18. Sakit gigi

1092 Kata
Sesampainya di rumah, Cyn ingin berbicara dengan kedua orang tuanya tentang Sabian.  "Kamu sudah mandi Bang?" Tanya Cyn melihat Sabian duduk tenang di sofa. Sabian hanya mengangguk. "Sama siapa?" Tanya Cyn kembali. "Gran-mi." Jawab Sabian tanpa mengalihkan pandangannya dari mainan kayu itu.  "Grand-minya mana?"  "Gatau, aku galiat."  Cyn mengangguk. "Kamu mau makan malem apa Bang?" "Ikan ya Bang." Dijawab dengan anggukan oleh Sabian. Kenapa anaknya itu?  Saat Ibu Ida sudah menyiapkan makanan, ini yang masak Mami, Ibu Ida hanya menyiapkan barang-barang makanan saja. Mereka semua berkumpul di meja makan untuk makan malam seperti biasa.  Cyn menoleh ke arah Sabian, anaknya makan lahap dan tidak banyak bicara. "Kenapa Bang? Enak ga makanannya."  "Enak."  "Kamu sakit Bang?" Mami dan Papi langsung melihat ke arah Sabian.  "Nggak." Sabian memasukkan makanannya ke mulut. Cyn mengangguk dan mengelus kepala anak itu.  "Kamu sudah bicara dengan Hendro?" Tanya Papi.  Cyn melirik anaknya itu samasekali tidak terganggu. "Sudah, tadi ga sengaja ketemu pas lagi keluar."  Mami memberikan kode bicarakan nanti setelah Sabian selesai makan. Sudah Cyn bilangkan kalau anak seusia Sabian itu sedang bagusnya merekam memori.  "Sebelum Grand-pi pulang, kamu main apa saja Sabian?" Pancing Papi pada Sabian. Anak itu terlihat berpikir, "Nonton, main rumah kayu." Lalu melanjutkan makannya.  "Kamu kok diem mulu Bang?" Tanya Cyn heran.  "Aku ga papa kok." Sabian meyakinkan Ibunya itu.  "Kalo ada apa-apa kasih tahu Ibu ya." Menatap anak semata wayangnya itu. Direspon dengan anggukan kepada Cyn.  "Sabian ke atas sama Grand-mi yuk, nanti Mama nyusul. Mama mau bicara dulu sama Grand-pi sebentar." Ajak Mami menggandeng Sabian menuju kamar.  Cyn memandang lesu papinya. "Sabian kayaknya lagi sakit deh tapi gatau apa, badannya juga ga panas." Batin anak dan Ibu memang tidak bisa bohong.  "Nanti kamu cek langsung,"  "Gimana Hendro?"  Cyn menghela napasnya dan memandang Papinya. "Cyn sudah ngomong sama dia, Cyn menyetujui kalau Sabian akan nginap di rumah mereka juga. Cyn udah mau nurunin ego."  Papi mengangguk. "Hendro telpon Papi pas lagi kerja. Dia bilang kalau mau jemput Sabian."  Cyn mengerutkan alisnya. "Langsung ngomong kaya gitu dia?"  Papi menggeleng,"Ya intinya kaya gitu, terus Papi bilang harus ngomong sama Cyn dulu, dia juga Ibunya."  "Tapi Cyn mau kasih tau Sabian dulu, gapapa pelan-pelan, Cyn gamau dia tiba-tiba tahu sendiri tanpa ada yang kasih tahu. Takut Sabian ngerasa sendiri."  "Iya, semua keputusan ada di Sabian. Walaupun dia masih anak kecil tapi percayalah dia."  Cyn mengangguk. "Cyn sebenernya males ngomong sama Mas Hendro kalau tidak karena Sabian." Wanita itu mengeluh.  Papi tersenyum. "Anak cantik Papi sudah besar bahkan Papi punya cucu. Bisa ya Nak kamu lewatin semua."  Cyn tersenyum getir mendengarnya dan mengangguk. "Cyn mau ke atas liat Sabian udah kangen." Yang di jawab kekehan seorang ayah.  Cyn tahu Papinya menanyai hal itu karena ia mau merasa Cyn tidak sendiri, masih ada teman untuk berbagi cerita.  "Cyn kayaknya Sabian sakit gigi." Ucap Mami melihat Cyn masuk ke dalam kamarnya.  "Aduh Nak, kenapa ga bilang." Cyn melihat ke arah jam dinding sudah pukul setengah sepuluh malam.  "Mau ke rumah sakit?" Tawar Cyn pada Sabian. Anak itu menggeleng lemas. "Gigi mana yang sakit?" Cyn duduk di tepian kasur.  Sabian hanya menggeleng. Cyn lemas, pikirannya pusing. "Kamu gamau sekarang ke rumah sakit?" Mengelus rambut Sabian.  Anak kecil itu menggeleng. "Yaudah besok harus ke rumah sakit." Ucap Cyn telak. Dirinya kini merasa bersalah sekaligus khawatir.  "Gapapa Cyn. Wajar itu, antara giginya mau tumbuh atau emang mau ganti gigi aja." Ucap mami menenangkan.  "Mami keluar dulu. Mami besok pulang agak malem karna ada keperluan, kamu kalau ada apa-apa telpon Mami, gapapa." Mengelus anak semata wayangnya yang kini sudah besar dan menjadi sosok wanita kuat.  Cyn yang masih memandangi punggung Sabian hanya mengangguk, "iya Mi."  Mendengar pintu kamar sudah tertutup dirinya langsung bergegas bersih-bersih dan memakai skincare. "Aku cantik, aku baik, aku kuat, aku selalu mendapat apa yang aku mau, aku selalu bahagia." Cyn akhir-akhir ini sering mengucapkan mantra seperti itu. Afirmasi maksud Cyn. Kini wanita itu tersenyum melihat wajah di kaca, Wanita cantik ini kuat sekali, terima kasih ya.  Cyn menyusul Sabian yang sudah terlelap dan berbaring di samping anak manis itu. "Besok kita periksa ya Nak, Mama sedih banget ngeliat kamu begini." Mencium punggun badan Sabian lembut.  "Maaf kalau belum jadi orang tua yang baik buat kamu." Cyn dengan mata berkaca mencium kepala Sabian lama. Gimana jadinya nanti kalau Sabian menginap di tempat Hendro, akankah anaknya itu bisa tenang atau akankah Sabian mendapat keadilan?  Dirinua belum mengabari Hendro, Sabian masih sakit belum bisa di ajak menginap, nanti sajalah pikirnya.  “Kita ke dokter gigi ya.” Ucap Cyn melihat anaknya sudah bangun dan hanya diam di tempat tidur. “Nanti diapain sama doker?” Tanya anak itu lesuh.  “Cuma di periksa, cari tahu mana nih yang bikin Abang sakit. Nanti kalau sudah tahu yang mana tinggal di kasih obat sama dokternya.” Cyn mengelus lengan Sabian memberi keyakinan.  Anaknya itu masih tidak mau diajak ke dokter, katanya takut disuntik. Cyn harus memutar otaknya sekarang, dia jarang menjanjikan karna takut anaknya itu terbiasa.  “Abang mau giginya sakit terus, kayaknya Mama lihat giginya mulai goyang tuh.” Tunjuk Cyn pada gigi Sabian.  Sabian langsung menutup mulutnya dan meringis. “Mamaaa... “ Rengek Sabian dan membuka tangannya agar di peluk Cyn.  “Apa sayang.” Cyn langsung memeluk anaknya itu dan mengelus punggungnya. “Nanti tidur kamu ga nyenyak lagi Bang,” menatap wajah Sabian, “dengerin kata Mama ya. Abis dari rumah sakit terus minum obat pasti langsung sembuh. Nanti Abang bebas main lagi daripada diam di tempat tidur, gaenak kalau ngapa-ngapainkan.” Cyn mencoba memberi pengertian.  Sabian mengerutkan dahinya sambil memeluk Cyn. “Pas dikasih obat, langsung sembuh?” Sabian menaikkan alisnya.  “Nggak dong, masih ada prossesnya. Nanti kamu minum obat, masuh nih ke perut nanti di perut obatnya ancur harus ke tempatnya masing-masing. Jadi satu obat banyak sekali kandungannya sayang.”  “Berarti sama aja dong kalau ga minum obat, kan sama-sama lama.”  Cyn gemas memeluk erat Sabian. “Beda sayang, kan kita sekarang gatau penyebab Sabian sakit gigi. Apa salah makannya atau gaperna sikta gigi nih, nanti dokter yang kasih tahu. Terus kalau minum obat akan sembuh kalau ikutin apa kata dokter. Kalau ga di obatin sewaktu-waktu bisa kambuh walaupun sudah ga terlalu sakit sayang.”  “Mau ya?” Pancing Cyn.  Sabian akhirnya mengangguk. “Tapi aku gamau di suntik.”  “Mama gabisa janji, tapi kalau sakit gigi sih Mama rasa ga di suntik.”  Sabian mengerucutkan bibirnya dan menaruh kepalanya di leher Cyn. “Huu anak Mama takut suntik yaa ngaku.” Ledek Cyn.  Ketawa Cyn membesar melihat anaknya mengangguk di pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN