“Dokter Ethan, kami minta agar Anda ikut kami ke kantor polisi,” ujar salah satu polisi dengan tegas sambil memperlihatkan surat pemanggilan.
Ethan mengerutkan dahinya, “Atas dasar apa, ya?”
“Ada dugaan bahwa Anda terlibat dengan kematian Nona Niandita Rajendra,” jawabnya.
Ethan terkejut dan mencoba menyangkal, “Ini pasti kesalahpahaman! Saya tidak tahu apa yang kalian bicarakan!”
Saat dikabari tadi, Ethan mengira kalau dia cuma akan dimintai keterangan. Tidak tahunya para polisi itu malah akan langsung menangkapnya. Bagaimana bisa mereka tahu bahwa dia terlibat?
Polisi itu tidak tergoyahkan. “Kami memiliki bukti rekaman yang jelas. Anda memiliki hak untuk tetap diam dan apapun yang Anda katakan bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan. Anda harus ikut dengan kami sekarang.”
Kalau sudah begini, dengan terpaksa Ethan harus mengikuti keinginan mereka. Dia mengikuti para polisi tersebut dengan tertib, sehingga mereka tidak perlu memborgolnya. Ethan hanya bisa terdiam, wajahnya pucat pasi. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengelak. Pikirnya, dia harus tetap tenang. Dia akan mendengarkan keterangan para polisi, lalu mencari celah untuk menghindar.
Sesampainya di kantor polisi, Ethan dipersilakan untuk masuk ke ruang interogasi. Di depannya, dua aparat polisi mempersiapkan berkas-berkas penyelidikan. Salah satu detektif, seorang pria paruh baya dengan raut wajah tegas memulai interogasi.
“Dokter Ethan, kami mendapatkan bukti keterlibatan Anda terkait pembunuhan Niandita Rajendra. Apa Anda bisa menjelaskan ini?” tanya beliau.
Ethan nampak kebingungan. Dia tidak tahu bukti apa yang mereka miliki. Tapi, jika dalam bukti tersebut benar-benar membuktikan bahwa dia pelakunya, Ethan tidak yakin bisa lari dari kasus ini.
“Bukti?” Ethan balik bertanya.
Petugas itu mendengus, lalu mengisyaratkan polisi yang lain untuk menyalakan laptopnya. Dibukalah laptop tersebut, lalu dia nyalakan sebuah file berbentuk .mp3 yang merupakan bukti yang dimaksud.
Petugas yang lebih muda itu mempercepat ke poin yang iingin mereka tunjukkan. Kemudian, terdengarlah suara Ethan dari sana.
Berdasarkan ingatan Ethan, ini adalah rekaman kejadian saat Nia masuk ke dalam apartemennya. Dia memejamkan matanya dengan penuh kekhawatiran. Sungguh dia tidak sadar kalau Nia sudah merekamnya dari awal.
“Dalam rekaman ini Bu Nia menyatakan bahwa Anda memberikan sebuah minuman secara paksa.”
“Itu hanya air putih. Saya juga meminumnya waktu itu.” Ethan berdusta.
Dua detektif tersebut tak lantas percaya pada Ethan. Mereka sudah berpengalaman, mereka tahu mana yang jujur mana yang berbohong.
“Lalu, kenapa Anda tertawa saat korban meminumnya?”
Pertanyaan penyidik semakin memojokkan Ethan. Dia yang menyembunyikan tangannya yang sedang bergetar di bawah meja itu menyahut, “Waktu itu Nia kelihatan… lucu.”
Kenyataannya waktu itu Ethan merasa senang, karena sebentar lagi Nia akan bisa dia dapatkan.
“Tapi, setelah itu… di sini juga kedengaran saya kaget tiba-tiba mendiang kejang!” lanjutnya berseru.
Kali ini penyidik itu yakin kalau Ethan bicara jujur. Pertanyaannya pun berlanjut, “Lalu, mengapa tiba-tiba jasad korban berada di hutan? Apa yang Anda lakukan setelah itu?”
Ethan memejamkan matanya, lalu menggeleng.
“Saya tidak ingat. Waktu itu saya mabuk berat. Dengar saja, Pak! Suara saya cuma sampai sini, karena saya langsung masuk kamar ketakutan! T” jawabnya.
Dua penyidik itu yakin kalau masih ada yang mengganjal dari keterangan Ethan. Karena itu, mereka terus memberi Ethan berbagai pertanyaan yang memojokkan pria itu. Sesekali mereka juga membentak supaya Ethan berbicara. Namun, selayaknya orang berpendidikan tinggi, Ethan selalu memberi jawaban yang membuatnya lolos.
“Kami akan memanggil Anda lagi untuk memberi keterangan lanjutan. Saya harap Anda tidak melakukan hal gegabah setelah ini,” kata penyidik begitu mereka selesai.
Seketika Ethan menghembuskan napas lega. Ini hanya sementara, tetapi setidaknya sekarang dia belum akan ditahan. Masih ada cara untuknya menghindar dari kasus ini.
…
Di kantor Ranjendra Group.
Grisa dan Ganesh baru saja mendapatkan kabar dari kepolisian kalau penyidikan awal sudah selesai. Sayangnya, mereka belum bisa menentukan tersangka dalam kasus ini. Akan tetapi, kini mereka sudah memiliki nama-nama baru terkait pembuangan jasad Nia.
Ada lima orang pria yang namanya Ethan sebutkan. Mereka adalah teman-teman Ethan yang saat itu berada di apartemennya dan melihat langsung kejadian tersebut.
“Apa Anda kenal nama-nama ini, Bu?” tanya Ganesh pada Grisa yang tengah membaca laporan penyidikan sementara lewat tabletnya.
Grisa mengingat-ingat, barangkali dia tahu satu atau semua nama itu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang dia tahu. Bagaimanapun dulu dia tidak dekat dengan Ethan, mana tahu dia tentang lima nama itu.
“Entahlah. Tapi, aku ingat wajah mereka dikit. Kayaknya kita nunggu dulu hasil penyidikan,” ujar Grisa yang diangguk Ganesh.
“Detektif swasta yang kita sewa juga sudah mulai bertugas. Semoga saja mereka bisa segera mendapatkan hasil,” tanggap Ganesh.
Grisa mengangguk, lalu menutup tablet di tangannya. Dia mendekat pada Ganesh, “Soal ini kan masih nunggu, jadi bisa dong kita ngomongin yang lain. Soal tawaranku tadi gimana, Nesh?”
Baru juga Ganesh melupakannya, tapi sekarang Grisa sudah mengingatkannya lagi. Jujur tawaran Grisa tadi benar-benar membuatnya pusing. Bosnya ini mungkin sebenarnya ingin membunuhnya.
Begini kronologinya. Seusai haru biru konferensi pers tadi, Grisa mengajak Ganesh untuk berbicara serius di ruangan Nia. Gilanya, di sana Grisa berkata, “Aku rencananya mau ngelepas posisiku di sini. Susah loh, jadi bos sambil sekolah. Sekarang kamu yang urus, ya!”
Di saat seperti ini, Ganesh benar-benar merasa kalau gadis remaja di hadapannya itu adalah Nia, bosnya yang bertangan dingin tapi susah ditebak. Alasan Grisa memang kuat untuk lebih fokus ke sekolahnya. Tetapi, tetap saja gila kalau tiba-tiba Ganesh lah yang mengambil alih.
Atas dasar apa? Dia baru menjadi asisten pribadi selama lima tahun. Usianya juga baru 29 tahun sekarang. Ini bukan novel tidak realistis yang mana banyak CEO-CEO muda bertebaran. Apalagi dia tidak punya dasar yang kuat untuk dijadikan pemimpin Rajendra Group. Namanya juga cuma Ganesh Altaira tanpa embel-embel Rajendra. Bisa-bisa Ganesh dibakar investor dan anak buah Nia lain yang lebih senior.
“Bagaimana kalau Bu Nia home schooling saja? Lebih santai kan kalau di rumah? Dengan begitu, Bu Nia bisa mengerjakan tugas Anda sebagai pimpinan. Selain itu, ini bisa dimanfaatkan untuk membuktikan kemampuan Anda. Juga, Anda bisa terbebas dari bullying di sekolah,” tolak Ganesh, mencoba memberi solusi.
Dengan bibir manyunnya, Grisa membalas, “Sekarang gue bukan Nia. Panggil yang bener! Ntar kebiasaan!”
Ganesh mendengus dan berkata, “Ya… yaaa. Sekarang nama Anda Grisa. Saya akan ingat-ingat.”
Sambil menyenderkan bahunya di dinding, Grisa lanjut berkata, “Gini loh, Nesh. Lo gak tahu kan perasaan gue yang udah membesarkan Grisa dari balita. Walaupun dia bukan anak kandung gue, gue tetep sayang sama dia. Apalagi sekarang dia minjemin badan dia buat gue.”
“Rasanya gak tega, gak rela kalau Grisa diperlakuin kayak waktu itu. Gue ngerasa gak tenang kalau gak dibales.”
“Oke. Saya akan berusaha mengerti. Tapi, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Kan gak harus saya juga.” Ganesh masih berusaha menolak.
“Memangnya ada orang lain yang bisa dipercaya selain kamu?”