Gio tersenyum melihat interaksi mereka.
"Kalian ada yang mau makan dulu gak?" Tanya Gio kepada Cyn dan Bian.
"Mau!" Saut sabian semangat.
Baru saja Cyn ini menolak tetapi sudah diserobot oleh bocah itu.
Gio yang mendenger suara itu langsung menengok ke arah spion tengah melihat Bian dan terkekeh.
Cyn meringis tidak enak.
"Maaf merepotkan."
Gio menengok mendengar suara Cyn dan mengangkat alisnya. "Tidak sama sekali Cyn." Jawab Gio lembut.
Cyn tersenyum mendengarnya.Ia sedikit gugup kalau Gio sudah seperti ini. Kini dirinya tengah mengigit bibir bawahnya agar tidak memeberi respon yang berlebihan.
"Abang emang mau makan apa kira-kira?" Pancing Gio.
"Mau ayam!" Sabian menengok ke arah depan.
"Oke." Saut Gio.
"Oke." Yang masih dijawab oleh Sabian.
Dua orang dewasa itu terkekeh mendengarnya.
"Di rumah makan sederhana aja gimana?" Gio merekomendasikan makanan padang itu.
"Boleh juga."
"Kamu kenapa masi pendiem?"
"Hah?" Jawab Cyb bingung.
"Apa masih kepikiran yang tadi?"
"Oh ngga kok. Mungkin emang energiku habis gara-gara kejadian tadi." Cyn melihat kesamping karna Gio sedang menatapnya.
Gio sedang meneliti wajah Cyn, seperti memang kecapean saja. Mereka berdua bertatapan tidak sampai dua detik langsung salah tingkah, dengan Cyn yang mengcengkram tas torry burch-nya dan Gio yang mengetuk kemudi mobilnya.
Gio membelokkan mobilnya ke rumah masakan padang itu. Mereka turun dengan Sabian yang ada di gendongan Gio karna malam ini rumah makan itu cukup ramai, dengan kondisi parkiran besar yang cukup gelap.
Gio yang menggendong Sabian menengok kebelakang. "Jangan jalan dibelakang ntar kamu ilang." Kepalanya sambil menyuruh agar jalan disampingnya.
Dipikir gue bocah kali ya, akhirnya Cyn berjalan disamping Gio dengan muka cemberut.
Gio yang melihat itu terkekeh dan Cyn mendengarnyapun menoleh. "Kenapa?" Tanya Cyn.
"Ngga, ini si Bian." Alibi Gio.
Cyn menengok ke arah Bian yang sedang memeluk leher Gio dan meletakkan kepalanya di bahu Gio.
"Anak Mama kenapa lemes banget Nak?" Tanya Cyn.
Sabian merespon dengan gelengan kepala. Cyn mengangguk dan mengelus kepala Bian.
Setelah mereka mendapatkan meja, Gio meletakkan Sabian di samping duduk Cyn.
"Ma." Panggil Sabian ke samping.
"Iya Nak?"
"Kenapa Papa gaikut kita makan dan pulang?"
Cyn kaget, selama ini ia selalu mengatakan kalau Hendro sibuk karna kerjaannya. Gio yang melihat itu bingung harus seperti apa karena dirinya tidak mau terlalu ikut campur.
"Hm... Papa ada urusan lain Nak." Sabian yang sudah menganguk hanya mengangguk saja.
Gio dan Cyn mengobrol banyak. Saat makanan mereka datang tersaji belasan lauk didepan mereka.
Cyn menaruh potangan ayam di piri Sabian dan melihat Gio ingin mengambil rendang langsung dibantu oleh Cyn ke dalam piringnya.
"Kamu suka rendang banget ya?" Cyn melihat sudah ketiga kalinya makanan itu masuk ke piring Gio.
"Iya suka banget, udah dua minggu ga makan rendang."
"Kenapa?"
"Lagi ngurangin aja."
"Takut kolestrol ya?" Goda Cyn.
"Iya, kan biar jaga-jaga juga."
Cyn yang niatnya hanya bercanda kaget juga mengetahui candaannya benar.
"Dulu saya pasti makan tuh, suka banget sama masakan padang, tapi akhir-akhir ini dikurangin aja."
"Sadar umurnya." Canda Cyn.
"Iya dan harus ada yang di jaga juga sekarang." Jawab Gio tenang dan kembali melanjutkan makannya.
Tapi Cyn yakin, tadi saat Gio berbicara seperti itu ia melihat ke arah mata Cyn dan Sabian. Bukannya mau geer, namun entahlah. Dirinya masih mau memprioritaskan Bian dan takut untuk memulai.
menurut Cyn, Gio ini supel dan tahun kondisi. Ia akan bisa membaca suasana. Seperti tadi di kafe, ia tak langsung ikut campur walaupun untuk menenangkannya karna ia tahu ada urusan dirinya dengan Hendro.
Setelah makan, Gio lanjut mengantarkan mereka ke rumah dengan Bian yang tertidur di kursi belakang, seperti sudah kekenyangan dengan dua ayam goreng dan sedikit nasi di perut mungilnya itu.
Malam ini juga sudah turun hujan, banyak pengendara motor pada menemi ke toko, kebanyakan mereka yang tidak membawa jas hujan.
Gio juga masih sering memakai motor, namun kenap akhir-akhir ini selalu pakai mobil. Contohnya seperti sekarang, dirinya tidak langsung bertemu di Cyn di kafe wanita itu juga pula.
Mobil Gio suda didepan rumah Cyn.
"Hm.. makasih banyak ya Mas, kamu mau aja direpotin gini."
"Kenapa si kamu selalu ngeluarin kata repot? Saya sama sekali ga keberatan kok." Jawab Gio melihat wanita di sampingnya itu.
Cyn melihat ke arah luar, karna hujannha lumayan lebat. Gio yang melihat itu berinisiatif mengambil payung di bawah jok kursi Sabian.
"Kamu tunggu sini, saya ke Sabian dulu." Gio keluar mobil setelah mendapatkan payungnya dan memutari Mobil ke pintu Sabian.
Gio membuka pintu Sabian dan mencoba mengangkat Bian dengan satu tangan karna satu tangannya lagi sedang memegang payung.
Cyn yang memutar tubuhnya ke arah Bian dan Gio bertanya "Kamu bisa Mas?"
"Bisa kok ini."
Sabian berhasil diangkat ke gendongan Gio dengan satu tangan ajaibnya, enatah gimana ia melakukannya. Gio berpindah ke depan untuk menjemput Cyn.
Cyn yang melihat itu langsung membuka pintu mobil dan Gio bergerak maju agar Cyn tidak terkena air hujan. Cyn yang terburu-buru masuk ke dalam payung untuk menutup pintu mobil tidak menyadari dirinya dan Gio dalam keadaan yang snagat dekat.
Dirinya memegang tangan Gio sedang membawa payung.
"Eh..." Kaget Cyn melihat Gio.
"Saya aja Mas yang bawa payungnya, kamu gendong Bian." Cyn melihat tubuh Gio terkena tetesan air karna mencondongkan payung ke arahnya.
"Kamunya basah gitu jadinya." Cyn menunjuk dengan dagunya.
Garasi Cyn sudah penuh dengan mobil miliknya dan mobil papinya, jadi mobil Gio hanya bisa berhenti di luar pagar.
Gio melihat ke arah bahu yang tidak ditiduri oleh Bian. "Gapapakan abis ini pulang."
Mereka bertiga sangat dekat karna memabg dibawah payung yang sama.
Cyn memegang payungnya hati-hati. Mereka berjalan ke arah pintu.
"Sstt..."
Cyn menengok ke arah Gio yanag sedang menenangkan Bian. "Sebentar ya Nak." Ucap Cyn hampir tiba.
"Akhirnya," Cyn melihat celana dan baju Gio sebelah lumayan basah dan meringis lucu. "Kan basah banyak."
Gio yang memberika Bian ke gendongan Cyn. "Sekalian pulang ini mandi," mengangkat bahunya.
"Saya langsung pulang aja deh uda malem," sambil mengelus punggung Bian yang sedikit terusik suara hujan.
"Iya Mas, makasih banyak udah dianterin sama ditraktir loh."
"Iya santai,"
"saya duluan ya Cyn."
"Iya Mas, hati-hati loh lagi ujan gini, licin." Cyn memperingatkan.
"Hahah iya, kamu juga langsung bersih-bersih sama Bian."
Cyn tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa sekarang setiap ada bad day selalu ada Gio, berawal dari mobilnya masuk ke parit. Mungkin Tuhan tahu dirinya membutuhkan teman. Lo sih sibuk mulu Xen, gue di kasih temen yang laenkan!
Sesudah membersihkan anaknya, sekarang ia yang akan membersihkan diri. Anaknya sama sekali tidak terganggu tidurnya saat ia mengelap tubuhnya, capek banget ya Nak kamu.
Cyn bersandar di kepala kasur, ia berpikir tentang kejadian tadi sore saat bertemu Hendro.
"Hahaha... kenapa kamu sekarang ngomongnya kabar banget ya Mas?"
"Apa gabisa kita jadi orangtua yang baik? Aku its oke banget kalo jadi pasangan yang gagal, tapi kalau orangtua yang gagal aku sakit banget Mas hatinya."
Ucap Cyn lirih.
drrt...
Telponnya yang sedang mode diam itu berbunyi.
Cyn mengambil telponnya karna menampilkan nama Xena disana. Seringkali Cyn mau cerita apa yang sudah dialaminya selama ini, namun ia takut dikasih tatapan kasihan.
Cynnie
tbtb bgt u ngasitau
Xena brisik
iya udah ikut
gue tau lu gakemana-mana
Cynnie
soktau
Xena brisik
ih cpt hrs ikut.
Cynnie
ada apaansih tbtb bgt
Xena brisik
acara temen2nya ridho
tp gapapa mereka bnyak yang bawa kluarga
Cynnie
heh lu stress ya
gue bkn siapa2 juga
Xena brisik
org disuruh laki gue sendiri
dah ya lusa
bye
ntar gue kabarin
iya sama-sama ah gausa malu
Cynnie
LO STRESS YA ASLI GUE PUKUL