“Saya sudah menghubungi pengacara Anda. Beliau sedang dalam perjalanan ke sini,” Ganesh melapor.
Grisa mengangguk, lalu mempercepat langkahnya menuju kamar. Saat ini Ganesh dan Grisa sedang berada di rumah untuk melakukan berbagai persiapan terkait rencana mereka. Sementara itu, Hasan ditemani oleh ART mereka.
“Oh, iya. Kamu udah hubungi wartawan juga?” tanya Grisa.
“Sudah, Bu. Beberapa dari mereka juga sudah mulai bersiap di aula perusahaan kita.” jawabnya.
“Oke. Sebentar lagi kita mulai dramanya. Kamu gak perlu persiapan bathin segala kan?”
“Sebetulnya butuh sih, Bu.”
Grisa tersenyum melihat asistennya yang nampak kusut itu.
“Mandi dulu, gih! Ganti baju pakai yang di lemari kamar bawah.” perintah Grisa seraya menutup pintu kamarnya.
Spontan Ganesh memperhatikan dirinya sendiri. Dia baru sadar kalau gayanya sekarang terlalu awut-awutan. Maka, diapun memenuhi perintah Grisa.
Untungnya dia punya beberapa pakaian ganti di rumah ini. Sebagai asisten pribadi, beberapa kali dia menginap jika diperlukan. Apalagi saat ada banyak pekerjaan yang mengharuskannya untuk tatap muka dengan Nia.
Tak lama, Grisa yang sudah berpakaian rapi dengan blouse dan rok hitam selutut. Rambutnya dia ikat kuda ke belakang tanpa poni. Grisa turun ke lantai bawah disambut oleh Ganesh yang tak berkedip melihatnya.
Lagi-lagi mata Ganesh berkaca-kaca. Dia ingat betul kalau itu adalah style andalan Nia. Jika yang di hadapannya benar-benar Grisa, mana mungkin rok itu menempel di badannya. Grisa yang Ganesh kenal lebih senang mengenakan celana kulot panjang.
“Kedip, woi!” sentak Grisa di depan Ganesh yang masih terpaku padanya.
“Maaf, Bu.” ucap Ganesh sambil mengusap matanya yang mulai meneteskan air.
Bukan berarti Grisa tidak paham dengan perasaan Ganesh. Dia hanya ingin mengingatkan kalau sekarang bukan saatnya untuk bermellow-mellow. Ada banyak pekerjaan yang mereka harus kerjakan hari ini juga.
“Pak Rosyid sudah menunggu di depan,” lanjut Ganesh kemudian.
“Oke. Kita ke sana.”
Di ruang tamu rumah mewah itu sudah ada Rosyid, pengacara utama keluarga Rajendra dan satu orang lain yang juga bagian dari tim kuasa hukum.
Ganesh dan Grisa pun duduk juga di sana. Suasana serius semakin menyelimuti ruangan itu ketika pembicaraan dimulai.
“Dalam surat yang kami pegang, memang tertulis bahwa Bu Grisa lah yang akan mewarisi aset milik Bu Nia. Jadi, keputusan Anda cukup valid. Kami akan segera memprosesnya,” ujar Rosyid.
“Terima kasih, Pak. Saya harap, selanjutnya kita bisa bekerjasama dengan baik.”
Mereka pun bersalaman, lalu Grisa mengantarkan Rosyid dan rekannya untuk keluar rumah. Sebelum mereka benar-benar pergi, Grisa sedikit mendekat pada Rosyid dan membisikkan sesuatu tanpa sepengetahuan Ganesh, “Saya juga sudah mendengar dari Ibu soal urusan warisan yang satu lagi. Apa bisa Bapak mempercepat proses itu juga?”
Rosyid menengok, “Tentu. Anda tidak perlu khawatir.”
“Baik. Terima kasih sekali lagi.”
Pak Rosyid dan rekannya sudah pergi. Selanjutnya, Grisa dan Ganesh juga bersiap untuk rencana mereka selanjutnya.
Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju gedung utama Rajendra Group. Berbeda dengan Grisa, Ganesh nampak gugup. Tetapi, dia masih berusaha untuk fokus menyetir.
Sesampainya di gedung pencakar langit itu, mereka disambut oleh para wartawan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan bantuan satpam dan bodyguard yang sudah bersiap, Grisa dan Ganesh melewati lautan manusia yang tengah mengambil gambar berupa foto maupun video itu. Di sana ada pula reporter yang tengah memberi kabar kalau konferensi pers akan segera dilaksanakan.
Pintu aula di lantai satu sudah terbuka. Di sana berbagai persiapan sudah nampak rapi. Tanpa mengambil waktu lama, Grisa pun naik ke panggung. Para wartawan juga duduk di kursi masing-masing.
Untuk mempersingkat waktu, Grisa langsung dipersilakan untuk berbicara di podium.
"Selamat siang. Terima kasih semuanya sudah bersedia menyempatkan hadir di sini. Nama saya Grisaia Dita Rajendra, puteri angkat dari Niandita Rajendra, pemimpin Rajendra Group.”
Sebagian besar yang mendengarnya seketika membelalakkan mata mereka. Memang mereka pernah mendengar kalau Nia memiliki puteri, namun baru kali ini mereka melihatnya sendiri. Keberadaan Grisa benar-benar disembunyikan sebelum ini. Tentu ini adalah berita yang cukup menghebohkan.
“Saya yakin Anda semua sudah mendengar tentang meninggalnya Ibu saya. Kehadiran saya adalah untuk mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut. Selain itu, kabar lokasi ditemukan jasad juga benar adanya. Saya dan Pak Ganesh sendiri, ditemani para polisi lah yang menemukan beliau dalam keadaan yang...”
Grisa menjeda kalimatnya, menahan air mata dan isak tangis yang hampir saja lolos. Saat ini dia tidak sedang membicarakan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Mengingat bagaimana keadaan mayatnya saat ditemukan, tak ayal membuat hatinya sakit. Terlebih setelah itu dia juga mendapati puterinya mengalami kejadian yang sama nahasnya.
“Maaf...” suara Grisa bergetar. Wajahnya sudah sangat merah dan akhirnya airmatanya pun menetes.
Dia mengatur napasnya, lalu lanjut berkata, “Saya sangat yakin kematiannya bukan kematian yang wajar. Dan saya berharap keadilan akan segera ditegakkan.”
Ganesh segera menghampiri Grisa, kemudian merangkul gadis itu sambil mengiringnya turun dari podium. Mereka, dengan dijaga bodyguard, keluar melewati pintu yang lain meninggalkan para jurnalis yang heboh ingin mendengarkan kisah lengkapnya.
“Kamu sudah berusaha.” bisik Ganesh sambil mengelus bahu kecil Grisa.
Berita mengenai kemuncullan Grisa dan kematian Nia pun mencuat di seluruh media. Sebagai salah satu wanita terkaya di negara ini, Grisa sudah memastikan agar berita ini menyebar dan viral, kalau bisa sampai berbulan-bulan. Melalui kenalan Ganesh, berita ini juga akan dibesar-besarkan hingga terdengar ke pelaku sebenarnya yang diyakini adalah Ethan, mantan tunangan Nia.
…
Ethan duduk di sofa ruang kerjanya, menonton berita dengan cemas. Wajahnya memucat saat melihat laporan tentang kematian Nia dan bagaimana mayatnya telah ditemukan. Dia merasa sudah menyembunyikan mayat itu dengan baik, namun kenyataannya berkata lain. Rasa panik mulai menguasai pikirannya.
"Sial," gumam Ethan, mencoba berpikir cepat. "Kalau mayatnya ditemukan, bisa saja bukti lainnya juga terungkap. Tidak, tidak… Aku yakin sudah tidak ada bukti yang tertuju padaku."
Saat kepanikannya memuncak, sebuah telfon dari resepsionis mengagetkannya.
“Dok, ada polisi yang mencari dokter,” ujar resepsionis itu.
Napas Ethan memburu, tapi dia mencoba tenang. Dia ambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Di depan para polisi itu, dia tidak boleh panik. Hal itu hanya akan membuat mereka menaruh curiga.
“Baik. Suruh saja mereka menemui saya,” sahut Ethan yang langsung menutup telfon itu dengan kasar.
Sementara itu, Yuria yang sedang menikmati makan siang di sekolah mendadak kaget melihat video viral di Yucub yang dibagikan temannya. Grisa yang selama ini dia bully kini tampil anggun dan berwibawa, mengungkap identitas aslinya sebagai puteri dari salah satu wanita muda terkaya di Indonesia.
"Ini gak mungkin," gumam Yuria. Dia selalu mengira Grisa hanyalah anak dari janda miskin. Kenyataan ini menghantamnya keras, membuatnya merasa malu dan terhina.
Di meja yang sama, teman-teman Yuria mulai berbisik-bisik, membicarakan video tersebut dengan nada kagum dan terkejut. Yuria menundukkan kepala, tidak tahan dengan tatapan penasaran dan komentar sinis yang mulai muncul di sekelilingnya.
"Yuria, lo tahu soal ini?" tanya salah satu temannya, Tere.
Yuria menggeleng, mencoba mempertahankan wajah tenangnya, walau dalam hati ada rasa khawatir yang begitu besar. Sekarang kalau dibandingkan dengan Grisa, dia tidak ada apa-apanya. Grisa sudah menjadi pemilik Rajendra Group setelah kematian ibunya, sedangkan dirinya hanya anak anggota DPR dan pengusaha kosmetik. Bagaimana kalau setelah ini Grisa membalasnya bertubi-tubi?