"Cyn? " jawab Gio
"Kebetulan banget, ketemu di sini,"
"abis belanja?" tanya Gio melihat banyaknya tentengan yang dibawa Cyn.
"Iya, Mas Gio dari mana?" tanya Cyn yang jelas-jelas ngeliat Gio keluar dari Union. Ya namanya basa basi gimana si biar ga awkward, batin Cyn.
"Abis ketemu rekan tadi,"
"Sibuk ga mas sekarang?"
"Eh bukan maksud apa-apa, mau ajak makan bareng aja yang saya bilang waktu itu" lanjut Cyn agar Gio tidak berpikir aneh - aneh.
"Gausa juga gapapa" jawab Gio biasa.
"Tapi gaenak, saya kan juga uda janji," bujuk Cyn.
Ini gimana si cuma biar gapunya utang budi aja!!
"Ma, gajadi makan?" tanya Bian yang sedari tadi menonton kedua orang dewasa itu.
"Jadi kak, laper ya nak?" Cyn mengelus rambut Bian dan kembali menggenggam tangan anaknya.
Cyn menaikkan wajah dan menatap Gio.
"Yauda yuk boleh," ucap Gio kalem, kasian juga Gio melihat Cyn merasa terus hutang budi, padahal Gio juga santai.
Cyn tersenyum.
Cyn berjalan di depan dengan menggadeng Bian dan menenteng belajaannya.
"Cyn mau saya bantu bawa belanjaan?" tanya Gio dibelakang.
"Gausa mas, bisa kok" menoleh dan tersenyum.
kalau Gio lihat, Cyn ini tipe wanita yang akan selalu memerhatikan penampilannya, sangat. Dia punya personal branding yang elegant dan mahal, batin Gio.
"Mas Gio ini temen kerjanya Ridho?" Cyn memulai percakapan sesudah memesan pesanan mereka, dengan Bian sibuk dengan ipad nya.
Kalau Cyn liat memang Gio ini tipe pria yang kalem, ga banyak omong yang suka modus ke wanita, dan punya aura yang disegani. Tapi kan ini first impression dia, gatau kalo uda lama kenal kan? siapa tau beda banget, yakin Cyn.
"Ngga, saya temen kuliahnya dia,"
"Ridho kan pajak saya montir, jauh." lanjut Gio
Cyn mengangguk paham.
"Ini anak saya, Bian." saat melihat tatapan Gio memerhatikan anaknya.
Bian yang namanya disebut mendongak ke arah depan. lucu, pikir Gio.
"Salam kak," suruh Cyn.
"Hai om, i'm Bian," tersenyum ke arah Gio
"Hai good boy, i'm Gio." sapa Gio tersenyum kecil.
Saat Cyn tadi memanggilnya tadi ia sedikit kaget melihat anak kecil disamping wanita itu, ia pikir tadi ponakan atau apanya Cyn, namun ini anaknya. Ya mana mungkin juga wanita semahal dan secantik Cyn tidak ada yang jaga?
Gio hanya tidak enak jalan dengan istri orang, rasanya kurang pantas, namun kan ini agar Cyn merasa tidak punya hutang budi kepadanya. Sehabis ini juga urusan mereka selesai.
Saat pesanan mereka datang, yang paling semangat saat mengegrill daging itu Bian, seperti main masak-masakan katanya. Dibantu dengan Gio yang ikut menjaga Bian, anak itu memang sangat excited.
Melihat akrabnya Gio dengan Bian membuat Cyn merasa bersalah kepada Bian, anak itu masi kecil sudah merasa tidak di inginkan oleh ayahnya. seharusnya anak seusinya sedang diajari sepeda, bermain bola.
Cyn tersenyum sedih.
"Thank you so much om,"
"Makan yang banyak." Kata Gio ke Bian.
i dont know how to describe what i feel, hanya hangat melihatnya, batin Cyn.
Gio diam ketika dengannya dan sedikit bawel ke Bian, terlihat dia menyukai anak kecil.
Sehabis makan, Gio menawari pulang bareng karna memang sudah malam dan takut terjadi hal yang membahayakan.
Akhirnya mereka pulang bersama, berjalan menuju basement, dengan Bian digendongan Gio, anak itu merengek ngantuk tadi, seperti perutnya penuh dan Cyn dengan menenteng barang belanjaanya.
Setiap menaiki eskalator, Cyn langsung berjalan didepan Gio, pria itu tidak menyuruhnya secara langsung tetapi dari body language pria itu seperti menunggunya dan memastikan aman saat menaiki eskalator.
Saat sudah di pintu basement Bian menggeliat di pekukan Gio, mungkin karna panas.
Cyn langsung mengusap kepala Bian yang berada dibahu Gio.
"ssshhh—" Cyn kaget saat menenangkan Bian, tangan Gio ikut mengusap kepala Bian, seperti pria itu juga kaget.
Melihat Bian semakin ingin menangis, Gio langsung sadar dari kagetnya dan langsung mengusap punggung Bian, dan berjalan ke mobilnya.
Cyn yang merasa jantungnya berdetak cepat juga ikut berjalan cepat mengikuti Gio.
Saat Gio memencet kunci mobilnya dengan smart key langsung saja Cyn membuka pintu belakang untuk anaknya dan menaruh semua belanjaan.
Kegiatan mereka benar-benar hening dari tadi.
Cyn bernapas lega saat Gio menyalakan musik, perjalanan seenggak diisi suara. "maaf ya jadi merepotkan mu," ucap Cyn gaenak.
"Saya yang nawarin, santai aja," jawab Gio
"Bengkel mu dimana? saya kapan-kapan mau poles mobil," lanjut Cyn
"Belum dipoles juga?" ya kejadian itu sudah tiga minggu yang lalu.
"Ga sempet," ucap Cyn.
"langsung bawa aja ke sana, nanti saya kirim alamat,"
"Nomor wa, saya kirim alamat," pinta Gio
"Saya uda punya nomor Mas,"
"karna waktu itu mau saya traktir tapi malah ketemu." Lanjut Cyn sebelum Gio berpikir aneh.
"yauda, chat saya aja,"
Tiba-tiba saat lampu merah, Gio memutar tubuhnya ke arah kursi belakang mengambil tissu, posisinya yang cukup dekat membuat Cyn menahan napas.
Saat Gio balik keposisi semula akhirnya Cyn bernapas lega, walaupun tadi tubuhnya tidak berkutik tetap Cyn mengenali wangi Gio itu, seperti musk namun lebih hangat lagi. Manly pisan
menghilangkan kegugupannya, akhirnya Cyn mengeluarkan ponselnya dari tas, "ini saya coba chat ya Mas?" meminta izin.
"iya boleh."
ting!
chat dari Cyn masuk ke ponsel Gio.
Cyn melihat Gio hanya melirik ponselnya.
"Nanti saya kirim,"
"Iya Mas."
Akhirnya setelah keheningan mereka selama perjalanan, mobil Gio udah berada didepan rumah Cyn. Sebelum Cyn mengucapkan terimakasih, pria itu sudah keluar membantu Cyn.
Tadinya Gio ingin menggendong Bian, namun pikirnya tidak enak kalau suaminya Cyn melihat, akhirnya ia hanya membawa belanjaan Cyn kedepan pintu dan Cyn menggedong Bian sampai ada perempuan membuka pintu.
"Kakak tidur Mbak Cyn?" tanya Rita
"Iya, tolong ambil Gio dulu Bu.” pinta Cyn menyodorkan Bian dan langsung membawanya ke kamar atas.
Cyn berbalik dan melihat Gio, "Makasih banyak ya Mas malah kesannya kayak ngerepotin," Cyn gaenak.
"Kalo ngerepotin saya gabakal nawarin," kata Gio santai.
"Saya pulang, misi," Pamit Gio
"Iya hati-hati dijalan Mas.”
Melihat mobil Gio pergi berlalu, Cyn langsung memasuki kamarnya. Ia sebenarnya mau menawarkan Gio masuk tapi kesannya kayak apa karna sudah malam walaupun tetangga dikomplek ini orang tidak peduli.
Rumah ini sepi karna orang tuanya sedang menghadiri undangan teman Papi, Maminya mengabari Cyn saat sedang direstoran tadi.
"Makasih ya Bu.”ucap Cyn saat melihat Rita menidurkan Bian.
"Iya Mbak, mau makan dulu Mbak?" tanya Rita.
Cyn menggeleng.
"Uda makan sama Mas ganteng ya?" tanya Rita menggoda.
Cyn menyerit, oh Gio!!
"Itu temen aku!" ucap Cyn buru-buru
"Ibu padahal tanya makan bukan dia sapa loh Mbak," lanjut Rita.
"Ibu aku capek," Cyn cemberut. Akhirnya Rita pergi setelah menggoda Cyn.
Cyn tahu sekali kalau ART-nya itu suka sekali menggodanya, umurnya juga baru empat puluh tahun.
Selesai membersihkan diri dan membersihkan Bian, ia merapikan belanjaannya yang berisi mainan dan barang-baran Cyn.
Mas Gio
*share location*
Cynnie
kalo waktu luang saya kesana mas
makasih
Mas Gio
oke
Cyn tidak tahu mengapa ia menamai Gio dengan sebutan Mas, reflek!
"Kan cuek banget! ga si lebih ke kalem." tau kan beda nyaa.
Entah mengapa saat mau tidur, ia teringat interaksi antara Bian dan Gio yang membuatnya hangat, ga Cyn gapunya rasa sama Gio, mungkin hanya sudah lama tidak melihat Bian bermain dengan sosok ayah.
Cyn tadi juga membeli buku tentang self improvements, ia akan memperbaikin dirinya yang rusak dan mulai berdamai tentang masalahnya.
Cyn bersyukur mantan suaminya belum menghubunginya, bahkan kalau bisa gausa kenal aja, Cyn muak.
Ia akan belajar menjadi seorang ibu dan ayah untuk malaikatnya.
Mungkin lusa atau besok Cyn sudah bisa ke bengkel Gio untuk memoles mobilnya.