"Halo Sabian anak Papa," ucap Hendro.
Ya, yang datang menemui Cyn adalah Hendro dengan Hanifa.
"Hai Papa," sapa anak itu.
"Sudah sembuh kamu emang? Kok udah jalan-jalan saja." Tanpa melihat ke ara Cyn. Cyn merasa Hendro sedang menyindirnya mungkin?
"Sudah. Aku abis beli mainan nih." Tunjuk Sabian pada paperback di bawah meja.
"Wih."
Gio sedari tadi bingung ingin melakukan apa karena ia tidak tahu menahu tentang ini, yang ia tahu hanya lelaki itu mantan suaminya Cyn.
Cyn sendiri sedang merasa canggung sekarang, "mau makan bareng saja? Hanifa sini," ajak Cyn.
Hanifa meminta jawaban dari lelaki di sampingnya yang dijawab anggukan oleh lelaki itu. "Tidak apa kita bergabung?" Hendro menatap Gio dan Cyn.
"Oh tentu, biar ramai. Disini saja." Gio yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
"Baiklah." Akhirnya Hendro dan Hanifa duduk bersama mereka. "Abang sudah sembuhkan? Berarti sudah bisa nginap di tempat Papa ya?"
Cyn menegang, kenapa pria itu harus membahasnya sekarang? " Makan dulu baru kita ngomongin nanti."
"Nanti atau sekarang sama saja." Hendro menyenderkan tubuhnya lalu memandang Gio, "Hai kita belum kenalan. Kamu yang waktu di kedai es krim?" tanya Hendro pada Gio.
"Iya saya yang waktu itu. Gio." Gio mengajak Hendro bersalaman sambil memperkenalkan diri.
"Hendro. Sudah berteman dengan Cyn?" pancing Hendro.
"Lumayan," jawab Gio enteng.
Hendro hanya manggut-manggut. "Cyn memang wanita yang manja, kamu harus sering-sering sabar."
Cyn menyerit tidak suka, "apa maksud mu?" Kenapa bawa-bawa kepribadiannya? apa tidak ada topik lain selain dirinya?
"Bahkan semenjak saya kenal Cyn, wanita ini tidak pernah minta tolong sama sekali. Dirinya selalu keras kepala bahwa dia bisa sendiri." Menatap bola mata Hendro.
Cyn merasa terbela karna adanya Gio disini. Cyn menatap anaknya sedang bermain ipad tanpa memikirkan orang di sekitarnya, Cyn bersyukur dirinya membawa gadget itu agar Sabian tidak harus mendenger semua pembicaraan mereka.
Hanifa yang sedari tadi diam, menoleh ke arah Cyn, mantan istri suaminya itu ia akui benar-benar cantik dengan kulit yang sangat cerah dan wajah kencang awet muda, tentu saja outfit yang cantik. Lalu Hanifa melihat ke arah dirinya sendiri, not bad tetapi ia tidak membohongi dirinya sendiri kalau ia insecure melihat Cyn.
Hanifa langsung memegang tangan Hendro yang ada di atas meja, lelaki itu menaikkan alisnya bertanya yang di jawab, "hanya ingin memegang mu saja," ucap Cyn.
Cyn membuang muka, dirinya tidak cemburu sungguh hanya sedikit muak dengan pasangan ini.
Berbagai daging sudah tersedia di hadapan mereka, "Sabian mau pake sayur ga?" Tanya Cyn pada Sabian yang sibuk bermain tablet itu, biarkan anak ini sibuk daripada mendengar obrolan mereka.
"Kuah saja please. Mama suapin aku ya." Lalu kembali sibuk dengan gadgetnya itu.
"Apa kamu selalu memberi Sabian gadget dengan bebas Cyn?" Hendro menatap Cyn dengan Hanifa yang sibuk memasak daging untuk Hendro, cih.
Mulai kan? "Hanya tidak mau Sabian mendengar hal-hal tidak tidak pantas ia dengarkan," ucap Cyn dengan tangan yang sibuk memasak daging untuknya dan Sabian.
Cyn melihat Gio begitu tenang dengan makanan di depannya, ia sendiri tidak enak dengan Gio karna situasi ini. Gio yang merasa dirinya diperhatikan mendongak mendapati Cyn, "kenapa?" tanya Gio tanpa suara.
"Tidak." Cyn menggeleng dan tersenyum. Hendro yang melihat itu hanya berdecih.
"Sabian pulang sama saja," ucap Hendro tiba-tiba.
Cyn langsunh tidak nafsu makan meletakkan sumpitnya sedikit keras. "Mau mu apa? Sabian baru saja sembuh. Lagipula dia belum mengenal siapa saja di rumahmu, kenal dengan istri mu saja tidak apalagi dengan anak mu." Cyn merasa dirinya cukup sabar selama ini tapi lelaki ini selalu memancingnya.
"Sabian sayang. Kenalin ini istri Papa, Mama baru kamu." Hendro berbicara santai kepada Sabian.
Cyn sakit sekali mendengar Hendro menyebutkan Mama baru untuk Sabian. Sabian mendongakkan kepalanya bingung, "Mama baru?"
"Iya kamu punya Mama yang lain. Namanya Mama Hanifa."
Cyn mengigit bibir bawahnya menahan nyeri di dadanya, "b******k," ucap Cyn dengan suara kecil tetapi Hendro tahu itu dan merasa senang? Entah ia senang melihat Cyn cemburu.
"Mama Hanifa? Kenapa aku punya Mama baru? Karna Papa sudah ga sama Mama ku lagi?" Tanya Sabian berturut-turut.
"Iya, Papa sudah tidak sama Mama lagi. Jadi sekarang kamu punya Mama lain lagi. Ayo salim dulu sama Mama." Hendro tersenyum ke arah Sabian.
Sabian menerima tangan Hanifa untuk ia salim, " Nama Mama, Hanifa, Mama juga punya anak sebesar kamu, nanti Mama kenalin ya." Mengusap kepala Sabian.
Cyn mengigit bibirnya dengan keras sampai ada sebuah tangan yang menggenggamnya, ia melihat Gio sedang melihat ke arah Hendro, tapi tangan lelaki itu mengelus tangan Cyn di atas meja.
Cyn sedikit mereda, ia tak boleh melawan suaminya itu dengan emosi juga. "Kamu sekarang punya saudara dan Mama yang lain juga sayang," ucap Cyn kepada Sabian.
"Nanti kenalan ya yang akur." Tangan Gio masih mengelus tangan Cyn, seakan mengatakan kepada Hendro kalau ia selalu ada di samping Cyn.
Cyn men-switch dirinya ke mode akal jangan sampai dirinya ikut emosi dan masuk ke dalam permainan tidak jelas oleh mantan suaminya itu.
"Lebih baik tanya sendiri dengan Sabian, apakah ia sudah mau untuk menginap disana. Jangan terlalu memaksa." Cyn melihat Hendor sedang mengajak anak itu menginap.
"Mama nanti sama siapa kalau aku menginap," Sabia menatap mata Ibunya itu. Cyn terharu.
"Sendiri juga gapapa."
"Nanti Om Gio akan ajak Mama Sabian main terus kalau kesepian," jawab Gio kepada Sabian, "Om Gio yang akan jaga Mama." Gio menatap mata Cyn.
Cyn menegang di tempatnya, hatinya hanya merasa itu bukan hanya bualan saja, tetapi ada perasaan serius dengan kalimat itu.
"Aku juga mau jaga Mama, Om!" sahut Sabia semangat. Cyn benar-benar senang mendengarnya.
"Oh jadi kamu sering jalan berdua tanpa menjaga Sabian?" tanya Hendro.
"Itu menyindir aku atau kamu yang dulu? Jalan berdua tanpa memikirkan keluarga."
"Apa maksud mu?" tanya Hendro yang terpancing dengan Cyn.
"Iya kamu. Gausa sindir-sindri, harusnya kamu yang menyindir diri sendiri."
"Selain dengan Gio kamu juga jalan dengan Zikri? Cyn-Cyn kenapa kamu jadi suka banyak pria begini?" jawab Hendro meremehkan.
"Kapan aku jalan sama Zikri." Cyn melirik ke arah Gio yang tenang mendengar pembicaraan mereka.
"Oh lupa? Makan bareng pula." Hendro mengangkat bahunya.
Cyn mengingat ketika ia bertemu Zikri di rumah sakit dan berakhir makan bersama. "Apa urusannya dengan mu?"
"Hahahaha ... Sabian sudah makannya Nak? Mau ikut ke rumah Papa?"
"Sekarang?" Tanya Sabian.
"Sabian tidak membawa apapun untuk menginap, harus siapkan keperluannya." Cyn mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Mau ikut tidak?" Hendro mengabaikan Cyn.
Gio rasanya sudah sangat emosi melihat kelakuan Hendro daritadi, tetapi ia tidak punya hak untuk mencampuri urusan mereka. Selagi lelaki itu tidak kelewat batas dan tidak bermain fisik, dirinya cukup bisa menahannya.
Sabian melirik Hanifa lalu kembali melihat Ibunya, "Aku sama Mama dulu, nanti Mama tidur sendiri," jawab Sabian pengertian. Gio tersenyum bangga melihatnya walaupun anak itu belum genap lima tahun tetapi sudah paham dengan kondisi ini semua.
"Mama gaakan kesepian, kan sekarang sudah ada Om Gionya itu," dengan nada meledek Hendro.
"Oh tentu, Cyn tidak akan kesepian ada saya selalu." Tersenyum ke arah Cyn dan Sabian.
"Tapi Om Gio ga temenin Mama bobo. Jadi, aku yang temenin." Cyn mendengar jawaban Sabian mencium kepala anaknya itu senang.
"Suatu saat Om Gio akan temenin," jawab Gio tegas.
Semua yang ada di meja itu terdiam. Artinya Gio memang serius dengan Cyn atau hanya karna ada Hendro?
Gio bisa melihat tatapan tidak suka dark Hendro, tapi apa daya? Sekarang Cyn bebas dengan siapa saja. Gio seorang lelaki yang paham situasi Hendro sekarang, sedikit tidak rela jika masalalunya bersanding dengan yang lain. Benar-benar egois.
"He'em," Cyn sedikit batuk agar situasi tidak terlalu canggung. " Sabian belum mau menginap, nanti jika sudah saya kabarin Mas," ucap Cyn yang malas sudah memakai aku-kamu, memanggil dengan sebutan Mas juga sebagai tanda hormatnya.
drrt drrt...
Hendro ingin menjawab Cyn, namun terpotong karna ada yang menelpon Hanifa.
"Kenapa Mbak? Oh iya sedikit lagi ya. Oke oke," ucap Hanifa menjawab penggilannya lalu berbicara kepada Hendro. Cyn sungguh tidak peduli dirinya mau pulang, kesabarannya sudah menipis.
"Kami pulang dulu karna Rio sudah pulang. Sabian jangan lupa menginap ya nanti," pamit Hendro.
Sabian hanya menengok sebentar lalu melanjutkan bermain gamenya. " Kami pamit ya Mbak, Gio."
"Iya hati-hati ya," ucap Gio sopan.
"Ya hati-hati," ucap Cyn malas melihat pasangan itu bergandengan tangan keluar resto.
"You okey?" Gio memastikan.
"No. kesel banget, mau marah, mau nangis."
Gio tersenyum lembut,"nanti ya masih ada Sabian nanti dia khawatir," dengan nada pelannya.
Mereka bertiga langsung menuju parkiran, Sabian sudah tidur kekenyangan tadi di gendongan Gio saat perjalanan pulang. Setelah menata semua barang belanjaan Gio duduk di samping Cyn dan menyalakan mobil.
"Masih kesel?" tanya Gio yang belum menjalan mobil.
"Masih." Dengan wajah cemberutnya.
"Masih mau nangis juga?" Menatap lembut Cyn.
Cyn mengangguk lalu menghela napasnya lelah, lalu tiba-tiba Gio menarik lembut tubuhnya untuk dipeluk. Cyn kaget.
"Tapi kamu hebat loh, selalu gabisa, tapi apa ujung-ujungnya kamu bisa. Sudah berusaha mandiri apa-apa sendiri, gamau nyusahin even sama orangtua. Kamu harus tau kamu hebat banget."
Cyn mengadahkan kepalangnya menapa Gio sambil berkaca-kaca, "Aku hebat?"
Gio mengangguk yakin, "banget, hebat banget."