7. Cyn. you okay?

1239 Kata
Hari ini ia dan Hendro sudah janji akan bertemu. Cyn datang lebih dahulu dari Hendro ke kafenya karna perlu mengurus keperluan stock bahan. Sabian sedang menonton youtube di ipad ibunya dengan donat manis ditangannya.  Cyn menghelas napas.  Jujur dirinya gugup bertemu kembali dengan Hendro dan sedikit nyeri di hatinya, tapi its oke.  melihat jam Gc guess colection di pergelangan tangannya menujukkan pukul setengan empat sore. Sebentar lagi Hendro akan tiba, cukup lama mengenal Hendro, Cyn tahu mantan suaminya itu orang yang tepat waktu. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat terlihat seseorang mempunyai integritas.  "Ma aku mau cokelat boleh?" Bian menengok ke arah ibunya sambil memangku ipad.  "Kenapa makan manis mulu sayang?"  "Makan nasi ya? Abang lagi mau makan apa kira-kira?" Cyn mencoba memancing pertanyaan agar mengalihkan dari minuman manis itu.  Anak itu, Sabian, meletakkan ipad ke sampingnya dan melipat tangannya di depan d**a sambil cemberut.  Cyn menghela napas dan mencoba memberi pengertian. "Kenapa ini mulutnya cemberut hm?" Tanya Cyn yang menghampiri Bian di sofa sebrang.  "Hey." Telunjuk Cyn mencolek bibir anaknya itu.  "Aku mau cokelat Ma."  "Tapi Abang belum makan, tadi dirumah katanya mau makan disini aja." Mengelus rambut anaknya.  "Iya makan disini. cokelat."  "Sushi kayaknya enak ni bang. iya ga?" Pancing Cyn kembali.  Anaknya tetap menggeleng nolak.  Cyn tidak tahu kenapa Sabian jadi susah dialihkan pikirannya.  Cyn akhirnya menyerah. "Oke. Makan dulu ya tapi."  "Gak."  Cyn kaget karna kenapa tumben sekali anak itu menolak, biasanya jika diimingkan memakan nasi dulu baru yang ia mau, Bian akan menerima dengan senang hati.  "Nak... Nanti tubuh kamu sakit loh, ini perutnya," sambil mengelus perut Sabian, "belum di kasih makan tentaranya."  Sabian tetap bergeming. Saat akan membujuk kembali anaknya itu, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, menampilkan salah satu karyawannya. "Bu maaf gangu, di depan ada Bapak Hendro lagi cari ibu." Kepalanya medongak ke arah luar.  "Iya tolong bilang dikit lagi saya keluar."  "Oke Bu, permisi." "iya."  "Nak mau ketemu Papa? itu ada diluar." Cyn menatap wajah anaknya itu, Cyn tahu bahwa Sabian masih bete perihal cokelat. "Yuk temuin dulu, Abang kangenkan?" Lanjut Cyn. Akhirnya anaknya itu mengangguk dan menerima uluran tangan Cyn. Mereka berdua berjalan keluar ruangan untuk menemui Hendro.  Hendro yang melihat Cyn dan anaknya dari tempat duduknya melambaikan tangan dengan antusias.  “Hai anak Papa? kenapa mukanya hm? cemberut gini.” Mengambil tangan Sabian dan mengajak duduk disebelahnya.  “Papa kemana aja?” Tanya Bian menatap wajah ayahnya dari samping.  Cyn yang mendengar hal itu hatinya nyeri. Hendro menengok ke arah Cyn, melihat wanita itu sedih ia langsung mengalihkan tatapannya ke Bian.  “Papa ada urusan Nak. Kamu mau ngertikan?” Sambil mengelus rambut anaknya. “Abang uda makan belum?”  Bian menggeleng sambil cemberut. Hendro bertanya lewat tatapannya ke arah Cyn.  “Abang mau minum cokelat tapi gamau makan nasi dulu,”  “dari tadi ngambekin cokelat.” Lanjut Cyn.  “Makan dulu mau ya Abang? Nanti abis ini kita minum cokelat bareng.” Bujuk Hendro.  Mereka berdua memang pecinta cokelat, entah Cyn harus senang atau sedih mendengarnya.  Akhirnya Sabian mau makan setelah beberapa kali dibujuk oleh Hendro. Duduk disamping Hendro dengan lahap dan ipad di depannya.  Cyn males dengan situasi yang seperti ini. Menyender di sofa lalu melipat kedua tangannya.  “Kamu mau bicara apa Mas?” Melihat ke arah Sabian yang masih fokus dengan makanan dan ipadnya.  “Kamu lihat kan?” Tanya Hendro.  Cyn yang disebrang Hendro hanya mengangkat alisnya sebagai respon. What?  “Kamu susah ngebujuk dia buat makan. Aku cuma mau bilang, ayo bagi waktu Sabian,”  “waktu di kamu dan di aku.”  “Maksud kamu apa?” Cyn ingin diperjelas. “Aku mau waktu Sabian juga sama aku dan Hanifa. Biar dia kenal siapa Ibu keduanya.”  Cyn yang mendengar hal itu marah, tentu saja. Cyn adalah ibu satu-satunya Sabian, ia tidak rela membaginya dengan siapapun.  “Gila ya Mas?” Ia mencoba mengatur napasnya.  “Sabian anakku dan Hanifa juga.”   “Mau kalian tuh apa sih? Kenapa selalu menyakitiku.” Dengan mata berkaca-kaca  “Cynnie.” Panggil Hendro Cyn membuang muka dan mengelap air matanya yang jatuh.  “Mas cuma mau bagi waktu Sabian bukan mengambil Sabian.” Lanjut Hendro.  “Oke, aku cuma memberi waktu siang sampai sore setiap kamu mau bertemu Sabian dan gaboleh lebih dari dua kali seminggu.” “Gak bisa.” Hendro menyanggah.  “Kenapa? Aku mau Sabian bagi waktu tapi seperti itu, dia masih kecil Mas.”  “Kenapa kamu jadi egois begini?”  “Aku? egois? kamu gasalah?” Cyn dengan nada mengejek.  “Dari awal mula masalah ini tuh kamu! kamu yang egois.” Cyn mencoba sesantai mungkin nada suaranya.  Kenapa dirinya yang menjadi egois? padahal dia meninggalkan keluarga dan menjalin hubungan dibelakang saja sudah egois. Aneh. Batin Cyn.  Hendro sadar dirinya egois. Entahlah ia masi ingin berdekat dengan anaknya itu atau mungkin ibunya?  Cyn ingin sekali mendebatnya, tetapi ada makhluk kecil yang harus ia amankan.  “Abang, mau minum cokelat di ruangan Mama?”  “Mama perlu bicara sama Papa. ya?”  Sabian mengalihkan tatapannya dari ipad dan mengangguk. Cyn berdiri dan langsung menggandeng Sabian ke arah ruangannya. Cyn memberi tahu karyawannya membuatkan cokelat untuk anaknya dan langsung saja diantar keruangannya.  “Bang, Mama tinggal ya gapapa?”  “Kalau Abang butuh apapun, kasi tahu Mama. Mama ada diluar lagi ngobrol oke.”  Sabian hanya mengangguk dan membuka kembali ipadnya.  Hendro menyisir rambutnya kebelakang, mengetahui situasi ini semakin berat. Ia tahu Cyn orangnya tidak tega, tetapi sekarang demi anaknya Cyn akan melakukam segala cara.  Cyn keluar dari ruangannya dan Hendro melihat itu, wanita dewasa yang sangat cantik.  “Oke. Kamu bole bertemu dengan Sabian dua kali seminggu dan itu juga siang sampai sore.” Final Cyn.  “Aku tahu kamu sakit hati karna perbuatanku, tapi please jangan bikin jauh aku dari anakku.”  Cyn benar-benar tidak habis pikir. Hendro menganggap Cyn membalas dendam memakai anak mereka? “Kamu yang menjauhkan diri dari anakmu.”  “Buat apa kamu memikirkan anakmu? dari awal kelakuan busukmu juga tidak memikirkan dia kan?”  Cyn berdecih.  “Cyn.” Hendro memanggil dengan suara lembut.  “Aku meminta maaf atas semua kesalahanku. membuat kamu sakit hati,”  “mari kita berdamai.”   Bukannya senang Cyn malah menyerit dalam hati. “Cyn jangan karna sakit hatimu, jadi menutup semua mata hatimu. Cukup salahkan aku jangan limpahkan ke Sabian.”  “Dia juga butuh papahnya.”  Kan! manipulatif  “Justru karna kamu yang salah aku takut anakku ikut kelakuan papahnya.”  “Mana mungkin.” Hendro menyerit heran. “Gini Mas, Sabian lagu masa pertumbunan. Diumur sekaranga adalah masa emasnya. Aku takut pertumbuhan dia terganggu karna harus memahami apa yang belum ia pahami.”  Hendro dia mendengarkan.  Cyn mengangkat alisnya.”Bukannya kamu sudah mempunyai anak lagi? Gausah lah repot-repot mengurusi anakku.” Sambil mengangkat tangannya ala membuang angin.  Hendro berang. “Dia juga anakku!”  “Anak yang kau sakiti maksudnya?”  Hendro berdecih. “Tidak salah aku meninggalkan mu.”  Cyn bergetar mendengarnya. Hatinya sakit sekali, matanya merah berkaca-kaca. Lalu tertawa mengakitkan. “Ya memang aku tidak cocok dengan seekor lintah.”  Cyn lalu berdiri dengan tubuh lemas, ia bertumpu pada sofa untuk membantunya berjalan. Gendro benar-benar jahat.  Ia mau kebelakang pergi meninggalkan Hendro dan mengambil minum untuk menenangkannya.  Saat berjalan, dirinya di tepuk pelan pada pundaknya.  “Cyn. you okay?” Tanya seseorang menepuk pundanya.  “Mata kamu merah.” Gio dengan tatapan empatinya.  Ya, yang menepuk pundak Cyn adalah Gio. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN