"Ridho?" Sapa Cyn bingung.
lelaki itu mengangguk. "Hai Sabian." Sapa Ridho.
"Hai Om." Sabian menjawab sesudah mengunyah makanan di mulutnya.
Cyn melihat lelaki ini, Ridho, masih memakai pakaian kerjanya. Sekarang juga mungkin sudah jam pulang.
"Makan Do." Sapa Zikri terlebih dahulu.
"Ini mau makan. Tumben bertiga?" Tanya Ridho yang masih berdiri di meja Cyn.
"Gasengaja ketemu di rumah sakit." Jawab Zikri menyelak Cyn.
"Siapa yang sakit?" Dengan muka penasarannya.
"Gue ambil check up routine terus Sabian abis liat giginya."
"Tumbuh gigi ya Nak?" Tanya Ridho pada Sabian yang di jawab anggukan dengan mulut penuh mie ramennya itu.
"Yaudah gue kesana dulu ya makan." Ridho menunjuk sekumpulan rekannya yang masih memakai pakaian kerja seperti dirinya.
"Gamau join aja disini?" Tanya Cyn.
"Gaenak gue udah janji sama yang di sana duluan."
"Ah i see," Anggukan kepala Zikri.
"Duluan." Ridho membalikkan badannya.
"Yo." Jawab Cyn dan Zikri.
"Maa..." Sabian mendorong mangkuk ramennyake arah Cyn.
"Kenapa?" Menaikkan alisnya merespon Sabian.
"Gahabis. kenyang." Menyenderkan badannya lalu menggelengkan kepalanya.
"Yaudah gapapa." Ucap Cyn. Dirinya juga berpikir sudah bagus Sabian mau makan karna sebelumnya makannya susah dan sedikit.
Mereka bertiga selesai makan langsung menuju mobil Zikri, Cyn ingin berpamitan dengan Ridho tadinya, tapi di meja lelaki itu banyak rekan kerjanya Cyn jadi agak sungkan.
Entah kenapa perasaannya kini kurang nyaman semenjak bertemu Ridho di restoran tadi. Tapi Cyn merasa ini cuma perasaan sesaat saja, semoga.
"Ada yang mau di beli? Biar sekalian jalan nih." Tawar Zikri.
"Gausah langsung pulang aja, udah gelap gini." Tanpa menoleh ke arah Zikri.
Cyn ingin menanyai tentang Zikri dan Hanifa, tetapi di dalam mobil ada Sabian sedang melihat jalan. Ia hanya takut anaknya itu menangkap pembicaraannya. Sebenarnya juga hanya menanyai apakah lelaki itu punya jadwal bersama anaknya? Mungkin nanti saja.
"Makasih banyak ya, udah di anter sama diajak makan." Ucap Cyn menuruni mobil Zikri.
"Santai aja." Zikri melihat ke kursi belakang, "bisa Sabian turunnya?" Tanya Zikri.
Sabian menengok ke depan lalu membuka pintu sampingnya dibantu Cyn. "Bisa Om." Jawab Sabian.
"Makasih ya Om." Lanjut anak itu.
"Iya sama-sama Sabian. Om pulang ya, Sabian, Cyn." Ucap Zikri membuka jendela mobil.
"Iya hati-hati." Cyn menganggukkan kepalanya.
"Kamu minum obat dulu ya." Ucap Cyn saat mereka sudah memasuki rumah.
Seperti biasa rumah ini sepi karna Mami Papinya sibuk dan hanya ada Ibu Ida.
Sabian menaiki tangga untuk menuju kamar. Cyn meletakkan barangnya di sofa langsung pergi ke dapur mengambil air dan sendok untuk dibawa ke atas, kamar.
"Mau mandi emangnya kamu?" Tanya Cyn pada Sabian yang sedang membuka bajunya.
"Mau ganti baju aja." Sabian memang anak yang bersih. Anak itu pasti memerhatikan sekitarnya, karna Cyn juga orang yang seperti itu. Tidak betah melihat kekacauan atau apapun yang kotor.
"Sama cuci mukanya Bang." Tawar Cyn.
"Iya sama sikat gigi."
See? Anak jika di kasih pengertian yang baik tanpa embel-embel akan ini-itu, ia akan berpikir dengan sendirinya.
"Anak Mama kenapa pinter banget ya?" Cyn mengelus rambut anaknya itu. Sabian meresepon dengan cengiran lebar dan menaik turunkan alisnya.
"Hahaha..." Cyn tertawa geli melihatnya.
"Masih sakit ga sih gigi kamu Bang?" Sambil menyiapkan baju tidur untuk anaknya itu.
"Sedikit."
"Pas makan tadi sakit?"
"Tenggorokkan aku yang gaenak."
"Yaudah jangan minum es dulu ya." Ucap Cyn sambil memakaikan baju ke anaknya itu yang direspon anggukan pantuh oleh anak itu.
Sudah pukul delapan malam, Cyn ingin mengabari Hendro bahwa Sabian tidak bisa ke sana dulu karna masih sakit, Cyn juga belum bicara sama Sabian.
Cyn keluar kamar pergi ke ruang tv yang ada di lantai atas membiarkan Sabian menonton kartun di kamar dengan tenang dan agar anak kecil pintar itu tidak menangkap apa yang ia akan bicarakan.
Cyn mencari nama Hendro dan mulai menelpon mantan suaminya itu, ia duduk tenang di sofa. Ia sendiri sudah bersih-bersih dan memakai serangkaian skincare-nya.
Hendro menerima telpon dari Cyn.
"Ya halo..." Sapa di sebrang sana, tapi ini buka Hendro, ini suara Hanifa, Cyn yakin itu.
"Halo, ini Cyn." Cyn sendiri yakin dirinya tak perlu memperkenalkan dirinya siapa, namun entah rasanya aneh.
"Iya kenapa Mbak?"
"Bisa bicara sama Hendro?" Ucap Cyn langsung, dirinya capek, mau istirahat.
"Oh hm... Mas sedang di toilet." Cyn menyeritkan dahinya, bukannya ia sok tahu tapi kenapa perasaanya Hanifa menutupinya.
"Yaudah saya tunggu."
"Mau bicara tentang apa ya Mbak." Oh penasaran.
"Tentang Sabian, tenang aja." Entah kenapa Cyn berbicara seperti itu karna merasa Hanifa sedang was-was? Percayalah mereka berdua itu perempuan, mereka memakai insting yang sangat peka dan Cyn jamin Hanifa sekarang sedang cemburu kepadanya.
"Sabian kenapa Mbak?" Ck, Kan!
Cyn sepertinya memang harus menjelaskan kepada wanita ini agar tidak cemburu kepadanya, bagaimanapun sekarang Hanifa ada sangkut pautnya dengan kehidupannya. Demi Sabian ia rela menurunkan egonya.
"Hendro bilang harus bagi waktu Sabian antara saya dan dia, tapi sekarang Sabian gabisa karna lagi sakit. Tolong sampein ya ke Mas Hendro."
Dibilanh Cyn kesal dengan wanita itu ya tentu kesal, namun mungkin sudah jalan hidupnya seperti ini dan Cyn yakin ada jalan yang lain untuk membalas semua rasa sakit yang ia terima.
"O- iya Mbak, nanti saya sampaikan. Ada lagi?" Hanifa dengan suara hati-hatinya.
"Tolong kamu jangan berpikir macam-macam, saya gaakan balik ke suami kamu sekarang dan ga tertarik juga merebut karna saya tahu rasanya seperti apa."
"Malam." Cyn langsung memutuskan sambungan telpon itu dan ia sangat yakin wanita di sebrang sana paham akan maksudnya.
Cyn menghembuskan napasnya, ia harus tahan kekesalannya saat bertemu dengan Sabian.
Hendro
Sabian sakit apa?
kenapa kamu baru bilang sekarang
Cyn melihat Hendro mengirimkan pesan kepadanya, dirinya sedang menidurkan kepalanya di senderan sofa, dirinya hanya melirik telponnya tanpa minat untuk membalas.
“Ga waras tuh manusia lama-lama.” Cyn berbicara kepada dirinya sendiri.
“Emang dari awal ga waras sih, dulu kenapa bisa mau sama dia ya.” Cyn sendiri sudah melihat red flags lelaki itu dari saat mereka berpacaran. Hendro lelaki baik dengan segala aspek yang memukau, namun lelaki itu memiliki banyak kepribadian, tiba-tiba marah, baik, ataupun menjijikan. Kepalang cinta dirinya dulu sehingga mengabaikan red flags lelaki itu.
“Dulu seakan-akan dia nunjukkin manusia paling cinta, paling romantis, paling setia, si paling-paling deh.” Cyn tertawa melihat memori kebelakang, dirinya cukup menangisi yang lalu sekarang ia malah tertawa mengingatnya.
Ia berharap Hanifa tidak dibuang oleh Hendro dan merasakan sakit apa yang ia rasakan, rasanya kayak di cekik, susah sekali untuk bernapas.
Hendro
kenapa ga balas pesan
kamu emang berniat sembunyiin Sabian?
Cyn mencoba tidak terpancing, dirinyalah yang waras biarkan lelaki itu menggonggong sesukanya.
Cynnie
Abang lagi sakit
nanti kalau sudah sembuh saya kasih tahu kamu bisa jemput dia kapan
Cyn langsung mematikan telponnya dan masuk ke dalam kamar. Anaknya itu sudah tidur mungkin efek obat yang tadi ia minum sembelum Cyn meninggalkannya keluar.
Cyn harus punya pondasi agar dirinya tetap waras menghadapi Hendro. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan. Apa dirinya harus membaca buku? Namun ia belum tahu mana saja yang harus ia baca.
Cyn langsung mengingat Gio, haruskah ia mengabarkan Gio untuk minta mengantarnya atau ia minya rekomennya saja ya?
Biarlah nanti, sekarang ia ingin memeluk Sabian sepanjang malam.
Gio
Cyn?