Yogi
15 Januari 2019
"Bubuuuu, lagi apaaa??"
Aku mengubah intonasi suaraku menjadi manja dan imut. Panggilan alay bubu aku berikan hanya untuk kekasihku ini.
"Ini nih babe, aduh ... Teks pidato dubes mana ya?" Mala sedari tadi tidak memperhatikanku di layar laptopnya, sibuk mencari kertas-kertas penuh tulisan bahasa Inggris itu.
Aku mengembuskan napas. Sejak aku memutuskan untuk menjalani hubungan fwb dengan Sasya, aku mengumpulkan keberanian untuk mengakhiri hubunganku dengan Mala melalui Skype, atau aku seharusnya menyusul dia ke Australia, just to say break up? Tapi aku juga sibuk liputan. Sudah hampir dua bulan, masih belum bisa putus. Rasanya sulit.
"Here they are!" Mala pun menemukan kertas-kertas itu dan sekarang bisa duduk tenang depan laptopnya, kemudian fokus padaku.
"Mala ... I know we both busy. But can you hit me up? Or just say hi to me? Kenapa harus selalu aku yang hubungin kamu duluan?"
Aku bahkan tidak paham dengan yang aku ucapkan. Mala hanya menunduk.
"I...." Mala menggantungkan ucapannya. "Kamu bosen ya sama aku? Kamu capek ldr? Kok akhir-akhir ini kaya gak nyaman gitu tiap liat aku?"
Sial, Mala memang peka dengan tingkahku sejak dulu. Bukan capek ldr, bukan bosan. Sikapnya sendiri yang berubah membuatku menjadi tidak nyaman lagi dengannya.
"Enggak, bukan itu. Justru aku yang harus tanya balik ke kamu. Kamu kenapa gak pernah hubungin aku? Capek ldr? Bosen? Atau ... Kamu udah dapet hidup yang lebih hebat dari aku di Aussie, jadi kamu lupa sama aku?"
Mala terkejut, "kalimat terakhir kamu. Kok kamu bisa kepikiran kaya gitu sih? Enggak kok, aku emang lagi sibuk aja."
Aku mendengus pelan, sibuk adalah alasan sangat klise. Dia bahkan tidak tau aku sibuk pindah-pindah ke luar kota hanya untuk liputan tapi masih bisa menghubungi dia.
"Kalo aku gak hubungin kamu. Kamu juga kenapa akhir-akhir ini gak se-intens dulu hubungin akunya? Ada cewek yang menarik di kantor?"
Aku tidak terkejut dia bertanya hal itu. "Aku sibuk, emangnya kamu doang yang bisa sibuk?" Aku tidak menanggapi pertanyaan soal cewek menarik di kantor.
Mala sekarang terlihat sibuk memainkan smartphone-nya.
"Kita udah jarang telponan, jarang video call, kamu masih mau fokus sama smartphone kamu?" ucapku.
Mala menunjukkan layar smartphone-nya padaku yang menunjukkan feeds i********: fotoku bersama para rekan jurnalis Berindo. "Ini. Yang mana kamu yang suka dari mereka? Ini ya, cewek yang berdiri di samping kamu?"
Aku terdiam sambil menyedot kopi susuku. Dia menunjuk Sasya di fotonya. Kemudian ia scroll down lagi menemukan foto berempatku dengan Sasya, Lula, dan Angga di rooftop Berindo.
"Antara kedua cewek ini, aku yakin yang ini kan?" Dia menunjuk Sasya lagi. "Oh atau sekarang kamu suka cewek cute yang berhijab?" Kemudian dia menunjuk Lula.
"Apaan sih Mala, gua gak suka dicurigain gini." Aku sendiri terkejut bisa menggunakan kata gua dan memanggil nama Mala yang biasanya bubu. Dia tertawa mengejek.
Aku angkat bicara lagi, "coba aku yang curigain kamu sekarang, sama bapak-bapak bule yang jadi boss kamu di kedutaan, dia kuanggap sugar daddy kamu. Mau gak? Kamu jalan berdua melulu sama dia."
"Hell! Apa-apaan sih Yogi! Ngomong sama kamu bikin emosi tau gak! Udah lah aku mau siap-siap jadi moderator besok. Bye!" Tanpa basa-basi dia langsung mematikan Skype-nya.
"Bye," lirihku meski tak mungkin didengar olehnya.
Hari ini pun aku belum putus dengan Mala, terlalu banyak emosi dan pertengkaran buatku lupa untuk mengatakannya.
------------------------------------------
Yogi
16 Januari 2019
Hari ini seharusnya senang. Tapi, aku malah memikirkan komunikasiku dengan Mala semalam. Semoga setelah bertemu Sasya di venue konser Blackpink, suasana hatiku membaik. Macet ini jadi ajangku untuk melamun ketika menyetir.
"Aa, nanti kalo liat Jennie jangan norak ya." Gadis yang usianya 4 tahun lebih muda dariku ini tertawa.
Kenalkan, ini adikku satu-satunya, Raina. Aku pernah menyinggung soal adikku kan sebelumnya?
And I treat her like a princess. Makanya aku tidak mau melecehkan perempuan tanpa seizinnya atau memutuskan hubungan dengan perempuan terlebih dahulu. Itu karena aku punya Raina, aku takut Raina menjadi korban karmaku sendiri.
"Aku seneng banget loh, bisa bawa Aa ke konser Kpop, biarpun tujuannya buat liputan. Target selanjutnya, Bang Radhi kalo dia udah pulang dari Perancis."
Aku tertawa mendengar ucapannya. Bang Radhi adalah kakak kami berdua.
"Lo nanti jangan salting ada Angga, dia juga nonton Blackpink." Aku memulai topik baru.
Raina terkejut, "jinjja? Waahh tambah seru nih."
Eh? Kukira dia akan malu-malu bertemu Angga. Bisa-bisanya dia senang. Dan aku sudah menyerah untuk menutup mulutnya saat dia keceplosan pakai bahasa Korea.
"Oh iya, selain Angga ada satu lagi sahabat Aa di sana."
"Hmm? Tumben banget Aa semangat kenalin aku temen baru. Pasti cewek?"
Aku tersenyum menahan tawa, lalu Raina menusuk pipiku dengan jari telunjuknya. "Kan, kan, siapa lagi ini? Sahabat apa sahabat?" ujarnya.
---
Setibanya di venue, sudah ada Sasya yang berlumut di sana.
"Yogi!" Sasya memanggilku dengan melambaikan tangannya. Tapi perlahan senyumnya luntur ketika aku dan Raina menghampirinya.
"Sya! Kenalin nih adek gue, Raina, gue pernah janji kan mau kenalin lo sama 'seseorang' hehe."
"Kirain siapaaa...." Sasya menyikutku. "Hey kamu cantik banget!" ujar Sasya ketika saling berkenalan dengan Raina.
Mereka langsung akrab membahas tentang Kpop. Syukurlah. Aku mendengarkannya sambil merokok, kadang menjahili mereka ketika menyebut nama-nama orang Korea yang terdengar lucu di telingaku.
"Raina, nama kamu tuh kaya solois Kpop loh!" tukas Sasya heboh.
"Iya kak! Makanya begitu tau ada solois namanya sama. Loh kok? Aku jadi gimana gitu." Raina juga tidak kalah heboh.
"Guys!" Terdengar teriakan laki-laki yang menghampiri kami. "Raina? Sister-ku? Oh my god, kapan terakhir kita ketemu?" Sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Angga. Dia bukan jadi jurnalis, tapi penonton di konser ini.
"Kak Angga!" Raina langsung berlari mendatangi Angga dengan tersenyum lebar.
Aku mengembuskan napas. Kali ini hanya aku berdua dengan Sasya. Sekalian kita siap-siap buat liputan karena acaranya dimulai 30 menit lagi biasanya jurnalis dipersilakan masuk duluan.
"Adek lo cantik parah sih, gue jadi insecure." Sasya tiba-tiba buka suara.
"Ngapain? Di mata gue tetep lo tercantik hehe."
Sasya menoyor kepalaku sambil tersenyum manis. Dia bilang waktu aku dan Raina berjalan ke arahnya, semua mata tertuju pada kita berdua seperti melihat artis. Aku hanya tertawa, artis malam ini adalah Blackpink saudara-saudara. Dan juga, ternyata Sasya menyadari hubungan Raina dan Angga yang cukup dekat.
"Angga itu first love Raina ceunah. Waktu gue sama Angga masih SMA, Raina masih SMP, Angga sering main ke rumah gue. Sampe sekarang masih belom move on kayanya tuh anak, happy banget ketemu Angga, padahal udah punya pacar juga," ucapku panjang lebar.
"Namanya juga first love, susah dilupain. Bagus lah kalo mereka gak canggung dan malah tetep deket. Btw bukannya Angga itu gay kata lo?"
"Itu dia masalahnya, karena Angga gay, Angga juga patah hati pertama Raina. Pengen gue tonjok si Angga tapi apa hak gue ikut campur s*x orientation dia."
"Astaga, complicated banget. Tapi gue kagum sama kalian bertiga bisa jaga persahabatan kalian ..." Sasya melirik ke kerumunan antrian penonton. "...udah yuk masuk. Penonton juga udah pada ngantri."
Sasya menggenggam tanganku untuk masuk ke dalam venue bersama jurnalis dari media lain. Karena aku dan Sasya di bagian festival posisi dekat panggung, sedangkan Angga dan Raina di balkon, jadi kami berpisah.
---
Konser dimulai. Aku dan Sasya di bagian festival agar lebih mudah mengambil foto, sedangkan Raina dan Angga duduk di lantai atas.
Bagian festival sangat padat desak-desakan. Tapi itu keuntungan buatku hehe. Posisi Sasya tepat di depanku, menempel dengan pagar pembatas panggung, berusaha mengambil foto terbaik member Blackpink. Aku di belakangnya, tanganku memegang pagar dan tubuhku menahan desakan dari penonton lain.
Keuntungannya? Tubuhku menempel pada punggung Sasya, dan selangkanganku menempel pada ... Oke sebaiknya aku potong pikiran kotorku ini sebelum diamuk warga. Pun, aku bisa menyandarkan kepalaku di bahu Sasya.
"Berat, Gi." Sasya menggerakan bahunya agar aku mengangkat kepalaku.
Aku meniup lembut telinga dan lehernya yang membuatnya kegelian, kebetulan dia menguncir rambutnya sehingga mudah aku eksplor.
Kemudian aku berbisik, "Bisa? Blackpink-nya gerak-gerak terus. Btw kamera gue berat gak?"
"Bisa, asal lo gak gangguin gue." Sasya sedikit menyikutku, aku hanya meringis.
Seseorang di barisan kami menarik perhatianku. Dia seperti robot, tanpa ekspresi. Hanya memotret ribuan kali dengan kamera super canggihnya, tentu saja yang pertama menarik perhatianku adalah kameranya, jauh lebih keren dari punyaku.
"Itu namanya fansite." Sasya rupanya memperhatikanku. "Fansite itu sebenernya fans 'berduit", kalo idolnya adain konser dimanapun itu, mereka selalu ada dan hasil fotonya di upload di website atau Twitter mereka buat dinikmatin sesama fans. Makanya kameranya canggih segede gaban. Kalo fansite itu gue liat kayanya fansite Jisoo."
Aku ber-oh- ria. "Tau dari mana itu fansite Jisoo?"
"Lo liat aja kameranya diarahin ke Jisoo terus, biasanya sih satu fansite emang foto-foto satu member."
"Gile lo kpopers juga, ya. Pantes adek gue nyambung sama lo."
Sasya mengedikkan bahunya lalu kembali fokus memotret Blackpink. Tiba-tiba Jennie lewat sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Aku refleks berteriak.
"JENNIEEE!! JENNIEEE!! MY LOVE!!! WOOOOO!! JENNIEEEE!!"
"Aaaakkk Yogiii!!! Lo teriak di kuping gueee!!" Sasya menutup telinganya, setelah agak baikan dia langsung menjambak rambutku. Bisa kudengar suara tertawa fangirl di sebelah kami.
"Ya maap." Aku memonyongkan bibirku dan membuat ekspresi sedih, aku yakin Sasya pasti langsung tidak tega marah padaku hehe.
Selang 15 menit ada dua fangirl yang mulai protes di belakangku. "Mas! Kita bisa di depan gak? Gak keliatan nih kita daritadi," ujar salah satu dari mereka.
Aku bilang kalau kami berdua adalah jurnalis yang meliput jadi agak sulit kalau harus di belakang. Namun Sasya memperbolehkan kedua fangirl tersebut untuk bergantian tempat dengan kami. Karena hasil fotonya sudah cukup banyak. Lagipula acaranya setengah jam lagi selesai.
Di tengah kerumunan penonton, sedikit agak mundur ke belakang. Aku merangkul bahunya dan kami mengecek stok foto yang telah diambil Sasya. Hasilnya bagus tidak blur, mungkin dia sudah terbiasa memotret acara-acara seperti ini.
Disaat Blackpink undur diri dan lampunya mulai gelap, semua penonton berteriak, "encore! encore!" Yang meminta Blackpink untuk kembali ke atas panggung karena acaranya sepertinya belum selesai.
Aku curi-curi kesempatan untuk mengecup rambut dan pipi Sasya yang membuatnya terkejut.
"Heh! Kalo diliat orang gimana?" Sasya sedikit memukul dadaku.
"Lampunya gelap kok, nggak keliatan," bisikku yang membuat Sasya mendengus.
Kemudian benar saja Blackpink kembali muncul dan lampunya kembali terang. Untung aku berhasil memanfaatkan kesempatan tadi.
Tanpa dipinta, Sasya menyandarkan kepalanya di bahuku. "Capek," katanya.
"Apalagi aku yang jagain kamu dari desakan fans yang dorong-dorongan." Tunggu dulu, sejak kapan aku jadi pakai aku-kamu sama Sasya.
"Thanks, ya," ucapnya sambil memainkan jenggotku.
---
Sekeluarnya dari venue tiba-tiba Angga, Raina, dan beberapa fangirl menghampiriku dan Sasya. Sepertinya itu teman-teman Raina.
"Aa boleh kan ya anterin temen-temen aku pulang, kasian mereka, terus ada yang mau nginep di rumah juga. Boleh ya?" Raina lagi-lagi mengeluarkan jurus puppy eyes padaku ketika dia memohon sesuatu.
Hari ini rencanaku mau anter Sasya ke apartemennya tapi tidak memungkinkan.
"Tenang, Sasya sama gue, gue bawa motor," cerocos Angga. Sepertinya dia bisa baca pikiranku. Dan aku bisa melihat teman-teman Raina heboh melirik Angga, yang sekarang sepertinya mereka juga membicarakanku.
"Well thank you Angga, tadi gue ke sini naik ojol," tukas Sasya yang kemudian ikut ke parkiran motor bersama Angga.
---
Sesampainya di rumah, aku segera mandi shower, membayangkan saat berdesakan bersama Sasya membuatku tidak waras. Sepertinya malam ini aku harus memuaskan nafsuku seorang diri. Aku melihat diriku yang hanya menautkan handuk di pinggang, menyentuh bagian dadaku yang terdapat luka gores bekas gir bekas aku tawuran saat SMA dulu. Apa yang ada di pikiran Sasya waktu liat ini? Jujur untuk telanjang d**a saja aku tidak peduli komentar orang. Namun ketika have s*x dengan wanita, khawatir terjadi masalah.
Kuakui, Sasya sempat terkejut melihatnya saat pertama kali kami have s*x, mencoba menyentuhnya tanpa rasa geli. Namun dia tidak mau ambil pusing dan ingin melanjutkan aksi kami saat itu. Aku sempat khawatir dia ketakutan dan tidak jadi fwb denganku.
Kemudian smartphone-ku berbunyi. Ternyata telpon dari Angga.
"Sasya udah lo anterin sampe apartemennya?" tanyaku langsung to the point sambil meminum kopi kalengan dari dalam tasku.
"Ini gue baru balik dari apartemennya. Oh iya, tadi kok gue nemu kaos Reebok yang lo sering pake nge-gym di ember cuciannya Sasya?"
Aku hampir menyemburkan kopi dari dalam mulutku. "Anjir lo ngapain masuk-masuk studio Sasya??"
"Tadi gue ga tahan pengen boker, ya udah gue numpang ke toilet Sasya, eh ketemu kaos lo."
Aku terdiam. Sibuk mencerna omongan Angga.
"Udah lah, gue mau balik ke rumah, see ya." Angga menutup telponnya.
Sudah? Tumben dia tidak bawel tanya-tanya? Aku menepuk keningku, semoga saja Angga tidak curiga apa-apa. Aku harus menelpon Sasya sekarang.