29. Alasan

1060 Kata
Gerimis sudah berhenti tetapi awan masih mendung. Angin juga lumayan kencang tetapi Cyn menikmati cuaca hari ini. Cukup mewakili perasaannya.  Gio dan Cyn berjalan ke arah ruko, "ini oli langganan aku," ucap Gio di sebelah Cyn.  "Bukannya kamu di bengkel udah banyak oli," ucap Cyn yang benar-benar buta akan otomotif, ke bengkel saja kalau tidak di suruh service sama Papinya atau ya memang sudah benar-benar mogok. "Itu buat yang dijual ya dapet dari supplier kalau ini kan untuk pribadi." Yang di respon Cyn anggukan saja.  "Woi bro," ucap pria yang baru keluar dari ruko tersebut.  "Oi," sapa balik Gio, "kenalin temen gue Cyn," melihat teman didepannya ini bertanya lewat mata.  "Oh temen, saya Ibra." Ibra mengajak Cyn bersalaman.  "Cyn." Menerima uluran tangan Ibra dan tersenyum.  "Mau kemana kok rapi tumben," Gio melihat Ibra sudah memakai celana jeans rapi dan bersiap pergi.  "Biasa ada kumpul-kumpul. Punya bos udah gue titipin sama kasep. Gue langsung pergi ya sorry gabisa temenin dulu udah telat." Ibra melihat jam di pergelangan tangannya.  "Iya gapapa santai," ucap Gio.  "Duluan ya Mbak Cyn." Ibra mengganggukkan kepala. "Eh iya hati-hati," ucap Cyn menaikkan alisnya kaget.  Cyn dan Gio memasuki ruko tersebut, Cyn sedikit kaget melihat didalamnua tidak sekecil penampilam luarnya, banyak oli dimana-mana bahkan ada motor didalam, Cyn tidak tahu motor apa yang penting itu motor gede.   "Kebauan ga?" perhatian Gio pada Cyn. Memang disini sedikit bau oli tetapi inj belum seberapa, Cyn yakin yang punya sindrom suka nyium oli bensin dan semacamnya tempat ini akan mereka sukai tetapi tidak dengan Cyn.  "Nggak kok," ucap Cyn karna ya baunya masih normal, oli-olinya juga masih di kalengkan jadi ya masi oke-oke aja selain itu juga ia gamau jadi wanita lebay di mata Gio.  Ada beberapa karyawan menyapa Gio dan Cyn, mereka tahu Gio ini pelanggan setia pada toko ini. "Tunggu sini sebentar ya, mau ngecek ke dalem. Sebentar, disana bau banget," ucap Gio dengan mimik muka jijik.  "Hahaha iya iya." lucu sekali melihat muka Gio yang ekspresif tidak lempeng seperti biasanya.  "Duduk di sofa sebentar, kalo ada apa-apa teriak." Berjalan meninggalkan Cyn.  Ruangan depan memang kosong sekarang, mungkin juga pada sibuk bekerja di dalam sana, Cyn melihat yang ia pikir ini hanya satu bangunan pas masuk kedalam ada tiga bangunan jadi satu. Mungkin konsepnya down to earth kali ya, batin Cyn melucu. Tiba-tiba seorang pria memasuki ruko tersebut, "Eh neng, mau beli apa?" Melihat wanita cantik ini ada di dalam ruko kerjanya. Siapa yang nggak senang melihat yang seger-seger.  "Hah, lagi nunggu seseorang Pak," ucap Cyn sedikit malas sebenarnya.  "Oalah kirain sendiri. Sekalian mau liat-liat ga biar saya temenin,"  "Gausah Pak. Saya juga lagi nunggu doang." Ini Mas Gio kemana sih.  Pria di depannya ini selalu mengajak Cyn bicara, sunggub rasanya risih sekali. Kakinya sudah bergerak kesana-sini dengan tangan meremas satu sama lain di pangkuannya. Kalo ni orang gapergi, gue yang pergi.  "Mas udah?" Cyn langsung berdiri menghampiri Gio melihat lelaki itu sudah selesai dengan beberapa orang di belakangnya. "Udah ni, kenapa?" Melihat Cyn sudah memegang lengannya dengan kedua tangannya. Yang diresponnya gelengan saja. Cyn melakukan ini agar pria itu menjauh dan tidak coba-coba menggodanya. Bodoamat deh sekarang pegang-pegang Gio, nanti ia tinggal kasih alesan kepada Gio. "Eh bos, abis liat-liat ya apa mau coba yang baru nih?" ucap pria tadi yang berbicara dengan Cyn.  Cyn merapatkan tubuhnya dengan Gio meminta pelindungan dari om-om tidak berkesopanan terhadap wanita cantik, itu pikiran Cyn. "Masih nyaman sama yang lama, tadi juga sekalian beli buat oli mobil cewek gue, biar sama aja." Gio melihat ke arah Cyn dan tersenyum.  Pria tadi langsung diam dan menatap Cyn sungkan. Sukur, batin Cyn kesal. "Oalah, ini cewek bos ya. Nanti kalo mau coba yang baru sini aja bos, udah perna jejelin ke yang lain mereka cocok." Sekarang mode serius pria itu ke Gio tidak ada gerlingan-gerlingan centil lagi sewaktu bicara dengan Cyn.  "Iya gampang itu mah, gue pulang duluan ya. Bilang Didi, langsung bawa ke bengkel gue aja." Ucap Gio langsung merangkul pundak Cyn dan berjalan ke mobil.  Gio menengok ke kursi penumpang mendengar Cyn membuang napasnya gusar, "kamu kenapa, tadi dia gangguin kamu gimana?" ucap Gio merasa tidak enak. "Tadi ngajak ngobrol gitu, cuman mungkin emang aku lagi sensitif aja ya jadi males risih gitu nanggepin dia." Tanpa menatap Gio. "Maaf ya tadi jadi begitu, aku gatau kalo kamu bakal risih." Gio langsung menjalankan mobilnya.  "Gapapa, cuma kamu— gajadi," Cyn takut dikira kepedean, soalnya ia sendiri ngerasa Gio tidak suka melihat pria tadi apalagi sampai menganggu dirinya.  "Apa? kenapa? Ngomong aja.” Menoleh sekilas ke ara Cyn yang sedang gusar di kursinya. Cyn menimbanh-nimbang apakah ia harus ngomong atau tidak. “Tapi kamu jangan mandang aku gimana-gimana ya, aku cuma ngutarain apa yang aku rasa aja tadi.” Gio terkekeh kecil melihat gimana wanita ini menjunjung harga dirinya.  “Iya aku gabakal mikir aneh-aneh, cepet apa.” Tagih Gio sangat penasaran.  Cyn memilin bibirnya, “eum aku tadi ngeliat kamu kayak gasuka gitu pas cowok tadi rada centil sama aku,” ucap Cyn pelan dan langsung membuang muka ke luar jendela. Dirinya sedikit meringis membayangkan Gio sedang mimikirkan dirinya terlalu percaya diri. Bodoh-bodoh harusnya diem aja, batin Cyn kesal.  “Ya jelaslah, masa mentang-mentang sepi gitu langsung godain cewek, apa ga bahaya. Tau aja lagi cewek cantik.” Gio mengangkat bahunya sekilas.  “Aku cantik?” Dengan bahasa yang terbata-bata.  “Kamu gasadar kamu cantik?” Gio menggoda Cyn.  “Kamu gaperna muji terus dingin juga pas awal-awal ketemu,” memandang Gio.  “Ya masa baru kenal tiba-tiba rayu kamu terus bilang kamu cantik. Apa ga dikatain buaya ntar aku.”  Cyn tertawa mendengarnya, benar juga. Bersama dengan Gio ia melupakan sejenak permasalahan dirinya dengan Hendro, ia berterimakasih kepada lelaki di sampingnya ini selalu ada dengan Cyn dikondisi apapun tanpa ia minta.  “Aku sempet usul ke Mas Hendro tadi, gimana kalau ke jalur hukum aja biar dia puas sekalian,” ucap Cyn tiba-tiba ingin cerita.  “Terus respon dia gimana?” tanya Gio nyimak.  “Dia gamau kekeuh,” ucap Cyn, tadinya wanita itu ingin melanjutkan perihal Hendro menyuruhnya menjauhi lelaki di sampingnya ini, tetapi ia takut urusannya menjadi panjang, biarlah ia yang menyelesaikan ini semua.  “Karna dia tau kalau bakal kalah kan di pengadilan? Kamu juga ga ngelakuin tindakan kriminal ke Bian.” Gio merasa ada yang aneh dari mantan suaminya Cyn dan ia yakin apa yang ia pikirkan benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN