19 . Loh?

1076 Kata
Seperti biasa, Cyn lebih nyaman menggunakan taksi. Siang harinya Sabian mau diajak ke dokter, Cyn tidak mau anak itu merasa terpaksa. Sabian hanya menggunakan one set gambar dinosaurus dengan Cyn memakai celana bahan hitam dengan kaus simpe putih, sungguh anak muda sekali bukan ibu satu anak ini.  "Masih sakit ga giginya Bang?" Tanya Cyn saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Masih." Sabian menyender pada ibunya itu dan menjawab lesu. "Sakitan yang sekarang apa kemarin?" Mengelus lengan Sabian. "Kemarin."  Cyn tahu anaknya ini tidak dalam keadaan mood yang bagus untuk di ajak bicara. Cyn berpikir apakah ia harus menguhubungi Hendro? Karna ia takut lelaki itu berpikiran Cyn menunda Sabian agar bertemu dengan Hendro. Nanti saja kalau sudah di rumah, pikir Cyn. Sesudah Cyn turun dan membayar taksi itu, dirinya langsung menggandeng Sabian lembut pergi ke receptionist membuat jadwal pertemua dengan dokter gigi di sana.  "Hai anak baik, kenapa giginya sayang?" Sapa dokter gigi wanita saat Sabian dan Cyn memasuki ruangan.  "Giginya sakit dok, antara tumbuh gigi atau kebanyakan makan manis." Cyn menjawab dokter tersebut karna tahu anaknya tidak akan mau menjawab.  "Oalah, Ibu periksa dulu ya. Siapa namanya?" "Sabian, dokter." Ucap Cyn kembali.  "Ikut Ibu ke dental chair ya nak." Dokter itu berjalan ke kursi khusus periksa gigi.  Sabian melihat ke arah Cyn, meminta untuk ditemani. Cyn langsung menggandeng anak itu menuju dental chair.  "Ah gigi Sabian ini mau tumbuh lagi rupanya ya." Dokter itu sambil melihat gigi Sabian dengan senter.  "Gapapa, cuma sementara. Nanti Ibu kasih obat ya biar ga sakit numbuhnya." Menurunkan Sabian dari dental chair tersebut.  "Tapi ada ga dok makanan yang bisa bikin gigi Sabian tambah sakit?" Tanya Cyn saat sudah berhadapan dengan dokter gigi tersebut.  "Yang sudah pasti makanan manis dan terlalu asam. Yang lain boleh asal tidak berlebihan saja." Dokter itu tersenyum ramah. "Kebanyakan minum asam juga gabaik buat gusi kan?"  Cyn mengangguk."iya bener, Sabian dengerkan kata dokter." Ucap Cyn menoleh ke sampingnya, Sabian.  Sabian mengangguk mengerti. "Permen Ma?" Tawar Sabian, seperti kebanyakan anak kecil yang suka sekali dengan permen dan cokelat.  "Boleh asal kalau sudah sembuh, tidak boleh terlalu banyak dan sesudahnya langsunh sikat gigi oke?" Dokter itu menatap Sabian.  "Oke!" Sabian mengangkat jempolnya menyetujui ucapan dokter.  Cyn dan dokter itu terkekeh kecil. "Yasudah, ini ibu kasih obat resepnya, cukup diminum dua kali saja, pagi dan mau tidur ya." Memberikan selembar kertas pada Cyn.  "Iya dok, makasih banyak ya." Ucap Cyn lalu menoleh ke arah Sabian. Anak itu mengerti kode yang diberikan oleh ibunya ini, "Terima kasih Ibu dokter." Ucap Sabian manis.  "Sama-sama anak baik. Cepet sembuh ya." Sabian tersenyum lalu menggandeng ibunya untuk keluar dari ruangan.  Cyn gemas dengan tingkah Sabian, selalu jadi anak baik dan sopan ya Bang, tersenyum ke arah anak yang di gandeng ini.  "Cynnie!" Panggil seseorang.  Cyn menghentikan langkahnya mendengar seseorang memanggil namanya. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat siapa yang menghampiri dirinya dan Sabian.  "Siapa yang sakit?"  "Zikri?"  "Iya saya, siapa yang sakit?" Tanya Zikri lagi.  Cyn sudah lama tidak melihat lelaki, terkahir saat dirinya masih bersama Hendro dan saat lelaki ini bersama Hanifa. Ya, dia mantan suami Hanifa yang sekarang sudah menjadi istri Hendro. Lucu bukan hidupku?  "Sabian giginya sedang tumbuh jadi sedikit nyeri dia." Mengangkat tangannya menunjukkan Sabian.  Zikri mengangguk, "hai Sabian. Nama om, Zikri." Cyn tertawa melihat Zikri memperkenalkan dirinya seperti teman sebaya sambil mengulurkan tangannya seakan mengajak berkenalan.  Sabian terlihat bingung, namun melepaskan genggaman Cyn dan menerima uluran Zikri. "Om Jikri? aku Sabian."  Tawa Cyn dan Zikri meledak melihat polosnya Sabian. "Iya kamu Sabian, pinter banget kamu mau di ajak ke dokter." Ucap Zikri memandang Cyn dan Sabian bergantian.  "Iya dong Om kalau gamau ntar Sabian gabisa makan cokelat." Ucap Cyn mewakili. "Kamu ngapaian kesini? Siapa yang sakit?" Cyn menaikkan alisnya. "Cuma ambil medical check-up doang, rutinitas biasa."  Cyn mengangguk paham karna memang beberapa pekerjaan membutuhkan medical check-up, bukan hanya itu, kita juga harus aware sama kesehatan kita, terlihat sehat belum tentu sehat ya.  "Kesini naik apa?" Ujar Zikri. "Naik taksi tadi."  "Bareng saya aja yuk pulangnya." Ajak Zikri.  "Gausah ngerepotin." Cyn kali ini memang takut merepotkan bukan perez.  "Apasih, saya maksa. Sepi juga saya lagi butuh temen. Sabian maukan jadi temen Om?" Pancing Zikri menatap Sabian.  "Om gapunya temen?"  Cyn terkekeh mendengarnya.  "Temen Om pada sibuk, Om jadi kesepian." Dengan muka yang dibuat sedih.  "Om main sama aku aja ya." Ucap Sabian dengan polosnya.  Zikri mendengar itu tertawa. "Oke. Seneng deh Om punya temen baru."  "Iya sama."  Cuek banget kamu Nak, Cyn dalam hati.  "Kita nebus obat dulu Zik." Cyn mengangkat selembaran kertas.  "Yaudah ayuk sekalian jalan."  Mereka berjalan ke arah parkiran sehabis menebus obat Sabian. "Sabian mau duduk sama Mama atau belakang?" Tanya Zikri pada Sabian.  "Aku di belakang sendiri. Sudah besar."  Zikri melihat ke arah Cyn, Wow. "Iya deh sudah besar, di belakang ya sendiri."  "You good?" Zikri menoleh sebentar ke arah Cyn yang duduk di sampingnya.  "Good what?"  "Your life."  "Not good but better. have been and always be better."  "Yes, gabisa good doang harus better ."  Cyn menangguk setuju.  "How about you?" Pancing Cyn.  "Hm apa ya? oke oke aja sih. Kayak yaudah gitu, gue juga kan yang cerain dia."  Cyn tidak mau bertanya mengapa mereka bisa bercerai, itu privasi.  "Makan dulu ya, laper deh. Sebentar aja." Belum sempat Cyn menjawab. "Sabian kamu kan temen Om, kita makan dulu ya." "Makan apa?"  "Kamu maunya apa?"  "Hm... mie."   "Sabian... " Panggil Cyn memperingatkan. "Kenapa? kan yang gaboleh kata dokter manis sama asem."  Sabian emang anak yang pintar. Zikri yang mendengar itu merasa bangga.  "Sabian suka ramen ga?" Tanya Zikri sambil melihat spio tengah. “Suka yang daging sapi.” Menyahuti Zikri. “Bolehkan Sabian kalau makan ramen Cyn?” Menoleh sebentar ke arah Cyn.  “Boleh... “ Cyn akhirnya mengalah, Sabian juga belum makan karna giginya sakit.  Akhirnya mereka berhenti di ramen daerah senopati, biasanya memang tempat ini ramai pengunjung karna jujur saja disini rasanya original alias jepang banget.  Mereka berbing hal-hal receh seperti sekarang Sabian dan Zikri sedang membicarakan Kartun Dragon ball, Cyn yang tidak mengerti sama sekali hanya memerhatikan mereka berdua.  “Kalau gahabis gapapa, jangan dipaksa.” Ucap Cyn pada Sabian karna porsi ramen sangat banyak.  Sabian hanya mengangguk. “Abang suka pedes ga?” Zikri mengikuti cara Cyn memanggil Sabian dan itu juga di persilakan oleh Cyn, memangnya kenapa? Bukannya malah bagus? “Gasuka, lidahnya kayak kebakar.” Sabian menunjukkan mimik muka lucu.  Cyn dan Zikri tertawa ringan melihatnya.  “Loh Cyn, Sabian?” Ucap seseorang di samping meja Cyn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN