"Ma! kapan kita ke safarinya?" Tanya Sabian dengan muka lesuh.
Saat ini Cyn dan Xena masih dikamar karna belum ada panggilan dari Ridho ataupun Gio untuk ke food hall.
"Nanti ya, kita makan siang dulu baru cuss." Jawab Xena.
Rufie dan Sabia sudah bersemangat sejak tadi karna mau melihat hewan kesayangan mereka. Cyn dan Xena juga sudah menunggu dua jam. Cemilan anaknya itu sudah menipis dimakan dua anak kecil plus ibu hamil.
Gio
Cyn
sini ke foodhall makan siang dulu
pake buggy car ya uda saya tlp
Cynnie
oke mas
Cyn mengangkat kepala.
"Eh yuk kita ke foodhall." Ajak Xena, baru saja Cyn ingin bilang namun perempuan itu sudah diberitahu suaminya.
Rufie dan Sabian langsung diri dari tempat tidurnya.
"Yeayy... " Sorak mereka senang.
"Bang. Sini dulu baju kamu kotor itu." Memanggil Sabian dengan melambaikan tangan agar mendekat.
Cyn segera menepuk-nepuk area baju Sabian yang terdapat remasan cemilan itu. "Rufie sini. Baju kamu juga tuh. Kenapa makan pada belepotan gini? Kan sudah gede," Cyn sambil menepuk baju kotor Rufie.
"Aku gatau kalo bakal kotor." Jawab Rufie. Cyn langsung mencubit pelat pipi anak ganteng itu.
"Iya Nak, besok-besok makannya jangan sambil bercanda."
"He'em," Rufie mengangguk paham.
"Gue bawa apa aja sih tadi kesini?" Cyn bingung pada dirinya sendiri sambil tolak pinggang.
"Bawa cemilan sama tas lu doang." Sahut Xena.
"Oh iya?" Memiringkan kepalanya.
"Iye." Xena berlalu dan mengambil tasnya.
"Ma! Ayo." Ajak Sabian semangat.
"Iya Nak. sabar." Cyn menghela napas, anaknya itu terlalu bersemangat.
Setelah membawa barang masing-masing, mereka segera keluar kamar. Sebenarnya hanya bawa tas pribadi Xena dan Cyn saja. Cemilan Sabian juga sudah habis. Namun barang-barang di kamar tadi itu semua milik Xena dan anaknya.
"Lu nginep ya Xen?" Baru sadar ternyata memang semua barang disana banyak dan tidak dibawa sekarang.
"Iyaa... lu juga dong." Saat mereka berempat menunggu lift. Dua anak kecil mereka sedang bercanda dan bercerita gimana mereka akan melihat hewan kesayangannya nanti.
"Gila kali ya? Masa gue sekamar sama Gio." Dengan muka kekinya.
"Gue nyuruh lu nginep juga, bukan sekamar." Meledek Cyn dengan mukanya.
"Yeh sama aja kali. kan gue semobil sama dia," membuang muka dan menyisir rambut panjangnya ke belakang.
Mereka masuk ke dalam lift dengan menggandeng anaknya masing-masing. "Sabian, onty mau tanya. Gimana tadi perginya sama Om Gio?" Tanpa memperdulikan muka sebal Cyn.
"Om Gio baik, beliin aku jajanan banyak. Terus dengerin aja cerita mulu." Sabian mendongak ke arah Xena.
Mulai kan! Raut Cyn jengkel.
"Kamu sukakan ya jalan sama Om Gio?" Melihat wajah Cyn sambil memiringkan wajahnya.
"Suka!" Jawab Sabian semangat. Cyn terperangah mendengar suara semangat itu.
Cyn senang mendengar anaknya seperti itu, namun ia tahu tidak bisa selalu bersama Gio demi anaknya. Usianya sekarang dan statusnya tidak bisa dibilang masuk ke dalam fase main-main saja.
Ting!
Mereka keluar dari lift. Xena menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu. "Cyn gue gabakal minta maaf tapi gue mohon lu jangan menyangkal apa yang ada. Ikhlasin semua, semesta akan balas semua rasa sakit lu itu."
Cyn menyerit heran. Menyangkal tentang apa dirinya? "Ayo naik!" Suruh Xena sambil menaiki buggy car yang sudah menunggu mereka.
Cyn menunggu sahabatnya naik terlebih dahulu karna ia takut kalau salah langka, sahabatnya itu bisa jatuh apalagi sejak hamil seperti ini, melihat kebawah saja rasanya pasti susah.
Lalu setelah Sabian dan Rufie naik juga, dirinya lah baru naik. Bajunya terlihat anggung namun tetap bebas bergerak.
Gio
dimana?
Cynnie
Baru baik buggy car
Gio
oke saya tunggu depan ya
Cynnie
iya mas makasih
Gio
ok
Lumayan jauh karna memang safari hotel ini memiliki konsep alam terbuka, buka seperti hotel gedung tinggi.
"Rufie sama Sabian makan yang banyak, baru boleh masuk safari nanti." Ujar Xena tegas.
Dua anak kecil itu hanya mengangguk semangat. Cyn melihat Sabian gemas langsung memeluknya dan mengecup kepalanya dua kali. "Gemes banget anak mama."
Ridho, Gio dan beberapa rekan mereka sedang diluar sambil mengopi, namun sebagian besarnya lagi ada di dalam.
Jujur Cyn gugup melihatnya. Takut teman-temannya Gio melihat dirinya seperti orang aneh yang ikut-ikutan saja.
Saat buggy car mereka sudah berhenti didepan foodhall. Mereka turun satu persatu dengan Ridho memegangi Xena, khawatir perempuan itu terjelembab.
Cyn mengigit bibir dalamnya melihat Gio mendatangi mereka. "Cyn langsung ke dalem aja ya makan sama Gio." Ucap Ridho menggandeng Rufie dan menarik istrinya.
Bener-bener, gue gugup banget tolong. Rutuk Cyn dalam hati.
"Ayo Bian." Memberi tangan pada Sabian agar turun dibantu oleh Gio. Setelah Sabian turun, kini gilirannya,"bisa?" melihat Cyn.
Cyn mengangguk cepat dan langsung turun memegang samping buggy car itu, namun dirinya sedikit oleng akibat terlalu gugup. "Eh—"
Gio langsung memegang lengan Cyn. "Gapapa. Sini pelan-pelan." Membatu Cyn turun.
"Iya makasih." Saat sudah turun sempurna. "Sapa temen saya dulu ya. Apa kamu gamau?" Tanya Gio yang sepertinya tahu dirinya tidak nyaman.
"Gapapa ayo. Gaenak juga kalo ga nyapa." Gio langsung mengajak mereka ke teman-teman lelaki itu dengan Sabian di gandengannya.
"Kenalin temen gue, Cynnie. Ini anaknya namanya Sabian." Mengelus rambut Sabian dengan tangannya yang lain.
"Hai. Nama saya Cynnie seneng ketemu kalian." Jawab Cyn kikuk.
Salah satu dari mereka yang berpenampilan sedikit gemuk itu tertawa. "Haha... tegang banget. Santai aja, siapa namanya Cyn ya? Iya santai aja."
"Kayak lagi presentasi kelas." Sahut seseorang, yang lain ikut tertawa.
Ada satu perempuan diantara mereka langsung menjulurkan tangannya kepada Cyn. "Hai, gue Monika panggil aja Monik atau Mon."
"Hai Monik, Cynnie ya." Menerima uluran tangan wanita itu. "Kamu mirip artis korea deh. Siapa namanya? Han so hee ya? yang cantik banget itu."
Sambung Monika.
"Gue ga secantik itu." Menutup mukanya yang memerah.
"Tapi emang Cyn cantik banget kaya artis korea." Ujar lelaki lain yang memakai topi memandangi Cyn. Muka Cyn tambah memerah.
"Ehem... Gue makan dulu ya. Sabian uda nunggu." Langsung memotong pembicaraan mereka tentang artis korea.
"Yailah Yo."
Gio langsung mengajak Cyn dan Sabian tanpa memperdulikan candaan temannya itu.
"Si kaku akhirnya." Teriak salah satu dari mereka. Cyn tidak terlalu ngeh apa maksudnya.
Entah dimana sahabatnya itu makan karna disini cukup ramai pengunjung. Gio dan Sabian berjalan didepan Cyn dengan bergandengan.
Cukup banyak teman Gio yang menyapa dan selalu bertanya siapa wanita yang ia bawa, di jawab enteng oleh Gio, teman.
Mereka mendapat spot meja dekat dengan dinding kaca, bisa melihat langsung beberapa kuda poni, kadal dan landak. Sabian tentu saja sangat gembira.
"Mas mau sekalian saya ambilin ya? Mau makan apa?" Tanya Cyn karna lelaki itu menunggu mereka dan pasti belum makan.
"Nanti saya ambil sendiri aja." Tolak Gio.
"Ga. Saya aja. sebentar." Cyn langsung berlalu mengambil makanan untuk Gio dan Sabian. Foodhall ini kalau sedang lunch memang banyak sekali menu yang disediakan.
Dibantu dengan pelayan disana, Cyn berhasil membawa nasi lauk untuk anaknya dan Gio, beberapa piring croissant dan sup jagung untuknya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan itu, Cyn langsung memberikan kepada dua lelaki beda generasi itu.
"Makasih. Kamu gamakan nasi?" Tanya Gio.
“Nih,” menunjuk sup jagungnya. “Sama aja kaya nasi.” Respon Gio hanya mengangguk.
Mereka sibuk makan sekalian mendengar cerita anak manis itu, Sabian.
Selesai makan siang, mereka bersiap dengan keluarga atau pasangan masing-masing untuk memasuki safari. Tidak semua teman Gio akan masuk hanya beberapa saja, sehabis pertemuan tadi, mereka sepakat berpencar.
Bianlah yanh paling antusias untuk bersiap ke safari. Gio gemas dengan anak itu.
“Bang, kamu mau dipangku aja sama Mama?” Ajak Cyn menoleh kebelakang saat akan memasuki safari.
“Kalo kamu mau di belakang aja tapi kaca mobil gaboleh dibuka ya.” Peringat Cyn pada anaknya.
“Aku didepan aja.”Sahut Sabian. Mereka sedang berhenti untuk membeli sayuran dan wartel.
Gio langsung membantu Sabian untuk maju ke pangkuan Cyn.