Cyn ditoko hanya bagian mengoordinir, memastikan bisnisnya ini berjalan dengan lancar. Dia juga lulusan sarjana ekonomi kampus ternama di Yogyakarta.
"Bu, sehabis kita endorsement selebgram kemarin, pesanan jadi tambah dua kali lipat." Ucap Nita, karyawan Cyn, toko roti ini hanya memiliki enam karyawan, cukup terbilang wow karena Cyn merasakannya merintis dari bawah bersama Xena.
"Bagus, saya liat persediaannya sekalian bantu deh ya." Cyn tertawa kecil sambil merangkul Nita menuju bagian pantry.
Cyn dan Xena memang memperlakukan karyawannya layaknya teman, agar mereka nyaman bekerja. Justru karna mereka merasa memiliki bos yang baik dan pengertian, mereka malah merasa segan dan sangat menghormati apalagi sering di traktir makan.
Saat memasuki ruang baking, mereka menyapa Cyn dengan ramah, Cyn membalasnya tak kalah ramah.
"Ris, ini ada yang kurang ga? saya kemarin ditelponkatanya gula kelapa dateng rada sorean Ris,"
"untuk sekarang masi ada kan ya?" lanjut Cyn.
Toko Cyn memang memakai gula alami, melihat resiko penyakit gula pasir cukup membuatnya ngeriapalagi toko ini membuat roti serta kue-kue manis.
"Masi ko bu, cukup malah buat sampe lusa kalau dikira-kira pesenan kayak biasa,"
"Mau dibantuin? saya nawarin sekali loh,” Sambil mengedarkan pandangannya melihat bawahannya itu sibuk karna pesanan nambah.
"Hahaha gausah bu, duduk aja yang manis,"
"Yaudah saya juga ga maksa,”
“Saya ke ruangan ya! sekalian pesenin kalian makan siang!" ucap Cyn sambil jalan ke ruangannya.
Risa, karyawan Cyn, tau kalau dibalik keceriannya bos nya itu ada hati yang sangat terluka. Bu boss cantik terlalu malaikat buat setan kaya mantan suaminya, batin Risa.
Cyn memasuki ruangannya bersama Xena, hanya terdapat satu set meja kerja dengan sofa membentuk huruf L.
Selesai memesan makanan untuk karyawannya dan bersantai di sofa, ia teringat Gio mengatakan kalau mobilnya hanya perlu dipoles dikit karna memang baret dibagian dekat bannya.
"Gimana caranya traktir Gio sama temennya? ketemu aja gatau kapan lagi." Cyn bingung sendiri karna memang tidak punya nomor kontak Gio.
"Apa minta aja sama Xena? tapi kesannya kayak orang suka ih, tapi ini kan cuma bales budi.” grutunya.
Heh apasi kayak anak ABG deh gue, batin Cyn kesal.
Ponsel Cyn bergetar, melihat siapa yang menelpon dirinya.
Hah panjang umur ni orang. "Cyn gimana tadi?" lansungnya sebelum Cyn menyapa.
"Hah, tadi apa?"
"Itu temennya mas Ridho! belom sehari gue liat-liat uda lupa,"
"OH, yauda ga gimana-gimana. Kok lu nanyain dia si? ga nanyain gue?"
"gue yang kena musibah btw kalo lu lupa," ucap Cyn skeptis.
"Gue denger suara lo baik-baik aja ya, gausa drama,"
memang paling ajib temennya ini kalo masalah debat dengan Cyn.
"Lo mau gue review dia apa gimana?" ucap Cyn.
"Gue cuma mau nanya rating, kira-kira bintang berapa?" Xena tertawa membayangkan muka empet Cyn.
"Lo bener-bener ya!" Cyn kesel.
"HAHAHAHAHA"
"Gosah haha lo! lagi hamil juga mulutnya,"
"hah astagfirullah, maafin bunda ya nak." Xena capek ketawa. Temennya Cyn ini memang gayanya rock n roll, Bercanda! maksud memang ngomongnya suka asal.
"Eh gue utang traktiran sama Gio and friend,"
"Oh dia gamao dibayar? ajak aja ke toko atau lo mau ajak kerumah? kenalin aja ke mami papi," ucap Xena. Ni anak emang menjadi lama - lama, batin Cyn.
"Jenaka banget idup gue buat lo ya!"
"Janda bukan sembarang janda ni boss haha." Asli Xena lagi ngakak banget.
"Moga-moga Rufie bisa maklumin lo jadi ibunya deh ya," keluh Cyn.
Rufie anak Xena yang pertama.
"Oh tentu! Ibunya cantik,"
tok tok tok
"Gue matiin dulu, ada yang ngetok, bye bye, banyak-banyak istigpar lo,"
"sialan, BYE!"
Cyn menghampiri pintu setelah telponnya dimatikan.
"Bu, makanannya uda sampe," ucap Nita
"Iya makan ayo bareng-bareng." Ajak Cyn
Cyn tau sebenernya Xena hanya ingin menghibur, Sahabatnya itu terlalu gengsi dengan kata-kata manis.
***
Setelah makan siang bersama para karyawannya dan menge-check tokonya tidak ada masalah, Cyn memutuskan pulang. Pengen peluk Bian banget, batin Cyn.
Bian menengok saat ada yang memanggilnya, ibunya itu berjalan cepat menghampirinya.
"Mamaaaa!" teriak Bian.
"Ah sayang baru ditinggal sebentar bikin kangen," Cyn peluk Bian gemas.
"Tadi ngapain aja?"
"Main sama grandpi, played with my beyblades." Bian memang memaggil kakek dan neneknya dengan grandpi grandmi. meng-copy mamanya yang memanggil papi mami.
Rumahnya memang kalau siang terbilang sepi karna sibuk kerja, namun jam kerja Papinya flexible karna ia seorang pengacara makannya masi sempat main sama Bian, Maminya bekerja di BUMN dengan jam yang mengikuti aturan.
Cyn teringat jelas apa kata papinya, "selagi Mami sehat dan bisa bertanggung jawab dengan keluarga ya its oke, apalagi Mami happy bisa bersosialisasi ga ngurusin rumah doang. "
Bucin sekali Papinya memang, how lucky to be Mami.
"Mama bersih-bersih dulu ya Kak." Meninggalkan Bian diruang keluarga.
Cyn langsung memasuki kamar mandi dan membersihkan riasannya, ia tanggalkan semua pakaiannya menyisakan pakaian dalam. Cyn becermin dan sepertinya ia kurusan, sempat turun banyak saat perceraian kemarin. Karna palanya penuh dengan masalah dan hatinya sakit, jadi mana sempat memikirkan perut.
Lupakan tentang mantan suaminya itu, Cyn harus mengajak Bian ke mall karna sudah berjanji beli mainan. Cyn bukan tipe orang tua yang akan gampang membelikan anak begitu saja karna kemarin Bian sakit dan sudah terlanjur berjanji, mau ga mau harus ia tepati.
Selesai ritual mandinya, Cyn akan bermain dengan anaknya dan lebih banyak menghabiskan untuk mengobrol berdua tentang gimana harinya dan lain-lain.
Saat makan malam, sudah berkumpul semua di meja makan, tentu dengan Papi di paling pojok sebagai yang paling dihormati dengan Cyn dan mami di depan kanan kirinnya.
"Bian mau pake apa nak?" Cyn menoleh ke Bian disampingnya.
"There's no nuggets? Ma"
"No, ikan ya? katanya mau cerdas kaya kapten amerika?" bujuk Cyn.
"Kak kamu baru sembuh loh, gaenak kan kalo sakit?" ucap Mami kasih pengertian.
"gaenak kan kalau palanya sakit, gabisa main dan nonton?" lanjut Mami.
Bian diam sambil berpikir dan termenung. Mengingat memang palanya pusing sekali kemarin dan gabisa main. Melihat wajah Bian, Cyn dan Papi terkekeh, lucu sekali memang anak itu.
Akhirnya Bian mau makan ikan dan sayur agar sehat terus katanya. Makan malam seperti biasa diisi dengan celotehan lucu Bian, orang tuanya tidak pernah menyinggung lagi tentang Hendro dan memang sudah tidak mau berurusan dengannya.
Setelah makan, Cyn dan Bian langsung memasuki kamar dan membersihkan diri mereka. Sedikit menyanyikan lagu dan meminum vitamin, akhirnya Bian tidur.
Saat Cyn membuka sosial media, tiba-tiba Xena mengirimnya pesan di watsapp.
Xena brisik
*sent contact*
nih, baik ga gue?
Cynnie
apesi
uda mlm gausa betingkah
Xena brisik
heh katanya lo mo traktir dia
geer
Cynnie
oia, thanks
Xena brisik
kalo orang marah jd tambah tua btw
Cynnie
gue gamarah
Cyn terkekeh dengan balasan Xena.
Xena brisik
sapa yang bilang lo marah?
Cynnie
ya Tuhan mo ganti temen pls
Xena brisik
air s**u lo bales air tuba?
gila
anak gue nangis bye
Cynnie
gue gabisa berkata-kata
makasi rufie si penyelamat onty cyn
Cyn akhirnya hanya menyimpan kontak itu, belum berani mengirim pesan.
Cyn memandangi anaknya, ia sudah siap jika ditanya tentang papanya oleh anak itu, semoga anaknya dapat mengerti. Sayang sekali Cyn dengan makhluk kecil ini. Sama mama terus ya Nak, sayang banget mama sama kamu, batin Cyn.
***
Siang ini Cyn dan Bian akhirnya pergi ke mall, seperti janji Cyn pada Bian, anaknya itu ganteng sekali dengan kaos polo dan celana selutut serta sepatu slip on Vans.
"Ibu, Cyn sama Bian jalan dulu ya, Papi uda jalan belom?" tanya Cyn pada Bita yang sedang mengurusi dapur.
"Uda dari tadi Mbak," ucap Bita tanpa menoleh karna sibuk memasak.
"Oh yauda,"
"Dadah ibuuu." Ucap Bian melambaikan tangan sambil tersenyum ceria.
"Seneng ya Kak? mau beli mainan asik," jawab Rita.
"Iyaaa hihi," Bian menoleh ke Cyn.
"Yuk maa." lanjut Bian
Setelah berpamitan dengan Rita, Cyn dan Bian masuk taksi, memang lebih nyaman kalau pergi bedua naik kendaraan online takut terjadi celaka di jalan.
Bian anteng bermain dengan ipadnya, anak itu akan dikasi gadget kalau sedang diperjalanan seperti ini agar tidak bosen, beda lagi kalau di rumah.
Di mall mereka mencari kebutuhan mereka, oh tentu saja Cyn ini sama seperti wanita kebanyakan yang suka dengan dunia fashion dan skincare. Meskipun kalau dilihat - lihat kulitnya sudah bagus, namun Cyn memiliki kulit yang sensitif yang mana kulitnya ini mudah merah dan kering.
Karena menurut Cyn jika memiliki kulit yang bagus dan sehat mau dipakaian produk make up apa saja akan terlihat wow, setuju? dan yang paling penting dalam merawat kuliat ialah dari dalam mulai perbanyak minum air putih dan vitamin A yang terdapat di buah dan sayur.
Apalagi semenjak perceraian yang dialaminya, kepalanya stress membuat Cyn malas untuk beraktifitas dan sekarang ia sudah mulai bangkit dari peristiwa tragis tersebut. Cyn mulai merapikan dirinya, no bukan hanya “merapikan” penampilan tetapi juga ia sedang ingin merapikan semuanya mulai dari mental, otak, dan sikap.
“semunya memang perlu dibenahi.” Ucap Cyn dalam hati.
Cyn selalu terenyuh mendengar tawa Bian dan melihat senyum, selalu ada harapan jika ia melihat Bian.
Saat selesai berkeliling dan membeli kebutuhan Cyn akhirnya ia memutuskan pergi makan.
Saat melihat seseorang yang ia kenal jalan keluar dari restoran Union, Cyn lansung memanggil.
"Mas Gio!" panggil Cyn.
Orang itupun menoleh kaget.
Lebih kaget ternyata ada makhluk kecil yang digandeng oleh Cyn.