6. Approved?

1280 Kata
Cyn hari ini harus ke toko kembali untuk mengurus beberapa keperluan. Namun sekarang ia sedang sibuk dirumah dengan Bian, menonton film Marvel. Mungkin sehabis ini ia langsung cus berangkat ke toko.  Cyn mengelus sayang rambut anaknya, sesekali menciumi kepala anak itu. Benar adanya kasih sayang Ibu ke anak tiada tara. Mungkin ini yang terjadi karna memang selain melahirkan, ia juga mengandung sembilan bulan. I so grateful for the bond what i have with this baby.  "Abang, siang ini kamu mau makana apa hm?" Cyn mengelus rambut anaknya.  "i have no idea."  "Kalo brokoli oke ga menurut Abang?" Cyn memancing Sabian untuk berpikir.  Anaknya itu terlihat menimbang - nimbang.  "Oke ga kalau misalnya kita gabungin brokoli sama ikan?" Pancing Cyn kembali. "Ma, kenapa ga mie sama brokoli?" Menatap mata Cyn.  "Apa itu seimbang buat tameng Sabian?" Tameng yang Cyn maksud adalah tubuh. Karna Cyn mengajarkan makanan sehat untuk membuat "tameng" kita kuat melawan "musuh." "Hm... gimana kalo telur, ayam, dan brokoli?" Bian mengajukan banding.  Cyn tersenyum lebar. "Oke deal!" Cyn berdiri dengan semangat dan menuju dapur untuk menyiapkan makan anak manisnya itu. Kebetulan memang di rumah ini terbilang cukup lengkap bahan makanan jadi mudah kalau Sabian atau ayah Cyn request makanan. Jujur Cyn senag melihat orang makan dengan lahap, siapapun itu, apalagi kalau tau itu orang yang dia sayang. Melihat anak disampingnya makan dengan lahap sambil menonton encanto.  Cyn berjalan ke kamar untuk mengambil telponnya ternyata ada pesan dari Hendro.  Hendro  Boleh kita bertemu?  Cynnie  Ada perlu apa mas?  Hendro  Mau bertemu dengan kamu dan Bian Cyn menghela napas, dirinya tersadar bahwa anak pintar disebelahnya ini adalah buah cinta ia dan Mas Hendro. "Belum siap banget ya Tuhan, takut nangis ketemu Mas Hendro." Batin Cyn. Cynnie  Kapan? di mana?  Hendro di kafe kamu boleh atau terserah kamu Cynnie  Boleh tapi ingat jangan membicarakan tentang kita di hadapan abang Hendro di sebrang sana masi merasa hangat saat Cyn memanggil anak mereka dengan sebutan abang, ia merasa " its kinda weird but also warm."  Walapun mereka tidak lagi bersamanya tetapi Hendro akan selalu menjaga mereka, mungkin karna sudah memiliki ikatan batin dengan mereka.  Hendro  Iya, besok ya? bisakan?  jam 4an atau mau siang? Cynnie  oke besok jam empat di tempatku Hendro  ya terima kasih Cyn Cyn hanya membaca pesan terakhir itu, kalau ditanya apakah ia masi mencintai Hendro? ia sendiri tidak tahu tetapi saat mengingat penghianatan lelaki itu kepadanya saat mereka masi bersama terasa masi sakit. "Lukaku masih basah Mas." Batin Cyn. Ia menghormati Hendro karna Sabian, malaikatnya.  Cyn tersadar dari lamunannya dan menengok ke arah pintu karna ada seseorang memencet bel rumah. Ia langsung bangkit dan membukakan pintu karna ia sendiri sudah tau siapa pelakunya. Seorang bumil (ibu hamil) yang bosan dirumah dan hanya diperbolehkan pergi ke tempat tertentu.  Xenna berdiri di depan pintu dengan cengirannya yang manis. " Hai bestiee," sambil melambaikan tangan ke arah Cyn.  "Stress." Langsung pergi meninggalkan Xenna di depan rumah.  "Lu yang stress, tamu maen tinggal - tinggal aja,"  "oh hai Abang ganteng. Sudah makan kamu?" Tanya Xenna berjalan mendekat ke Sabian.  Sabian mendongak memerhatikan siapa yang berbicara dengannya. "Onty Na? Abang udah mam ty." Jawab Sabian.  "Pinter banget de Abang ini," mengelus rambut Sabian. Anak itu hanya diam anteng.  "Sepi banget Cyn ni rumah, pada kemana?" Tanya Cyn duduk di sofa samping Bian. Cyn jalan meninggalkan dapur ke ruang tengah sambil membawa minuman dan buah - buahan diatas nampan. "Bokap Nyokap kan kerja. Terus bu Bita paling di kamarnya istirahat" Jawab Cyn. Xenna hanya mengangguk dan mengambil air yang disediakan Cyn.  "Gue mager deh ke toko." Cyn duduk di samping sofa Xenna.  "Yaudah kalo lu mager, kapan - kapan aja. Itu juga masi bisa diurus di rumahkan?"  "Bisa tapi datanya uda gue print, gue taro kantor,"  "eh tapi besok gue ke toko si."  "Yaudah gih. Gue bole ke toko tapi gaboleh ngerjain yang berat - berat dulu sama laki gue." Xenna sambil mengambil bantal sofa dan menaruhnya di belakang punggu. Memang kehamilan tua badannya sudah mulai jompo dan juga gaboleh stress.  "iya sih santai."  "Ma, Abang mau ke kamar." Bian sambil mengucap matanya.  Cyn melihat mata anaknya itu mulai lelah karna menonton.  "Sudah jam satu siang nak, tidur ya?" Pinta Cyn ke Bian yang dijawab hanya anggukkan.  "Dadah onty Na, Abang mau naik dulu." Ucap Sabian ke Xenna.  "Iya sayang dadah, bobo ya." Xenna melambaikan tangan yang dibalas dengan lambaian Bian juga.  Cyn menggadeng anaknya ke kamarnya di atas. "Nanti kalau sudah tidur Mama tinggal ke Onty Na gapapa ya?" Tanya Cyn saat membuka pintu kamar. "Iya Ma gapapa, aku sudah besar." Jawab Bian yang langsung meloncat ke arah kasur dan mengambil botol susunya.  Sabian memang masih meminum memakai botol, apalagi mau tidur, namun tidak terlalu sering.  Cyn tertawa mendengar jawaban anaknya itu. "Kamu jangan cepet - cepet ah gedenya,"  "kecil terus aja lucu tau." Ucap Cyn.  Sabian melepas botolnya menatap Cyn dan menjawab. " Biar bisa jaga Mama terus, kalau ada yang buat Mama nangis aku samperin nanti, aku marahin balik." Lalu kembali meminum susunya.  Cyn hanya mematung diam.  "Apa selama ini anaknya tau kalau ia masih diam - diam menangis?" Tanya Cyn dalam hati.  Cyn tidak menjawab perkataan anaknya itu. Ia hanya duduk diam di pinggir kasur dan mengelus kepala anaknya.  Melihat Sabian sudah pulas lalu Cyn berdiri dan mencium kepala anaknya, meninggalkan Sabian menuju ke arah Xenna.  Xenna menengok ke arah tangga karna merasa Cyn sudah turun, lalu ia menaruh ponsel disampingnya.  "Cepet juga anak lu tidur."  "Ngga, itu karna matanya aja uda capek nonton dari tadi," Mengangkat bahunya.  Mereka duduk di sofa berbeda, jadi lebih jelas melihat wajah satu sama lain.  "Xen." "Ha." "Tadi Hendro nge-chat mau ketemu gue sama Bian." "Terus?"  "Gue iyain ya... karna gue gaboleh egois sama anak gue."  "Terus lunya gimana?"  "i mean buat ketemu sama dia?"  "Gatau, gue takut tapi mau coba. Gabisa terus-terusan gue kayak ginikan," "kapan bahagianya," Cyn mengusap rambutnya ke belakang.  Xenna mengelus perut buncitnya itu lalu menatap Cyn. "Percaya sama gue. Kalo lu ikhlas, Tuhan yang kerja untuk semua rasa sakit lu." "Gue cuma gamau keliatan jadi cewek gimana gitu,"  "maksud gue yang keliatan ngenes banget di karna ditinggal dia."  Cyn melipat tangannya depan dada."Walaupun gue sakit hati tapi tetep harga diri yang utama."  "Hahahaha." Xenna tertawa lepas sekaligus senang melihat sahabatnya ini uda mulai enjoy dengan sakit hatinya.  "Nah gitu dong, sakit hati boleh tapi otak juga dipake." Xenna menanggapi gurauan Cyn.  "Ketemuan di mana lu?" Tanya Xenna. "Di toko kita."  "Ck, gamodal."  "Apanya?" Tanya Cyn heran. "Ajak kek dinner bintang delapan."  "Lima! gausa banyak-banyak pake lapan segala."  "yakan ini bukan romantisan antara gue ya." Lanjut Cyn.  "Lagian mau di samperin gue sama istrinya." Cyn memutar bola matany.  "Caila jealous kali." Goda Xenna.  "Lu pulang gih, tuh pintunya sebelah sana," Cyn membuka telapaknua dan mengarahkan ke pintu luar." "Ngapain juga jealous kan uda ada boss montir."  Cyn mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Xenna, lalu is tersadar apa yang Xenna maksud. "Untung gue ga lempar ni piring ke lu ya," Cyn menunjuk piring berisi buah di meja.  "Yakan juga uda sering bareng." Lanjut Xenna.  "Kasih gue bukti dengan kata sering lu itu cepet!"  "Kan lu suka tu yang badannya L-men gitu. Nah cocok itu sama boss montir."  "lu stop ya." Cyn jujur capek.  "Dia juga lebih ko dari Hendro,"  "percaya sama gue. Yang lu liat kemaren cuma 25% hartanya." Lanjut Xenna.  Ya Xenna tahu Cyn dan Gio ketemu ya sudah pasti Cynlah yang menceritakan kepada sahabat stressnya itu, kalau sampai anak itu ketinggalan info, habislah rowayatnya.  "Badan approved, dompet approved, tampang jangan ditanya,"  "apalagi ya?" Xenna menaruh telunjuknya di dagu sambil mengetuknya.  "Oh tinggal Mami Papi!" Seru Xenna kepada Cyn. "Aduh gimana ya gue bilangnya, uda gasanggup lagi." Batin Cyn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN