Nggak Mau Baper

2096 Kata
Yogi 1 Maret 2019. Entah apa yang dipikirkan Sasya selepas mediasi dengan Janu, mantannya itu. Dia pergi begitu saja membuatku dan Janu kebingungan. Janu hendak menyusul Sasya tapi aku menyuruhnya duduk di kursi. Biar aku sendiri yang mengejar Sasya. Aku berlari mengejar Sasya sambil bersiap mengambil kado untuk ulang tahunnya dari dalam tasku yang belum sempat kuberikan tadi. Hingga aku berhasil menggenggam lengan Sasya di teras cafe. "Gue anterin pulang, ya," pintaku. Sayangnya dia malah emosi dan menolak ajakanku untuk pulang bersama. Dia butuh ruang untuk sendiri katanya. Memilih pulang dengan ojek online dan memintaku untuk tidak pulang ke studionya dulu. Tidak apa, aku paham dengan kondisinya saat ini. Kuurungkan niatku memberikan kado secara langsung. Setelah Sasya pulang dengan ojek online-nya, aku bergegas ke tempat parkiran motorku. "Sasya gimana?" Tiba-tiba Janu ada di sampingku ketika aku menyalakan motorku. "Aman. Udah lo balik sono. Inget perjanjian tadi. Awas aja lo masih ganggu Sasya terus." Kuacungkan jari telunjuk di depan kedua matanya lalu kulajukan motorku menuju apartemen Sasya. Jujur aku menguntit Sasya dari kejauhan selama di perjalanan, entah rasa khawatir dengannya masih menyelimutiku. Sasya sudah tiba di apartemennya dan langsung naik menuju studio. Setidaknya dia sudah selamat sampai tujuan. Kalau saja dia tidak bilang butuh ruang sendiri aku pasti sudah ikutan naik. Tapi sekarang, aku malah duduk-duduk di sofa lobi. Memejamkan mata dan merenung. Perasaan tadi aku tidak salah omong, kenapa Sasya pakai acara emosi kepadaku? Atau gara-gara Janu? Iya pasti ucapan Janu soalku ada yang menyangkut di pikiran Sasya. Waktu menunjukkan jam 10 malam. Aku tidak mau kembali ke rumah, tidak ada Bang Radhi dan Raina, pasti Ayah membawa perempuan lagi ke dalam rumah. Semenjak Bunda meninggal lima tahun yang lalu, Ayah uring-uringan sendiri membawa perempuan-perempuan tidak jelas darimana asalnya pulang ke rumah. Aku pun mengecek smartphone-ku. Ternyata ada banyak chat dari Angga sejak tiga jam yang lalu. Jamet Korea Yogs, lo berdua doang rayain ultah Sasya? Kok lo kampret? Yogiiii! Gue mau nyusul lo berdua. Blg lokasinya dmn! Woy elah! Lo berdua ngapain si? Lama2 gue curiga Aku Ser-Angga bacot ye Td gue abis nemenin Sasya ketemu mantannya Jamet Korea Ooo, mantannya yg pernah ke Berindo itu? Trs gmn tuh? Angga balasnya cepat sekali. Aku malas capek mengetik menceritakan semuanya tadi. Tapi sepertinya aku ada ide. Aku Coy, di rmh lo ada org? Jamet Korea Biasa cm ada Mamak sm Abah, udah pd tidur. Si Adit msh kuliah di Solo. Lo mau numpang? Aku Iya Mumpung bsk weekend Sebelum bergegas ke rumah Angga aku menitipkan kado ulang tahun Sasya ke resepsionis dan memintanya untuk diantarkan ke studio Sasya. Keluarga Angga sangat terbuka sekali denganku. Mereka selalu menerimaku untuk menumpang di rumahnya, Mamak, Abah, dan adiknya, Adit. Baru saja aku keluar dari lobi apartemen tempat tinggal Sasya. Janu muncul dengan motornya di parkiran depan. Buru-buru aku menghampirinya, untung saja timing-nya tepat. Kalau aku sudah pergi dari sini, bisa-bisa dia menguntit sampai studio Sasya. Orang ini benar-benar, tak ada habisnya. Padahal Sasya sudah mediasi untuk memperingatinya, aku juga sudah mengancamnya. Tetapi ia masih saja menguntit. "Lo ngapain ke sini? Belum puas? Lo bener-bener minta gue hajar?" Aku mengangkat helm-ku bersiap melempar ke wajahnya. "Sasya harus tau kalau dia nggak boleh terus-terusan jadi simpenan lo. Dia berhak bahagia buat jadi yang pertama!" "Dia berhak, iya, gue bakal putus sama pacar gue dan dia jadi permaisuri gue! Lo cuma iblis perusak tubuhnya, perusak kebahagiaan sama kejiwaannya!" bentakku biarpun sebenarnya aku tidak yakin kapan akan putus dengan Mala. "Kejiwaan? Maksud lo traumanya? Kayak gimana gue nggak paham," lirih Janu. "Dia takut sama cowok, takut menikah, takut berhubungan seks, dan semua itu gara-gara lo! Lo harusnya sadar sama perbuatan lo dulu!" Janu terdiam lalu berkata, "Gue udah nggak kayak dulu lagi. Sekarang biar gue tanggung jawab." Aku menggeleng dan menahan tubuh Janu yang melangkah masuk ke apartemen. "Bacot. Lagian, korban mana yang mau terus hidup barengan sama pemerkosanya. Sekarang kalau lo ngejar dia terus, traumanya bakal nambah parah." Janu berhenti dan tampak berpikir. "Kalau gitu, gue harap cowok yang dia pilih bukan lo. Dia harus dapat cowok yang nerima dia satu-satunya, bukan dijadiin simpenan!" "Dia maunya gue, trauma dia cuma bisa dikontrol sama gue. Udah lo nggak usah khawatir, gue bakal jadiin dia satu-satunya. Bikin dia bahagia." Janu menyeringai. "Pede banget, anjir. Lo boleh ngomong gitu sekarang. Tapi suatu hari lo bakal ngerasain gimana ditinggalin Sasya, dijauhin Sasya, kayak gue. Karena dia udah nemuin cowok yang tepat. Nggak usah halu kalau trauma dia cuma bisa dikontrol sama lo." Kemudian Janu kembali memakai helm dan menyalakan motornya. Kali ini aku yang menyeringai. "Sekarang lo pergi dan jangan balik lagi ngejar Sasya. Gue bakal terus jadi bodyguard dia di Jakarta." Setelah Janu pergi, aku masih menunggu di apartemen Sasya, khawatir Janu akan kembali. Namun setelah setengah jam, aku berangkat ke rumah Angga. --- "Nah! Kebetulan nih lo ada di sini! Gue mau interogasi lo!" Angga terlihat bersemangat cenderung ... kepo? Apalagi ini anak. Baru saja aku selesai menumpang mandi di rumahnya dan mengganti baju dengan baju milik Adit. Baju Angga tidak muat padaku, dia terlalu kecil. "Gi, gue semenjak ketemu Raina di konser Blackpink waktu itu. Kita jadi sering berhubungan lagi. Katanya lo gak pernah balik ke rumah. Emang lo ke mana?" Aku heran, kenapa Raina bisa tau aku jarang pulang ke rumah? Bukannya dia sekarang sudah kost di Depok? Apa dia tau dari Ayah? Sejak kapan Ayah mencari keberadaanku? "Yogi, kayanya gue tau lo tinggal di mana. Secara tempat numpang tidur lo di Jakarta cuma di rumah gue doang. Lo jarang numpang di rumah gue lagi." "Di mana emang?" tantangku. "Apartemen Sasya. Mending taubat deh lo sebelum kena azab." Aku terkejut, jangan bilang karena kaos Reebok-ku yang tertinggal di cucian Sasya? "Banyak hal yang mengarahkan intuisi gue kalau lo tinggal satu atap sama Sasya." Angga sok-sok terlihat berpikir sebagai detektif. "Itu namanya co-living, Ga," tukasku sambil mengoles selai kacang pada roti tawarku. Sontak Angga kaget campur heran mendengar pengakuanku. "Jadi beneran? Itu bukan co-living, tapi kumpul kebo! Astaghfirullahalazim! Mana ada co-living satu kamar berdua!" "Lo mana ngerti sih co-living? Lagian gue bayar tagihan listrik sama air studio Sasya juga." "Nggak gitu, Yogi. Coba lo tanya orang tua seumuran Abah sama Mamak. Mana tau mereka co-living, kebanyakan orang taunya kumpul kebo! Lo gak takut dicurigain orang-orang apa?" Angga menjambak rambutku. Aku menyuruhnya diam, khawatir Abah dan Mamak terbangun lalu mendengar ceritaku. Sejauh ini hanya Angga yang curiga. Tetangga apartemen Sasya, sudah diatur, bahkan nenek-nenek di samping studio Sasya menganggap aku suami sahnya. Kemudian mau tidak mau aku menceritakan semua yang terjadi kenapa aku bisa 'co-living' dengan Sasya, juga trauma yang dihadapinya. Maaf, Sya. Aku harus memberi tahu Angga. Tenang saja, aku yakin kawanku ini bisa jaga rahasia. "Yogi, gue tau lo niatnya baik bantu penuhin hasrat seks karena traumanya itu. Tapi lo kesannya kaya modus. Atau memang modus? Lo kan suka sama Sasya. Keliatan jelas." Lagi-lagi aku dianggap modus. Sudah berapa kali kukatakan kalau aku tidak memaksa, semua ini terjadi karena pilihan Sasya juga. "Terus Mala, apa kabar Mala? Masih jadian lo berdua? Jadian rasa musuhan." Angga tertawa mengejek. Astaga, benar juga. Tadi Janu sempat nyeletuk simpenan fakboi ke Sasya. Kemungkinan besar dia tau kalau aku belum putus dari Mala. Mungkin karena itu Sasya jadi sensitif tadi. Sudah beberapa kali kucoba untuk putus baik-baik dengan Mala tapi dia tidak mau kita putus. ------------------------------------------ Yogi 11 Februari 2019 Mala menangis sesenggukan di layar monitor laptopku ... Sudah kubilang aku tidak sanggup mengatakan kata 'putus' sebelum Mala yang mengatakannya terlebih dahulu. "Aku nggak mau putus, Yogi. Nggak mau, titik!" keluh Mala. Aku hanya terdiam tidak bisa bereaksi apa-apa. "Kalo kamu mau kuanggap gentleman, putusin aku jangan lewat video call begini, ngomong langsung depan wajahku sini!" sambung Mala. "Oke, aku pesen tiket pesawat ke Sydney sekarang juga." "Nggak usah! Aku cuma mau tes kamu doang. Ternyata seniat itu kamu putusin aku. Tapi keputusanku tetap sama. Aku nggak mau putus dari kamu!" Belum sempat aku mau bicara, Mala sudah memotong. "Yogi, kamu gak sadar perjuangan aku jadiin kamu orang baik? Aku yang buat kamu gak main perempuan lagi, berhenti merokok, perbanyak ibadah, fokus akademis sampe tolongin kamu kerjain skripsi. Tapi semua itu sia-sia semenjak aku kuliah lagi di Australia, kamu balik lagi kaya dulu. Bener ya, kita gak mungkin bisa ubah karakter seseorang." "Aku ngerasa nggak jadi diri sendiri, Mal, kalo terus-terusan jadi orang baik yang kamu mau. Dan justru kamu yang berubah sekarang" "Oke, baik, kalo itu yang kamu mau. Kamu bebas jalan sama perempuan lain tanpa sepengetahuanku, bebas ngerokok, bebas nggak ngaji. Nggak cukup? Aku bakal hubungin kamu duluan 24/7. Asal kamu nggak putus sama aku." "Nggak gitu, nggak perlu, Mala. Udah lah." "Tolong, Yogi. Pertahanin hubungan kita sampe aku selesai S2 ini. Aku bakal pulang ke Indonesia kok, gak bakal kerja di sana. Lagian summer nanti aku libur panjang. Aku bakal lama temenin kamu terus di Indonesia, sekalian bikin surprise ulang tahun kamu Juli nanti." ------------------------------------------ Angga terlihat mengantuk mendengar curhatku. Padahal tadi dia menodongku bagaimana kondisiku dengan Mala. Akhirnya aku menyuruhnya tidur saja. Sasya pasti marah mengetahuiku belum putus dari Mala. Besok saat malam minggu aku harus mengajaknya malam mingguan sekalian kutraktir udon. ------------------------------------------ Yogi 2 Maret 2019. "Gue kira gue yang harus traktir karena kemarin ulang tahun, ternyata lo. Tumben banget. Ada apa nih?" Sasya terlihat semringah sesaat setelah memesan menu di restoran Jepang untuk makan udon. "Gue mau minta maaf." Sasya terlihat bingung, "soal apa? Kado lo kemarin? b******k ya tapi lumayan berguna juga buat gue, ukurannya pas, gila lo bisa tau sampe situ. Makasih ya." "Sekarang lagi dipake gak?" tanyaku sambil iseng melirik dadanya. "Ish, nggak lah! Masih dijemur." Sasya hampir mencolok mataku dengan sumpit. Aku tertawa kecil tapi masih ada perasaan risih. "Sya, sebenernya bukan masalah beha." "Ssstt!! Bisa kecilin gak suaranya? Kayak nggak ngerti sekitar aja." Aku pun memberanikan diri untuk mengatakan kalau aku belum putus dari Mala, Mala terus memohon untuk tidak putus denganku, pernah sampai mengancam akan bunuh diri. Dan aku tau kalau itu membuat Sasya emosi kemarin. "Permisi satu beef dan satu marugame udonnya." Sesosok pelayan mengantar pesanan kami dan mengacaukan suasana lalu pergi begitu saja. "Sasya, tadi denger kan penjelasan gue?" Sasya terdiam sambil mengaduk dan meracik udonnya. "Sya...." "Iya, iya, gue denger. Luar biasa ya lo bisa tau apa yang bikin gue bete kemarin. Tapi tenang aja. Aku udah maafin. Dan gak masalah kamu mau pacaran sama siapa aja kek. Asal lo tetep jadi fwb gue." Sasya pun menyeruput kuah udon dengan nikmat. Aku tersenyum, dia bisa dengan santainya bicara seperti itu. Syukurlah, kalau dia bisa menerimanya. Tapi sedikit sedih juga, apa dia benar-benar tidak menyimpan perasaan sedikit pun padaku? Diam-diam aku juga berjuang untuk mendapatkan hatinya. "Thanks, Sya. Udah mau ngertiin kondisi gue." Sasya hanya mengangguk. "Lo boleh balik tinggal di apartemen gue kok. Daripada nyusahin Angga. Malem minggu gini gak enak sendirian." Aku tersenyum lebar. "Let's go!" --- Sesampainya di dalam studio Sasya. Aku langsung memeluk mesra Sasya dari belakang ketika ia melepas sepatu, sambil mencium pucuk kepalanya yang wangi shampoo buah, lalu turun menciumi leher dan bahunya yang parfumnya sama-sama wangi buah. She likes that fruity thingy. Sasya membalikkan tubuhnya lalu mencumbu bibirku dan menggantungkan kedua lengannya di leherku. Aku menggendong dirinya ke atas tempat tidur tanpa melepas tautan ciuman kami. Posisiku ada di atasnya. Perlahan kulucuti pakaiannya, dan dia membuka satu persatu kancing kemejaku. Napasnya makin memburu saat kucumbu tubuh indahnya dan sedikit mendesah ketika aku bermain di bagian payudaranya. Sampai smartphone-ku berdering tanda telepon masuk. "Yogi.... Telpon...." desah Sasya. "Nggak usah biarin aja." Aku sedikit melirik layar smartphone-ku dan tertera nama Mala di sana. Bisa berantem lagi aku sama Sasya. "Angkat!" titah Sasya sambil mengambil smartphone-ku dan tentunya sudah melihat nama Mala. "Tapi ...." Sasya melotot padaku sebagai isyarat aku harus mengangkat video call dari Mala. Mau tidak mau kuangkat telponnya dan bicara di balkon. "Hai baby lagi apa? Loh kamu di mana? Eh kok kamu gak pake baju?" tanya Mala. "Iya nih lagi di rumah temen. Gerah abisnya hehe. " Aku mengintip Sasya dari sela-sela gorden. Tampak dia masih duduk di tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sebenarnya apa yang terjadi? "Bubu, udahan dulu ya soalnya aku lagi main game sama temenku. Kelamaan nanti nunggunya gak enak. Kita ngobrol lewat chat aja, byeee~" "Eh tunggu du---" Belum sempat Mala bicara video call-nya sudah kumatikan. Maafkan aku Mala. Aku kembali pada Sasya yang juga sedang memainkan smartphone-nya. "Yuk lanjut," tukasku sambil mengecup punggungnya dan mengelus lengannya. "Oke," ujarnya tersenyum. Tapi senyumnya sedikit terpaksa. Kami kembali ke 'aktivitas' tadi tapi rasanya berbeda dengan sebelum aku mengangkat video call Mala. Astaga Yogi, kamu harus berbuat apa, salah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN