"Aaaa!" Cyn yang sedang memangku Sabian memundurkan tubuhnya melihat Zebra kepalanya masuk ke dalam mobil.
Sabian memancinh zebra itu untuk makan namun ia malah menariknya ke dalam. "Gabisa gabisa... Bian kamu jangan gitu dong." Ucap Cyn sewot kepada Bian.
"SABIAN!" Gio kaget tubuh Cyn sudah benar-benar menempel pada dirinya. Cyn belum menyadari tubuhnya menempel dengan d**a Gio. Gio mengambil wartel di tangan Sabian. "Langsung lempar aja ya." Ucapnya pada Sabian padahal anak itu sedang menutup mukanya dengan kedua tangan, sok berani saja.
Zebra itu menjauh karna Gio sudah melemparkan wartelnya. "Oh astaga..." Tubuhnya sangat lemas dan oknum yang berada dipangkuannya hanya tertawa.
Ntar dulu, kok gini? Pikir Cyn.
"Mau seperti ini terus—"
"Aaa maap maap." Cyn memajukan tubuhnya saat mendengar suara Gio dekat sekali dengannya.
Gio tekekeh kecil lalu merapikan sedikit rambut Cyn akibat kecerobohan Sabian tadi. Lalu langsung memajukan mobilnya karna tidak enak terlalu lama.
Cyn terdiam bingung harus apa, "Ma ayo kasih makan lagi," ajak Bian.
"Gamau kalo kamunya ngasi makan kaya tadi,"
"kepala zebrajya maju-maju hiii... " Cyn bergidik ngeri.
Gio tertawa kecil melihat ibu dan anak itu. Sabian juga tidak mendengarkan Cyn, ia langsung mengambil wortel di kursi belakang, "Nak awas ya kamu, ngasi makannya yang bener ah." Cyn greget sekali dengan anaknya itu.
"Iya ini bener Mama," membuka jendela cukup besar.
"Sabia—"
"Sabian tutup sedikit jendelanya ya, Mama kamu takut." Gio memotong perkataannya.
Sabian menengok ke arah Gio yang memberinya senyum pengertian, Sabian langsung menuruti ucapan Gio itu dan menaikkan sedikit jendelanya.
"Kenapa dia ga denger ucapanku sih?" Walaupun Sabian di pangkuannya, namun anak itu tidak memperdulikan siapa yang berbicara kecuali Gio kayaknya.
Gio menoleh ke arah Cyn, "Lagi excited gitu anaknya, gapapalah." Ucap Gio memberi pengertian kepada Cyn.
Yang di respon anggukan dan cemberutnya yang lucu itu. Namun Cyn seneng sekali melihat anaknya mengeluarkan senyum selebar itu, semenjak dirinya dan Hendro berpisah, ia cuma bisa mengajak anaknya ke cafe, mall, atau tempat-tempat biasa.
Saat memasuki gerbang kucing besar itu, Gio buru-buru mengunci pintu dan jendela. Sabian mengeluarkan wajah lucunya, antara takut dan penasarannya.
Gio memperlambat lanjuan mobilnya. Ia mengelus lembut rambut Sabian, Cyn menahan napas dengan serangan mendadak begitu walaupun tubuhnya mulai nyaman keberadaan Gio tetap saja jantungnya kagetan.
Cyn dan Gio terkekeh melihat Sabian memaju mundurkan kepalanya karn penasaran dan takut.
"Gimana harimaunya?" Tanya Cyn sambil memeluk gemas anaknya.
"Wow serem."
"Hahahaha... " Dua orang dewasa itu tertawa.
"Kita muter balik yuk Om." Ajak Sabian memegang tangan Gio di stir mobil.
Gio menaikkan alisnya,"gaboleh Nak, ntar kena hul, kalo Om gasibuk. Om ajak lagi ya." Memberi pengertian.
"Gabisa lah sayang kalo mau muter balik."
Menghiraukan ucapan Cyn. "Bener ya Om kita liat harimau lagi." Menatap manik Gio dengan harap.
Ini yang Cyn takutkan, anaknya nyaman dengan Gio. Bukannya ia tak percaya Gio, namun Bian sering mengingat hal-hal kecil dimana seusianya sedang merekam memori.
Gio menatap Cyn, namun dirinya tidak mengerti tatapan itu. "Nak Om Gio sedang si—"
"Iya Bian, kalau Om tidak sibuk ya. Kamu tagih aja oke!" Ucap Gio langsung.
Sabian yang mendengar itu tentu saja senang bukan main. Ia menaik turunkan tubuhnya di pangkuan ibunya. Cyn menatap ke arah Gio yang dibalas senyum lembut pria itu. Cyn butuh penjelasan!
Mereka sekarang sedang makan sambil melihat pemandangan jerapah, tadi Gio menawari anak kecil itu untuk naik gajah, anak itu menolak keras tapi sekarang lihat wajah kecil itu sangat penasaran.
Setelah itu mereka melihat pernak-pernik berbau hewan, sekarang keadaannya sedang ramai sekali jadi Gio menggendong Sabian agar anak itu tidak lepas penglihatan darinya, Sabian mencoba segala sesuatu hal di toko itu.
"Ma satu lagi ya ini," menunjuk topi singa atau itu kupluk ya? Cyn juga tidak tahu.
"Di dalam keranjang sudah banyak banget Nak," melihat keranjang penuh dengan belanjaan Sabian.
Siapa lagi sekutu Sabian sekarang? Gio!
"Ambi—"
Cyn melotot ke arah Gio, takut anaknya kebiasaan. Cyn tidak pelit sama sekali masalah mainan, namun sekarang sudah kelewat. Biasanya itu memberikan Bian dua minggu sekali itu juga anaknya sudah berusaha terlebih dahulu.
Gio tersenyum gaenak ke arah Cyn. "Maaf," Gio mengucapkan tanpa suara.
"it's oke," mengangguk paham.
"Sudah ini penuh banget keranjangnya, pulang ya." Pinta Cyn kepada Sabian.
Anak itu mungkin sudah lelah juga jadi hanya mengangguk dan nyaman di gendongan Gio.
Saat di depan kasir Cyn buru-buru mengeluarkan dompetnya karna ia tahu Gio juga mengeluarkannya.
"Maa ngantuk," Bian mengucek matanya yang sudah memerah.
"Sebentar ya Nak bayar ini dulu."
"Loh? Ih... " Mendorong Gio kesal.
"Kenapa?" Gio bingung.
"Kenapa kamu bayarin semua?" Cyn beneran kesal bukan pura-pura.
"Loh kenapa? ya gapapa." Gio sendiripun tahu Cyn wanita yang seperti apa.
Cyn menghela napas melihat kartu Gio sudah tergesek, dirinya malas, gatau gamood.
Sudah malam, mereka memang tidak mau terlalu larut, Namun mereka sekarang terjebak di dalam toko karna hujan deras. Cyn sebenarnya tidak tega melihat Gio terus menggendong Sabian. Meminta Sabian agar dipindahkan ke gendongannya, Gio menyuruhnya membawa belanjaan saja.
“Biasanya saya bawa payunh lipet di tas. Kenapa sekarang bisa lupa ya.” Grutu Cyn.
“Sebentar lagi paling.”
“Kayaknya ngga Mas, tuh deres banget.” Tunjuk Cyn keluar.
Cyn memeluk dirinya sendiri karna memang sangat dingin apalagi di daerah puncak seperti ini. Cyn memakai dress jadi bagian bawahnya cukup terangkat membuat kakinya mengigil.
Gio pindah ke arah tempat Cyn menghalau angin yang masuk.
“Bisa Gendong Sabian sebentar?” Gio memberikan Sabian ke arah Cyn.
Cyn langsung menaruh belanjaannya ke lantai.
Gio langsung pergi ke dalam toko membeli jaket boomber ukuran dewasa dua. Cyn menyerit heran.
“Pake ini di kepala, kalo nunggu ujan gaakan selesai.” Membawa Sabian kembali ke gendongannya.
“Mas ga segininya, Kita bisa lari.”
“Terus liat kamu sama Sabian sakit?”
“Saya gaakans sakit kena ujan begini.”
“Kamu daritadi sudah kedinginan. Saya gamau ambil resiko,” “sekarang kamu pake di kepala ya.” Memutuskan perdebatan.
Cyn tentu ingin sekali berdebat sekarang, namun mendengar nada suara Gio ia takut untuk buka suara.
“Terus kamu gimana Mas?” Saat sudah memakai jaket boombernya di kepala.
“Sudah ayo.” Menarik tangan Cyn lembut.
“Mas! Kamu gimana?” Karna yang memakai jaket hanya Sabian dan Cyn.
“Saya gaakan sakit, kena hujan doang.”
“Mas please ini kita berdua ya.” Sedikit menjinjit merentangkan jaketnya hingga ke kepala Gio.
Biar tidak lama ia membiarkan dirinya ditutupi jaket oleh Cyn dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Ayo!” Menarik tangan Gio melewati hujan.
Gio merasa dirinya mulai basah, tangannya menarik pinggang Cyn merapatkan pada tubuhnya. Ya Gio sekarang seperti membawa keluarga kecilnya agar tidak kena hujan.
Bagaimana tidak, tangan kanannya menggendong Sabian sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang Cyn.
Cyn yang merasa sudah masuk ke dalam pelukan Gio merasa nyaman dan gugup tentu saja.
Suara hujan bercampur dengan aroma Gio dan tampias. Dirinya merasa senang?