Sasya
23 November 2018
Aku membuka mataku. Pagi ini, pagi yang cerah berseri. Meregangkan tubuh dengan senyum terpancar di wajahku. Tunggu dulu, saat meregangkan tangan kananku, tidak sengaja aku menyentuh lengan seorang pria. Dia masih tertidur di sampingku dengan kaos putih polosnya. Kuelus rambutnya yang agak lebih gondrong dibandingkan saat pertama bertemu dengannya, lalu tanganku turun meraba wajah rupawannya. Aku menaruh jari telunjukku pada hidung mancungnya. Hingga tiba pada kumis dan jenggot, bisa-bisanya dia menumbuhkan bewok serapi ini, tidak terlihat urakan, tidak semua lelaki bisa seperti ini bukan? Kecuali dia memiliki hormon tetosteron yang melimpah, yang membuat dirinya terlihat jantan secara fisik sebagai seorang lelaki. Masih mengelus wajahnya aku teringat pembicaraan kami semalam ....
---
"Shall we do it now?" Yogi mendekap tubuhku lalu meniup telingaku. Sepertinya aku paham maksud Yogi bertanya seperti itu. Dia mengajakku untuk ... having s*x.
"Eitt, tunggu dulu. Gue ada rules yang wajib dipatuhi buat hubungan fwb kita." Aku menahan tubuh Yogi sebelum ia menciumku.
Yogi mengangkat satu alisnya. "Pakai pengaman kalau mau penetrasi," ucapku mengacungkan satu jari di depan wajahku.
Yogi tertawa. "Ya iya lah, Sya. Gue juga nggak mau lo hamil."
"Kalau bisa jangan terlalu sering penetrasi," imbuhku lagi. Yogi mengangguk.
"Okay, rules number two. Only both of us know this kind of relationship. Kalau sampe bocor, yang rugi juga lo. Jangan harap kita bisa temenan baik baik lagi. Itu aja."
"Udah itu aja? Rules-nya gampang-gampang amat. Boleh gue tambahin?" Pertanyaan Yogi itu jelas membuatku berdegup tapi juga penasaran. Kira-kira perkataan apa yang akan keluar dari mulutnya. "Rules number three. Kita berdua, boleh punya pacar masing-masing. Gue masih sama Mala, dan lo ... Boleh punya pacar. Asal jangan nambah fwb selain gue."
Aku menepuk dahiku. Astaga, bagaimana aku bisa lupa kalau Yogi belum putus dengan pacarnya? Bodoh, aku harusnya tidak menerima tawaran Yogi kemarin. Ini sama saja seperti aku akan menjadi orang ketiga di hubungan mereka. Jelas aku dulu pernah ada di posisi Mala dan itu amat menyakitkan.
"Yogi, sorry, gue lupa lo masih sama Mala, kita cancel aja semuanya."
"Lah? Nggak bisa gitu, Sya. Kita udah deal!"
"Lo nggak punya hati apa sama Mala? Gue pernah ada di posisi dia, Gi. Lagian lo kayak jomblo, nggak pernah berhubungan sama pacar lo, tapi lo nggak mau lepas status pacaran lo sama dia. Labil."
Yogi mulai meluncurkan sejuta alasan untuk meyakinkanku kalau dia akan segera putus dari Mala. Juga pengakuan perasaannya padaku yang melebihi perasaannya pada Mala saat ini. "Udah gue bilang dia di Australia. Mana bisa nge-gep kita. Lagian kalau dia putusin gue, nggak masalah." Sudah kubilang, dia itu Lucifer, jago membuat orang mengingat hasrat terbesarnya, hasrat terbesarku adalah memuaskan fantasi seksualku dengan Yogi. Kalau aku membatalkan tawaran ini, aku akan kehilangan hal itu. Apa aku harus egois?
"Oke, kita tetep lanjut fwb. Tapi gue nggak nyuruh lo putusin Mala. Gue nggak mau, gue jadi perusak hubungan lo sama dia. Kalau sampai Mala tau. Semua ada di tangan lo."
Yogi tersenyum lebar sambil mengacak rambutku, "Mala nggak bakal tau lagian, Sya. Rules number two." Ia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tersenyum tipis. Dia kembali melumat bibirku dan menindih tubuhku di atas tempat tidur. Kemudian kecupannya diarahkan ke dahiku, kedua kelopak mataku yang tertutup, hidungku, kedua pipiku, hingga telingaku dan berbisik, "I want you so bad, Sayang. You want me too?" Sh*t dia buatku melayang malam ini, kucium pipinya, it was my first move. Dia tersipu malu akan hal itu. Kami langsung cuddling, Yogi menciumi leherku yang aku harap tidak meninggalkan ... Bekas ... Karena besok masih harus kerja. Pun berciuman sepanjang malam hingga terlelap. Dan malam ini tidak ada having s*x, hanya cuddling, karena kami belum beli pengaman.
---
Yogi yang sedari tadi kuelus wajahnya olehku yang masih setengah sadar ini mulai membuka matanya. Ia langsung tersenyum saat melihatku, "Morning," ujarnya. Damn, suaranya yang serak karena bangun tidur terdengar amat sexy. "Morning. Gimana rasanya tidur bareng gue?" tanyaku.
Yogi mengangkat tangannya dan jarinya membuat simbol OK. "Surga. Biasanya cuma di rumah sendirian peluk guling. Jangan dulu turun dari tempat tidur dulu Sya, please." Dia juga memelukku makin erat.
"Tapi kita hari ini kerja, Gi. Mandi sana."
"Nggak, nggak, nggak mau." Kami bertengkar sambil bermanja-manja di atas tempat tidur hanya saling tunjuk siapa yang harus mandi duluan. Sampe tersisa 15 menit lagi sebelum terlambat, kami keluar dari studioku dengan berlari ke parkiran.
---
Sepulang kerja, Yogi hendak menginap lagi di apartemenku. Sebelum aku ditugaskan untuk meliput festival musik di kawasan PIK, ya akhir tahun banyak sekali konser dan festival musik, juga Yogi yang ditugaskan ke Makassar. Aku mengajak Yogi ke Indomaret untuk membeli snack untuk kami Netflix and Chill. Kalian, dan juga aku, pasti berpikir, Netflix and Chill artinya menonton Netflix sambil bersantai memakan snack ditemani orang tercinta. Tapi Yogi bilang, itu makna Netflix and Chill yang sudah jaman dulu sekali, sekarang maknanya bergeser menjadi s*x. Maksudnya, ketika ada lelaki mengajak wanita Netflix and Chill, artinya lelaki itu mengajak wanita untuk having s*x.
"Oh, jadi lo ngajakin gue Netflix and Chill maksudnya begitu?" tanyaku pada Yogi di sekat Indomaret bagian snack.
Dia hanya tertawa. "Netflix and Chill, let's go," ujarnya sambil mengambil Chitato party size. Lalu berjalan ke kasir. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, semoga tidak ada yang mendengar percakapan kami tadi. Selesai keluar dari Indomaret.
Tiba-tiba Yogi kelupaan beli sesuatu. Dia pun masuk kembali ke dalam langsung menuju ke kasir. Membeli rokok dan ah! Pengaman juga lubricant. Itu yang kami butuhkan saat ini. Malam harinya kami benar-benar melakukan itu, karena sudah lama sekali aku tidak have s*x rasanya masih sakit. Desahan, rengkuhan, dan butir-butir keringat menyelimuti studio apartemenku. Ya Tuhan, ini lah yang aku inginkan. Entah ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku namun rasanya lega karena berhasil memuaskan hasrat seksualku dengan Yogi. Hingga pagi datang kembali, untung saja kali ini aku sudah terbangun pagi. Pemandangan di depanku tidak jauh berbeda seperti kemarin, hanya tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh Yogi. Aku tersenyum melihatnya, membelai rambutnya, sampai aku sedikit terkejut melihat morning wood-nya.
"Liat apa?" Yogi membuka sebelah matanya sambil terkekeh. Aku menutupi wajahku yang kutebak sangat memerah panas. Yogi mengecup dahiku lalu membuka kedua tangan yang menutupi wajahku.
"Where's my morning kiss?" Yogi mendekatkan wajah dan tubuhnya padaku. Bibir kami bertautan dan dia mendekap mesra tubuhku. Kecupannya menjalar hingga ke leherku dan dia berbisik di telingaku, "Mau lagi?" Aku hanya tertawa mendengarnya.
Hari ini dia mau liputan ke Makassar, yang mana dikejar jadwal penerbangan. Masih bisa-bisanya meminta jatah lagi. Lagipula masih ada rasa ngilu di pinggulku setelah aktivitas semalam.
---
Aku dan Yogi keluar dari apartemen bersiap menuju kantor Berindo. Begitu aku mengunci pintu, seorang nenek di unit studio depan kami keluar dari pintu dan bertanya, "Sasya, uti kira kamu tinggal sendiri di sini." Mati aku, ketahuan membawa lelaki ke studio.
Namun Yogi dengan santai menjawab, "Saya suami Sasya, Uti. Nama saya Yogi. Kemarin belum sempat bertemu. Saya lagi sibuk liputan ke luar kota waktu Sasya kenalan sama Uti." Yogi pun menyalami Uti yang sedikit terkejut mendengar itu. Jangankan Uti, aku saja terkejut melihat akting Yogi yang begitu natural. Aku tidak mau ikutan dosa karena membohongi orang tua, Yogi. Dia pun menggenggam tanganku sekarang.
"Aaah pasangan muda, ya. Lagi mesra-mesranya. Pantes aja semalem Uti denger suara," kekeh Uti sambil menutup mulutnya tersipu malu. Aku juga menutup mulutku dan wajahku kembali memerah. Bukankah ini apartemen mahal? Masa peredam suaranya jelek sekali? Lain kali aku harus lebih pelan-pelan, teriakanku semalam sepertinya terlalu keras karena kesakitan. Kali ini Yogi menjawab dengan sedikit tersipu.
Maaf Uti kalau suara kami mengganggu." Uti mengibaskan tangannya.
"Ndak apa-apa namanya juga anak muda. Lagi enerjik-enerjiknya." Aku dan Yogi tertawa garing. Kami pun izin pergi pada Uti. Namun Uti menahan kami karena ingin mengobrol lebih lanjut soal hubungan kami. Biasa lah, nenek-nenek kalau sudah diajak bicara seperti tidak bisa direm.
"Yogi, kerja di mana?"
"Sama kayak Sasya, di Berindo. Makanya saya sebagai jurnalis sering liputan di luar kota." Yogi tersenyum lebar.
"Senang ya udah satu kantor satu unit apartemen, deket pula." Uti menyatukan kedua tangannya seperti orang terkagum-kagum. "Tapi biasanya satu kantor nggak boleh menikah. Kalau di Berindo boleh, ya?"
Yogi membelalakkan matanya. Sepertinya, dia salah mengambil langkah kebohongannya. Kali ini aku yang harus angkat bicara, "untungnya boleh, Ti. Nggak semua kantor kayak begitu. Kalau gitu kita pamit dulu, ya. Yogi mau liputan ke Makassar, ngejar penerbangan." Aku membuat ekspresi sedih karena akan ditinggal jauh oleh suami selama beberapa waktu. Gara-gara Yogi terpaksa aku berbohong dan berakting seperti ini.
Uti tertawa lalu membiarkan kami pergi masuk ke dalam lift. "Nice move, Sya," ujar Yogi saat kami berjalan ke parkiran motor.
"Uti kalau nggak kita stop, bakal nyerocos terus sampai sore. Lo beneran lakuin itu, gila ya lo, gue jadi ikut-ikutan dosa nih. Dosa zinah, dosa bohongin orang tua---"
Yogi men-starter motornya. "Itu 'kan resiko. Dan gue nggak keberatan. Emang jangan disangkut-pautin sama dosa urusan ginian mah, Sya."
Aku menghela napas panjang. Apakah jalan yang kupilih ini salah, Ya Tuhan. Namun melihat laki-laki di sampingku ini. Dia benar-benar godaan terbesarku. Kami pun berangkat ke kantor dan aku memeluknya erat-erat, karena selain takut jatuh tubuhnya wangi dan kekar mengingatkanku akan aktivitas semalam yang membuatku mabuk kepayang.
---
Sore ini aku dan dua jurnalis lainnya pergi meliput konser di daerah PIK. Sedangkan Yogi sudah berangkat ke airport sejak tadi pagi. Sambil menunggu mobil dikeluarkan dari parkiran basement, aku menunggu di lobby.
"Sasya." Aku menoleh pada seseorang yang memanggil namaku. "Ternyata bener lo kerja di sini. Keren juga." Mataku terbelalak, aku mundur perlahan, dan kuharap tremorku tidak muncul saat kulihat seorang iblis muncul di hadapanku. Mungkin Yogi memang iblis seperti Lucifer yang lucu dan suka membantu orang lain. Namun Janu benar-benar sosok iblis sesungguhnya yang jahat dan tak tahu malu. Sejak saat pertemuanku dengannya di PIM beberapa minggu yang lalu, dia tidak akan membiarkanku hidup tenang sedetik pun, dimulai detik ini.
Orang itu menghela napas panjang. "Apa kabar, Sya? Pertemuan kita kemarin kurang proper karena ada pacar lo, ya."
Aku berusaha membuka mulutku dengan sedikit gelagapan. "Masih bisa lo nanyain kabar gue? Setelah apa yang lo lakuin ke gue dulu, Janu?"
Janu mengerjap. "Jadi, lo masih nyimpen dendam sama gue?"
Aku menggigit bibir bawahku, menggenggam erat kedua tanganku bersiap untuk menonjok wajahnya yang membuatku seketika mual. "Menurut lo?"
"Gue udah minta maaf berkali-kali, Sya. Dan inget? Gue juga mau tanggung jawab atas apa yang gue lakuin ke lo." Janu menyentuh kedua bahuku namun aku lepas secara kasar. Menjijikkan.
"Tapi apa yang lo lakuin saat bilang itu? Lo selingkuh sama anak jurusan lain waktu KKN! Lo pikir gue nggak tau? Lo pikir gue t***l bisa ditipu sama lo?" Air mataku hampir pecah saat itu juga. Andai Yogi ada di sini.
"I'm sorry. Ayo kita mulai dari awal lagi, aku masih sayang kamu. Selama deket sama cewek, aku malah selalu kepikiran kamu," lirih Janu.
Klakson mobil terdengar cukup keras di telingaku. Itu Mas Ari yang akan meliput festival musik bersamaku, dia telah bersiap dengan mobilnya. Aku mendelik ke arah Janu. "Then, take it as a karma." Kemudian aku masuk ke dalam mobil dan Janu mengejarku, mengetuk jendela mobil. Mungkin saja dia melihatku menahan tangis di dalam mobil.
"Jalan, Mas! Jalan aja!" titahku pada Mas Ari.
"Itu siapa sih? Ngeri banget? Kalian kayak lagi ngedrama," tukas Mas Ari ketika sedang dalam perjalanan.
"Nggak penting, Mas," jawabku asal-asalan sambil membersihkan air mata dan ingusku.
"Kalau dia datang lagi. Lapor security aja, Sya. Sorry bikin lo lama nunggu di lobby."
Aku tidak merespon apapun. Benar juga, bagaimana kalau Janu datang terus ke Berindo? Hidupku tidak akan tenang. Aku akan lebih memilih liputan di luar kota daripada stay di kantor kalau begini terus. Kenapa dia harus menghancurkan kehidupanku bahkan disaat aku memulai hidup baru di Jakarta ... bersama Yogi.
---
Dua hari kemudian.
"Sasya!" teriak Yogi saat masuk ke studio apartemenku. Aku memalingkan wajah dari novel yang k****a ke arahnya yang baru saja pulang dari Makassar langsung ke apartemenku malam-malam.
"Kenapa deh dateng-dateng teriak-teriak?"
"Janu! Mas Ari bilang di group WA jurnalis cowok-cowok kalau lo nangis sehabis ketemu cowok di lobi sebelum liputan ke PIK. Itu pasti Janu, 'kan?"
Aku mengangguk dan menaruh novelku di meja nakas dengan wajah sendu. Yogi langsung memelukku dan membelai rambutku lembut. "Sorry gue nggak ada disaat lo butuh gue." Aku membalas pelukannya.
"Ya nggak apa-apa, Gi. Bukan salah lo juga. Lagian gue udah fine-fine lagi sekarang."
Yogi tersenyum lega dan bibir kami saling menjamah. "I miss you," lirih Yogi saat melepas tautan bibir kami. Aku mengecup lembut bibirnya sekejap sebagai tanda bahwa aku juga merindukannya.
"Januari nanti kita bakal ngeliput bareng," cetusku dengan wajah ceria.
"Oh ya, kapan?"
"Waktu konser Blackpink!" Aku bertepuk tangan.
Yogi tertawa kecil sambil berpikir. "Kayaknya kita bakal nambah personil nih waktu ngeliput." Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. "Ada Angga si kpopers dan satu orang spesial yang mau gue kenalin sama lo." Aku mengerjap.
"Siapa? Ok, i just can't wait, Gi," ucapku dan kami kembali melanjutkan aktivitas kami sebelumnya.