Selama makan dalam perjalanan, Cyn selalu membatu Gio membukakan sesuatu. Mereka seperti keluarga jika orang tidak tahu mereka siapa.
"Bian ga rewel deh." Ujar Gio.
"Iya, kamu jajanin itu Mas. Perutnya jadi penuh."
"Gapapa, kan ga setiap hari. Nanti ikut saya pertemuan dulu ya, abis makan siang baru masuk safari."
"Kalau ga, saya sama Bian tunggu mobil aja Mas."
Gio menoleh ke arah Cyn dengan raut tidak suka. Cyn merasa tidak enak kalau harus ikut-ikutan Gio dan orang menanyai hubungan mereka. Apalagi dirinya tidak sendiri sekarang ada Bian yang sudah mulai memahami pembicaraan orang dewasa.
"Kamu ganyaman pergi sama saya?"
"Bukan." Jawab Cyn cepat, pasti Gio merasa tersinggung. "Yaudah nanti saya ikut." Pasrah Cyn.
"Maa... " Panggil Bian.
"Kenapa Bang?" Cyn memutar tubuhnya ke belakang.
Yang ditanya hanya menggeleng. Cyn mengerutkan alisnya bingung. "Kenapa? kasitahu Mama."
"Ngga, aku cuma bosen."
"Sebentar lagi ya Bian." Ucap Gio yang mendengar perkataan Sabian.
Cyn menyender dan meringis tidak enak ke arah Gio. Gio yang melihat itu tersenyum dan berkata tidak apa-apa tanpa suara.
"Emangnya Sabian mau liat apa aja nanti disana?" Pancing Gio.
"Banyak Om. Apalagi singa sama harimau."
Menurut Gio, anak seusia Sabian sudah sangat bagus dalam berbicara dan merangkai kata. Cyn juga selalu berbicara ke Bian dengan kata-kata yang jelas, mungkin itu salah satu faktor yang membuat Sabian bagus dalam berbicara.
"Tapi nanti Om mau ketemu temen Om dulu, gapapa kan?" Melihat ke spion tengah untuk melihat wajah Sabian.
"Nanti ada Rufie juga, kamu kenalkan?" Gio menambahkan.
"Kenal! Dia temanku Om." Ucap Bian semangat.
"Nanti kita ketemu Rufie dulu terus makan siang, baru ngeliat harimau. Oke?" Gio menunjukkan jempolnya ke arah Sabian.
"Oke!" Dibalas semangat mengikuti gerakan Gio.
Cyn tertawa melihat dua lelaki itu. Cyn bersyukur hari ini tidak memikirkan Hendro, walau hatinya sedikit mengganjal, namun sekarang bisa melihat Sabian senang itu sudah lebih dari cukup.
Mereka sudah memasuki safari hotel. Gio menerima telpon dari Ridho bahwa mereka sedang berada di Panda Tower. Gio sudah mengatakan bahwa dirinya dan Sabian akan menunggu di kamar Xena, lelaki itu dan Ridho akan bertemu dengan rekan yang lain, nanti kalau sudah siang baru mereka menyusul Ridho dan Gio.
"Xena udah ada di dalem Mas?" Menoleh ke Gio saat Gio sudah memarkirkan mobilnya.
"Udah, lagi nunggu kamu sama Bian." Membawa barang bawaannya.
"Yuk." Ajak Gio.
"Iya." Cyn keluar mobil langsung membuka pintu belakang mobil dan menggandeng Sabian.
"Baju jangan Mas, cemilan aja." Melihat Gio hampir membawa semua tas jinjingnya.
"Yang pink." Ucap Cyn.
Gio mengangguk dan membawa tas yang ditunjuk Cyn.
"Ayo saya anter." Ajak Gio.
"Saya udah di wa Xena kok, tau kamarnya."
"Gausah udah ayo." Tangan kanan mengangkat Tas dan tangan kiri langsung menggandeng Sabian.
Cyn menghela napasnya dan membawa tas torry burch pribadinya. Namun entah mengapa hatinya menghangat, biarlah let it flow pikirannya.
Gio memencet bell, mereka bertiga menunggu pintu nomor 302 di buka.
"Aaa akhirnya sampe juga." Ucap Xena antusias melihat Cyn di depannya.
"Halo anak ganteng. Rufie ada di dalem nak, lagi nonton dia." Sapa Xena pada Sabian.
Sabian tanpa mengucap apapun langsung menrobos masuk. Mereka semua melongo dan tertawa melihat kelakuan Sabian.
"Anak itu bahkan ga salim." Ucap Cyn melongo.
Gio terkekeh mendengarnya. "Mana Ridho?" Tanya Gio pada Xena.
"Lagi di toilet. Nah itu dia." Xena langsung menarik tangan Ridho. "Gio dah dateng tuh."
"Oi bro." Saat Gio dan Ridho berhadapan.
"Mau langsung ke sana aja deh. Bentar ambil dompet." Ucap Ridho.
"Cyn ayo masuk. Apa lu mau ikut Gio aja?" Goda Xena sambil menaikkan alisnya.
"Apasih ngaco."
"Gue sering liat lu, tapi kenapa lu masi tambah cakep aja ya." Ucap Xena jujur apalagi melihat penampilan Cyn sekarang. "Yakan yo." Tanya Xena pada Gio.
Gio menoleh ke arah Cyn. "Iya."
Cyn melotot mendengar itu dan membuang mukanya ke samping.
Xena tertawa senang melihat wajah sahabatnya salah tingkah.
"Kenapa? Ayo yo." Ajak Ridho.
"Ayo."
"Gih masuk." Mendorong pinggang Cyn lembut.
Cyn menoleh ke arah Gio hanya dibalas tatapan lembut dan arahan kepala Gio untuk menyuruhnya masuk.
Cyn mengangguk dan langsung masuk ke dalam, dirinya sudah tidak kuat berdekatan dengan Gio. Ia tidak mau melihat ke belakang.
Untung kejadian itu tidak dilihat oleh Xena, jika dilihat dirinya dipastikan jadi bahan candaan tidak ada habisnya, apalagi dirinya kaget pasti mukanya tidak dapat di tutupi. Astaga udah kayak anak ABG gue.
Melihat anaknya sudah asik dengan Rufie membicarakan kartun yang sedang mereka tonton. Xena bergabung dengan Cyn di sofa sambil mengelus perut buncitnya itu.
Ruangan itu tidak terlalu luas hanya ada toilet, kasur king size dan sofa di sampingnya. Ridho sengaja menyewa satu kamar agar anak istrinya tidak menunggu diluar.
Saat Cyn mengabari Gio kalau dirinya ikut bersamanya, Gio menawarkan untuk menyewa kamar, namun ia juga tidak akan menginap, buang-buang uang pikirnya. saat itu juga Xena mengabari kalau Ridho memesan kamar untuk mereka.
“Haduh perut gue.” Saat Xena akan duduk. Cyn langsung membantu sahabatnya itu duduk di sampingnya.
“Lu uda makan?” Saat Xena sudah duduk ditempatnya .
“Udah tadi sarapan Mcd.”
“Tumben lu ga masak?”
“Tadinya gue mau masak, tapi kayaknya repot banget. Cuma ada cemilan buat Bian.”
“Buat Gio?” Tanya Xena.
“Mau bikinin tadinya, tapi gatau kenapa gajadi.”
“Yeu dasar... takut salting kali lu.”
“Emang.” Ucap Cyn menggoda.
Mereka langsung bertatapan dan tertawa keras sampai Rufie dan Sabian menengok ke arah dua orang dewasa itu, namun mereka melanjutkan menonton kartun.
“Gue bawa camilan tuh tadi, hasil Bian ngerampok Gio.” Canda Cyn.
“Gimana ceritanya?” Tanya Xena sambil meluruskan kakinya yang sudah lumayan pegal.
“Tadi gue drive thru sekalian ke supermarket. Sabian kalo lagi pengen gitu kan sok sok ngalus biar diturutin,” dengan muka terkekeh.
“Jadilah Gio korbannya. Sebernya gue gaenak juga si” lanjutnya.
“Halah,” membuang tangannya ke udara.
“Seneng-seneng aja pasti di Gio diporotin Sabian. Lagian duitnya gabakal abis gitu doang.”
“Nanti kalo lu da kenal Gio lebih jauh, lu bakal wah sama apa yang Gio punya.” Xena mengangguk meyakinkan.
“Kenapa kesannya gue matre banget si.” Rutuk Cyn pada Xena.
“Gue cuma bilang Gio gabakal jatoh miskin. Bukan lu morotin dia.” Pukul kecil Xena pada Cyn.
“Iya iya iya.” Jawab Cyn lelah.