11. Happy me(al)

1019 Kata
Gio sudah berada di halaman rumah Cyn sejak pukul enam pagi. Memang acaranya sejak pagi.  Cyn keluar dari rumah dengan menggandeng Sabian. anak itu terlihat masih mengantuk, namun tetap harus melihat hewan-hewan kesayangannya.  Gio yang melihat merekapun ikut keluar mobil untuk membantu Cyn membawa barang-barangnya. "Halo Sabian, masih ngantuk ya?" Tanya Hendro mengelus rambut Sabian. "Nggak om."  "Hahaha." Tawa Sabian dan Cyn meledak karna sudah jelas anak ini menguap menahan kantuk.  "Om gendong aja mau?" Tawar Sabian menaikkan alisnya.  Sabian memang sejujurnya masih mengantuk, namun ia tahan biar bisa melihat hewan-hewan itu.  "Kamu nyampe sini jam berapa Mas?" Tanya Cyn.  "Belum lama kok, kalian langsung keluar." Gio mengangkat Sabian untuk digendong.  Sabian langsung memeluk leher Gio dan meletakkan kepalanya di bahu Guo dengan nyaman.  Mereka bertiga keluar dari halaman rumah Cyn.  "Itu kamu bawa apa aja?"  "Penuh banget ya? Ini baju Bian sama makanan kecil buat ganjel perut." Mengankat sedikit tangannya. Gio meletakkan Sabian dikursi belakang dan memposisikan bantal kecil yang Cyn bawa untuk Sabian. Anak itu tersadar sedikit lalu kembali memejamkan matanya.  Gio dan Cyn terkekeh melihat tingkah Sabian. Selesaikan menata perlengkapan Sabian, Gio langsung membukkan pintu depan untuk Cyn. Cyn mengangkat alisnya dan tersipu. "Makasih banyak Mas."  "Sama-sama," Gio tersenyum dan menutup pintu mobilnya.  Cyn hari ini mengenakan simple dress dengan panjang semata kaki dan potongan leher rendah serta potongan tangan sesikut, press body dress itu membentuk A line.  "Kamu udah sarapan? mau drive thru aja gak?" tawar Gio menjalankan mobil itu.  Gio melihat hari ini Cyn beneran cantik dengan rambut lurusnya se punggung dan simple makeupnya.  "Nanti aja Mas sekalian di rest area aja."  Dibalas anggukan oleh Gio.  "Kamu beneran gapapa bawa saya sama Sabian?"  Menengok ke arah Gio.  Gio melihat ke arah Cyn sebentar karna harus fokus pada jalan. "Ya gapapa, emang kenapa?"  "Inikan acara kamu sama temen-temen kamu Mas." "Bukan acara formal, cuma kumpul-kumpul biasa." "Kalo... kamu ditanya ada apa-apa sama saya gimana?"  "Bukan, saya ga geer cuma takut mereka mikir macem-macem."  "Biarin aja mereka mikir macem-macem." Jawab Gio cuek.  "Hah gimana Mas?" Menoleh ke arah Gio. "Ngga," Gio menggeleng.  Selama perjalanan hanya diisi dengan musik. Mungkin karna masih pagi juga, jadi Sabian tidak terganggu tidurnya.  Gio membelokkan mobilnya ke arah resr area.  "Mbak happy mealnya satu. Kamu apa?" Gio menengok ke arah Cyn.  "Hamburger sama mcnuggetnya aja Mas."  Gio langsung berbicara ke arah monitor mcd drive thru. "Happy meal satu, hamburgers double beef dua sama mcnuggets isi delapan satu."  "Minumnya teh kotak less sugar ya dua."  "Maa..." Cyn menengok ke arah belakang. "Halo anak Mama sudah bangun."  "Pusing ga kepalanya?"  Sabian menggeleng.  "Kita da sampe?" Dengan wajah nekuknya karna bangun tidur.  "Belum, Om Gio mau sarapan dulu nih. Kamu juga sarapan dulu." Cyn menyender ke kursinya sambil menengok ke arah anaknya dibelakang.  "Kamu mau makan sendiri atau Mama suapin?"  "Sendiri." Jawab Bian lantang.  Gio yang melihatnya tersenyum.  "Makasih ya Mba." Gio kepada karyawan Mcd. "Ma.. aku mau susu." Rengek Sabian.  Cyn mengambil perlengkapan Sabian di tas samping anaknya itu, sedikit memajukan tubuhnya.  Cyn mencari-cari kenapa s**u kesukaan anaknya itu tidak ada. Cyn membuka satu-satu ruang di tas, namun tetap tidak ada.  "Mana ma?" Tagih Sabian. "Kenapa?" Tanya Gio. Cyn memundurkan tubuhnya dan duduk di tempat semula. "Mas boleh ga kita mampur ke supermarket dulu?" Cyn mengatakan tidak enak hati.  "Mau beli sesuatu?" Mencari parkiran di sekitar rest area. "Gapapa sekalian kita sarapan." Sambil memarkirkan mobilnya.  "Gaada ya ma s**u aku?" Sabian membuka seat belt-nya dan memajukan tubuhya ke depan.  "Kita beli yang baru ya Bian." Bujuk Gio. "Tuh ada di depan." Menunjuk supermarket.  "Mama lupa bawa nak, ketinggalan di kulkas. Kita beli aja ya." Menghadap belakang dan memegang kedua pipi Bian, lalu menciumnya lembut. "Maaf ya nak."  "Gapapa, kan mau beli lagi." Jawab Bian. "Pinter." Ucap Gio mengacak rambut anak kecil itu.  Jarak Cyn dan Gio sangatlah dekat, ia bisa mencium wangi Gio lebih dekat.  Jantung Cyn berdegub kencang, tubuhnya terasa kaki kalau dalam keadaan seperti ini. Ia bingung harus apa sekarang.  Cyn merasa Gio seperti tidak sengaja, gatau ini pemikirannya saja biar ga terlalu jatuh. Selama mengenal Gio, ia tahu Gio tidak pernah macam-macam selalu menjaganya, apalagi kalau sudah bersama Sabian. Gio seakan memiliki naluri seorang ayah. Dan sekarang Gio dan Sabian jalan duluan menuju supermarket, benar-benar seperti ayah dan anak. Cyn melihat mereka berdua dari belakang, dalam keadaan seperti ini yang Cyn takutkan hanya kenyamanan Sabian, Cyn takut Sabian menyender terlalu jauh ke arah Gio.  Gio dan Sabian berkeliling supermarket dan membeli cemilan kesukaan Sabian. Cyn sudah melarang Gio, namun Sabian punya trik hebat yaitu bermuka sedih ke arah Gio. Gio mana tega melihat anak lucu itu sedih.  Sabian berjalan ke arah Cyn dengan Gio dibelakangnya membawa keranjang makanan. Cyn hanya menggeleng.  "Mama mau beli apa." Tanya Sabian.  "Tissue basah." Cyn benar-benar ngambek karna Gio lebih mendengarkan Sabian daripada dirinya.  Gio yang mendengar suara jutek Cyn itupun mendekat ke arah Cyn. "Kamu kenapa Cyn?" Memastikan. "Tidak. Mas serius ini terlalu banyak." Menunjuk ke arah keranjang yang dibawa Gio.  "Kan ga dimakan sekaligus Cyn. Kita sampe malemkan?"  "Gapapa ya? sekali-kali kok." Bujuk Gio.  Mau tidak mau Cyn mengiyakan. Dirinya sudah terlalu merepotkan. Mana Gio tidak mau kalau dia yang membayar semua belanjaan anaknya itu.  Mengenal Gio, dirinya selalu merasa terbantu. Bahkan sekecil membawa belanjaan lelaki itu tidak membiarkan Cyn membawanya.  "s**u aku!" Seru Sabian setelah duduk tenang dimobil.  "Kamu makan nasinya dulu, baru susu." Jawab Cyn tegas.  Melihat Mamanya sudah tidak bisa diajak kompromi, Sabian langsung memakan happy meal yang sudah dibuka oleh Cyn.  "Mas makan dulu ya. Saya bukain gapapa?" Menoleh ke arah Gio.  "Ya boleh, tolong ya." Gio fokus menyetir.  Pagi ini tol lumayan sepi, tapi harus tetap berhati-hati. Apalgi membawa nyawa manusia yang ia jaga.  Entah untuk saat ini Gio masih terasa nyaman, atau ia belum peka? ia sendiri pun bingung mengartikan perasaannya.  Cyn menyodorkan hamburger yang sudah ia buka. "Ini Mas." Tatapan Gio masih ke arah jalan hingga tidak menyadari yang ia pegang justru tangan Cyn. Cyn dan Gio kaget dan mereka berdua menatap satu sama lain.  “Ehem... “ Gio berdehem agar tidak canggung.  “Nak, bisakan dihabiskan makanannya?” Menoleh ke belakang, menolak menatap Gio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN