Suasana sunyi dan hening menyelimuti ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur kecil di rumah petak sederhana itu, hanya bunyi detak jarum jam dinding yang menemani seorang wanita cantik berpiyama panjang merenung seorang diri. Terduduk di atas alas tikar bergambar kartun, punggungnya bersandar pada tembok lunglai, serta kaki yang ia selonjorkan dan tatapan sendu tampak jelas memghiasi wajahnya. Helaan napas entah sudah keberapa kalinya terdengar lirih dari bibirnya. Waktu bahkan sudah menunjukkan pukul 21.30 dan ini sudah berjam-jam lamanya setelah kejadian tadi sore. Perasaan gundah dan gelisah itu belum juga hilang dan terus menghantuinya membuat dadanya terasa sesak dan sakit. Mengapa orang itu ada disini dan muncul sekarang. Benaknya berpikir. Melihatnya saja walau sekil

