4. Reminder

1250 Kata
Dari buku yang Cyn baca, ternyata apa yang datang ke diri kita tuh ternyata kita yang narik sendiri loh. your mind is magnet if you think of blessings, u attract blessings and if you think problems you will attract problems inget ya temen-temen. Mungkin selama ini Cyn terlalu berprasangka buruk dan berfikir negatif dan pada akhirnya ia sendiri yang mengundang hal-hal negatif itu kepadanya. Kenapa Cyn percaya? karna diajaran agamanya pun sudah tertera gamblang menyatakan. Yang Cyn ingat adalah Tuhan akan berkendak sesuai perasaan hambanya, Jika hambanya bersyukur pasti nikmatnya akan selalu ditambah oleh yang maha kuasa. Pikiran positif ini yang dimaksud Cyn adalah hal yang kalian inginkan, misalnya kamu mau masuk Uni A dan gamau masuk Uni B, tapi kamu selalu merapalkan di otak dan hati kamu seperti "Gamau masuk Uni B pokoknya." Selalu begitu berulang-ulang dari bangun tidur sampe mau tidur, akhirnya kamu dapet Uni B padahal kamu gamau banget. Universe tidak mengerti apa yang kamu inginkan, yang ia tahu hanya apa yang ada diotak kamu, jadi manifesting kamu ganti dengan "Aku masuk Uni A" gitu. Cyn juga baru nyadar ternyata bukan alam aja yang akan menarik apa yang dipikiran kita, kalau kalian nyadar sosmed pun seperti itu, kamu tau logaritma titok atau i********:? ya seperti itu, apa yang kamu visit dan kamu like itu yang akan muncul di explore atau page kamu. Kalian tau ga? salah satu obat penyakit yaitu perasaan bahagia dimana saat kita merasa bahagia bahkan penyakit kanker sekalipun. Jangan banyak sedih ya, nanti kamu gampang sakit kalo stress. Cyn mulai sekarang akan selalu berpikir positif dan menerima masa lalu sebagai pengalaman, hidup hanya sekali berilah kesan yang indah. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, lakukan lah asal tidak mengganggu orang lain. Hari ini Cyn akhirnya pergi ketempat Gio, ia tadi sudah mengabari pria itu. Wanita itu pergi sendiri karna Bian sedang sekolah paud. Cyn sedikit bingung dengan maps, kenapa ia ikuti salah? Uda jelas-jelas bener juga ni jalan! apa ia menelpon pria itu saja? tapi nanti kalo ganggu gimana? Tapi kalo lu ga nanya kapan sampenyaa! batinnya kesal. Mobilnya ia tepikan ke bahu jalan, Cyn merapalkan doa agar pria itu tidak mengamuk. "Hembus kan ... tarik ...," "Hembus kan ... tarik ...." Cyn merapalkan dalam hati agar ia berani, padahal kalau dipikir-pikir Gio memang baik cuma auranya itu yang bikin segan. Membuka kontak dan mencari nama seseorang, "Telpon tidak telpon tidak ...." Akhirnya ia menelpon kontak itu, tapi tidak dijawab sampai telponnya mati sendiri. Cyn menghembuskan napas, KAN!batinnya. Atau ia balik pulang saja? nanti alesannya bilang aja ada urusan. Ia meletakkan ponselnya dan akan jalan menuju pulang, tetapi satu kontak menelponnya. "Halo maaf, tadi saya abis liat mobil. Sudah sampai mana?" Gio menyapa disana. "Oh mungkin benerin mobil, lah iya dia kan montir stupid!" Cyn membatin. "Emm ... itu saya di Jalan Sudir, kenapa di maps malah arahnya ga ke tempat kamu ya?" Cyn sedikit hati-hati. "Pasti naik ke fly over, kamu lewat kolong," "Atau mau saya jemput?" lanjut Gio. "Gausa mas, ini tinggal lewat bawah aja kan?" "Iya, habis itu jalan sedikit ada portal disana." "Oke maaf mas ngerepotin."Cyn meringis. "Kenapa minta maaf mulu?" Cyn mengigit bibir bawahnya gugup. "Yauda saya tutup ya, makasih." Cyn menutup telponnya setelah mendengar jawaban di sana dan mulai melajukan mobilnya. Saat sudah melihat bengkel Gio, Cyn tetap mengecek dengan apa yang diponsel, dia yakin ini tempatnya dan Cyn membelokkan mobilnya ke arah bengkel. Bengkel Gio ini terbilang besar bahkan banyak mobil mahal dan terdapat showroom. Just wow! Batin Cyn. Ia melihat Gio sedang berbincang dengan mungkin bawahannya, akhirnya Cyn mematikan mobilnya dan keluar mobil karna melihat Gio datang menghampirinya. "Hai, yuk!" ajak Gio, Cyn tersenyum mengiyakan dan mengikuti pria itu. "Ini cuma dipoles atau —" tanya Gio membuka pintu dan mempersilahkan Cyn masuk duluan, wanita itu berterima kasih. "Sama di service Mas,"Jawab Cyn. Ia berada di lantai dua sekarang, seperti nya tempat pribadi Gio karna kalau ruang tunggu ada dilantai satu. Gio mengangguk dan berbicara ke bawahannya memalui telpon. "Jalan salah paham, saya bawa kamu kesini karna di ruang tunggu ada banyak pria, takut kamu ga nyama," "disini juga ada Mbak saya ko,"lanjut Gio. "Ah iya mas gapapa, makasih." Cyn tidak enak sekali rasanya, tapi memang tadi banyak laki-laki, membuatnya kurang nyaman. "Teh mo minum apa?saya Dina," tanya seorang wanita. "Mbak saya titip disini, mau kebawah," ucap Gio. Dina hanya menjawab iya dan pria itu kebawah tanpa menoleh kepada Cyn. Oh maksud dia Mbak yang ini, kalau dilihat umurnya mungkin tiga puluhan atau kepala dua? entah. "Apa pria itu marah? ga, dia sendiri bawa aku kesini, " Cyn menyerit. "Ada jus atau Teteh mau apa?" tanya Dina lagi. Cyn sadar dari lamunannya dan tersenyum. "Air putih aja Mbak, makasih ya,"jawab Cyn. Wanita itu terseyum lalu pergi ke dapur. Cyn hanya memainkan ponselnya dan menggulir layarnya. Pikiran Cyn gamang ketika melihat akun istri barunya Hendro, foto berdua saat bulan madu. Jelas Cyn masih sangat sakit hati, bukan karna rasa cintanya, tapi karna perlakuan jahat mereka yang bermain api. Cyn menghembuskan napas berulang untuk menjernihkan pikirannya dan tidak terbawa emosi. Mas hendro is calling ... Tubuh Cyn membeku, setelah perceraiannya, ia belum pernah menghubungi Hendro atau sebaliknya. Telpon itu terus berdering di tangannya, ia bingung menjawab apa atau ia lebih takut karna pasti membicarakan Sabian, anak mereka. Cyn tak mau membagi Sabian karna hanya anak itulah penguat satu-satunya, jika dikatakan Cyn egois? Ya, mereka bahkan lebih egois. Dengan mengatur napasnya, ia memencet icon hijau. "Halo,"sapa Cyn. "Cyn?" Cyn menahan napasnya mendengar suara Hendro. "Ya? ada perlu?" tanya Cyn. "Bisa ketemu?" "Ada hal yang perlu kita omongin?" lanjut Hendro. "Perlu apalagi?" "Tentang Sabian dan pembagian harta." Cyn berpikir ia harus maju, tapi jujur ia tak siap mendengar permintaan Hendro nantinya. "Sabian kenapa Mas? baik ko sama aku," jawab Cyn. "No, bukan itu, saya cuma mau pembagian waktu bersama Sabian," pinta Hendro. "Mas bisa jenguk kalo mau." Cyn sadar dirinya sedang memberi opsi agar Sabian tetap bisa ditempatnya. "Mas mau sabian tinggal di tempat Mas juga." "Mas! Bian masi kecil!" ucap Cyn gaterima. "Lebih bagus kalau dia bisa beradaptasi dari kecil." Cyn menggeram, "Ini bukan masalah cuma tinggal dimananya, tapi juga sama siapa!" "Nanti ia saya kenalnya ke Hanifa." Hendro mencoba tenang karna tau Cyn sedang marah karna permintaannya. "Gausah gila kamu Mas!" "Dia masi kecil buat ngerti," lanjut Cyn. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga, ia sadar habis teriak dirumah orang, nanti ia minta maaf. "Saya cuma ingin membagian waktu, tolong jangan egois," ucap Hendro. "Nanti kita bicarain lagi. Seharus dari dulu saya tau kualitas seperti apa dirimu Mas dan saya tidak pernah menyesal." "Saya tutup telponnya," ucap Cyn. Cukup sudah tenaganya habis menahan kekesalannya kepada k*****t itu. Dina yang melihat Cyn selesai berdebat dengan seseorang ditelponnya langsung berjalaan memberikan minum, tadi ia menunda takut menggangu tamu majikannya itu. "Teh ini minumnya, kalau butuh apa-apa bilang ya Teh," ucap Dina ramah. Cyn mendongak dan memberikan senyum tidak enak karna ia yakin Dina mendengarnya berteriak. "Iya makasih ya Mbak, maaf tadi kelepasan teriak," Sesal Cyn. "Gapapa Teh, Mbak tinggal ya," ucap Dina. Kepalanya sakit memikirkan perkataan Hendro, ia akan memikirkan ini nanti kalau emosinya reda. Cyn mengedarkan pandangannya ke segala sisi ruangan, menurutnya untuk ukuran lelaki ruangan ini cukup bersih dan rapih. terdapat banyak miniatur kecil mobil - mobil antik. "Dia memang gila otomotif," batin Cyn. Pandangan Cyn berhenti melihat foto besar di tengah lemari koleksi Gio tersebut. Dua wanita dan tiga laki - laki. "Wanita muda itu saudaranya? atau ... tapi bukan urusanku," batin Cyn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN