Mantan Penguntit

2031 Kata
Sasya, 16 Januari 2019 15 menit setelah Angga keluar dari studioku setelah mengantarku dari konser Blackpink, smartphone-ku berdering tanda telepon masuk. Aku menutup mataku. Ya Tuhan, aku sangat-sangat berdoa kalau ini bukan Janu yang memakai nomor tidak dikenal. Kuberanikan diri melihat layar smartphone-ku. Itu Yogi. Aku pun bisa bernapas lega. Baru saja aku mengatakan, "Halo". Dia langsung nyerocos, "Tadi Angga ke studio? Terus katanya nemu baju gue di ember cucian?" Aku menarik napas dalam-dalam lalu menyuruhnya tenang. "Tenang, gue udah jelasin ke Angga kalo gue pinjem kaos lo, buat nge-gym bareng lo di Sency dan gue lupa bawa kaos olahraga, ngeles lah lo nyimpen kaos itu di kantor." Yogi tertawa dari seberang sana. "Sa ae lo ngelesnya, gue jadi makin gemes, pantes Angga anteng banget biasanya bawel kalo ada hal begini." Tapi tetap saja aku dan Yogi harus bermain sedikit lebih lembut karena hampir saja bocor. "Emm, Yogi...." "Yes, Baby?" Yogi tahu bulan lalu Janu menemuiku di lobi Berindo. Kupikir itu akan menjadi terakhir kalinya aku dihantui olehnya. Sekarang dia mendapatkan nomor smartphone-ku yang kemudian aku blokir, sudah ada tiga nomor tidak dikenal yang aku blokir dan itu semua adalah Janu. Asal kalian tahu, selama di kampus setelah putus dari Janu, teman-temanku melindungiku dari edaran Janu. Kalau di Jakarta siapa yang akan melindungiku? Kenapa dia harus merantau ke Jakarta juga? Memangnya tidak ada kota lain di Indonesia untuk merantau bekerja? Biarpun aku punya Yogi tapi masih saja seperti dikejar setan. "Kenapa, Sya?" "Emm, nggak apa-apa ... Lo ... Besok ... Tidur di apartemen gue lagi ya. Takut." "Takut?" Yogi tertawa. "Bilang aja kangen dibelai gue kan?" "Serius, Gi." Beberapa detik Yogi terdiam. "Serius banget, iya cantik, udah dulu ya ini temen-temen Raina berisik banget. Bye." Aku bisa mendengar suara kecupan sebelum Yogi menutup telponnya. Dasar bocah alay. Tapi entah pipiku rasanya panas kemerahan dan senyum kambing seperti ini. ------------------------------------------ Sasya 17 Januari 2019 Siang ini aku mencoba menghabiskan waktu break lunch dengan baik bersama ketiga temanku karena kami sedang full team! Aku tidak mau membuang waktuku memikirkan Janu. Tapi sepertinya tetap saja aku terlihat resah di hadapan mereka. Saat kembali dari resto kami kembali ke gedung Berindo. Lalu apa yang kudapat di area lobi? Seorang pria mengenakan stelan kantor sedang melihat-lihat keadaan sekitar seperti mencari seseorang yang sangat penting, dan tentu saja pria itu mencariku karena dia adalah Janu! "Guys! Guys! Gue di pinggir dong. Sembunyiin gue!" ujarku sambil buru-buru sembunyi dibalik tubuh Angga dan Yogi yang besar. "Eh eh lo kenapa?" desis Lula yang posisinya terpaksa diambil olehku. Aku hanya menaruh telunjuk di bibirku menyuruh dia diam. Yogi seperti paham maksudku, menyembunyikan tubuhku dan kami melanjutkan jalan menuju lift. Sepertinya aku sempat melihat Janu bertatapan dengan Yogi. Astaga, mereka juga kan pernah bertemu? Mereka sadar tidak ya? "Heh, lo, lo, kenapa, Sya?" Angga terdengar gagap saat kami berhasil memasuki lift. "Tadi gue liat ada orang liatin kita melulu di lobi, gue kayak kagak asing mukanya, lo sembunyi dari dia, Sya?" Yogi terlihat penasaran. Wajar, Yogi baru bertemu Janu satu kali dia tidak ingat. Aku menarik napas dalam-dalam. "Dia itu mantan gue. Yogi, lo inget kan? Di PIM? November kemarin?" Yogi menepuk kedua tangannya keras, "Oh si bangs*t Janu. Kenapa lo nggak bilang, Sya? Bisa-bisa gue gebukin aja dia tadi di lobi, berani-beraninya dia injak kaki di gedung ini lagi." Lula dan Angga saling bertatapan, kebingungan. Sebenarnya aku tidak bisa cerita mengenai trauma dan ceritaku soal Janu ke orang selain Yogi. Untuk saat ini aku hanya bilang pada mereka berdua, Janu adalah mantan pacarku yang saat ini menghantuiku kembali. "Ya ampun mantan doang. Kirain debt collector," kekeh Angga. Apa katanya? mantan doang? "Pasti ada urusan yang belum selesaiin? Atau kalian pasti putusnya nggak cara baik-baik." Lula menebak-nebak. "Woah, caranya nggak baik banget, cowok b******k si Janu tuh. Masa ya, dia---aw!" Kaki Yogi kuinjak agar dia tidak kelepasan bicara soal hubunganku dengan Janu yang membuatku berakhir seperti saat ini. "Ya pokoknya dia b******k lah," ujarku datar. Angga dan Lula saling bertatapan seperti ada sesuatu yang janggal. Tetapi tidak aku gubris, pun Yogi yang masih kesakitan. --- Jam menunjukkan pukul 17.00. Aku dan Yogi bergegas pulang menuju apartemenku, kami ingin pulang tenggo hari ini. "Ada paket untuk unit 407. Itu unit mbaknya, 'kan?" Resepsionis apartemenku tiba-tiba memberikan kotak kado kecil berwarna pink saat kami tiba di lobi apartemen. "Dari siapa, Mas?" tanyaku. "Itu tadi cowok pake stelan kantor tapi dia nggak mau sebutin namanya, Mbak," jawabnya. Yogi menarik kado tersebut, "Ini pasti dari Janu, sini gue aja yang buka." Aku langsung menghentikan Yogi membuka kadonya dan memintanya untuk membukanya di studio. --- Kami sudah berada di dalam studioku. "Oke gue buka ...," ucap Yogi membukanya dengan hati-hati. Aku mengangguk dan mengintip apa isinya. Terpampang sebuah coklat mahal dengan hiasan-hiasan lucu namun bukan itu yang menarik bagiku, tapi ada sepucuk surat. Yogi berniat membaca surat itu tapi sudah lebih dulu kuambil dari tangannya dan membacanya di sudut studioku. Surat itu berisi permintaan maaf, menginginkan awal baru bersamaku di Jakarta, sebagai teman. Tapi di kalimat terakhir dia mengatakan jika ada kesempatan kedua, dia selalu sedia. Saking asyiknya membaca surat itu, tidak sadar kalau Yogi di belakangku juga membaca surat itu. "Cringe parah tuh orang, pake minta kesempatan kedua lagi. Padahal waktu itu gue udah ngaku jadi pacar lo, Sya. Amnesia dia," cetus Yogi sambil menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia ingat, waktu kami bertemu di lobi Berindo dia ada mengatakan 'pacar lo'. Yogi tertawa. "Maksudnya, dia mau ngajak balikan lo yang jelas-jelas sekarang punya pacar? Gila aja." Aku mengangkat satu alisku, mendelik pada Yogi. "Gue nggak ada pacar ya. Adanya fwb." Yogi hanya mengangkat kedua bahunya seperti tidak peduli. "Terus mesti gimana, Gi? Gue takut." Aku mengusap wajahku menunjukan ekspresi kebingungan. "Kan, ada gue, Sya." "Ya tapi? Masa lo jagain gue terus?" Yogi mencoba menenangkanku dengan memelukku sambil mengelus punggungku. Sampai suasana itu pecah karena suara dering telpon masuk dari smartphone-ku. Aku melepas pelukannya lalu melihat lagi-lagi nomor tidak dikenal. "Yogi, itu pasti dia." Dengan sigap Yogi mengangkat telpon itu. "Woi anj ......" Tunggu dulu, kenapa tidak dilanjutkan kalimatnya? Dan langsung diam seribu bahasa. "Ngga Mas, maaf ya Mas, Sasya-nya gak suka olahraga jadi gak mau ngegym, udah ya Mas." Yogi mematikan telponnya. Aku kebingungan, mulutku menganga dan aku menaikan kedua lenganku. "Itu tadi tempat gym apartemen lo nawarin promo," tukas Yogi enteng. "Hiiihh astagaaa! Gue udah serius juga!" Aku memukul bahu Yogi. "Lah, kok gue yang dipukul?" "Abis gemes! Badan lo sekel!" "Kalau gemes sini bobo sama abang." Yogi merebahkan dirinya di tempat tidurku. "Ew. Nggak mau!" "Cewek aneh, tapi lebih aneh gue yang bisa suka sama cewek aneh kaya lo." ------------------------------------------ Sasya 19 Januari 2019 "Sasya!" panggil seseorang saat aku baru saja turun menuju lobi apartemen, bersiap untuk berangkat kerja. Aku menoleh dan dalam beberapa detik, mataku terbelalak. Orang itu, bisa-bisanya. Dia berlari kecil ke arahku dengan mata berbinar dan senyum lebar yang rasanya ingin kuhancurkan saja giginya. "Mau berangkat kerja?" "Menurut lo?" Aku menatapnya dari atas sampai bawah. "Lo kenapa bisa ada di sini? Kemarin pasti lo kan yang nitip kado warna pink di resepsionis." Aku menunjuk ke arah resepsionis yang bisa dititipkan barang oleh tamu penghuni. Dia tersenyum. "Iya. Gimana? Lo suka? Aku mendengus lalu membuang muka. "Nggak lah! Cringe parah." Aku bisa melihat sedikit kekecewaan pada sorot matanya. "Yang penting udah baca suratnya, 'kan? Aku terdiam. "Maafin aku sekali lagi. Kalau gue ngomong langsung kayak gini, mungkin bisa aja lo nggak dengerin gue atau malah melengos kabur dari gue. Jadi, gue lakuin cara itu." Suara serak seorang pria muncul dari arah punggungku. "Mau minta maaf pakai cara apapun, berapa kali pun. Nggak sebanding sama apa yang udah lo lakuin ke Sasya dulu." Aku menoleh pada Yogi yang kini menyentuh kedua bahuku dari belakang. "Lo udah nggak bisa dimaafin, Janu." Sorot mata Janu kini tertuju tajam pada Yogi, seperti hendak menantangnya. Melangkahkan satu kakinya ke arah kami. "Hey. Semua ada di tangan Sasya mau maafin gue atau nggak, lo nggak usah sok tau." "Lo nggak usah ngehalu Sasya bakal maafin lo, apalagi balikan sama lo! Dia udah punya gue!" geram Yogi dengan nada suara sedikit ditinggikan membuat orang-orang di lobi menoleh ke arah kami bertiga. "Ssst! Yogi! Masih pagi!" bisikku dengan intonasi sedikit meninggi yang menyuruhnya mengecilkan volume suaranya. Lagipula ini masih pagi, masa sudah ada drama. "Yogi." Aku menoleh pada Janu yang terdengar seperti membisikkan nama Yogi dan seringai kecil yang hanya ia munculkan sepersekian detik. Namun mataku tak dapat terkecoh olehnya. "Gue cuma butuh maafnya Sasya," lirih Janu yang kini sudah berubah ekspresinya dari yang tadinya mengerikan menjadi sendu. Aku pura-pura tidak menggubrisnya, kemudian berpamitan pada Janu dan menarik Yogi keluar dari apartemen karena dia memarkirkan motornya di luar bukan di basement. "Tunggu, kalian!" Langkah kakiku berhenti ketika Janu memanggil kami. Sial, kenapa aku patuh padanya. Apakah efeknya masih seperti dulu. Kami berdua menoleh padanya. "Kalian tinggal bareng di apartemen ini?" Mendengar ucapan Janu, aku dan Yogi saling bertatapan. Aku menggeleng memberi kode pada Yogi. Yogi angkat bicara, "Ya gue anterin Sasya kerja lah, kita kan satu kantor. Lo pasti aneh-aneh mikir kita satu studio apartemen, 'kan?" Aku memejamkan mataku. Semoga Uti ataupun siapapun yang selantai studio apartemen denganku tidak mendengar ucapan Yogi. Karena kami mengaku sebagai suami istri sah. Mata Janu mengerjap. "Kalian sekantor? Yogi Berindo juga?" Ini pula, aku tidak tahu apakah akan menjadi pertanda buruk jika dia tahu aku dan Yogi teman satu kantor. Yogi malah dengan bangganya mengiyakan. "Office love affair." Kemudian ia merangkul bahuku mesra. Janu tertawa masam. "Gue harap kalian ketauan bos kalian pacaran. Karena gue tau di sana sesama karyawan nggak boleh pacaran." Bodoh kenapa semua orang tahu kalau Berindo ada peraturan seperti itu? Untung Janu menganggap kami backstreet bukan pacara bohongan untuk mengelabuinya. Janu pun ikut pamit. Namun aku menahannya dengan memanggilnya. "Gimana lo bisa tau gue kerja di Berindo. Terus, apartemen gue?" Dia tersenyum penuh intrik. "Rahasia." Kemudian dia melenggang terlebih dahulu keluar apartemen sedangkan aku dan Yogi masih planga-plongo dengan apa yang terjadi satu menit lalu di lobi. "Ya udah yuk, Gi. Katanya lo mau liputan di luar kota lagi. Berarti lo harus cepet-cepet." Yogi tersenyum mendengarnya lalu menggamit tanganku. "Damn, I'm gonna miss you again, Sya. Always and always miss you." --- Pada malam harinya. Aku di studio apartemenku, sendirian. Yogi menginap di hotel tempat dia liputan di luar kota. Namun arah berpikirku bukan tertuju padanya, melainkan janu. Karena aku teringat ucapannya, "Gue cuma butuh maafnya Sasya." Aku berpikir, apakah dengan memaafkan Janu, hatiku bisa tenang? Apakah dia akan berhenti menguntitku? Apakah trauma seksualku ini akan hilang? Ah untuk traumaku, sepertinya sangat sulit. Itu tidak hanya melibatkan hati, namun juga mental dan fisik. Yang terpenting sekarang aku sudah bertemu Yogi. Kupikir sepanjang sisa hidupku, tidak akan ku bisa lagi berhubungan seksual dengan pria dan aku tidak akan menikah. Sampai detik ini, aku tersenyum bagaimana kalau aku menikah dengan Yogi? Membayangkannya aku tersipu. Baiklah kembali ke topik Janu. Aku memejamkan mataku dan menarik napas, apakah aku bisa memaafkan apa yang telah dia lakukan? Apakah aku bisa dapat ketenangan setelah memaafkan dan melepaskannya? Suara smartphone-ku yang berdering membuyarkan meditasiku. Perasaan risih berubah menjadi binar di mataku. Itu Yogi yang meneleponku untuk video call. Daripada memikirkan Janu, lebih baik melepas rindu pada Yogi. "Hai, lagi ngapain, Sayang?" ucapnya saat menampakkan wajahnya di layar smartphone-ku. Gemas sekali, aku terkekeh melihatnya. "Sst! Sayang, sayang. Nanti kedengeran jurnalis lain yang sekamar sama lo. "Ini gue sendiri kok." "Bagus, sekarang gue lagi meditasi." Yogi menautkan kedua alisnya lalu tersenyum nakal. "Masa sih? Kok meditasinya tidur tengkurep gitu di atas tempat tidur." Dan aku bisa menebak matanya tertuju pada satu titik tubuhku. "What a nice view," ujarnya melihat belahan buah dadaku yang menggantung. Aku memutar bola mataku lalu menutup buah dadaku dengan guling. "Eh, eh, jangan ditutup dong, Sayang. Kirain lo sengaja pamerin ke gue." Aku hanya menjulurkan lidahku mendengar perkataannya. "Sya, nggak mau video call s*x?" ajaknya, "mumpung gue sendiri." Aku sedikit terkejut. Bisakah? Aku tidak pernah berbuat itu sebelumnya. Yogi berkata, "Bisa lah, lo biasa masturbate, 'kan? Kita masturbate bareng." Aku sedikit malu, dan akhirnya kami membuka baju kami hingga telanjang dan melakukan itu. Awalnya aku mau bertanya pada Yogi, haruskah aku memaafkan Janu? Namun malam ini sudah ada agenda lain yang lebih indah dan nikmat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN