22. Cyn ikhlas?

1032 Kata
Cynnie  Hah gimana maksudnya?  Cyn membalas chat dari Xenna  Cyn sangat yakin pasti Ridho ngomong sama mereka, dasar! ga laki ga bini. Lagi pula kenapa memangnya kalau Gio tahu dirinya pergi dengan Zikri, itu juga tidak sengaja bertemu. Besok ia sepertinya tidak ada jadwal apapun, karyawan kafenya juga mengatakan tidak ada yang harus urus, semua masih aman.  Sabian naik ke kolam renang dan menghampiri Ibunya, "Itu nugget untuk aku kan?" Sambil mengambil makanan yang disediakan Cyn.  "Iya, gimana? Kamu merasa sudah lebih jago atau masih sama Bang?" Memerhatikan anak itu dengan bibir putihnya dan kulit jari-jari sudah mengeriput.  "Aku diajarin renang beda gaya." Yang masih fokua dengan camilannya.  Cyn mengangguk sebagai respon.  "Sini Kak, ini ada beberapa camilan." Ajak Cyn kepada pelatih renang Sabian.  Pelatih itu tersenyum," wah repot-repot banget nih."  "Mana ada repot, nggak kok." Jawab Cyn.  Pelatih Sabian itu masih berbicara kepada Bu Bita, entah membicarakan apa.  "Kamu besok mau ikut Mama ngga?" Tanya Cyn masih memandangi anaknya itu makan dengan lahap. "Laper banget Bang? Capek ya."  "Belajar gaya baru bikin aku capek." Jawab Sabian tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan yang berisi camilan itu.  "Besok mau ga ikut Mama?"  "Kemana?" "Ke toko buku, pulangnya terserah Sabian."  "Aku dah lama ga beli mainan Ma." Menatap Cyn dengan memelas.  "Paling bisa emang kamu bikin Mamanya ga tega gini. Iya besok beli ya"  "Yess, boleh beli berapa? Kan sudah lama banget." Cyn melalakkan matanya mendengar Sabian. Siapa yang ngajarin Sabian jadi pinter ngalus begini? "Dua, gapake nawar. Kaya biasa mainnya di bawah jam tujuh malam." Perintah Cyn tidak mau di tawar.  Sabian mengangguk patuh, seenggaknya ia boleh beli dua mainan. "Pergi sama Mama saja?"  Cyn menggeleng, "sama Om Gio."  "Aku sudah lama ga ketemu Om Gio, my friend."  "Hahaha.... " Cyn sangat tertawa Sabian menyebut Gio adalah temannya. Memang mereka suka bersekutu saat ingin sesuatu. lebih tepatnya Sabian yang membuat sekutu melawan Cyn. Cynnie  Mas besok nyaru buku ya gimana sibuk ga besok? Sabian ikut ya, gak apa? Cyn mengirimkan pesan tersebut ke Gio. Tanpa menunggu lama, lelaki itu langsung menbalas pesan Cyn.  Gio iya besok ya lama ga ketemu bian kangen juga rasanya Cyn tersenyum membaca pesan tersebut. Sekarang keadaan Sabian juga sudah biasa, sudah tidak sakit bahkan giginya belakangnya mulai terlihat di gusinya itu.  "Mandi sendiri atau Mama mandiin?" Saat Cyn sudah berpamitan dengan pelatih renang Sabian. Kini dirinya sedang menaiki tangga untuk menuju kamar atas.  "Mandi sendiri, aku bisa."  Cyn mengangkat alisnya dan mengangguk. "Oke Mama siapin bajunya ya di atas kasur."  "Iya."  "Sabunannya yang bener loh Bang." Ucap Cyn menatap tegas anaknya. "Jangan mandi bebek, nanti mama cium loh." Peringat Cyn.  "Iya iyaa.." Lalu anak itu lari kedalam kamar mandi.  Cyn menyiapkan semua hingga bedakpun ia siapkan. anaknya itu benar-benar mandiri dan sangat pintar. Lalu dirinya turun kebawah untuk menemui Maminya.  "Mi... sudah pulang belom?" Tanya Cyn sambil mengetok pintu kamar Maminya di lantai bawah.  "Mi..." Panggil Cyn lagi. "Masuk aja Kak." Jawab Mami dari dalam. "Lagi ngapain sih?" Cyn melihat maminya sedang merapikan baju di dalam lemari. "Kerjaan Papi kamu, uda tua tapi dibilangin masih bandel. Baju capek-capek dilipet malah diberantakin." Grutu sang Mami.  Cyn memutar bola matanya, dirinya sudah hapal dengan kedua sejoli itu, padahal Papinya ini tipe yang nurut sama istri tapi suka sekali iseng dengan Mami.  "Kamu mau ngomong sama Mami?" Tanya Mami yang sedang melipat baju terakhir.  "Iyaa..."  "Sebentar." Setelah selesai, Mami berjalan dan duduk di kasur disamping Cyn.  "Cyn harus membagi waktu Sabian dengan Hendro juga, tapi gatau rasanya Cyn mengganjal tapi ini harus. Cyn gaboleh egois." Memandang kedepan tanpa melihat wajah Maminya. "Apa yang buat kamu deal akan hal itu?" Menoleh ke arah Cyn, memandang anaknya sayang. Anak yang kuat yang ia selalu doakan agar hidupnya dipermudah dan di lancarkan segala-galanya.  "Ego aku, ego yang harus Cyn turunin demi Sabian."  "Terus apa yang membuat kamu ga rela."  "Mungkin lebih ke cemburu karna Sabian akan memanggil wanita lain dengan sebutan Ibu. But i know gaada yang bisa ganti posisi aku samasekali." Cyn sedang mencoba meyakinkan dirinya.  "Of course, Batin kalian sudah terikat sejak dia sekecil kacang ijo di perut kamu.  "Dan aku juga udah kasih tahu Sabian kenapa Hendro udah gapernah keliatan lagi," Cyn menipiskan bibirnya mengingat pembicaraannya dengan Sabian tempo hari.  "Aku selalu bersyukur Mi dengan kehadiran Sabian karna dia aku masih kuat ada disini. Dia anak yang pintar, mandiri. Untuk anak seusinya, aku sangat bangga punya dia Mi." Mata Cyn mulai berkaca-kaca.  "Iya kamu harus bangga Nak." Mami mengelus punggu Cyn.  "Setelah sembuh, aku harus berbicara lagi sama Hendro. Sudah saatnya anak itu harus merasakan kehadiran seorang ayah."  Mami menggangguk." Tapi kalau Sabian tidak mau, jangan di paksa. Biar dia yang menentukannya sendiri ya."  "Apa kamu masih marah sama Hendro?" Tanya Mami. "Kalau marah jelas masih ada, tapi kita tidak bisa mengontrol seseorangkan, sekalipun ia berada dihidupku sejak lama."  "Yes, kita gabisa mengendalikam seseorang apalagi hatinya, tameng kita ya kita sendiri."  "Ya... Cyn mencoba itu."  "Kamu mending grow your mindset Kak, let it flow aja. Mami yakin seiring berjalannya waktu kamu bisa belajar menjadi lebih baik atau bahkan best version of yourself kan." Yakin Mami.  "Cyn sedang mencoba itu Mi."  "Belajar, belajar, belajar." Cyn terkekeh sendiri mendengarnya. "Aku udah mencoba bisa nerima semuanya kok Mi. jangan khawatir." Cyn tahu maminya ini suka sangat khawatir, tapi ya mau gimana lagi. Sudah menjadi jalan takdirnya.  "Mami selalu sebut nama kamu setiap doa mami, Nak." Menepuk pipi Cyn pelan.  "Makasih Mi." Menoleh ke ara Cyn.  "No need to thank, udah kewajiban itu semua bagi Mami. Sehat-sehat ya Nak."  Cyn mengangguk menjawabnya.  Esok hariny, Cyn dan Sabian sudah menunggu Gio di rumah. Pria itu mengatakan sedang dalam perjalanan menuju rumah Cyn. Rencananya memang mencari buku dan membelikan Sabian mainan.  Cyn hari ini memakai rajut top, celana bahan casual, dan sendal hak simple, namun sangat cocok dengannya dengan Sabian memakai kaos putih, celana jeans, dan sepatu vans putih. Mereka seperti kakak adik.  Cyn menggandeng Sabian keluar rumah setelah berpamitan dengan Ibu Bita karna Gio mengabarinya sudah di depan.  Gio melihat Cyn keluar rumah, ia pun langsung keluar Mobil untuk menyapa Sabian.  “Hai Sabian.” Sapa Gio di samping mobil.  “Halo Om. Aku mau beli mainan!” Beritahu Sabian sangat bersemangat.  Gio dan Cyn terkekeh. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN