"Bang minum obat dulu ya." Cyn dan Sabian kini sudah di meja makan untuk sarapan, seperti biasa Mami dan Papinya sudah pergi untuk kesibukkan masing-masing.
Dengan wajah malasnya ia hanya melirik Cyn dan melanjutkan jalannya ke arah sofa untuk menonton tayangan kartun pagi. Mood pagi Sabian memang seperti itu.
Cyn langsung menyiapkan semua obat yang harus di minum Sabian dengan segelas air putih. Sabian merasa harus bertanggung jawab atas tubuhnya sendiri, maka dari itu ia tidak menolak keras saat di kasih obat, cuma bete sih dikit. Itulah kenapa kita harus menjelaskan detail tanpa ada yang ditutupi kepada sang anak, tanpa mengatakan embel-embel dikasi seauatu. Mereka akan sendirinya mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
"Giginya masih sakit ga Bang? Atau ngilu gitu?" Meletakkan semua obat di depan meja sesudah meminumkannnya kepada Sabian.
"Ga sakit, ga ngilu juga." Tanpa mengalih tatapan Sabian dari TV.
Kadang ekspresif kadang lempeng sekali kamu Nak.
"Kamu kenapa pinter banget sih. Mama bangga." Cyn jujur memang mengatakannya, bukan karna dia anak Cyn, tapi faktanya anak itu hebat.
Sabian menoleh ke arah Ibunya dan tersenyum sekilas lalu kembali fokus pada TV.Cyn cengo melihat kelakuan anaknya itu.
"Maa... " Panggil Sabian kepada Cyn yang sibuk bermain telpon di sebelahnya.
"Hm?" Tanpa mengalihkan pandangannya dari telpon.
"Mau call Papa."
Cyn langsung menengok ke arah anaknya itu. Dirinya kaget jujur, selama ini Sabian tidak perna menanyai tentang sosok ayahnya itu.
"Kamu kangen ya?" Cyn sangat sedih rasanya. Ia mengelus kepala anaknya itu.
"Iyaa."
"Sebentar Mama kirim pesan dulu, takut Papa kamu sibuk." Cyn langsung mengirimi pesan kepada lelaki itu, agar tidak menganggu karna jam segini Hendro biasanya telah berangkat ke kantor.
Hendro
gabisa
lagi sibuk
Cyn mengerutkan alisnya, bahkan Hendro menolak sekarang. Apa mau lelaki itu sebenarnya? Kemarin marah-marah ingin Sabian, sekarang apa? Bahkan Hendro tidak mengunjungi Sabian selama mereka berpisah, hanya sekali di kafe itu juga berakhir buruk.
Cynnie
kalau bukan Bian yang minta sy gaakan cari km
"Sebentar ya Nak." Ucap Cyn menoleh ke arah anaknya yang sedang menunggu dirinya.
"Kayaknya Papa lagi rapat." Cyn terpaksa berbohong karna kelakuan lelaki itu.
"Kalau lagi sibuk, gausah aja Ma, gapapa." Lalu melanjutkan menonton kartun favoritnya.
Cyn rasanya ingin menangis mendengar jawaban anak itu. "Sebentar ya Nak, ga terlalu sibuk kok Papanya." Meyakinkan Sabian, padahal anak itu baru meminta sekarang, jadi Cyn tidak akan menyianyiakannya.
Hendro has calling...
Cyn langsung mengangkat panggilan itu.
"Mana Sabian." Cyn ingin berdecih mendengarnya, ia tahan karna ada Sabian.
Cyn langsung memberikan ponselnya itu kepada anaknya dan mengatakan bahwa papanya yang menelpon.
"Halo Pa." Anak itu memegang telponnya dengan dua tangan.
"Anak Papa. Lagi apa Bang?"
"Lagi nonton kartun sama Mama. Papa kenapa kerja mulu?"
Cukup lama jawaban sebrang sana, Cyn yakin lelaki itu sedang mencari alasan.
"Papa sibuk Nak, harus kerja biar dapat uang."
"Uangnya untuk apa?" Bagus Sabian! seru Cyn dalam hati.
"Kamu sakit gigi ya Nak? kata dokter apa pas ke rumah sakit?" Hendro langsung mengalihkan topik itu.
Cyn mengangkat kedua alisnya bingung, kenapa lelaki itu tidak menjelaskan langsung apa yang sebenarnya terjadi.
Cyn meninggalkan mereka berdua berbicara. "Bang, Mama mandi dulu ya." Pada anaknya yang masih asik berbicara dengan Papanya di sebrang sana, anak itu hanya merespon dengan anggukan. Biarlah, Bian kangen sama Papanya.
Mood Hendro memang sulit ditebak kan? Dirinya yang sudah lama saja kadang masih kesal dengan orang itu.
"Mamaaa... " Sabian naik ke atas untuk menemui Cyn yang sedang mandi.
"Iya Bang?" Tanya Cyn yang sedang memoleskan skincare ke wajahnya.
"Aku mau nginep di tempat Papa sekarang."
"Hah?" Cyn bingung, "kan kamu masih sakit Bang giginya."
"Udah ngga kok." Sabian meyakinkan. "Aku nginep ya. Nanti di jemput Papa."
"Loh kamu kok tiba-tiba Bang? Papa kamu emang bilang apa sama kamu?" Cyn rasanya ingin marah denga Hendro yang semena-mena itu.
"Akukan sudah lama ga ketemu Papa, Ma." Sabian dengan wajah lesuhnya.
"Mama sama sekali ga masalah, tapi kan ini buru-buru Bang. Kamu juga belum sembuh giginya. Harus minum obat terus kan?" Cyn mencoba menasehati Sabian, ia sendiri tak tahu apa yang Hendro bicarakan kepada anaknya hingga Sabian kekeuh seperti sekarang.
"Kan aku cuma mau nginep! Aku kangen sama Papa!" Anaknya itu berteriak lalu membanting pintu keluar kamar.
Cyn berkaca-kaca saat anaknya itu marah. Sabian selama ini menutupi semuanya, ia kangen dengan Papanya. Cyn bodoh! Harusnya ia tahu perasaan anaknya jangan selalu memikirkan dirinya.
Cyn menutup wajah dengan kedua tangannya, air matanya tidak berhenti. Wajahnya memerah menangis.
tok tok tok...
Cyn mengangkat wajahnya dan mengusap sisa air matanya segera berjalan ke arah pintu.
"Mbak itu Sabian nangis, tadi sudah ditenangin. Tadinya anaknya itu diam saja sambil nangis. Sekarang sudah berhenti." Kata Bita melihat wajah majikkan yang sama kacaunya dengan anaknya itu.
Cyn mengigit bibir bawahnya dan mengangguk. Ia langsung turun kebawah untuk melihat Sabian. Anaknya kini sedang memeluk bola basket yang berada di halaman belakang.
Cyn mengingat dulu Sabian suka sekali bermain bola basket dengan Hendro. Cyn berdiri di tempat, ia tak mampu melihat Sabian seperti itu. Semua ini salahnya, semua adalah salah Cyn.
Dengan langkah gemetar Cyn menghampiri Sabian. "Abang sayang..." Panggil Cyn ikut berjongkok dengan Sabian.
Sabian mengangkat kepalanya lalu membuang pandangannya ke arah lain setelah tau itu Ibunya yang sedang membujuk dirinya.
Hati Cyn sakit sekali rasanya, ia mampu menggantikan apapun dengan senyuman anak itu. "Ayo kita siap-siap. Katanya kamu mau nginep di tempat Papa, Nak? Yuk."
Sabian yang mendengar itu masi bergeming di tempatnya. Cyn menghela napasnya yang masih bergetar. "Kamu pilih baju yang kamu suka buat di pake di rumah Papa yang disana."
"Papa sudah ga sama kita?" Dengan mata masahnya ia bertanya kepada Cyn.
"Ayok masuk, Mama mau cerita." Cyn mengambil tangan kecil itu lalu mengajaknya masuk, anak umur empat tahun itu seperti bukan anak selayaknya umur segitu. Sabian terlalu kecil untuk paham masalah kedua orang tuanya.
Mereka duduk di sofa dengan Sabian di pangkuan ibunya sambil bersandar di d**a Cyn. Cyn mengecup kepala anaknya berkali-kali, rasanya sakit harus memberi anak kecil ini beban yang di perbuat oleh orang tuanya.
"Mama sama Papa sudah ga bisa bersama Sabian. Mama dan Papa memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Mama dengan hidup Mama dan Papa kamupun juga seperti itu. Nanti kalau sudah besar Mama akan kasih tahu alasannya ya." Cyn mengecup jidat anaknya itu. "Dan sekarang Papa sudah mempunyai istri baru dan anak. Bukan berarti kamu bukan anak Papa lagi Nak. Namun Papa sudah dengan kehidupannya dengan Sabian sebagai tujuan Mama agar tetap hidup."
Sabian mengusap air mta Mamanya itu yang jatuh, walaupun anak kecil Sabian juga mengerti kalau Mamanya sedang sedih seperti sekarang. "Aku sama Mama selamanya."
Cyn yang mendengar itu, air matanya tambah deras jatuh. Ia langsung memeluk erat Sabian. "Ayuk siap-siap baju kamu. Kamu mau nginep kan di rumah Papa?" Dengan senyuman lembut seorang Ibu.
Sabian menggeleng menjawah Cyn, "nanti saja kalau Abang sudah sembuh. Sekarang Abang masih sakit giginya." Cyn menaikkan alisnya mendengar anak itu dan terkekeh. Sayang sama Ibunya saja gengsi ini anak. Cyn menggoyangkan idungnya dengan idung Sabian, Ibu anak itu tertawa lepas.
Cyn sekarang sedang menemani anaknya berenang di halaman belakang rumahnya. Iya berjanjin akan selalu memberikan kebahagian kepada anaknya itu.
Dirinya sedang melihat instructor renang Sabian dengan anaknya itu, Cyn menyibukkan Sabian dengan hobo olahraga sebelum anaknya itu pergi ke sekolah formal nantinya. Dirinya mengingat tadi ia mengabari Hendro kalau Sabian tidak bisa masih sakit, lelaki itu tidak percaya tetapi setelah Sabian yang menelpon lelaki itu sendiri Hendro baru pecaya.
Gio
Hai
mau besok cari bukunya?
sekalian aku mau cari buku juga
Cyn melihat pesan dari Gio tersenyum, wajah cantik wanita itu berseri, dirinya kangen. Tapi ia yakin kangen selayaknya teman saja.
Belum sempat ia membalas pesan lelaki itu, sudah ada notif lain.
Xenna
lo jalan sama Zikri?
wah
"Apaan sih ni anak, main wah wah aja." Rutuk Cyn
Xenna
Gio tau lu abis pergi sama Zikri