"Gio? Kamu disini?" Tanya Cyn dengan mata merahnya.
"Iya, abis mesen kue buat dikirim nih,"
"hm kamu mau minum? atau mau sendiri aja biar bisa saya tinggal."
Cyn melihat keberadaan Hendro dibelakang, ternyata lelaki itu sudah mau meninggalkan tempat ini. Cyn menghela napasnya seraya menutup mata.
Gio yang melihat itu mengikuti arah pandang Cyn, sepertinya Cyn habis berdebat serius dengan orang tadi.
"Mas, boleh minta temani saya duduk?" Pinta Cyn menatap mata Gio.
"Kenapa tidak? yuk." Sambil menuju meja paling pojok.
Cyn sudah memberitahu karyawannya membuatkan minum untuk mereka berdua.
Hendro tidak akan ikut campur dengan wanita yang ada didepannya ini, sekarang tugas dia hanya menemani atau lebih menolong saja? sesama manusia. Itulah pikiran Gio.
"Tumapahin saja semuanya kalau kamu tidak kuat." Gio sangat tidak tega melihat wanita didepannya ini menahan nangis.
Cyn tersenyum dan hanya mengangguk. "Menurutmu apa salah kalau aku hanya mempertahankan anakku untuk selalu disampingku?"
Gio menyerit heran. Ia masih belum paham dengan konteks pembicaraan.
"Mantan suami saya ingin saya memberikan waktu untuk Sabian dan dia,"
"saya akan memberikannya, serius. Namun dia meminta waktu Sabian lebih dari apa yang saya bayangin. Bian itu lagi masa pertumbuhan."
"Saya gamau dia harus memahami apa yang belum siap ia pahami."
Cyn membuang wajahnya kesamping.
"Dan saya juga belum siap jika Bian memanggil mama ke orang lain. Itu yang paling menyakitkan." Dengan suara lirih.
Gio terkejut. Jadi, selama ini Cyn dan Sabian pergi tanpa seseorang yang harusnya bersama mereka bukan karna kesibukkan? tetapi memang sudah tidak bersama? Gio sepertinya mulai paham.
Gio mengangguk paham.
"Jadi kamu sedih karna cemburu akan waktu dan mama baru Sabian?" Tanya Gio hati-hati.
"Jika yang kamu maksud dengan peran mama. Ya, saya cemburu. Bukan cemburu karna ia istri baru mantan saya."
"Saya yakin kamu sudah berpikir banyak di kepala kamu itu dan tau mana yang terbaik untuk kalian,"
"Saya bisa jadi pendengar yang baik jika kamu butuh. im all ears okey?" Gio dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih."
Cyn meminum minuman yang baru disediakan oleh karyawannya untuk mereka berdua.
"Dan jika kamu perlu bertukar pikiran atau suntuk untuk kepala kamu, saya ada waktu,"
"No, ini sama sekali ga kode ataupun modus. Murni ajakan seorang teman." Gio buru-buru klarifikasi agar tidak dicap lelaki "ngambil kesempatan."
Cyn terkekeh melihatnya. Ia sama sekali berpikir bahwa Gio sedang modus dan pasti kalian wanita bisa merasakan mana yang pure menolong dan modus.
Mereka berbicara cukup banyak dan Gio baru tahu bahwa kafe ini milik Xenna dan Cyn. Dirinya tahu bahwa mereka berdua memiliki kafe, tapi tidak menyangka kafe yang sering ia kunjungi untuk hadiah kiriman adalah milik mereka.
Sabian tenang di dalam ruangan Cyn karna anak itu perutnua sudah kenyang dan megang ipad sesukanya. Hal genting seperti tadi cukup menolong. Namun Cyn tetap saja khawatir dengan anaknya itu.
"Sudah jam segini, pulang mau saya antar?" Tanya Gio sambil melihat jam tangan Hublot classic di pergelangan tangannya itu.
Cyn melihat keluar memang sudah gelap. Hari ini terasa berat dan panjang. Ya mau gimana lagi, gapapa istirahat dulu, besok lagi mikirnya.
"Tidak usah merepotkan." Tolak Cyn karna tidak enak.
"Kitakan sudah berteman bukan? atau kamu bawa mobil?"
Cyn menggeleng. "Saya kesini tadi pakai taxi. Sebenarnya antisipasi karna takut pikiran lagi mumet, plus bawa Sabian."
"Yuk gapapa, kasian juga Sabian kalau naik taxi online sudah mau gelap juga." Kepalanya menunjuk keluar jendela.
Cyn terlihat berpikir.
"Sungguh sama sekali tidak merepotkan. Kenapa sih? di kepala kamu berisik ya?" Tanya Gio.
Cyn tersenyum dan akhirnya menyetujui ajakan Gio.
"Oke sebentar ya, saya ambil barang sama jemput Bian dulu."
"iya tak apa."
Cyn berjalan ke arah ruangannya. Jika dipikir lagi Gio bukan orang yang cuek dan irit bicara, bahkan tadi bicara banyakan dia. Mungkin itu saat mereka batu bertemu saja.
Sesampainya diruangan Cyn melihat anaknya itu sedang menonton unyil. Cyn sudah men-setting ipad itu untuk konten anak kecil.
"Bang, pulang yuk." Ajak Cyn mengelus rambut Bian.
Bian membuang ipadnya itu kesamping dan membuka tangannya lebar lalu menguap. "Yuk ma." Ajak Sabian yang sudah kelelahan.
"Maaf ya, capek ga nunggunya?"
"Sedikit." Hampir menyatukan jari telunjuk dan jempolnya mencontoh ukuran.
"Hahaha... Mama sayang kamu Bang."
"Abang juga."
"Jangan tinggalin Mama ya?"
"Tidak akan." Lalu Sabian memeluk leher Mamanya dan Cyn mengelap sudut kedua matanya.
Gio melihat anak dan ibu itu bergandengan tangan keluar dari ruangan. Orang yang melihat mereka berdua pasti akan berpikir lelaki beruntung mana yang mendapat dua malaikat itu. Namun ternyata dua malaikat itu sudah rusak sayapnya dan berusaha memperbaikinya agar mereka bisa terbang kembali.
"Om Gio?" Tanya Sabian
"Halo. Om lama gaketemu Bian."
"Aku juga. Om ngapain disini?"
"Om abis beli kue untuk Ibu om."
Sabian mengangguk. Lalu mendongak pada ibunya "Yuk ma pulang."
"Kita pulang bareng om Gio Bang."
Sabian menengok pada Gio lalu menaikkan alisnya yang dibalas anggukan oleh Gio.
Mereka bertiga jalan menuju mobil Lexus Rx 350 milik Gio.
Gio membuka pintu belakang untujk si kecil Sabian dan memasangkannya seat belt. "Nyaman ga kamu?" Tanya Gio agar ia bisa mengatur tempat duduk untuk Bian.
"Iya nyaman Om." Sabian sambil memberikan jempolnya pasa Gio yang terkekeh melihatnya.
Cyn yang melihat itu dari belakang Gio tersenyum hangat, ia tidak tahu tapi rasanya ingin sekali berterimakasih.
Saat Gio memundurkan dirinya ia hampir saja menambrak Cyn karna wanita itu sedikit tidak fokus.
"Kenapa? hm?" Tanya Gio setelah menutup pintu mobil.
"Tidak."
Yang dijawab anggukan oleh Gio.
Mereka bertiga menuju arah pulang. Sesekali Sabian berceloteh tentang apapun yang ia lihat, memang seumurannya sedang kepo-keponya. Tapi kali ini Cyn tidak menanggapi celoteh Bian itu sendirian, namun juga Gio membantunya menjelaskan dan memberi Bian pengertian.
"Om kenapa itu ada anak dan ibu dipiggir jalan?"
"Mereka minta uang? tadi ada yang memberinya uang." Mereka sempat berenti di lampu merah.
Gio dan Cyn yang mendengar itu menengok untuk melihat yang Bian tanyain, lalu melihat ke arah spion tengah, Bian masih memandangi dua orang itu.
"Mereka kekurangan makan dan tidak memiliki pekerjaan untuk beli makanan Bang." Gio sudah mengganti panggilannya untuk Bian karna disuruh oleh Cyn agar lebih terdengar akrab saat berbicara.
"Kenapa mereka tidak meminta pada kakek nenek mereka?"
"Mungkin kakek nenek mereka sama seperti mereka. Jadi yang mungkin mereka lakukan sekarang untuk makan hari ini."
"Jadi Abang harus belajar yang benar ya." Menengok kebelakang arah Bian.
"Agar tidak seperi mereka?" Tanya Bian mengerutkan kening.
"No, agar bisa membantu mereka." Sambil tersenyum.
"Abang hari ini sudah makan banyak plus cokelat sampai penuh perutnya, mereka belum tentu Bang. Jadi Mama minta jangan buang makanan ya."