap. Aku terpana melihatnya tanpa memberikan respon apapun. Hal itu membuat dia tersenyum malu kemudian menaruh sebungkus roti coklatnya ke genggaman tanganku. "Erm.. makasih," lirihku. "Bilang makasih juga ke Bapak di belakang kamu. Kalau dia gak heboh perhatiin kamu, saya gak bakal turun samperin kamu," ujar lelaki itu yang membuatku berterima kasih pada seorang bapak tua di belakangku. Ya ampun Sasya, kamu parnoan sekali. Dikira bapak tua itu, abang-abang genit yang mau menggoda. "Berindo?" ucap lelaki itu lagi. Aku hanya mengangguk sambil menunjukan kemeja seragam Berindo-ku karena masih sibuk melahap roti coklatnya. Kuperhatikan kemeja seragam yang dikenakannya. Astaga, JJC News? Setauku, JJC News adalah acara berita di televisi luar negeri yang kini masuk ke televisi swasta Indonesia. Gila. Apa di sini dia juga mau meliput? "Saya dari JJC News, reporter. Di barisan kursi samping ada temen-temen saya, yang itu kameramen, yang itu bagian urus sound." Dia menunjuk satu persatu rekan kerjanya dan sibuk menjelaskan bagaimana dia meliput sebagai seorang reporter. Menyenangkan, aku di Berindo, meliput hanya dengan menulis artikel dan memfoto lokasi. kejadian. Dikarenakan Berindo adalah jurnal berita online. Di JJC News apalagi menjadi reporter, wah, wajah malang melintang di televisi. Pas untuk lelaki ini yang memang cocok menghiasi layar kaca, eh aku lupa namanya siapa? "Sorry Mas, namanya siapa?" tanyaku ketika dia masih sibuk bercerita. "Oh, oh ya saya lupa. My apologies. Panggil aja Reza." Dia menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya, "Sasya." "Sasya..." Dia tampak berpikir. "Kamu beneran sendirian ngeliput sendiri?" "Oh enggak, ada dua rekanku yang lagi ambil drone. Nyangkut entah di mana." Aku sedikit tertawa garing, namun dia ikut tertawa. "Kok saya gak pernah liat kamu ya.... Saya lumayan banyak kenal jurnalis Berindo loh," imbuh Mas Reza. Aku menjelaskan bahwa aku adalah jurnalis baru Berindo, masih freshgraduate. Membuatnya mengangguk dan ber-oh ria. "Dua rekan kamu yang bareng kamu, namanya siapa?" tanyanya. "Yogi sama Mas Ari." "Ari? Ari Wicaksana?" Oh tidak, aku tidak tau nama panjang Mas Ari. "Sepertinya iya, Ari yang kamu maksud itu Ari yang saya maksud. Nama Ari di jurnalis Berindo cuma ada satu kan? Dia kakak tingkat saya di kampus dulu, kita cukup dekat." Aku mengangguk. Sampai akhirnya rotiku habis, Yogi baru menunjukkan batang hidungnya. Dia sedikit berlari menaiki tangga ke arahku sambil membawa drone-nya. "Sya, sorry lama banget. Emang ada-ada aja tuh si Mas Ari. Drone gue nyangkut di kawat pagar pembatas. Untung gak kenapa-kenapa ini." Yogi mengelus-elus dronenya. "Kamu pasti yang namanya Yogi ya?" tanya Mas Reza tiba-tiba. Yogi terlihat kebingungan. "Ya?" "Lain kali jangan tinggalin cewek sendirian di keramaian." Yogi terdiam, masih dengan wajah kebingungan namun sekarang terlihat sedikit terusik. "Reza!" Terdengar panggilan dari Mas Ari yang baru saja menyusul. Mas Reza menghampirinya dengan akrab. "Siapa sih?" tanya Yogi sedikit jengkel. Aku menceritakan apa yang terjadi padaku saat Yogi sibuk mengambil dronenya. "Untung aja loh ada dia," cetusku. "Yah, maaf Sya. Nih rotinya, masih mau?" Yogi mengeluarkan roti dari dalam tasnya. Tapi aku menolak karena sudah kenyang. Setelah Mas Ari puas berbincang dengan Mas Reza. Dia memperkenalkan Reza padaku dan Yogi. "Mereka berdua jurnalis baru, Za. Baru masuk tahun lalu. Wajar kalo lo belum kenal," tukas Mas Ari. "Kalau sama yang ini saya udah kenal, Mas." Mas Reza mengacungkan jarinya ke arahku dengan senyumnya yang membuatku meleleh. Tertawa kecil. Suara petikan bass membuat kami terkejut. Ternyata di panggung sedang ada band terkenal yang mengisi acara. Kami memilih untuk menikmatinya sembari istirahat sebelum melanjutkan untuk liputan. Selesai penampilan band, calon presiden dan wakil presiden mengutarakan pidatonya kembali. Suasana kembali riuh. Aku dan dua rekanku mulai bekerja kembali. Di kala Yogi merekam pidatonya, aku dan Mas Ari mewawancarai pendukung yang hadir di GBK. Aku mencatat dan Mas Ari yang bertanya. Namun bodohnya aku, pandanganku tertuju pada lelaki tadi, Reza. Iya sedang berbicara di depan kamera dengan mic di tangannya. Percaya padaku, lelaki yang sedang serius bekerja ketampanannya meningkat 100%. "Sya, nyatet nggak?" ucap Mas Ari membuyarkan pandanganku pada Mas Reza. Aku meringis. Catatanku masih ada yang kosong tak terisi karena jawaban narasumber yang tak berhasil aku catat. Rasanya ingin menyalahkan ketampanan Mas Reza yang mencuri atensiku dalam bekerja. Mas Ari menghela napas panjang. "Untung gue inget jawaban narasumbernya, kita nggak mungkin wawancara ulang, 'kan?" "Maaf, Mas," lirihku. Aku mengutuk diriku sendiri dalam benak diriku. Kemudian Mas Ari menoleh ke arah pandangku tadi. "Nggak usah terpesona gitu sama dia. Gue kira lo nggak fokus karena masih kelaperan," kekehnya. Wajahku memerah dan berusaha mengelak. "Nggak kok, Mas. Nggak liatin siapa-siapa." "Nggak apa-apa kok, Sya. Toh dia masih single. Mau gue comblangin?" Aku menelan air liurku lalu memperhatikan Yogi yang asyik merekam calon presiden dengan drone-nya. Drone itu, dia tidak mau meminjamkannya lagi pada Mas Ari, khawatir rusak karena tersangkut lagi. Wajahku berubah sendu. Yogi, apa harus aku katakan ya pada Mas Ari? Aku sudah tidak kuat lagi. Setidaknya jujur padaku kenapa masih belum putus dari Mala. Kamu masih mencintainya? Tidak rela lepasin dia demi aku? Aku sudah tak tahan lagi, Gi. Aku cinta kamu dan ingin memiliki kamu seutuhnya. Namun kalau begini terus .... "Woy malah bengong. Mau nggak? Keliatannya Reza juga bakal suka sama lo," cetus Mas Ari yang lagi-lagi membuyarkan pandanganku. Parah, hari ini aku sering tidak fokus karena dua lelaki itu. Aku menjawab dengan sedikit ragu, "B---boleh, Mas." Kalaupun dicomblangin, tidak wajib jadi pacar juga, bukan? Yang terpenting aku senang mengenal orang sebaik Mas reza dan juga mengenalnya lebih dekat. "Ciee, oke deh," ujar Mas Ari yang membuatku tersenyum simpul. Yogi, aku harap kamu tidak mendengar ucapan kami. --- Sesampainya di apartemenku, aku dan Yogi langsung melemparkan tubuh kami terbaring di atas tempat tidur. "Capek, panggil tukang pijat, Sya." Permintaan Yogi memecahkan kesunyian studioku. "Gak ah, mau dicurigain?" "Ya udah, lo aja yang pijitin gue." "Ya kali, Gi. Gue juga remuk." Studio kembali sunyi. Seketika Yogi memeluk tubuhku dari samping dan menaruh kepalanya di sela leherku. "Jangan, Yogi. Gue bau. Ish geli!" Aku menggeliat saat leherku mengenai bewoknya. "Kalo lagi capek emang paling enak kelonan. Bau keringat menggoda kok." Dia mulai menciumi leher hingga bahuku. Smartphone-ku berdering berkali-kali. Siapa yang chat sebanyak ini. Kuambil smartphone dari dalam tasku disaat tubuhku masih dalam genggaman Yogi. Oh, ternyata i********:. Follower baru diikuti DM darinya. Username-nya reza_rudolf. "Reza Rudolf," gumamku lalu meletakkan smartphone-ku ke atas meja di pinggir tempat tidurku. Nanti saja balas DM-nya. Kali ini aku membalas pelukan Yogi. Yogi berbisik di telingaku, "mandi bareng yuk, sayang." Namun di kepalaku masih terbayang nama Reza, Reza, Reza.... Siapa ya? Maklum, saking capeknya otakku tidak berfungsi dengan baik. Mataku langsung terbelalak dan melepas pelukan Yogi setelah mengingat dengan baik pemilik nama Reza Rudolf yang baru saja kutemui beberapa jam yang lalu. Hal itu membuat Yogi sedikit terkejut, "kenapa?" ucapnya. "Lo mandi aja duluan." Bergegas aku ke balkon sembari membawa smartphone-ku untuk membalas DM seorang Reza Rudolf. reza_rudolf is now following you reza_rudolf Halo. Assalamualaikum. Dengan Sasya? Saya Reza yg td bertemu di GBK. Aku Waalaikumsalam, Mas. Iya aku ingat. reza_rudolf Saya iseng cari Instagram kamu dari Instagramnya Mas Ari. Ternyata ketemu. Gak masalah kan saya follow? Sungguh, dia bertanya hal seperti itu? Aku malah senang. Aku memanggil dia Mas karena kurasa dia beberapa tahun lebih tua dariku. Biarpun dia lebih muda dari Mas Ari. Tapi aku dan Mas Ari saja terpaut usia lumayan jauh. Aku Gak apa-apa bgt, Mas. Sudah ku-folback ya. reza_rudolf Makasih Sasya. Oh ya, lusa nanti saya mungkin mampir ke Berindo. Makan di kantinnya mksd saya. Kantor saya di Thamrin jd gak jauh. Aku Siap, Mas. Nanti saya makan di sana. Kebetulan gak ada liputan. reza_rudolf Oke, sampai ketemu nanti ya. Sekalian juga ngobrol sama Mas Ari. Udah lama gak ketemu. "Halaah bilang aja mau ketemu Sasya, gak usah pake alibi ketemu Mas Ari." Aku menoleh ke belakang. Memang aku mencium wangi sabun tapi sejak kapan Yogi di belakangku? Sejak kapan dia selesai mandi? "Heh, lo apa-apaan sih! Ke balkon cuma pake handuk. Sana masuk! Baru tau rasa nanti masuk angin." Aku mendorong perutnya untuk kembali masuk. Tidak kuat dengan pemandangan roti sobek dan rambut berantakannya yang masih basah akibat keramas. Yogi malah tersenyum nakal, "seneng banget pegang-pegang roti sobek gue". Aku memutar kedua bola mataku, malas mendengar ucapan Yogi itu, dan kembali ke layar smartphone-ku. "Gue kasih tau ya, Sya. Itu orang mau modus. Tipe-tipe softboi lah. Lo gak peka." Cih, bisa-bisanya dia bilang aku tidak peka disaat dia sendiri tidak peka dengan perasaanku ingin dia putus sama Mala dan memilikinya seorang. "Then you're the fakboi, Gi." "Seenggaknya fakboi gak lebih bahaya dari softboi." "Lo fakboi, dia softboi, gue sad girl! Udah ah nggak mau nge-judge orang lagi." "Sad girl kenapa lo?" tanya Yogi yang hanya kujawab, "Au ah." Padahal aku menjadi sad girl gara-gara dia. "Pokoknya kalo dia niat ngapa-ngapain, gue udah siap kepal tangan nih," sambung Yogi seraya masuk ke dalam. Kalau Yogi saja bisa memiliki Mala dan aku---biarpun tidak resmi---apa aku juga bisa melakukan seperti yang Yogi lakukan? Aku belum jatuh cinta pada pandangan yang pertama pada Mas Reza, buatku hal itu bullshit, kau hanya mencintainya secara fisik, itu namanya nafsu. Nafsu pada pandangan pertama. Tapi kalau Mas Reza memang tertarik untuk lebih dekat dan memberikan hatinya padaku. Why not, right? Setidaknya aku bisa perlahan mengikis perasaanku pada Yogi dengan seseorang yang lebih menghargai diriku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN