Cyn memang menyadarinya ada yang salah dari Hendro ini, semenjak pertemuannya kemarin Hendro tambah menyebalkan.
"Bagaimana dengan tawaranku, kita ke jalur persidangan biar kamu puas juga." Cyn masih sangat menghormari Hendro, mengingat kebaikan keluarga sang mantan suami sangat baik kepadanya, bahkan ketika mereka sudah berpisah.
"Oke, Mas cuma mau kamu fokus menjaga Sabian tidak memikirkan hal yang lain," ucap Hendro sambil membuang pandangannya ke luar jendela.
Cyn menyeritkan dahinya tidak terima tentu saja, darimana dia melalaikan kewajibannya sebagai Ibu, bukannya lelaki di hadapannya ini yang mangkir dari kewajibannya, malah sok sok nasehatin pula, Cyn kesal dalam hati.
"Hal lain itu apa?" tantang Cyn.
"Keluyuran dengan lelaki lain." Hendro mengangkat kedua bahunya dan meminum teh hangat di hadapannya.
"Sabian juga setuju kok kalau Mamanya keluyuran dengan Mas Gio," ucap Cyn memberi gerakan kutip pada kata keluyuran yang di maksud Hendro.
Hendro kaget mendengarnya, "uhuk- hem."
Cyn tentu tahu apa maksud lelaki yang didepannya ini, bagaimana pria ini melarangnya sedangkan mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali membicarakan Sabian.
"Kamu gapunya hak apapun atas aku ya, plis stop bertingkah seakan aku disini yang abnormal, mangkir dari peran dan tanggung jawab ibu lah. Harusnya kamu disini yang harus didasarin, semua ini kamu yang salah." Cyn berani menunjuk Hendro depan wajah lelaki itu.
Hendro menggeram tidak suka, "Yah justru itu, aku gamau anakku melihat ibunya keluyuran sana-sini ga jelas."
Cyn menarik napasnya mencoba menahan segala amarah yang ingin dia tumpahkan kepada lelaki ini, "tolong bersikap layaknya ayah yang baik buat Sabian bukan bertingkah seakan-akan menjadi suami buatku, itu sudah tidak lagi."
Cyn menatap ke arah sepatunya, "Ajak Sabian bicara kenapa kita tidak bisa bersama, ajak Sabian jalan seperti mu yang selalu mengajak istri dan anak baru mu. Jadilah ayah yang baik untuk Sabian. Tidak usah mencampuri urusanku" Cyn mengingat ia selalu merasa bersalah jika Sabian tidak memiliki peran ayah, sosok yang ia kagumi, superhero pertamanya.
Hendro tercenung mendengarnya, ia tidak memikirkan Sabian sama sekali, padahal yang paling sakit dari perpisahan ini adalah Sabian.
Hendro menghembuskan napas tidak terima, dirinya sudah lalai sebagai ayah. Namun tidak dipungkiri ia merasa tidak suka dengan kedekatan Cyn dan Gio, entah mengapa ia merasa wanita itu cepat sekali berpaling padahal wanita di depannya ini adalah sosok yang manja kepadanya dan mereka sudah bersama sekian lama, sekarang sosok itu berubah menjadi wanita mandiri, berani, dan percaya diri. Mungkin karna perubahan itu, dirinya sedikit kaget. Biarkanlah orang lain mikir dirinya sakit, tapi Hendro tidak peduli.
"Berhenti dengan Gio, fokuslah dengan Sabian, saya juga akan fokus dengan Sabin."
"Saya dengan Gio tidak ada sangkut pautnya dengan Sabian, saya kira kau sudah sadar bahwa yang di sini sebagai penghancur siapa, rupanya masih sama saja." Cyn kembali memakai bahasa bakunya berdapan dengan entah makhluk jenis apa di hadapannya ini.
"Jika kamu setuju, Mas akan fokus ke Sabian dan kembali ke kamu."
Tiba-tiba Cyn tertawa remeh, "Hahahaha... haduh haduh, Mas. Jika anda bertanya apakah masih memikirkan anda dan menangisi anda jawabannya adalah tidak. Saya tidak akan terjebak dalam halusinasi perasaan saya, saya menghormati anda karna keluarga anda dan Sabian. Tidak lagi untuk kesekian kali pada orang yang sama. Makasih." Cyn berjalan kaku berusaha meninggalkan meja mereka.
"Cynnie!" panggil Hendro. "Kita bisa, Cyn," ucap Hendro menahan kepergian Cyn, ia menggenggam tangan Cyn, "mau ya," mohon Hendro.
Cyn menghentakkan tangan Hendro, "terus mau kau apakan anak istri mu hah," Cyn menggeram, apa lelaki itu tidak memikirkan Hanifa dan anaknya.
"Itu akan menjadi urusanku—"
plak!
Hendro melolotot kaget dirinya sudah ditampar oleh mantan istri yang masih ia sayangi sekarang, "Kamu... "
"Kenapa?" Cyn berang dengan jalan pikir lelaki ini.
"Kenap—"
Omongan Hendro terpotong, melihat Gio sudah ada di antara dirinya dengan Cyn. Ia tidak suka dengan lelaki ini semenjak dirinya tahu orang yang di depannya lah sedang dekat dengan Cyn.
"Maaf, kalau masing-masing masih emosi, sudahi dulu. Takut kenapa-napa." Gio melerai perdebatan, untung kafe ini cukup sepi karna diluar sudah gerimis kecil.
"Gapapa?" tanya Gio menengok ke belakang.
Cyn mengangguk, energinya sudah habisa menahan amarah daripada berdebat.
"Gausah ikut campur," ucap Hendro melihat Gio sengit.
"Tetapi kalau sudah campur emosi gaakan ketemu jalannya. Bukan ikut campur." Memandang Hendro dengan dewasanya.
"Saya capek Mas, yuk." Cyn langsung mengambil tangan Gio untuk ia ajak pulang, dirinya sungguh lelah.
"Tapi kita belum selesai Cyn," ucap Hendro menahan Cyn.
"Gaakan selesai, saya mau pulang plis." Cyn menoleh ke arah Hendro sendu dibalas anggukan kaku oleh Hendro.
Gio langsung menggandeng lembut lengan Cyn berjalan ke arah pintu, "bener gapapa?"
"Gapapa Mas, cuma sedikit pusing aja," ucap Cyn seraya tersenyum lembut ke Gio.
Gio senang melihat senyum wanita ini, ia sudah menahan diri melihat perdebatan diantara mereka tadi, tetapi saat emosi sudah tak terbendung ia takut Hendro memakai fisiknya untuk melukai Cyn, makannya ia langsung melerai.
Gio menggunakan tangannya untuk menghalau gerimis ke pintu penumpang, Cyn merapatkan dirinya ke Gio. "Makasih Mas," dengan suara kecil saat Gio akan menutup pintunya. "Its oke," dibalas Gio.
Melihat Gio sudah berada di sampingnya, Cyn langsung mencabut beberapa tissue untuk mengelap Gio. "Ga basah banget," ucap Gio tetapi tetap menerima tissue yang di berikan Cyn kepadanya.
Hari belum terlalu sore tetapi sudah mendung dimana-mana, awanpun tahu suasana hati Cyn sekarang.
Gio tidak tahu harus bagaimana menghibur Cyn. ia juga tidak tahu apa yang dibicarakan lelaki itu kepada Cyn hingga wanita ini menjadi sendu. Ia tidak suka melihat Cyn seperti ini.
"Mau langsung pulang atau mau beli eskrim dulu," ucap Gio memberi tawaran agar wanita ini naik moodnya.
Cyn terkekeh sekilas lalu memandang Gio, "gamau langsung pulang, gamau ketemu Sabian pas moodnya jelek," Cyn dengan nada merajuk.
Gio gemas melihatnya, "laper gak?" tawar Gio.
"Ngga juga, kemana ya." Cyn bingung.
"Mau ikut aku ambil oli dulu gak?" ajak Gio meminta persetujuan Cyn.
"Boleh."
Cyn menyenderkan tubuh sepenuhnya ke kursi dirinya kesal sekaligus lelah, "kesel banget sama Mas Hendro ih." Gio menoleh mendengar Cyn tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Diapain kamu sama Hendro?" memancing Cyn.
Cyn diam sebentar lalu melanjutkan. "Dia memintaku dan Sabian kembali dengannya," dengan nada lesuhnya.
"Terus gimana sama istri barunya itu." Gio sedikit sewot mendengarnya.
"Gatau, katanya biar jadi urusannya."
Wah stress juga mantan suami Cyn, gabisa nih.
"Tapi kamu sempet mempertimbangkan buat balik sama Hendro?" tanya Gio hati-hati karna memang ia sendiri merasa ketar-ketir sekarang.
"Ya gak lah Mas, cukup deh berurusan sama dia. Gamau lagi." Cyn berkata tegas dan paten, dirinya sempat mendengar Gio lega mendengar jawabannya, tapi ia tidak tahu mengapa.
“Tapi aku masih kesel banget pangen tak IH.” Cyn membuat gerakan mencabik-cabik.
Gio gemas melihatnya dan mengulurkan tangannya.
“Ngapain?” tanya Cyn bingung.
“Kamu daripada begitu, nih remes aja tangan aku nganggur satu,” tanpa menoleh ke arah Cyn tetapi tangannya tetap ia ulurkan ke pangkuan Cyn.
Cyn mengambil tangan Gio langsung meremasnya kesal, “Ih ih sukur.” Cyn menekan gemas tangan Gio lalu memukulnya kecil.
Gio tidak merasakan sakit sama sekali malah dirinya senang tangannya di genggam oleh Cyn.