30. Gio gamau kalah

1127 Kata
"Kenapa mantan suami mu segitu kekehnya masalah Sabian?" tanya Gio. "Aku juga gatau, bahkan ia sampai mencampuri urusanku," kata Cyn malas. Kan bener! batin Gio. Cyn malas sebenarnya memikirkan pria itu, sekua permasalahannya tidak masuk akal, bahkna terkesan hanya menyerang dirinya. Kenapa lelaki itu mudah sekali membuang orang lain? Cyn tidak merasa istimewa sama sekali justru karna watak Hendro yang seperti itu dirinya benar- benar muak.  drrt drrt .., Cyn melihat telponnya bergetar di dashboard mobil menampilkan nama sahabatnya yang ia sangat rindukan. Wanita itu usia kehamilannua sudah tua jadi tidak boleh kemana-mana karna bisa kontraksi kapan saja.  "Halooo sayang!"  "Mulai deh," ucap Cyn malas padahal aslinya kangen kok cuma ketutup gengsi saja. Gio tahu siapa pemilik suara itu, istri Ridho, sahabat Cyn, Xena. "Hahaha... sombong banget lu gaada kabarnya. Asik pacaran ya."  "Stress, yang ada masalah gue tambah banyak gara-gara Mas Hendro tau gak," saut Cyn.  "Oh iya gimana tuh dia, uda selesai masalah lo?"  "Gatau. Gue udah ikutin semua mau dia, tiba-tiba dia ngurusin hidup gue."  "Keknya dia gamon sama lu deh Cyn."  "Ya ga kaget, orang gue cantik gini," jawab Cyn jumawa.  Gio yang mendengar Cyn seperti itu hanya terkekeh kecil dan melirik wanita itu, Cyn sadar bahwa lelaki di sampingnya ini menertawainya. Ia layangkam pukulan di lengan Gio, "Mas!" ucap Cyn malu.  "Gapapa emang bener kok cantik."  "Ssttt ah."  "Hahahah.... " Gio terhibur dengan tingkah Cyn yang seperti ini. "Gua tau lu lagi di jalan sekarang, tapi sama Gio nih?"  "Iya emang. Gue abis ketemu Mas Hendro ditemenin Mas Gio."  "Banyak banget Mas-mas lu," ledek Xena.  "Lu stop ya."  "Hahahah haduh haduh perut gue."  Cyn melotot mendengarnya, "heh kenapa itu, mau kerumah sakit?" jelas Cyn panik orang ini bumil ada saja tingkahnya.  "Gausah, emang kalo lagi ketawa suka kayak gini. Kontraksi palsu, kata dokter sih akhir bulan ya."  "Jangan banyak tingkah apa, kalem gitu," saran Cyn.  "Bukan gue, tapi emang babynya yang aktif," elak Xena.  "Sama sih ya anak sama Ibu," ucap Cyn lelah.  "Eh terus gimana lu sama Mas Hendro."  Cyn akhirnya menceritakan semua yang terjadi di kafe, kecuali permintaan Hendro yang menyuruhnya menjauh dari Gio. Mungkin besok-besok kalau ketemu langsung ia akan bercerita semuanya.  Gio hanya mendengarkan dua wanita itu asik bercerita di telpon, dirinya tak masalah sama sekali. Gio bahkan sesekali melirik Cyn karna mendengar suara wanita itu nanti semangat, marah, ketawa.  Wanita itu akhirnya menutup telponnya. "Udah?" tanya Gio.  Cyn mengangguk, "Mas," panggil Cyn.  "Iya kenapa?"  "Besok mau ke rumah Xena, mau ikut ga?" ajak Cyn.  "Mau sebenernya tapi ada ketemu temen, nanti pulangnya di jemput aja ya."  Cyn langsung menoleh kaget, "eh gausah gausah, ngapain juga. Bisa kok pulang sendiri." Cyn tentu merasa tidak enak, niatnya mengajak Gio ya benar-benar mengajak bukan menjadikannya supir.  "Gapapa sekalian lewat, deket kok dari rumah Ridho," elak Gio. Sudah jelas rumah Ridho lawan arah dengan tempat pertemuannya.  "Bener?" Cyn memincingkan matanya ke arah Gio, ia malas jika di bohongin.  "Boong," jawab Gio santai, "tapi emang mau jemput, gapapa ya di jemput aja?"  "Jadi kamu boong?" tanya Cyn menaikkan nadanya.  "Iya boong, maaf. Besok tetep jemput ya."  "Kenapa sih kamu teka banget?"  "Sekarang lagi rawan bangetkan taksi-taksi gitu apalagi online. Kasian kamu entar." Gio tidak bohong sekarang memang lagi rawan pelecehan dan begal, selain itu ya tentu ia ingin bertemu dengan Cyn.  "Beli makanan dulu ya buat Sabian baru pulang. Kamu mau apa?" tanya Gio. Cyn menoleh ke arah pria itu, "gausah gapapa."  "Nanti dia nanyain gak?"  "Gabakal, dia udah aku biasain makan cemilan buatan rumah," ucap Cyn.  "Bagus. Hebat kamu," kata Gio menoleh sekilas dan tersenyum lembut.  Cyn salah tingkah melihat yang seperti ini. Dirinya membuanh muka ke luar jendela dan memilin bibirnya. Meja makan keluarga Chou sudah dipenuhi dengan anggota keluarga. Tadi ia sudah diantar pleh Gio, pria itu menolak untuk masuk karena tidak enak berkunjung jika sudah malam. Cyn mengerti apa maksud Gio.  "Sabian dikit lagi masuk TK besar ya Nak," ucap Cyn seraya menginfokan kepada kedua orangtuanya.  "Swasta sama negeri sekarang harus tujuh tahun ya Cyn masuknya?" tanya Papi.  "Iya pi, makannya Cyn baru kasih Sabian nonformal dulu. Kalo sekolah formalnya dari lama takut dia bosen, biarin dulu aja softskillnya di asah."  Mami mengangguk setuju, "Gimana dengan Hendro tadi?"  Cyn memang sudah mengabarkan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya akan bertemu dengan Hendro.  Cyn melirik anaknya sekilas, anak itu sedang asik dengan bentuk makanan entah ia potonglah entah di tata lucu menurutnya. Cyn langsung menceritakan apa yang ia dan Hendro katakan kepada kedua orangtuanya.  "Kan, dia tuh juga tau kalau dia gabisa menang di pengadilan. Makannya takut," ucap Papi yakin.  "Plin plan banget, kok dulu bisa sama kamu ya Cyn," kata Mami sedikit heran.  "Dulu Mas Hendro gak gitu Mi, Cyn juga gatau semenjak ketemu Hanifa Hanifa itu dia jadi begitu. Aku ga sama sekali berniat gituin Hanifa, tapi yang aku liat emang begitu." Cyn mangangkat kedua bahunya cuek. Saat mengatakan nama yang ia benci saja sekarang rasanya sudah biasa saja.  "Wanita bisa akrab dengan mantannya jika wanita itu sudah tidak ada rasa. Nah lelaki ini malah sebaliknya, ia masih bisa akrab jika masih ada perasaan," ucap Mami.  "Bener gak pi," lanjut Mami.  Papi mengangguk setuju, "tapi beda akranya, kalo cowoknya yang masih suka ikut campur seakan-akan punya peran paling besar. Kemungkinan masih ada rasa," ucap Papi sambil meminum tehnya.  Cyn langsung mengingat kejadian di kafe, memang cara Hendro ini terkesan aneh menurutnya. Fix lo gamon sama gue Mas!  Selesai makan dirinya menuntun Sabian ke atas untuk membersihkan tubuhnya, "tadi Mama tinggal ga ada apa-apa kan?" tanya Cyn sambil membantu Sabian melucuti pakaiannya.  "Gak ada tadi aku menggambar sama Ibu Bita," ucap Sabian semangat.  "Gambar apa?"  "Gambar bumblebee sama t-rex. Aku bisa sendiri," Sabian berkata sambil berlari ke arah kamar mandi, tidak mau di bantu oleh Mamanya.  "Jangan lari-lari Nak ih," berkata gemas takut anaknya ini jatoh.  Bukk...  Pintu kamar mandir sudah di tutup rapat oleh Sabian, Cyn hanya bisa menggeleng melihatnya.  Dirinya sudah lebih dulu membersihkan diri sebelum makan malam dan juga ia sudah kembali menyisihkan waktunya untuk membaca, memang sangat membantu untuk menjalani hidup santai. Gio jalannya mau diantar juga? Cyn langsung membalas ketika melihat nama Gio terpampang pada notifikasi ponselnya. Cynnie  Gausah  aku bareng papa aja  Gio  bener?  yauda pulangnya kabarin ya Cynnie  iyaa  siap bos  Gio tidak lagi membalas, roomchatnya pun sudah offline mungkin lelaki itu sibuk. Cyn hanya tau beberapa pekerjaannya, yang utama pasti bengkel. Namum ia yakin ada yang lain selain bengkel dan properti.  +6280xxxx malem  ini bener Cyn nomor gue nih zikri dapet dari Ridho Cyn langsung menyerit heran, ada apa lelaki itu sampai menghubunginya? Cynnie hai iya ini Cyn  +6280xxxx oke  save ya kalau mau kabarin jadi gampang Cyn tambah heran dibuatnya, namun karna ia kenal dengan Zikri ia langsung mensave nomor tersebut.  Cynnie  iya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN