Cyn gahabis pikir gimana Hendro bisa se-ngga punya hati itu, walaupun Cyn tau Bian harus tau semuanya, tapi tidak dengan cara yang tiba-tiba.
Sebagai ibu ia merasa sangat sedih dan gagal memikirkan Bian, diumur yang sangat kecil sudah kehilangan sosok pelindungnya. Bukannya Cyn tidak bisa melindungi, ia sangat bisa. Namun pasti rasanya tetap beda dengan adanya seorang ayah.
"maafkan ibu ya nak, belum mampu membuat keluarga yang hangat untuk kamu, Ibu janji suatu saat kamu akan merasakannya." Batin Cyn.
Gio masuk ke dalam ruangannya, melihat Cyn diam dengan tatapan sedih dan kosong. "Apa ada masalah?" Tanya Gio sekaligus mendekat.
"Hah tidak, hanya kepikiran sesuatu saja," tersenyum dan mengangguk untuk meyakinkan.
"Apa mobilku sudah beres?"
"Oh belum, tinggal di service. Kenapa? kamu buru - buru?"
"Cuma nanya aja Mas," Cyn sedikit terkekeh.
"Saya pikir anakmu sudah mencarimu."Lanjut Gio. Dirinya mengingat anak yang ceria dan tampan itu.
"Dia sudah tau kalau saya harus service mobil di tempatmu." Cyn menatap Gio.
"Baguslah, sudah umur berapa anakmu itu?" tanya Gio sambil berjalan ke sofa sebrang Cyn.
"Empat tahun."
Gio melihat wanita itu tersenyum seraya menjawab tentang anaknya, memang bukannya seharusnya seperti itu? ikatan kuat dengan makhluk yang sudah dikandung 9 bulan.
"Kamu sudah makan? mau makan dulu?" Melihat jam tangannya sudah waktunya makan siang.
"Atau delevery aja ya?" Lanjut Gio menatap Cyn.
"Boleh, delevery saja. Tapi apa tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali, saya juga belum makan." Gio menarik rambutnya kebelakang. "Kamu mau makan apa?" Menaikkan alisnya.
"Apa ya, nasi padang kayaknya enak."
"Oke saya pesan." Gio menyalakan ponselnya, dia cukup suka dengan wanita yang straight, ya, mengeluarkan opini apa yang ia suka, tidak sedikit-sedikit bilang terserah.
"Nanti saya transfer ya." Ucap Cyn.
Gio menautkan alisnya. "Tidak usah, hitung - hitung memang jamuan kamu sebagai tamu." Beberapa kali bertemu Gio sedikit tahu bahwa wanita di depannya ini terlihat ogah punya hutang.
Cyn hendak menolak, tetapi melihat tatapan Gio tempat di matanya sangat teduh seakaan berkata untuk menurutinya saja. "Oh o-oke." Wow kenapa gue jadi deg - degan liat dia natap begitu.
Melihat Gio meletakkan ponselnya ke atas meja, berarti ia sudah selesai memesan makanan mereka, Cyn tidak tahu lagu harus gimana, ia merasa sangat canggung dengan Gio, apa karna aura dia kali ya? Batin Cyn.
"Mas tinggal sendiri disini?" Cyn Memutus kecanggungan ini, merasa Gio sedang memerhatikannya membuat dirinya kurang salah tingkah.
"Tidak, ada mbak Dina sama beberapa karyawan tidur dilantai bawah." Gio ingin bertanya dimana tempat kerja suaminya Cyn melihat jarang sekali ia menemani Cyn. Apa tidak takut wanita secantik Cyn didekati lelaki lain? tapi Gio rasa kurang etis menanyakan hal itu.
"Kamu suka buat kue sampe bikin tokonya?" Jawab Gio.
"Itu awalnya iseng haha, karna ya selain suka kue cobalah dikit - dikit peruntungan dari kesukaan."
Gio mengangguk paham.
"Memang harus pintar liat peluang si sekarang."
"Iya setuju, demi beliin mainan Bian." Cyn sambil tersenyum lebar.
Gio menyeritkan dahinya, merasa ada yang belum ia paham.
"Memangnya di— "
tok tok tok ...
karyawan Gio mengetuk dan muncul dari pintu.
"Maaf Pak Boss, itu nasi padangnya sudah sampai," "eh misi Bu," mengangguk sopan ke Cyn. Dibalas Cyn dengan tersenyum.
"Sini tolong taruh meja, lo da makan dit?" Tanya Gio melihat Adit membawa makanan itu ke meja.
"Gampang Pak Boss, masi banyak mobil juga di bawah."
Gio hanya mengangguk, Adit pamit pergi seraya menyapa sopan Cyn.
Cyn melihat Gio menuju belakang seperti mengambil piring. Saat Cyn akan beranjak diri, Gio melihatnya dan bertanya dengan mengangkat alis.
"Saya mau bantu kamu, gaenak kesannya cuma diam saja." Jawan Cyn jujur.
Gio terkekeh, "Gapapa santai ini juga cuma ambil piring doang."
Walaupun kikuk akhirnya Cyn kembali duduk. Gio datang dengan peralatan makan, ia memberika kepada Cyn, diterimanya dengan senyuman terima kasih.
Saat akan memakan, Gio melihat Cyn menguncir rambutnya. Gio menatapnya lama, tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. just wow!
Cyn mengangkat kepalanya karna merasa diperhatikan, ternyata benar seorang Gio sedang memerhatikannya.
"hmm ... ?" Kedua alis Cyn naik seakan bertanya.
Gio merespon dengan tersenyum lembut lalu menggeleng.
Mereka melanjutkan makan dengan tenang, sepertinya memang sudah seharusnya begitu dalam makan bukan?
"Saya saja please." Saat Cyn melihat Gio mengangkat piring milik Cyn. Gio mengangkat alisnya bertanya kenapa.
"Biarin saya ada distribusinya dikit"
"Hahaha."
"Ya ya ya?"
"Yasudah, dapurnya di sana terus belok kiri," Gio menjukkan arah dengan jempolnya. "Gausa dicuci." Lanjut Gio.
Cyn mengangkat jempolnya, "Sip." Segera saja Cyn beranjak dan mengangkat piring miliknya dan Gio.
Gio menyerit heran saat menunggu Cyn lumayan lama di dapur, akhirnya ia mengambil langkah karna takut terjadi sesuatu. Gio menghela napasnya melihat Cyn ternyata tidak mematuhi apa yang ia katakan.
"Kan sudah saya bi—"
"Oh astaga!" Cyn menengok dengan muka tegangnya. Ia mengatur napasnya. "Dikit lagi ini sayang kok cuma sedikit," sambil melanjutkan cuci piringnya.
"Biar Mba Dina."
"Saya bisa Mas cuma cuci piring. Lagipula ini bentuk distribusi saya," "gausah lebay ya tolong."
"Ya," sambil Gio berbalik arah menuju tempat semula.
Selesai mencuci piring Cyn kembali ke ruang tamu tapi tidak mendapati adanya Gio disana. Mungkin dibawah, tadikan dia cuma mau makan bukan ngajak gue ngobrol.
Belum sampai 10 menit bermain ponsel, Gio muncul membuka pintu mengatakan bahwa mobilku sudah selesai dibereskan.
"Kalau ada apa-apa lagi, datang saja ke sini atau bisa hubungi saya," ucap Gio.
Mereka berdua menuruni tangga.
"Ngerepotin banget kayaknya ya."
"Mana mungkinkan saya yang nawarin."
"Hahaha boleh deh. "
Tadi Gio sudah mengabari kalau mobil Cyn sudah selesai. Setelah kejadian konyol -teriak tidak jelas- di rumah orang rasanya sangat memalukan, untung saja Mba Dina memaklumi. Entah Mba Dina akan ngadu ke Gio atau nggak, kalau iya sekalipun rasanya malu banget, nggak sopan padahal baru pertama kali datang.
Cyn berdiri di depan kasir, tentu saja kali ini bayar kalaupun Gio tidak mau dibayarpun Cyn tetap kekeuh harus bayar. Masa belum kenal begitu lama apa-apa nggak bayar kesannya kaya apa gitu menurutnya.
Cyn melihat Gio sedang berbicara dengan bawahannya karna orang itu memakai seragam biru yang sama dengan lainnya. Mereka terlihat akrab tetapi tetap yang aku lihat Gio ini sangat dihormati di sini.
"Salam buat Bian ya," ucap Gio. Pria ini mengantar Cyn sampai samping mobil. Cynpun selama didekat pria ini tidak merasakan hawa modus yang ada hanyalah hawa pure menolongku.
"Iya Mas, makasih banyak loh repot-repot," saut Cyn.
"Repot apanya? Ya nggak lah santai."
Cyn hanya tertawa kecil sebagai respon. "Yasudah kalau gitu saya pamit ya Mas."