Mantan Tak Terindah

2006 Kata
Sasya 1 Maret 2019 "Sasya, lo yakin?" Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk pada Yogi. Sudah satu bulan lebih sejak aku memberanikan diri mengangkat telpon dari Janu. Meskipun saat berbicara dengannya di telpon aku terlalu menunjukkan bicaraku gagap, bibirku dan sekujur tubuhku gemetaran. Tapi aku bisa melaluinya. Janu masih saja seperti itu, nada bicaranya seperti menyombongkan diri. Bilang kalau dia diterima di perusahaan financial tech yang sedang digandrungi millenial saat ini. Santai sekali dia bicara denganku, tidak ada dosa yang menyelimutinya kah setelah apa yang dia lakukan padaku dulu? Selama dia bicara di telpon aku mendengus, aku malas angkat bicara tentang diriku selama di Jakarta, biarkan saja dia cerewet cerita tentang dia, dia, dia. Setelah satu kali aku mengangkat telponnya. Janu jadi ngelunjak, dia bahkan berani menelpon di jam kerja. Terpaksa aku matikan terus smartphone-ku. Padahal aku juga butuh telpon dari Yogi, teman-teman, dan keluargaku. Dia juga sudah beberapa kali mengajakku ketemuan. Tapi aku masih belum siap. Hingga yang terakhir ini, dia memakai alasan ulang tahunku sebagai ajang perayaan. Sebenarnya aku berulang tahun tanggal 29 Februari, tapi karena 2019 bukan tahun kabisat, jadi aku merayakannya tanggal 1 Maret. Lagipula mana ada perayaan ulang tahun bersama mantan tak terindah? Dia berani menyewa satu spot hanya untuk perayaan berdua dengannya malam ini di sebuah rooftop fancy di bilangan Cikini. Astaga. Tapi aku mengajak Yogi untuk menemaniku. Khawatir traumaku muncul atau Janu melakukan hal tidak senonoh lagi. "Ya udah, kalo ada apa-apa telpon gue. Gue duduk di pojok sana sambil liatin lo." Yogi mengusap lenganku. Aku tersenyum lalu mencoba menghampiri Janu yang sedari tadi memperhatikan kami. Wajahnya sangat sumringah melihatku, benci, rasanya ingin kutonjok. "Apa kabar, Sasya. Kamu makin semok ya." Aku mendengus mendengar perkataannya itu. "To the point aja deh, lo ngapain ajak gue ke sini?" "Lah, ya rayain ulang tahun kamu lah bareng aku, selamat ulang tahun cantik, tuh ada kue buat kamu." Janu mengedikkan dagunya ke arah pelayan yang membawa kue tart dengan lilin menyala. Kemudian dia mengeluarkan sekotak kado dari bawah meja. "Kamu buka ya." Aku membuka kadonya, isinya adalah boneka beruang. Ckk, aku sebal dengan hal-hal cheesy seperti ini. Memang tidak ada ide lain kasih kado untuk cewek selain coklat dan boneka? "Sya ... Tadi kamu minta aku to the point kan? Lagian aku udah cerita banyak soalku di telpon. Aku mau kamu...." Aku memotong ucapannya. "Lo gak tertarik denger cerita gue di Jakarta? Di telpon yang diobrolinnya kehidupan lo terus?" Janu sedikit terkejut, membiarkanku bercerita tentang hidupku di Jakarta. "Cowok yang duduk di pojokan itu pacarku." Aku mengedikkan dagu ke arah Yogi yang sedang duduk sambil menghisap rokok vapor nya. Sebelum berangkat ketemu Janu, kami memang sudah merencanakan siasat kalau Yogi akan berpura-pura jadi pacarku. Janu menundukkan kepalanya, tubuhnya bergerak-gerak. Aku sedikit penasaran ada apa dengan dia. Tak lama, ia mendongakan kepalanya, tertawa keras seperti kerasukan. Aku dan Yogi di pojokan terkejut kebingungan. "Pacar lo?? Udah lah gak usah bohong. Gue udah tau semuanya. Dia belum putus tuh sama pacarnya di Australia." Janu kembali tertawa. Yang tadinya menggunakan aku-kamu sekarang menjadi gue-lo. Mendengar itu, entah hatiku sedikit sakit. Untuk menutupinya, aku menyelidiki gerak-gerik Janu yang masih tidak bisa diam di hadapanku dan bertanya dengan intonasi sedikit tinggi, seakan tidak rela orang lain kena getah dari hubungan kami yang belum tuntas. "Lo udah stalking sampe mana aja?" Akhirnya dia bisa diam. "Semuanya, Sya. Literally, S E M U A N Y A." Tidak tahan dengan psikopat di hadapanku aku menggebrak meja cukup keras. Untung saja jarakku dengan pengunjung lain lumayan jauh biarpun dari mereka menengok ke arah kami. Dan Yogi.... "Kenapa, Sya? Cecunguk ini bikin ulah apa?" ujar Yogi yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku sambil mengelus bahuku. "Cecunguk?? Lo bangs*t yang cecunguk! Cewek sehebat Sasya gak pantes jadi simpenan fakboi kaya lo! Udah Sya, mending lo balikan sama gue." Sontak aku terkejut dengan ucapan Janu itu. Yogi hendak berdiri menantang Janu tapi aku tahan dadanya tanganku. "Udah stop! Gini deh. Janu, please, gue ke sini mau kita mediasi. Bukan buat rayain ulang tahun gue apalagi balikan sama lo." Aku mencoba mendinginkan situasi mereka. "Mediasi apaan? Balikan ga---" Ucapan Janu terpotong oleh Yogi. "Si anj*ng, lo bisa denger Sasya ngomong dulu gak?" Aku memijat kedua pelipisku mendengar mereka saling membentak. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku memohon kepada Janu untuk berhenti stalking, menelponku, spam chat setiap hari apalagi disaat jam kerja. Jangan kirim hadiah ke apartemen. Juga jangan memintaku untuk balikan karena aku tidak akan pernah mau. Tapi aku sudah memaafkan apa yang telah dia perbuat pada diriku. "Oke, gue gak bakal ganggu atau stalk lo lagi. Lo udah sering omongin itu di telpon sekarang waktu empat mata juga. Seniat itu lo gak mau liat gue lagi. Tapi kalo lo emang gak mau terima gue balik, alasannya apa?" Janu sedikit melotot. "Lo pasti gak tau kalo Sasya punya trauma gara-gara lo. Liat, dia maafin lo meskipun lo ga pernah minta maaf ke dia." Yogi angkat bicara dengan tenang kepada Janu. Aku senang sekaligus bingung melihat Yogi yang bisa tetap kalem di situasi seperti ini. "Oke, maaf, maaf banget, Sya. Gue gak tau lo kenapa-kenapa karena lo menjauh dari edaran gue waktu di kampus. Gue lewat, temen-temen lo langsung pada pasang badan. Gimana gue mau tau keadaan lo setelah putus dari gue?" Bohong, dia memang mencari dan menghampiriku di kampus tapi tidak pernah peduli dengan keadaanku. "Ya lo pikir sendiri dampak lo ngelakuin kekerasan seksual ke Sasya terus lo selingkuhin dia." Yogi menyolot. "Gue ngomong sama Sasya, bukan lo setan, kenapa lo yang jawab terus." "Janu!" Aku sedikit menggebrak meja lagi. "Thanks Gi, udah ngewakilin perasaan gue. Dan Janu, udah jelas kan gimana keputusan mediasi kita? Dan apa yang terjadi sama gue setelah putus dari lo? Gue mau cabut dari sini." Aku mengambil tasku lalu pergi meninggalkan mereka. Sumpah, ini tidak keren, ini justru membuatku terlihat childish kabur dari mereka berdua yang sedari tadi memanggil namaku. Saat aku sampai di teras cafe seseorang menarik tanganku. "Gue anterin pulang ya?" Yogi menggenggam erat lenganku. "Sakit, lepasin Gi! Gue mau pulang sendiri pake ojol." Aku sedikit membentak. "Kok lo jadi emosi sama gue? Tadi gue ada salah ngomong?" Bukan, bukan kamu yang salah omong, tapi sepatah kata dari mulut Janu mengubah perspektifku tentang kamu Yogi. Lebih tepatnya hubungan kita. Hal itu yang membuatku lebih banyak diam sehingga Yogi terus menimpali Janu. Bahkan aku sudah tidak peduli soal Janu. Masalahku dengan Janu sudah kuanggap clear, semoga. "Nggak, gue cuma butuh ruang buat sendiri dulu." Untungnya Yogi mengindahkan keinginanku itu dan tak lama kemudian ojolku tiba. --- Kuseduh matcha latte lalu kuhirup aromanya. Matcha latte selalu jadi pilihanku dikala banyak pikiran yang mengganggu. Sembari melihat gemerlap Kota Jakarta di balkon studio apartemenku. Sebenarnya aku buru-buru keluar karena tidak tahan perkataan Janu soal Yogi. "Dia belum putus tuh sama pacarnya di Australia." "Cewek sebaik Sasya gak pantes jadi simpenan fakboi kaya lo!" Belum putus? Jujur, aku kesal kenapa Janu lebih tau soal itu dibanding aku. Apalagi itu, simpenan fakboi? Kenapa Yogi belum memutuskan hubungannya dengan Mala seolah-olah membuatku sebagai simpanannya? Aku tidak akan memaksa Yogi untuk putus dengan Mala. Itu akan membuatku terlihat murahan. Aku hanya kecewa karena Yogi ingkar janji. Lebih tepatnya, aku kecewa pada diriku sendiri karena sudah percaya dengan janji manisnya untuk putus dengan Mala. Oh Tuhan, rasanya ingin mencurahkan isi hatiku ini tapi entah dengan siapa. Bahaya kalau sembarang curhat. Bunyi notifikasi w******p-ku berdering tanda ada chat masuk. Ya ampun, untuk apa Janu masih menghubungiku. Masalah kita belum cukup clear? Anak Dakjal Sya... Maafin gw Selama ini gw g tau lo survive Gw jahat y? Aku Iya lo jahat Dah lah Masalah kita udh clear kan? Anak Dakjal Can we still be friend? At least? Katanya lo udah maafin gw Aku Iya bawel Anak Dakjal Gitu dong hehe Gw cm mau ingetin lo,, Hati" sm Yogi Aku Hrsnya gue hati2 sm lo. Btw gue udah bilang jgn sering chat gue lg Anak Dakjal Gk, Sya Gw serius.... Aku menarik napas dan memilih untuk tidak membalasnya lagi. Kenapa jadi maling teriak maling? Aku menyeruput kembali matcha latte-ku. Kan, semua perkataan Janu yang mengarah kepada Yogi tambah lagi membuatku stress. Smartphone-ku berdering kembali sengaja aku mendiamkannya, aku yakin itu Janu karena aku tidak membalas chat-nya. Sudah hampir semenit masih berdering. Aku menyerah dan membuka smartphone-ku. Ya ampun, ternyata video call dari Chika. Buru-buru aku mengangkatnya. "Hai sayang, happy birthday! Tonight still your birthday right?" "Thank you so much, Chika! Long time no see!" Kebetulan aku butuh tempat curhat dan Chika dulu selalu menjadi tempat curhatku kalau lagi ada masalah dengan keluarga ataupun Janu, and she can keep the secrets. Semoga saja curhatanku soal hubungan fwb-ku dengan Yogi tidak merebak sampai keluargaku di Banyuwangi. Apalagi sampai ke telinga kakak yang cerewet dan galak, Mbak Verin, bisa habis aku. "Eh btw lo lagi on duty ya? Gue mau cerita-cerita nih." Aku menunjukkan ekspresi sedih. Tentu saja dia masih bekerja karena hari ini jadwalnya lembur dan terlihat orang-orang kantor di sekitarnya. Tapi saat aku mencetuskan nama Yogi di kalimatku.... "Yogi? Cerita apaan sini hayu buruan! Kalo urusan orang ganteng gue gak bisa nunda. Gue cari tempat aman dulu ya. Apa kabar dia?" Terlihat Chika sedang berpindah tempat. "Mit amit lo. Lo suka sama Yogi? Tapi jangan cemburu ya?" "Eh, eh, ada apa nih? Kalian jadian? Gue bilang ganteng bukan berarti suka elah. Gue udah punya calon." Akhirnya aku menceritakan semua yang kulalui bersama Yogi dan traumaku. Juga soal tadi mediasiku dengan Janu. Chika seringkali terlihat syok. "Gilak lo ye! Nakal banget di ibukota! Gue bilangin Mbak lo!" Aku tau sebenarnya Chika bercanda. Tapi aku pura-pura memohon agar dia tidak melakukan itu. "Bisa-bisanya juga lo ketemu Janu. Tapi gue bangga, lo bisa maafin dia. Setelah bertahun-tahun ya, Sya." Aku hanya tersenyum, "terus soal Yogi gimana menurut lo?" "You love him, Sya. Just admit it. Lo tuh kadang denial kalo lagi suka sama cowok." Kedua lenganku membentuk tanda X yang berarti menolak aku suka sama Yogi, membuat Chika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalo lo gak suka, ya lo gak bakal peduli dia masih jadian sama pacarnya atau enggak. Jangan anggap diri lo adalah orang ketiga. Lo cuma harus anggap dia temen, nikmatin sentuhannya, tubuhnya, dan wajahnya. Tapi sayangnya, lo udah baper." "Di sini yang nakal siapa sih, Chi. Gue atau lo? Masa gue cuma nikmatin sentuhannya tanpa mikirin perasaan, ih apa-apaan." "This is Jakarta, hampir 2020 Sasyaku. Tanpa harus pake ikatan pacaran atau nikah, tanpa harus bawa perasaan, seks tetep bisa jalan. Gue yakin Yogi paham sebagai orang asli Jakarta." Ya ampun apakah aku sedang jadi salah satu pemeran film s*x and The City? "Dia udah jelas-jelas suka sama lo, udah kaya malaikat yang selalu lindungin lo, guardian angel banget. Tapi di sisi lain dia iblis, fakboi. Kencanin dua cewek sekaligus dan keluarin janji manis buat dapetin seks. Makanya gue bilang, gak usah baper biarpun sulit." Aku sedikit tidak terima Chika mengatai Yogi fakboi. Kuyakin Yogi tulus, hanya saja dia labil. Oh ya ampun ... Aku selalu berpikir positif tentangnya. Sepertinya benar apa kata Chika, i'm in love with him. "Dan jangan sekali-kali lo minta Yogi putus sama pacarnya, biar dia yang milih mau gimana. Udah gede kok labil. Oke, Sya?" Aku mengangguk-angguk. Beberapa menit kemudian, beli studioku berbunyi. Ternyata petugas apartemenku mengirimkan bingkisan kado. "Dari siapa tuh?" tanya Chika yang diam-diam mengintip lewat layar smartphone-ku. "Yogi." "Panjang umur ya biarpun kadonya doang yang dateng. Ayo cepet! Buka! Buka! Gue mau liat!" Aku membuka kadonya. Sekejap aku berteriak, "YOGIIII!!!" Chika tertawa lepas melihat isi kadoku. 2 pieces bra sexy muncul di hadapan kami berdua. "Lo berdua beneran udah kaya suami istri deh," Chika masih puas tertawa, "eh itu ada suratnya coba lo bacain." Sasyaku, cantiku, sayangku. Lo rutin beli skincare mahal, make up lengkap, baju branded. Tapi bra lo udah kendor semua :(. So, gue beliin yang baru nan sexy. Semoga muat ya, gue tau ukuran bra lo. Pakai itu kalau gue mampir ke studio lo. Happy Birthday again XOXO ❤️ Aku kembali meneriaki nama si pemberi kado itu. Kalau dia ada di hadapanku mungkin sudah kutendang asetnya. Malu sekali, apalagi ketauan Chika seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN