Harapan

1071 Kata
Jenazah Nia akhirnya Sehari setelah kematian Nia, jenazahnya dipulangkan setelah autopsi selesai. Berdasarkan hasil autopsi, dinyatakan bahwa Nia mati karena sianida. Kesedihan menyelimuti acara pemakaman, terutama bagi Hasan, kakek Nia, yang memaksakan diri untuk datang meski masih dirawat di rumah sakit. Hasan ingin melihat wajah cucunya untuk terakhir kali. Pemakaman berlangsung dengan penuh duka. Isak tangis terdengar dari setiap sudut. Banyak dari mereka yang merupakan teman dan rekan kerja Nia. Bagi mereka, kepergian Nia ini terlalu tiba-tiba. Apalagi beberapa hari sebelumnya Nia masih sangat sehat. Tetapi, yang paling mencolok adalah kesedihan mendalam yang dirasakan Hasan. Meskipun kondisinya belum pulih sepenuhnya, ia tetap teguh berdiri di samping makam Nia yang masih basah, memandang dengan air mata yang terus mengalir. “Kenapa kamu pergi lebih dulu, Nia?” berkali-kali Hasan menanyakan itu dalam tangisnya. Walau sayang, tidak ada satupun orang yang bisa menjawabnya di sana. Grisa berdiri di sampingnya. Ingin rasanya dia mendekap kakeknya itu dan memberi tahu bahwa dia adalah Nia yang ditangisi. Jiwa Nia masih bersamanya, meskipun raganya kosong. Namun, Grisa tidak bergerak dari sana. Perannya sekarang adalah anak angkat dari Nia yang tidak Hasan sukai, yakni Grisa. Jika berbuat sembarangan, Hasan mungkin akan marah tak terkontrol. “Mbak, sebaiknya kita pulang,” ucap Ganesh, membuyarkan lamunan Grisa. Grisa mengangguk beberapa kali, “Ya, ayo pulang,” sahutnya. Grisa pergi setelah melirik Hasan sekali lagi. Dia hanya berharap, kematiannya tidak membuat Hasan sedih berlarut-larut. … Sore itu, setelah pemakaman usai, kerabat dan teman-teman Nia berkumpul di rumah besar keluarga Rajendra untuk mendoakan arwah Nia. Hasan duduk di ruang tamu, dikelilingi oleh saudara-saudara jauhnya yang memberikan dukungan. Grisa melihat dari kejauhan, merasa terasing dalam kerumunan itu. Sebagai Nia, dia mengenal mereka. Tetapi, sekarang dia sadar kalau sekalipun Grisa yang asli tidak pernah bergabung jika ada acara kumpul-kumpul keluarga besar. Peran Grisa dalam keluarga ini selalu dipertanyakan, terutama oleh Hasan. Begitu malam datang, ketika para tamu mulai meninggalkan rumah, Hasan memanggil Grisa ke ruang kerjanya. Grisa datang dengan langkah hati-hati, mengetahui bahwa pembicaraan mereka kali ini akan sangat berat. “Ingat, gak boleh bikin kakek marah,” Grisa mengingatkan dirinya sendiri dalam hati. Ketika Grisa masuk, Hasan duduk di belakang meja kayu besar, menatapnya dengan tatapan tajam. "Grisa, duduklah," kata Hasan dengan suara lemah namun tegas. "Kita perlu bicara soal warisan." Grisa mendengus perlahan. Sudah dia duga Hasan akan membicarakan ini. “Apa maksud Kakek warisan Ibu? Tempo hari Pak Rosyid sudah datang menemui saya,” Hasan menghela napas panjang, memandang Grisa dengan tatapan yang tidak bersahabat. "Jadi, kamu menerima warisan ibu angkatmu?” tanya Hasan menekankan kata ‘angkat’ untuk mengingatkan Grisa tentang statusnya. “Ya,” sahut Grisa. Pikirnya, toh itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri sebagai Nia dan sedari awal, Nia memang ingin memberikannya pada Grisa. “Sudahlah. Toh kamu memang berhak. Nia sudah mengaturnya begitu. Tapi, bukan ini yang aku ingin katakan.” Dua alis Grisa bertaut. “Aku merasa kalau waktuku sudah tidak akan lama lagi. Jadi, aku berencana untuk mewariskan asetku padamu,” lanjut Hasan. “Mohon maaf, Kek. Untuk ini sepertinya saya tidak bisa,“ sahut Grisa pelan. “Kenapa? Tidak perlu pura-pura segan, aku tahu kamu menginginkannya,” sindir Hasan pedas. “Saya bukan segan, Kek. Hanya saja, masih ada orang yang lebih berhak menerima ini,” Ucapan Grisa membuat Hasan bingung. “Apa maksud kamu?” tanyanya. Sambil tersenyum Grisa menjelaskan, “Ibu pernah bercerita pada saya tentang Bu Sari,” Mendengar perkataan Grisa, seketika Hasan membelalak. Hasan terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan Grisa. Pikirannya berkecamuk, memikirkan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. “Bagaimana bisa…“ Hasan tergagap. … Ceklek Pembicaraan Hasan dan Grisa sudah selesai. Kini Grisa keluar dari kamar Hasan untuk menemui Ganesh. “Kamu dipanggil, tuh!” kata Grisa pada Ganesh yang berdiri tidak jauh dari pintu. “Hah? Ngapain? Saya ada salah, ya?” Wajah Ganesh seketika pucat. Selama ini kalau berurusan dengan Hasan, artinya ada yang kurang beres. Lalu, biasanya Nia akan menyeretnya ikut supaya Nia tidak dimarahi sendirian. “Nggak, kamu masuk aja!” paksa Grisa. Dipaksa begitGanesh, yang selama ini menjadi tangan kanan Nia, tampak ragu-ragu ketika memasuki ruangan. "Ganesh," panggil Hasan, suaranya tegas meski tubuhnya lemah. Ganesh pun mendekati pria yang usianya hampir seabad itu. “Ada apa, Pak?” tanya Ganesh menyahut. “Aku menugaskanmu untuk menjadi pimpinan sementara Rajendra Group. Lalu, sambil itu, ajarkan Grisa tentang bisnis kita!” Untuk Ganesh, ini sudah lebih dari panik. Sebelum ini Grisa pernah mengatakan ini padanya dan dia tolak. Tidak tahunya gadis itu malah minta bantuan Hasan. Ah, mau marah pun susah. Dari dulu, saat masih menjadi Nia pun dia begitu. Seharusnya Ganesh tidak heran dengan tingkah laku Grisa. “Tapi Pak, pengalaman kerja saya tidak terlalu banyak. Hanya lima tahun. Bagaimana kalau nanti ada anggota dewan direksi atau dewan komisaris yang tidak setuju?” Pertama-tama, pokoknya Ganesh berusaha menolak dulu. Dia sadar akan kemampuannya, karena sudah lima tahun ini menemani Nia. Tetapi, dia belum ingin mendapatkan masalah. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang bekerja untuk Rajendra Group selama bertahun-tahun. Mana mungkin mereka mau menerima begitu saja anak ingusan sepertinya. “Nia sangat percaya padamu. Yang lain pasti juga akan setuju. Lagipula ini cuma sementara,” bujuk Hasan. “Tapi, Pak…“ "Tidak ada tapi," potong Hasan. "Ini demi kebaikan perusahaan dan memenuhi keinginan Nia. Grisa bilang kalau Nia lah yang berharap kalau kamu akan mengajarkan Grisa. Kau harus melakukannya." Ganesh menatap Grisa dengan mata yang penuh tanda tanya. Entah bagaimana, Grisa berhasil melakukan trik pada Hasan hingga ia memutuskan hal ini. Dengan enggan, Ganesh akhirnya setuju. "Baiklah, Hasan. Aku akan melakukannya." Setelah Ganesh keluar dari ruangan, Grisa tersenyum tipis. “Seneng banget sih, lihat saya menderita?” sungut Ganesh. Grisa menjulurkan lidahnya sedikit dan berkata, “Bilangnya menderita, padahal seneng tuh bareng-bareng lagi sama akuwh,” Grisa menggoda Ganesh dengan menyenggol lengan pria itu. “Mbak Grisa,” panggil Ganesh. Grisa menengok, “Ya?” “Mbak Grisa udah tahu perasaan saya, kan? Apa saya boleh menganggap kalau Mbak ngasih saya harapan?” Grisa tertegun. Dari dulu Ganesh memang suka blak-blakan walau di depan orang lain selalu bersikap sok dingin. “Silakan,” ucap Grisa kemudian. “Kalau itu bisa buat kamu mau terus membantuku menyelesaikan kasus ini,” lanjutnya yang kemudian pergi mendahului Ganesh. Ganesh yang ditinggalkan merasa hatinya campur aduk. Di satu sisi dia senang Grisa tidak langsung menolaknya, sedangkan di sisi lain dia takut kalau itu cuma harapan palsu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN