"Ke kedai es krim aja ya," Gio menoleh ke arah Cyn lalu tersenyum lembut.
Cyn yang tadinya menutup matanya langsung melihat ke arah Gio. Ia mengangguk setuju. Dirinya kini sedang tidak tahu harus apa, saat masuk ke dalam mobil pun ia refleks menangis dan memanggil pria itu. Cyn tidak malu karna pria itu memberi respon baik tapi kalau sebaliknya? Haduh gue gatau lagi harus kayak gimana.
"Sabian tadi sedang apa? Kok gaikut." Tanya Gio mengalihkan pikiran wanita itu.
"Nonton film kesukaannya, gamau diganggu." Cyn menjawab sambil menatap keluar. Gio mengangguk sebagai respon padahal ia juga tahu Cyn tidak akan melihatnya.
Gio sebenarnya penasaran dan empati melihat wanita itu sedih. Benarkah hanya empati atau marah karna Cyn sedih?
"Yuk." Ajak Gio sesudah memarkirkan mobilnya di depan kedai es krim. Entahlah kenapa Gio mengajak wanita itu ke sini? Katanya es krim bisa bikin mood bagus?
Cyn dan Gio berasampingan memasuki tempat tersebut, disini banyak pangan muda mudi, memang cocok untuk anak remaja daripada usia mereka karna interiornya yang lucu dan instagramable kata anak sekarang.
"Mas, situ kosong." Dengan suara pelan dan menujuk ke arah spot kosong Cyn mengajak Gio untuk mengikutinya.
Mereka duduk berhadapan di sofa pink ini. Melihat Gio duduk di tempat seperti ini rasanya sangat lucu karna Gio ini memang tipikal maskulin dingin gitu.
"Kamu suka rasa apa?" Tanya Gio duduk kurang nyaman karna banyak kaum wanita melihat ke arahnya, ia sendiri tidak tahu. Apa ada yang salah ya?
"Saya aja Mas, saya mau request langsung ke depan. Kamu suka rasa apa?" Ini Cyn hanya ngada-ngada saja karna tidak mau lelaki itu yang membayar.
"Saya cokelat saja." Bahkan selera laki-laki itu juga keikutan lempeng menurut Cyn.
Cyn mengangguk dan segera pergi ke antrian sebelum lelaki itu mengeluarkan kartunya. Saat Cyn sedang mengantri ia bisa melihat Gio duduk membelakinya di sofa gemes tersebut, bibirnya tersenyum geli.
"Eh liat deh, tapi lu jangan nengok langsung ke orannya ya." Ucap satu wanita remaja depan Cyn.
Yang dijawab anggukan oleh wanita lainnya.
"Itu yang pojok sofa pink, laki banget vibes-nya. suka deh gue."
Cyn penasaran orang yang sedang remaja itu bicarakan, iapun melihat ke arah wanita itu bicara dan membelalakkan matanya karna ia tahu siapa yang mereka maksud.
"Ih iya tadi gue juga suka pas dia masuk. Gatau kenapa kayak macho aja gitu." Lanjut wanita sebelahnya.
Obrolan mereka terputus karna harus memesan menu. Cyn berpikir gimana mereka tahu kalau pria yang mereka maksud sedang jalan dengannya? Bukan Cyn geer atau gimana Cyn hanya penasaran.
Cyn memesan satu mangkuk es krim dengan tampilam lucu dan es krim cokelat flat untuk pria itu.
Saat berjalan ke meja, Cyn merasa beberapa wanita melihat ke arahnya. Oh bukan wanita tapi lebih ke remaja baru tumbuh? Oh jadi bukan dua cewek yang suka sama Gio tapi hampir semua cewek yang ada di kedai? Oh God.
Gio mematikan telponnya saat Cyn sudah di depannya. "Sudah? Makasih ya." Ucapnya pada Cyn.
Hari ini lelaki itu memakai kaos polo panjang abu-abu dengan celana rajut hitam. Outfit santai Gio.
Memang Cyn melihat Gio ini punya tampilan Boys dream look ya kalau kata anak sekarang. Bahu lebar badannya yang tinggi, Cyn jadi penasaran.
"Mas, tinggi kamu berapa?" Gio terlihat aneh karna mood wanita ini berubah.
"Saya? Berapa ya terkahir kali checkup sih 183 atau 185 gitu saya lupa. Kenapa emangnya?"
Kan benar! Cyn hanya terbilang tinggi saja hanya sebahu lelaki itu.
"Kamu gamau cerita tadi kenapa tiba-tiba nangis?" Cyn mengingat tadi moodnya jadi keikutan turun.
"Hmm..." Cyn menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan. "Saya berantem sama Mas Hendro tentang pembagian waktu bersama Sabian."
Gio masih mendengarkan dengan baik sambil melihat wajah Cyn. "Saya bukannya gamau tapi Mas Hendro ingin Sabian nginap sampai tiga hari dirumahnya."
"Saya gapapa kalau dia menjemput Bian dan pulang malam tapi ini dia ingin Sabian lebih lama terus saya juga gamau Sabian mengenal Ibu baru." Dengan mata sayunya Cyn menatap Gio.
"Kamu cemburu?" Tanya Gio hati-hati.
"Iya, saya gamau Sabian memanggil ibu ke wanita lain." Cyn menolehkan kepalanya ke luar jendela menghindari mata Gio.
"Saya gatau seberat apa posisimh sekarang. Orang yang kamu sayang dekat sama yang lain. Namun hidup terus berjalan bukan? Kamu gabisa biarin Sabian gatau apa-apa sampai nanti. Sabian itu anak pertama, dekat sekali denganmu, ia tidak akan meninggalkan Ibunya yang selalu berada disampingnya." Gio memberi pengertian kepada Cyn.
"Bukan berarti Sabian memanggil orang lain Ibu terus melupakan wanita yang melahirkannya. Kamus sudah sembilan bulan mengandunh Bian dan punya ikatan yang kuat, begitu juga dengan Sabian, Cyn."
Cyn melihat ke arah Gio. Pria itu benar ikatan ibu dan anak akan selalu kuat hingga kapanpun. Perasaan Cyn sekaranga abu-abu, ia kesal dengan Sabian mengenal ibu baru atau kesal dengan Hendro dan Istrinya? Cyn menghela napas, dirinya harus ikhlas. Kata Xena kalau kita ikhlas, alam yang membalas bukan?
Pesanan Cyn sudah sampai. "Makasih Mba." Ucap Cyn pada pelayan itu yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.
"Mangkuk kamu rame banget Cyn." Ucap Gio dengan gerakan lehernya.
"Hahaha... lucu kan" Memamerkan es krimnya pada Gio.
"Iya lucu."
Cyn menahan napasnya saat Gio mengucapkan tadi, pasalnya Gio tidak melihat ke arah mangkuk melaikan ke arah dirinya tepat menatap matanya.
Gio langsung memakan es krimnya seperti tidak ada yang terjadi. Cyn ikut memakan es krimnya agar tidak awkward.
"Tadi kamu sekitar rumahku ngapain Mas?" Dengan muka lucunya menahan asem pada buah strawberry.
Gio terkekeh melihatnya dan senang. "Abis dari Bank tadi, terus inget rumah kamu. Yaudah sekalian aja deh."
Cyn mengangguk paham. "Kamu mau coba gak."
"Apa?"
"Ini," Cyn menunjuk es krimnya yang terdapat banyak buah berry-berryan itu.
Gio ingin menggelenh namun Cyn sudah menyodorkan sesendok eskrim dan buah-buahan ke depan mulutnya.
Pria itu menerima suapan dari Cyn dan mengangguk. "Enak." Ucap Gio.
"Kamu ga keaseman?" Cyn heran dirinya tadi sangat merasa asem dengan buah itu namun pria itu tetap lempeng dengan ekspresinya.
"Kecampur sama manis jadi ga terlalu asem."
Bukannya ga asem, tapi emang kamunya yang terlalu lempeng, ucap Cyn dalam hati.
Sudah magrib, mereka memutuskan untuk pulang setelah berbicara banyak mengenai satu sama lain. Cyn baru tahu Gio bukan hanya pemilik bengkel tetapi juga banyak properti, apa ini yang dimaksud sama Xena? Tapi Cyn juga merasa belum tahu banyak karna Gio menutupinya terkesan tidak mau sombong atau entah Cyn tidak tahu.
Saat mereka berdula keluar dari kedai. Ada seseorang memanggil dirinya dari samping. "Cyn!"
Cyn langsung menengok ke arah suara itu. "Mas Hendro?" Hendro di sana dengan Hanifa dan anak Hanifa, maksud Cyn anak mereka.
Cyn menoleh ke arah Gio di sampingnya lalu menoleh ke arah Hendro. "Sama siapa Cyn?" Ucap Hendro.
"Sama teman Mas." Cyn masih bete dengan orang ini jelas, namun ia mendengarkan perkataan Gio. Hidup terus berjalan orang tidak akan peduli sehancur apa kamu, pilihannya mau berdamai atau kamu hancur sendirian.
“Bisa kita bicara?” Tanya Hendro menghiraukan Gio di samping Cyn.
Gio menyuruh Cyn mengiyakan dengan gerakan kepalanya, “ saya tunggu di mobil.”
“Mas duluan aja, tadi sudah di telponkan?” Saat mereka sedang makan, Gio ditelpon oleh rekannya untuk membicarakan proyek baru.
“Masih lama, saya tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa kabarin saya.” Gio langsung berjalan ke arah mobilnya.
“Di dalem saja Cyn.” Ucap Hendro.
Hanifa, istri baru Hendro, belum mengeluarkan suara daritadi.
“Boleh bicara sama Cyn sebentar?” Ucap Hendro pada Hanifa yang dijawab dengang anggukan lalu menyingkir dari meja Cyn dengan membawa anaknya.
“Siapa pria tadi itu Cyn?” Tanya Hendro.
“Harus ya ngomongin orang lain? Padahal ada yang harus kita bahas.” Cyn aneh rasanya saat Hendro menanyai Gio.
“Ya saya cuma nanya. Pacar baru kamu?” Dengan nada meremehkan.
Oh nantang? “Kalau iya kenapa?” Dengam smirknya. Oh ini bukan Cyn sekali.