Xena mengatakan mereka pergi dari pagi hingga malam hari. Namun pagi harinya ada pertemuan teman-teman Ridho, barulah siang mereka masuk ke safari.
"Anggep aja ini hari buat ganti bad day lo kemaren! " Ucap Xena saat ditelpon kemarin.
"Ya walaupun ga bad bad banget si, orang ketemu Gio."
"Wah uda stress ni anak." Sahut Cyn.
"Haahhaha... "
Cyn menelpon Xena menanyakan tentang acara safari itu dan sedikit colongan curhat mengenai pertemuan dirinya dengan sang mantan.
Cyn tahu Xena yang orangnya usil dan ceplas-ceplos hanya mau menghibur dirinya, Xena itu menutup sifat pedulinya dengan keusilannya.
Cyn belum mengatakan ke orangtuanya bahwa kemarin ia bertemu dengan Hendro, apalagi berakhir tidak mengenakan. Ia takut keadaan tambah memanas, ya sebenarnya orangtuanya juga malas berurusan. Namun sang Papi seseorang yang sekalinya marah wah gue rasa Hendro juga gabisa tenang kalo Papi tahu anaknya disakitin terus-terusan.
"Maa... " Pangil Bian dari bawah karna melihat Cyn turun.
"Kenapa Bang?" Mendekat ke arah Bian.
"Mau es."
"Kamu sudah makan belum si Bang?"
"Sudah! Sama ibu,"
"pake telur puyuh dan sayur." Mencoba meyakinkan Cyn karna mamanya itu tidak merespon.
"Tunggu sebentar." Cyn berjalan ke arah kulkas dan mengambil es lilin. Cyn suka membuat berbagai jus, bahkan bubur kacang ijo, lalu dimasukkam ke dalam plastik panjang es lilin dan dibiarkan hingga membeku. Lumayan cemilan tapi tetap sehat, menurut Cyn.
Lagu cocomelon memenuhi ruangan ini. Zaman sekarang memang mengakses apapun akan lebih mudah, mulai dari makanan mentah atau mateng, alat-alat, atau bahkan shopping mall.
Cyn mengecup kepala anaknya itu lalu memberikan es lilin kepada anaknya. "Nak kalau matanya sudah ngantuk atau capek bilang ya."
Direspon anggukan oleh anaknya itu.
Sabian ditemani oleh Ibu Rita yang sedang melipat pakaian sehabis dijemur. Cyn akan melanjutkan membaca buku dikamarnya.
Saat melihat telponnya di nakas meja samping kasur terdapat missed call dari Gio. Cyn sudah menyimpan nomor itu dari Xena karna ini mentraktir lelaki itu hingga pertemuan tidak sengaja di mall.
Akhirnya Cyn memutuskan menelpon balik ke lelaki itu.
Tidak sampai lima detik panggilannya sudah diangkat.
"Ya halo." Suara Gio di sebrang sana.
"Ini Cyn, kenapa ya Mas tadi telpon saya."
"Iya saya tahu kamu Cyn. Saya dapet kabar kalau kamu ikut juga ya ke safari?"
"Iya Mas, Loh kamu pasti ikut juga ya Mas."
"Iya saya dikabarin sama Ridho, katanya kamu bareng saya."
"Hah." Fix banget nih gue dikerjain itu pasutri?
Tidak lama ada notif dari Xena.
Xena brisik
Bebeb kamu sama Gio kan ya perginya
"Wah sarap ni orang."
"Hah gimana Cyn?" Sahut Gio di sebrang sana.
"Nggak, itu ada belalang sembah." Cyn tahu di sebrang sana Gio menganggapnya tidak jelas. Cyn pokonya sekarang mau marah banget.
"Mas nanti saya kabarin ya, soalnya ini saya lagi ngurus kafe sebentar boleh?" Ya ini memang alibi Cyn karna dirinya mau marah-marah dulu sama belalang sembah itu.
"Boleh, oke nanti kabarin aja gimana-gimananya ya."
"Iya Mas, makasih banyak."
"Iya." Balik lagi cueknya ini orang, Batin Cyn.
Tapi sekarang ada yang lebih penting lagi.
Cyn menelpon Xena dan siap menyemburnya dengan segala kata-kata lembutnya.
Cyn mengerutkan keningnya kesal karna telponnya ditolak oleh Xena.
Cynnie
ANGKAT GAK TELPON GUE SKRG
Xena brisik
Gue lagi mau nidurin anak gue
Cynnie
BOHONG
Xena brisik
EMG!
Cyn menganga, sepertinya dirinya harus membeli stok kesabaran sekarang menghadapi sahabatnya itu.
Akhirnya belalang sembah itu menelpon balik Cyn, pasti Xena tau sekarang dirinya sedang mencak-mencak. Cyn langsung menekan tombol hijau dan
"HAHAHA."
"Gausa haha ya."
"Sumpah tapi ini emang ga disengaja."
Cyn tidak merespon. Xena tahu dirinya keterlaluan bercandanya.
"Aduh sayang gue marah ni,"
"gini ya cantik mamanya Sabian, ini tuh beneran ga disengaja."
Cyn sedang me-loude speaker sambil cemberut karna dirinya benar-benar kesal dan malu, takut Gio memang melihatnya yang ingin ikut bersamanya, padahal dirinya lah korban pasutri stress itu.
"Jadi tuh Mas Ridho ngajakkan, terus dia bilang kalau ajak lu aja sekalian liburan. Terus gak lama Gio telpon Mas Ridho katanya dia masih bingung ikut atau ga,"
"temennya Mas Ridhokan ada yang suka sama Gio, uda males dia nanggepin ini cewek."
"Nah ga sengaja Mas Ridho tuh bilang, "Cyn ikut nih bareng kita, ntar gue bilang dia deh buat ikut lu aja," gitu... "
Oh jadi dirinya buat tameng doang nih?
"Tapi salahnya gue sama Mas Ridho samasekali belum bilang sama lu."
"Oh." Direspon kecil sama Cyn.
"Cyn lu marah ya, sumpah itu gasengaja. Gue minta maaf. Niatnya emang pengen liburan doang kok."
Cyn sadar Xena tidak begitu ikut campur urusannya hanya membantu menghibur dirinya.
"Gak pokoknya gue marah ya." Cyn terkekeh kecil, dirinya sedikit membalas keusilan sahabatnya itu.
"Gapapa deh lu marah asal tetep ikut ya haha."
Kan emang bocah ga beres ini satu.
"Kirimin gue sushi hiro banyak, gue maafin." Cyn dengan mimik muka yang lucu. Seenggaknya harus ada timbal balik meredakan amarahnya bukan?
"Bilang aja lu mau meres guekan?"
"Udah cepet." Cyn langsung mematikan sambungan telpon itu. "Hahaahaha." Dirinya sangat tahu di sana Xena sedang sumpah serapah.
Cyn sedang berfikir entah anaknya yang cuek atau anaknya memang sedang memahami kondisi ibunya ini? Sabian tidak menanyain perihal Papanya itu. Bukannya sedih, tapi Cyn lebih keheran?
"Kenapa Sabian belum naik juga ya? gamau tidur apa itu anak?" Tanya Cyn berbicara sendiri.
Tiba-tiba dirinya mengingat kejadian dimana dirinya dan Hendro di kafe. "Ishh... " Memukul pelan kepalanya.
"Lupa lupa lupa plis."
Mending dirinya menemui Sabian, di suruh lupa malah tambah mengingat. Sebel.
"Abang kamu gamau tidur apa?" Tanya Cyn dari arah tangga.
"Maa... sedikit lagi." Sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.
"Sedikit apanya? Sudah jam berapa ini?"
"Kamu mau tidur ga?"
Dengan muka bete dan hampir menangis, Sabian tetap menonton dinasaurus ungu itu.
"Lihat mata kamu itu, udah capek banget. Ayo tidur dulu." Bujuk Cyn mengelus rambut anaknya.
Cyn mendekatkan mulutnya ke arah telinga Sabian.
"Mama mau kasih info loh," Lalu menjauhkan wajahnya dan menaik turunkan alisnya menggoda.
"Apa?" Sabian memegang tangan Cyn.
"Ayo sekalian bobo," melipat tangannya di d**a.
Dengan wajah cemberut akhirnya anak itu mengangguk juga.
"Heh cuci tangan sama kaki dulu baru naik kasur. Sini.” Ajak Cyn.
Cyn terkekeh melihat wajah asam anaknya itu. Selesai bersih-bersih dirinya dan Sabian langsung naik ke tempat tidur.
“Jangan ngambek mulu sayang.” Cyn mengelus kepala anaknya.
“Apa rahasianya. Sekarang kasih tahu aku.” Tagih Bian.
“Abang seneng ga kalau besok kita ke safari?” Mencium jidat anaknya.
“Ketemu macan dong!” Dengan mata berbinar.
“Iya,” Cyn mengangguk.
“Oke sekarang tutup matanya siap-siap tidur.”
Sebelum anaknya itu mengoceh lebih lama lagi.
Mungkin karna terlalu senang, respon Bian langsung menutup mata. Melihat anaknya teramat senang itu dirinya tidak tega jika harus membatalkan janjinya pada Sabian.
Mau ga mau dirinya menyetujui pergi bersama Gio. Bisa saja Cyn pergi berdua dengan Sabian, tetapi dirinya tidak bisa menjaga Bian kalau sedang memberi makan hewan nantinya.
“Kali ini rencana lu berhasil Xen. Demi anak gue.” Melihat tampang polos Sabian saat tidur.