Sasya
20 Januari 2019
Siang ini aku liputan di pengadilan Jakarta Pusat. Aku dititah untuk mencatat pertanyaan yang dilontarkan para wartawan untuk para artis wanita yang terdapat dalam daftar wanita sewaan pejabat. Sebenarnya sudah sejak seminggu lalu daftar itu mencuat di media sosial Twitter. Namun kali ini mereka akan disidang. Sayangnya, aku hanya bisa menunggu di luar.
Aku berfoto selfie karena bosan, menjaga penampilan juga karena aku akan bertemu dengan banyak selebriti. Baiklah, aku menyematkan locations Pengadilan Jakarta Pusat pada selfie-ku. Aku mengecek beberapa followers baruku, bukannya sombong, tetapi akun Instagramku terbilang cukup terkenal, karena aku selalu memberi review mengenai buku-buku yang telah k****a. Bisa dibilang, bookstagram.
Aku suka sekali membaca dan bahasa Inggris sejak kecil. Tak salah, 'kan, kalau aku ambil jurusan Sastra Inggris. Hobiku aku salurkan pada media sosial i********: beserta caption yang berisi review. Siapa sangka aku mendapat banyak followers sesama pecinta buku. Tak sedikit pula endorse menghampiri. Followers-ku bilang hal ini didukung oleh wajahku juga, tapi menurutku tidak begitu.
Aku melihat lima followers baru di i********:-ku, username akunnya bobby31. Ada salah satu yang membuatku risih. Entahlah, aku merasa risih jika seorang lelaki dengan foto sedikit dan bahkan tidak penting di feeds-nya. Seperti akun bodong yang mencoba mengintaimu. Masalahnya akun bobby31 telah melihat story selfie-ku. Ah, hanya negative thinking saja. Tenang Sasya, tenang.
"Sasya! Sini! Liat tuh udah pada keluar dari sidang!" ucap Mbak Eva menarik tanganku menuju kerumunan wartawan lainnya.
Kami pun menerobos lautan wartawan yang tengah menyambangi ratu pesinetron tanah air, Agatha. Ia menjadi salah satu terdakwa kasus wanita sewaan pejabat. Hampir seluruh Indonesia terkejut. Dalam jarak yang cukup dekat aku dapat melihat sosok Agatha, ya, Mbak Eva berhasil menarikku ke barisan yang hampir paling depan. Mbak Eva mulai melontarkan pertanyaan dan aku yang merekam suara juga mencatat jawaban Agatha.
Saat Mbak Eva menanyakan kedekatan Agatha dengan Gandhi---presenter tv kondang--- akibat tersebarnya video Gandhi berkelahi menyelamatkan Agatha di club. Tiba-tiba Gandhi muncul dan mengatakan kalau mereka telah berpacaran selama tiga bulan dan akan segera menikah dalam waktu dekat. Hitungan beberapa detik, wartawan di belakangku yang mendengar pengakuan Gandhi mulai nekat mendorong-dorong tubuhku hingga tergencet parah.
Aku dan Mbak Eva tidak bisa menahan lagi. Kami pun mencoba keluar dari gerombolan wartawan namun sulit. Lagipula Agatha dan Gandhi sudah pergi dikawal bodyguard. Yang terpenting aku dapat rekaman pengakuan Gandhi soal hubungan mereka. Seseorang menarik tanganku saat tersendat keluar dari kerumunan wartawan, akhirnya aku bisa lepas bernapas. Sampai aku pun ikut menarik Mbak Eva keluar dari kerumunan itu.
Rasa terima kasih akan ku ungkapkan pada lelaki yang menolongku, namun aku malah terkejut melihat sosoknya. Janu?
"Lo nggak apa-apa, Sya? Ada yang sakit?" tanya Janu dengan wajah khawatir sembari melihat seluruh tubuhku kalau-kalau ada yang terluka.
Aku menarik kasar lenganku dari genggaman tangannya. "Nggak usah liat-liat! Lo kok bisa ada di sini?" tanyaku sinis.
"Insting, Sya," ujarnya sambil memoleskan senyum yang rasanya ingin ku tampar wajahnya.
Aku dan Mbak Eva mengecek hasil liputan kami. Sebenarnya masih ada yang kurang. Karena Agatha dan Gandhi telah hilang entah ke mana kami mencoba mencari selebriti lain yang terlibat. Janu terus mengekori kami di belakang. Sungguh, dia tidak punya kerjaan apa?
Aku memarahi Janu. "Bisa pulang aja nggak? Lo bikin gue repot."
"Gue cuma kangen lo, Sya," ucapnya santai. Bodoh.
"Lo nggak kerja? Atau lo sebenernya pengangguran?"
"Lah, lo yang aneh weekend gini masih kerja."
Aku menepuk dahiku. Benar tidak ada libur untuk jurnalis apalagi saat-saat dunia entertainment sedang panas-panasnya sebuah kasus. Ini menjadi ladang untuk kami para jurnalis meraup uang dari pemberitaan.
"Ya udah gue tunggu di luar pengadilan." Janu pun melenggang pergi dariku.
Aku mendengus. "Nggak usah balik lagi!"
"Ciee, itu siapa sih? Tak kira kamu sama Yogi, Sya." Tiba-tiba Mbak Eva menanyakan soal Janu.
"Orang nggak jelas," tukasku. Aku pun mengajak Mbak Eva liputan kepada selebriti yang bersedia diajak wawancara.
Sembari memikirkan Yogi, aku menarik napas. "Lagi-lagi lo nggak ada di saat gue butuhin lo, Gi," lirihku. Aku masih dapat melihat Janu di luar sedang merokok menungguku. Rasanya ingin ngedumel tapi diingat-ingat aku sedang bekerja sekarang. Pokoknya sehabis ini, aku harus menarik Mbak Eva kabur dari jangkauan Janu.
---
"Lo tadi ketemu Janu?"
Aku mengangguk dengan wajah sendu duduk di samping Yogi, tepatnya di atas tempat tidur apartemenku. Malam sejak kejadian tadi kami coba membicarakannya. Yogi menghela napas. Ia bilang, sepertinya Janu benar-benar harus diberi pelajaran.
"Tapi apa, Gi? Lo mau adu jotos sama dia?" ucapku menggeleng, "gue nggak bakal biarin lo terlibat urusan gue sama Janu. Dia terlalu berbahaya."
Yogi menggenggam kedua tanganku. "Sya, dengerin gue." Lalu mengelus pipiku. "Udah tau Janu terlalu berbahaya, terus lo mau lawan dia sendiri? Di Malang masih mending ada temen-temen yang lindungin lo? Di Jakarta? Cuma gue yang tau perkara lo berdua. Biarin gue ikut campur."
Aku memeluk tubuh Yogi. Ya Tuhan aku menyayanginya dan bersyukur dipertemukan olehnya. Yogi berbisik di telingaku, "Kalau ada apa-apa langsung telepon gue. Sebisa mungkin kalau liputan gue di Jakarta dan nggak sumpek-sumpek amat. Gue bisa bantu lo hajar dia."
Aku tersenyum dan mengecup sekilas bibirnya. "Thanks." Kami berciuman hingga ia terbaring di atas tubuhku. Aku mengalungkan kedua lenganku di lehernya.
Bunyi smartphone Yogi berdering ke seluruh penjuru kamarku. Mengganggu kegiatan berciuman kami saja. "Biarin aja," bisik Yogi di telingaku dan ia kembali mengecup tiap centimeter leherku. Tetapi aku tak tahan lagi, kuambil smartphone-nya dan kulihat tulisan 'Mala mpir' di sana. Aku tersentak, Mala? Bisa-bisanya Yogi menamainya seperti itu. Lebih parahnya lagi, mereka masih berhubungan? Kukira mereka sudah putus.
"Gue bilang diemin, Sya!" ujar Yogi mengambil smartphone-nya dari tanganku. Sayangnya telepon itu tidak berhenti lalu Yogi mengangkat teleponnya dan pergi ke balkon.
Aku memperhatikan Yogi di balik kaca balkon. Mengaitkan kedua lenganku di kedua kakiku. Yogi, kenapa kamu harus sudah ada yang punya? Dan kenapa kamu menyambut baik kehadiranku yang seharusnya kamu tolak. Tidak ada yang aku punya selain kamu di Jakarta, Yogi. Kamu janji akan putus dan bersamaku. Aku benci harus jadi orang ketiga. Atau aku balikan saja dengan Janu? Pikiran gila macam apa ini? Lagipula Yogi tidak akan membiarkanku melakukan itu.
Ya Tuhan, beri aku petunjuk. Apakah aku harus mencari lelaki lain untuk menghindari Yogi dan Janu? Aku mulai menitikkan air mataku. Namun buru-buru aku seka karena Yogi telah kembali duduk di sampingku. Ia membelai lembut rambutku. "Sorry, Sya." Kemudian ia mengecup pipiku.
"Gue mau tidur," cetusku lalu membaringkan tubuhku bersiap untuk tidur.
"Hmm? Kok gitu? Nggak mau lanjutin yang tadi?"
"Tadi gue capek abis desek-desekan, besok udah harus desek-desekan lagi di UI. Liputan festival musik."
Ia mendekap tubuhku dari belakang. "Kebetulan besok gue anterin Raina ke kosannya. Nanti kita bareng di sana abis kelar setor ke scriptwriter. Gue besok nggak liputan. Tapi kita berdua aja nggak bareng Raina," kekeh Yogi.
"Okay, whatever you do, Gi. I'll be happy."
---
Aku sudah tiba di UI kali ini aku hanya liputan sendiri dan aku membawa nametag jurnalisku karena masuknya gratis kalau aku menjadi media. Cukup lelah berdesak-desakan kembali. Namun setidaknya, ini menyenangkan. Karena aku ikut bernyanyi bersama bintang tamu. Yaa, biarpun sedikit awkward sendirian. Aku berharap Yogi segera datang.
Akhirnya selesai liputan sebuah acara di UI. Untung saja acaranya selesai saat masih senja. Sebelum ke hotel aku menyempatkan mampir ke Starbucks kampus itu. Menyusun laporan liputan.
Aku mengambil smartphone-ku dari dalam tas dan memasukkan kopi juga laptopku di meja ke i********: story tidak lupa dengan location di Starbucks UI. Sebelumnya, aku juga memasukkan event tadi ke i********: story.
Sebuah notifikasi DM i********: masuk bertuliskan yogss__ replied to your story.
yogss__
Sya, delete semua
story lo di UI
Bahaya
sasyadelaine
Loh emg knp?
yogss__
Lo gak inget?
Janu woy
Tiba-tiba Yogi menelponku. Kuangkat telponnya. "Halo?"
Terdengar suara Yogi bercampur suara mesin kendaraan sepertinya dia sedang di jalan.
"Halo, Sya, lo ada follower baru i********: yang mencurigakan gak? Coba cek."
Aku cek, setidaknya ada 5 followers baru di bulan ini. Aku tidak private account, aku tidak bisa mengontrol siapa saja yang boleh jadi follower-ku.
"Nggak ada sih, emang kenapa?" tanyaku.
"Lo di-follow sama bobby31 nggak?
"Hah? Eh iya nih dia follower baru gue. Kenapa gitu?"
Aku mengecek akun itu dengan seksama. Fake account? Kulihat tidak ada postingan feeds atau story, bahkan followers 0 following 2, hanya follow aku dan Yogi. Foto profilnya seperti foto orang aneh yang diambil di Google.
"Oke Yogi dia mencurigakan. Dia bisa aja Janu. Gawat, dia udah liat story gue di UI"
"Kan.... Gilak, skill stalking dia udah kaya cewek. Cewek aja udah ngelebihin intel."
Baiklah, aku sekarang menarik napas dalam-dalam lagi. Aku jadi sering melakukan itu sejak diteror oleh Janu.
"Sasya, hang in there. Semoga aja dia nggak nyusul lo ke UI. Udah gila kalo sampe kejadian." Yogi membuka suara lagi.
Setelah berpamitan di telpon. Rasanya tidak berani keluar dari Starbucks menuju hotel. Di sini enak banyak orang. Aku akan lebih lama di sini.
Kalau dipikir kembali. Mau tidak mau aku harus menghadapi Janu. Aku tidak bisa mengandalkan Yogi terus untuk melindungiku. Aku dan Janu sudah dewasa sekarang. Aku harus bisa memaafkan dia biarpun sangat berat dan kita harus bicara baik-baik. Bukan meneror apalagi main blokir.
---
Aku memberanikan diri pulang ke hotel karena sudah menghabiskan waktu empat jam di Starbucks, tidak enak kalau terlalu lama di sana.
Aku merebahkan diriku di tempat tidur, memenjamkan mata. Aku dapat merasakan sentuhan tangan menggeliat seorang pria di tubuhku, sentuhan ini, bukan Yogi. Bayangan kenangan buruk dengan Janu terputar kembali. Terornya berhasil men-trigger memori itu.
Di dalam hatiku, aku mencoba menerima dengan lapang d**a apa yang telah diperbuat Janu, belajar memaafkan, dan banyak berdoa. Hal yang terjadi tidak dapat diubah. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, tidak boleh menganggap jijik tubuh ini, tubuh ini tidak salah. Perempuan yang sudah idak perawan bukan berarti menjijikkan, apalagi korban orang sinting yang hanya dikuasai oleh nafsu dan ego. Benar, memaafkan diri sendiri dahulu. Dengan begitu aku akan lebih mudah memaafkan Janu. Biarpun kecil kemungkinan traumaku sembuh, tapi setidaknya ada setitik cahaya usahaku ini.
Kemudian sekilas, muncul bayangan Yogi dalam imajinasiku dengan senyum tengil khasnya. Itu membuatku ikut senyum-senyum sendiri. Saat ini ada lelaki yang dapat menerimaku apa adanya. Aku yang selama ini takut tidak akan ada lelaki yang mau menerimaku. Semua sirna begitu bertemu dengannya. Dia juga yang selalu melindungiku, selama di Jakarta aku tidak punya siapa-siapa selain dia dan keluarga Chika. Dia tahu rahasiaku dan tidak mengecapku perempuan murahan, malah dia mau membantuku mengatasi traumaku dengan mengorbankan tubuhnya. Tuhan ku inginkan dia, aku sayang dia, aku rindu dia, jikalau dia tidak jadi milikku, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba bel pintu kamarku berbunyi. Aku benar-benar terkejut. Siapa malam-malam begini? Pelan-pelan aku menghampiri pintu, mengintip lewat lubang pintu. Tidak ada orang. Astaga aku takut sekali. Belnya tidak berbunyi lagi. Ya Tuhan, tolong aku. bukan takut hantu, aku takut itu Janu karena dia sudah melihat i********: story-ku. Bisa saja kan dia menguntitku sejak tadi? Memang rasanya tidak tenang sejak perjalanan menuju hotel.
Saking takutnya refleks aku menelpon Yogi. Terdengar suara dering telpon dari luar kamar, agak samar. "Halo?" Suara dari seberang telpon terdengar jelas dari luar kamar.
Aku bergegas membuka pintu kamar dan mendapati punggung Yogi berada di tengah lorong kamar hotel. Kini aku bisa bernapas lega sampai Yogi membalikkan tubuhnya, menghampiriku.
Aku menariknya masuk ke kamarku. Dan Yogi langsung menyergap tubuhku, melumat bibirku. Ia melepas tautan bibir kami. "Maaf tadi telat. Terus anterin Raina dulu jadi---" Omongan terputus karena dirinya tiba-tiba kupeluk erat. Dia menyandarkan kepalanya di kepalaku. "I'm here, don't be afraid," bisiknya.
Aku melepas pelukan kami. "Tunggu dulu, gimana lo tau gue ada di hotel ini? Kamar ini?" Aku melepas tautan bibir kami.
"Biasanya kalo jurnalis Berindo liputan di Depok, tidur di hotel ini. Kamarnya antara lorong ini. Cuma gue feeling aja lo ada di kamar mana. Semua bel hampir gue pencet. Untung kamarnya banyak yang kosong. Tadi ada tuh yang keisi, gue pencet belnya, untung doi gak marah gue minta maaf aja." Aku tertawa mendengarnya. "Segitu khawatirnya gue sama lo, Sya, sampe gue susul diem-diem ke hotel abis anterin Raina ke kosannya. Untung Depok deket, untung gue tau daerah sini."
"Sumpah gue kira yang bunyiin bel tadi tuh Janu tau. Bikin jantungan ah."
"Masih mikirin Janu nih?"
"Yogi. Gue mau ketemu dia. Ketemu Janu. Gue nggak boleh gini terus."