Geya menghapus air matanya, berusaha untuk tegar. Geya tak boleh lemah, saat Geya melihat Aarav dan Diah yang bisa tegar seharusnya Geya juga seperti itu. Geya menguraikan pelukan dari Diah, Geya menatap Aarav dan Diah secara bergantian. "Sekarang jam berapa?" Geya mengalihkan pembicaraan. Tak ingin juga berlarut-larut dalam kehampaan dan luka hebat. Sekilas Diah menatap jam dinding berada di pojok kamar, kemudian kembali menatap Geya dan menjawab, "Udah sore." Diah berkata pelan. "Gue mau mandi." Geya berujar lirih lalu mulai bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi, melewati Diah dan Aarav yang hanya bisa terdiam. Hingga ketika Geya hampir masuk kamar mandi, Geya tak sengaja melihat tasnya dan disamping ta situ terdapat botol minumnya yang sempat Geya memasukkan boto

