"Emang Sabian mau beli mainan apa?" Tanya Gio menatap spion tengah agar melihat wajah Sabian.
"Mau apa ya? Hot wheels track yang panjang Om, punya ku di rumah itu masih yang pendek." Sabian duduk tenang di belakang dengan seat belt-nya.
"Kamu suka mobil?" Menaikkan alisnya antusias walaupun tetap fokus mengendarai.
"Suka sedikit. Terus aku mau beli bulldozers yang besar." Sabia merentangkan tangannya. "Mamahkan sudah kasih izin buat belu dua..." Selak Sabian melihat mamanya memutar tubuhnya kebelakang.
Gio terkekeh melihatnya. "Gapapa minta sama Om aja."
"Gak ya Mas." Cyn menoleh ke arah Gio memperingatkan. Dirinya tidak suka Sabian keenakan dengan mainan dan lagi punya Gio juga belum siapa-siapanya. Kok belum? bukan maksudnya.
Melihat wajah Cyn yang kesal dirinya malah lucu. Namun bukannya takut, Gio malah senang. "Loh kenapa? Kan aku temannya Sabian."
"Mas! Nanti Sabian gainget waktu kalau beli mainan terus." Dengan alis berkerut.
"Sabian bakal dengerin Mama ga kalau Om beliin Mainan?" Tanya Gio.
"Aku? Iya Abang akan selalu dengerin Mama."
Cyn shock, kenapa dirinya sekarang yang sendiri. Kenapa mereka berdua bersekongkol? Enak saja, Gio tidak tahu dirinya harus berantem dulu agar Sabian meninggalkan mainannya.
"Mas... " Cyn dengan suara rendahnya memanggil Gio.
"Hm?" Saut Gio pura-pura tidak mengerti.
Dengan bibir melengkung kebawah, memohon kepada Gio untuk tidak memanjakan Sabian. Gio yang melihat itu tentu gemas sekali, "Apa kenapa? Mas ga paham."
"Jangan manjain Sabian. Boleh beli mainan kapan-kapan tapi ga sekarang." Cyn dengar suara pelannya bahkan sedikit condong ke arah Gio agar anaknya tidak mendengar.
Gio pun mendekat ke arah Cyn, "iya ga sekarang nanti aku bilangin ke Bian." Tersenyum lembut ke arah Cyn lalu fokus kembali menyetir.
Cyn tertegun melihat itu. Lalu kembali ke posisi semula. Cyn sungguh menolak keras pesona Gio, bukannya menolak mungkin tetapi belum bisa karna permasalahannya bersarang di kepala jadi tentang perasaannya ia singkirkan sebisa mungkin.
"Yuk turun." Ajak Gio saat sudah memarkirkan mobilnya di pusat pembelanjaan elit.
Gio langsung berlari ke arah pintu Sabian dan membantu anak itu turun.
"Sudah?" Tanya Cyn yang di jawab anggukan oleh Gio.
Mereka memasuki Mall dengan Sabian di tengah serta gandengannya kanan kirinya, "Ma kita kemana dulu?"
"Ke toko buku dulu baru beli mainan ya." Ucap Cyn menoleh ke bawah.
"Sabian sudah bisa baca belum?" Tanya Gio.
"Belum masih diajarin Mama."
"Belajar yang giat ya."
"Heum."
"Kamu cari buku apa Mas?" Cyn melihat Gio berjalan ke arah buku anak sambil menggandeng Sabian.
"Tentang psikologi, kamu muter aja dulu. Biar Sabian sama aku." Gio langsung menarik Sabian tapi kenapa lelaki itu ke buku anak?
"Yaudah, aku mencar." Jawab Cyn langsung mencari buku-buku yang diperlukan untuknya. Yang ia cari sekarang tentang gimana membuah hidupnya lebih mudah.
Cyn asik membaca belakang buku. Ia tetap saja masih bingung sebenarnya banyak tetapi ia sendiri bingung. Mau belu semua takut ga kebaca.
“Nih kamu baca buku yang ini dulu.”
Cyn tubuhnya kaku ada sebuah tangan di samping kepalanya mengambil buku, jarak mereka benar-benar dekat. Cyn melirik ke belakang, Gio sedang memindai buku yang ia ambil.
“Iya nih baca.” Gio memberi buku itu. “Apa kamu masih mau yang lain?”
“Nggak, ini aja dulu dua.” Cyn setuju dengan pilihan uku Gio karna memang ini yang ia butuhkan. Cyn melihat anak yang ada di gandengan Gio.
“Kamu ambil buku juga Bang?” Tanya Cyn menyerit.
“Heum. Aku mau baca.” Gio dan Cyn berpandangan lelu terkekeh melihat gaya tua anak itu.
“Kamu saja belum bisa baca.”
“Bisa.” Sabian mengangkat dagunya.
“Coba.” Tantang Cyn.
Sabian melepaskan tangannya dengan Gio, lalu membuka buku yang bergambar macam-macam hewan purba. “Ini dinosaurus, ini T-rex, ini Hiu.”
“Hahahaha...” Gio tertawa karna anak itu menunjuk gambar dan membaca sesuai pengetahuannya saja alias ngasal.
Cyn ikut terkekeh melihatnya. “Kamu sudah dapet Mas bukunya?”
“Sudah, nih.” Gio mengangkat tangannya yang berisikam buku-bukunya.
Cyn bergidik ngeri, kenapa buku itu tebal-tebal sekali, anjingpun dipukul buku itu juga kesakitan. Mereka berjalan ke arah kasir.
“Nanti ya.” Dengan lembut Gio menahan tangan Cyn untuk tidak membayar padahal debit wanita itu sudah di depan pelayan kasir.
“Nanti apa? Mas!” Cyn kesal sekali sungguh. Gio dengan cepat memberikan debitnya ke kasir.
“Iya nanti saja ya. Ini aku dulu yang bayar.” Melihat wajah Cyn cemberut tidak suka. “Inikan banyakan buku aku, tuh liat tebel-tebel.” Tunjuk Gio.
“Makasih ya Mba.” Ucap Gio saat buku mereka sudah diberikan.
“Iya sama-sama Mas. Sering-sering datang ya.” Ucap kasir tersebut.
Cyn kaget bukan karna keramahan karyawan ini tapi kenapa ia malah mendengar nada centilnya? Cyn jadi malas, tidak mood. Cyn menatap sekilas karyawan tersebut lalu menganggukkan kepalanya.
Gio pun melakukan hal yang sama tetapi dengan senyuman sopannya. “Beli mainan dulu ya baru makan.” Yang di jawab anggukan oleh Cyn.
“Kamu kenapa? Masih bete ya?” Tanya Gio saat dirinya disamping Cyn dengan Sabian disisi lain Gio, iya sekarang Gio berada di antara mereka karna ingin menanyai kondisi wanita itu.
“Heem...” Cyn sendiri bingung, ia bete karna lelaki itu atau karna mbak kasir tadi. “Ngga.” Ia tidak enak sama Gio juga sebenarnya.
“Gapapa kalo bete ngomong aja.”
“Terus kalo bete, kamu mau ngapain?” Tantang Cyn.
“Eskrim mau? Atau cokelat?” Tawar Gio.
Cyn terkekeh mendengarnya, “Aku Cyn bukan Sabian ya tolong.”
“Cantik.” Ucap Gio pelan.
“Apa?”
“Iya kamu cantik.” Menapa mata Cyn langsung. Cyn tidak dapat menahan merah di pipinya. Ia sangat malu sungguh.
Gio yang melihat itu gemas sekali, kalau dirinya tidak sedang menggandeng Sabian ataupun membawa buku mereka, dipastikan Gio sudah memeluk pinggang ramping wanita itu.
“Ma! Jadikan aku beli dua.” Tagih Sabian saat sedang mencari mainan incarannya.
“Iya sayang.”
Sabian sudah berjalan mondar-mandir untuk melihat-lihat mainan, Cyn dan Gio mengikuti saja dari belakang.
“Mau gantian bawa bukunya?” Tanya Cyn karna ia tahu buku yang di bawa Gio tidak enteng apalagi buku pria itu yang tebal-tebal.
“Gausah, ntar kamu pegel.”
“Berarti sekarang kamu lagi pegel?”
“Aku ga bilang pegel.”
“Tapi kamu bilang nanti bakal pegel kalo aku yang bawa.”
Gio menghembuskan napasnya. “Maksud aku, kalo aku masih bisa bawanya, kalo kamu ntar takut pegel. Aku percaya kamu kuat tapi ini biar aku aja yang bawa.” Jelas Gio.
Cyn hanya mengangguk mengerti.
“Om yang ini atau yang itu.”
Cyn memerhatikan dua lelaki itu sedang berdiskusi tentang semua mainan, ya semua. Karna Sabian tidak berpendirian dengan pilihannya dan disini banyak sekali pilihan membuat anak itu galau.
“Udah yuk Ma, aku beli ini dua.” Tunjuk Sabian apda mainan yang di bawa Gio. Gio meyakinkan Sabian pada mainan itu, maiann pilihan pertama. Hot wheels track dan bulldozers.
Cyn langsung berjalan ke arah kasir. Gio tahu ini bukan kapasitasnya untuk membayar dan Cyn sudah melototinya sedari tadi, kalaupun dirinya lah yang membayar ia akan membayar semua dengan senang hati. Buat apa ia cari uang kalau bukan untuk orang-orang uang ia sayangi?
“Mau makan apa Abang?” Tanya Cyn saat mereka bertiga keluar toko.
Cyn rasanya mau marah melihat Gio membawa barang belanjaan mereka, lelaki itu juga keras kepala.
“Mas sini aku bawa mainan aja.” Nego Cyn.
“Kamu gandeng Sabian aja ya. Aku yang bawa.”
“Mas kamu kayak ajudan aku ih.”
Gio yang melihat Cyn sudah berani menunjukkan sifat manjanya merasa senang, “Gini, aku sudah terbiasa saat jalan dengan ibuku dan adik aku, jadi ga masalah sama sekali.”
“Tapi aku bukan keluarga kamu Mas.”
“Soon.” Ucap Gio yakin.
“Hah?” Cyn bingung, soon? maksud dia gue jadi keluarganya?
“Jadinya kamu mau makan apa?” Tanya Gio mengalihkan pikiran Cyn.
“Yang grill aja Mas,” Cyn lemas sudah setelah otaknya terhubung denga perkataan pria itu.
Gio mengangguk dan mengajak masuk ke restoran grill besar.
Merkea mendapat tempat duduk dengan Gio dihadapan Cyn dan Sabian berada di sampingnya.
“Kamu mau hotpot yang mana Mas?” Tanya Cyn membolak balikkan buku menu.
“Yang kaldu aja jangan yang rasa jamu.”
Cyn tertawa mendengarnya, ia setuju kuah original mereka memang rasanya seperti jamu. “Iya yah rasa jamu hahaha.” Ucap Cyn.
“Memang ada Ma?” Sabian penasaran dan ikut menoleh ke arah buku menu.
“Rasanya kayak kamu minum jamu sayang. Kamu sering dibeliin Grand-mi jamukan ?”
“Huek.” Respon Sabian dengan muka jijik.
“Loh? Kalian juga mau makan?” Tanya seseorang di samping meja mereka.
Cyn menegang melihat itu.