Cyn termenung di tempat tidurnya, ia menolehkan kepalanya kesamping melihat anaknya tidur tenang. Dirinya sedang meminum c1000 yang dibelikan Gio tadi saat perjalanan pulang.
Cyn hanya dian saja sedari tadi diperjalanan pulang, dirinya terlalu salah tingkah. Hanya ada suara hujan dan musik dalam mobil.
Bian sangat tenang dalam tidurnya. "Kamu mau kemana Mas?" Tanya Cyn heran melihat Gio memakirkan mobil di area supermarket dekat rumahnya.
"Tunggu sebentar ya." Pria itu keluar dengan berlari kecil menutupi kepalanya. Tak lama Gio keluar membawa kantong bahan, Cyn sendiri tidak tahu apa itu.
Gio membantu menggendong Sabian sampai depan rumahnya dan memberikan kantong tadi yang ia beli.
Saat Cyn membukanya di kamar ada enam botol c1000 dan beberapa obat flu batuk maupun demam.
Cyn berkaca melihat botol yang ada di genggamannya itu, bagaimana bisa seseorang seperhatian itu, mereka bahkan tidak kenal lama.
Cyn mengambil telponnya, berniat mengirimkan pesan ke pria itu.
Gio
Cyn uda tdr?
kalo demam nanti kabarin ya
Bahkan Gio yang mengirimnya pesan duluan. Air mata Cyn tiba-tiba menetes melihat sebaik apa pria itu.
Cynnie
knp kamu baik banget mas
sudah sampe rumah?
Hampir satu jam Gio tidak membalas pesan Cyn. Ya memang seharusnya pria itu istirahat bukan? Cyn meletakkan kembali telponnya.
"Hhh... kenapa gue jadi begini sih?" Ucap Cyn.
"Gio bakal sakit ga ya? Dia ujan-ujanan terus." Serius Cyn sekarang sedang terharu, khawatir, dan sedih.
Gio has calling...
Cyn langsung mengangkat telpn dari Gio.
"Belum tidur?" Gio di sebrang sana.
"Belum Mas."
"Kenapa? Demam ga abis ujan-ujanan?"
"Ngga Mas. Kamu udah di rumah?"
"Udah abis bersih-bersih, liat kamu bales chat saya telpon aja."
Cyn menyerit mendengar suara bindeng di sebrang sana.
"Kamu loh itu yang sakit Mas." Sumpa Cyn bakal sebel sama dirinya sendiri kalo Gio sakit.
"Ngga, cuma flu."
"Sama aja!"
"Udah gausa diambil pusing. Sabian masih tidur ya? anak itu capek banget." Gio langsung mengalihkan topik.
"Iya masih tidur. Mas kalo sakit bilang ya."
"Kalo saya bilang, kamu mau apa?"
Cyn langsung diam. iya ya gue mau ngapain?
"Saya anter ke rumah sakit."
"Oh kirain mau— uhuk!"
"Mas! besok ke rumah sakit." Kan! Gio sakit!
"Saya anter," lanjut Cyn.
"Gausah. Minum obat juga sembuh. besok saya ada jadwal lain."
Cyn hanya mengangguk.
"Yasudah, kalo butuh apa-apa kabarin saya ya." Pinta Cyn.
"Iya tenang. Saya langsung tutup ya telponnya. Btw kata temenku bener."
Cyn menyerit bingung. "Apa?"
"Kamu kayak artis korea, cantik banget."
Tut ...
Cyn melongok tidak percaya, selama mengenal Gio dirinya tau kalau lelaki itu cukup kaku. Namun tadi? "Hahaha... ini gue harus tersipu malu, seneng apa sedih sih?" Ucap Cyn pada dirinya sendiri.
Namun ia tak bisa menutupi hatinya begitu hangat dipuji seorang Gio.
Siang harinya saat di ruang tengah terdapat Sabian sedang makan bersama Ibu Ida. "Maa..." Melihat Cynnie menuruni tangga.
"Kenapa Bang?" Menaiki alisnya.
"Om Gio."
deg!
"Om Gio kenapa?"Tanya Cyn hati-hati karna jujur dirinya merasa takut. Entah takut akan apa dirinya ini.
"Om Gio kemana?" Dengan mulut penuhnya dengan makanan.
"Di rumahnya dong Abang ganteng." Fyuh... menekan pipi kanan kiri Sabian dengan satu tangannya.
"Kenapa kamu nanyain Om Gio?"
"Gapapa." Mengalihkan wajahnya kedepan televisi.
"Abis jalan kemana kak sama Om Gionya Sabian?" Cyn tahu sekali ini pertanyaan ledekan.
"Ke safari doang Bu." Menjawab Wanita peruh baya yang sedang menyuapi anaknya itu.
"Mami Papi pergi dari jam berapa?" Cyn masih berdiri di serongnya Sabian.
"Kayaknya mereka pergi dari jam sembilanan Kak." Cyn mengangguk paham dan pergi ke dapur mengambil oat meal.
Papi has calling ...
"Halo Pi." Sapa Cyn terlebih dahulu.
"Halo Cyn. Kamu dimana?"
"Di rumah. Kenapa Pi?"
"Hendro ngabarin Papi, kalo kamu sama dia udah bikin perbagian jadwal waktu Sabian?"
Cyn tidak tahu apa-apa, terakhir kali bertemu juga berakhir dengan kata menyakitkan yang terlontar dari mantan suaminya itu.
Cyn kesal, tentu.
"Hendro ga ngomong apa-apa sama Cyn, Pi."
"Serius?"
Papinya di sebrang sana menghela napas. "Kamu berantem sama dia tentang Sabian?"
"Terakhir ketemu belum lama di kafe."
"Gimana kesimpulannya?" Papinya memang orang yang tegas dan tidak mau banyak bicara.
"Gaada. Cyn berantem sama dia jadinya."
"Papa gamau ya gajelas begini. Kalian sudah dewasa, Papi gamau ikut campur. Bukannya Papi gamau mihak kamu Cyn tapi Papi yakin kamu sudah besar dan mengerti apapun konsekuensi setiap pilihanmu. Kalau Papi sudah ikut campur darilama sudah abis itu mantan suami kamu."
Cyn sudah terbiasa dengan semua tindakan Papinya dan pasti ada sebabnya juga. Ia juga tidak ingin orangtuanya mencampuri urusan pribadinya. Cyn hanya tidak terbiasa.
"Iya Cyn paham kok Pi, nanti Cyn omongin ya."
"Iya Nak. pikirin Sabian ya jangan ego kalian."
"Iya Pi, tenang aja."
"Kamu keluar hari ini Cyn?"
"Gatau Pi. Males juga lagi ujan mulu."
"Yaudah, Papi tutup ya."
"Iya Pi."
Apa maksud Hendro bilang ke Papinya hal seperti itu? Cyn cepat-cepat menyelesaikan makannya dan naik ke atas. Dirinya harus cepat menyelesaikan persoalan ini.
Cyn naik ke atas kamarnya, dirinya merasa pusing dengan Hendro. Kedua tangan Cyn memegang rambutnya dan menariknya sedikit untuk mengurangi rasa pusing yang ada.
Mood Cyn sedang sangat jelek persoalan ini sudah mencapai kedua orangtuanya.
Gio
Cyn mau kopi? saya lagi di sekitar rumah kamu
Cynnie
Mas mau keluar aja?
Cyn berani mengajak keluar karna dirinya benar - benar pusing. Ia butuh udara segar untuk mewaraskan dirinya.
Gio merasa Cyn sedang keadaan stress dan tentu ia tidak keberatan sama sekali, sekarang dirinya berada di Bank dekat rumah Cyn. Dirinya tentu tidak berbohong.
Gio
saya langsung ke rumah kamu ya
Cynnie
Iya mas
Biarkanlah terlihat tidak sopan nanti ia akan menjelaskan kepada Gio, untuk sekarang ia harus mewaraskan dirinya.
Cyn langsung berganti baju dengan celana hitam panjang dan atasan simple hitam, ia hanya membawa dompet, telpon, serta jempita rambut.
“Bodo amat gue pusing.” Cyn pada dirinya sendiri.
“Sabian!” Panggil Cyb menuruni tangga.
“Kamu mau ikut Mama ga?” Lanjut Cyn.
“Kemana?” Tanya Sabian menolehkan kepalanya menjawab Cynnie.
“Beli minuman di luar.”
“Nggak. Aku mau nonton aja.” Sabian meluruskan pandangannya ke arah depan.
Cyn sengaja tidak menyebut nama Gio karna selain di samping Sabian terdapat Bu Ida, ia juga tidak mau Sabian merasa berharap lebih dengan Gio karna sering bertemu.
Cyn langsung keluar, ia melihat mobil range rover baru saja di depan rumahnya. Pemilik mobil itu menurunkan Kacanya.
“Ah iya sebentar.” Cyn memakai flat shoes langsung menaiki mobil itu, kalau saja Gio tadi tidak membuka kaca mobilnya ia pun juga tidak tahu pemilik itu adalah Gio.
“Hai.” Gio menyapa tanpa canggung.
“Gio... “ Panggil Cyn dengan mata berkaca.
Gio bingung harus seperti apa karna ia baru saja melihat sisi lemah Cyn.
“Kita cari tempat dulu ya. Sebentar.” Ucap Gio menenangkan sembari menjalankan mobilnya.